Showing posts with label ekosistem. Show all posts
Showing posts with label ekosistem. Show all posts

PENGERTIAN KOMPONEN ABIOTIK

Pengertian "ABIOTIK" berasal dari kata "A" dan "Biotik". Biotik sering diartikan dengan mahluk hidup sedangkan huruf "A" di depan Biotik, diartikan "TIDAK". Jadi secara harfiah Pengertian A-BIOTIK adalah SESUATU YANG TIDAK HIDUP. Namun komponen Abiotik adalah Komponen yang diperlukan Mahluk Hidup untuk Hidup.

Komponen Abiotik merupakan komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya.



Komponen a-biotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme. Komponen-komponen ABIOTIK adalah ::
  • Suhu atau Temperatur. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
  • Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
  • Cahaya Matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
  • Tanah. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
  • Udara.Udara adalah campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara tidak tampak mata, tidak berbau, dan tidak ada rasanya. Kehadiran udara hanya dapat dilihat dari adanya angin yang menggerakan benda. Udara termasuk salah satu jenis sumber daya alam karena memiliki banyak fungsi bagi makhluk hidup.
  • Energi. Energi adalah kemampuan melakukan usaha atau kerja (misalnya untuk energi listrik dan mekanika); daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan, misalnya dapat merupakan bagian suatu bahan atau tidak terikat pada bahan (seperti sinar matahari);

 
 Cahaya Matahari sebagai salah satu Komponen ABIOTIK

Artikel Terkait :

PENGERTIAN dan DEFINISI EKOLOGI

Pengertian dan Definisi dari EKOLOGI adalah Ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme-organisme dan lingkungannya.

Sedangkan Lingkungan sendiri mempunyai arti luas meliputi semua hal di luar organisme yang bersangkutan.

Tidak terbatas pada cahaya, suhu, curah hujan, kelembaban dan topografi, tetapi juga seperti parasit, predator dan kompetitor. Dalam Wikipedia Online didefinisikan bahwa Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya.

Kata ekologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu
  1. Oikos, dan
  2. Logos.
Oikos mempunyai arti "Rumah Tangga atau Habitat" sedangkan Logos artinya "Ilmu". Secara sederhana Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Ernst Haeckel adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman yang ahli dalam bidang biologi dan evolusi. Ia adalah orang pertama yang menggunakan istilah oecology untuk menyebut kegiatan mempelajari organisme serta hubungan antara organisme dan dunia sekitarnya. Pada tahun 1893, ejaan ecology pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris seperti yang dikenal sekarang ini.

Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya. Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik.

Para ahli ekologi atau yang sering disebut "EKOLOG" mempelajari :
  1. Perpindahan atau siklus energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
  2. Perkembangan dan perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda serta faktor-faktor yang menyebabkan perubahan itu.
  3. Hubungan atau interaksi antar spesies makhluk hidup dan mahluk hidup dengan lingkungannya.


Artikel Terkait :

FRAGMENTASI HUTAN

Fragmentasi hutan terjadi karena hutan yang luas dan menyambung terpecah menjadi blok blok lebih kecil akibat pembangunan jalan pertanian urbanisasi atau pembangunan lain. Akibatnya mengurangi fungsi hutan sebagai habitat berbagai spesies tumbuhan dan satwa liar. 

Fragmentasi juga mempengaruhi struktur temperatur kelembaban dan pencahayaan yang akan mengganggu satwa hutan yang adaptasinya telah terbentuk selama ribuan tahun.  Definisi dari fragmentasi adalah pemecahan habitat organisme menjadi kantong kantong (patches) habitat yang membuat organisme kesulitan melakukan pergerakan dari kantong habitat yang satu ke yang lainnya. Fragmentasi dapat disebabkan oleh penghilangan vegetasi pada areal yang luas atau oleh jalan yang memisahkan habitat bahkan oleh jaringan kabel listrik.


Fragmentasi adalah proses pemecahan suatu habitat, ekosistem atau tipe land use menjadi bidang bidang lahan yang lebih kecil dan fragmentasi juga merupakan sebuah hasil dimana proses fragmentasi mengubah attribut attribut habitat dan karakteristik suatu landscape yang ada. 

Fragmentasi habitat mengubah konfigurasi spasial suatu kantong habitat (habitat patches) besar dan menciptakan isolasi atau perenggangan hubungan antara kantong kantong (patches) habitat asli karena terselingi oleh mosaik yang luas atau tipe habitat lain yang tidak sesuai bagi spesies yang ada.

Sedangkan Pengertian dan Definisi Fragmentasi Habitat menurut Wikipedia adalah suatu proses perubahan lingkungan yang berperan penting dalam evolusi dan biologi konservasi. Seperti yang tersirat pada istilah ini, ia mendeskripsikan kemunculan fragmentasi lingkungan pada habitat suatu organisme.

Fragmentasi habitat dapat terjadi oleh proses-proses geologis secara perlahan mengubah tata letak lingkungan maupun oleh aktivitas manusia yang dapat mengubah lingkungan secara cepat. Proses fragmentasi habitat secara alami diduga merupakan salah satu sebab utama spesiasi, sedangkan proses fragmentasi habitat oleh manusia menyebabkan kepunahan banyak spesies.

Pustaka:
Hendra Gunawan dan  Lilik Budi Prasetyo. 2013. Fragmentasi Hutan. Teori yang mendasari penataan ruang hutan menuju pembangunan berkelanjutan.

DEFINISI DAN PENGERTIAN TATA HUTAN

Pengertian dan Definisi Tata Hutan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 adalah kegiatan rancang bangun unit pengelolaan hutan, mencakup kegiatan pengelompokan sumber daya hutan sesuai dengan tipe ekosistem dan potensi yang terkandung di dalamnya dengan tujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat secara lestari.

Tata Hutan KPH


Tipe-tipe ekosistem hutan secara garis besar dapat dibagi menurut faktor yang mempengaruhinya yaitu "faktor edafik" dan "faktor iklim".

Faktor Edafik :

a. Hutan payau (mangrove) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Tidak terpengaruh iklim;
  • Terpengaruh pasang surut,
  • Tanah tergenang air laut, tanah lumpur atau pasir, terutama tanah liat;
  • Tanah rendah pantai;
  • Hutan tidak mempunyai strata tajuk;
  • Tinggi pohon dapat mencapai 30 m;
  • Tumbuh di pantai merupakan jalur.
b. Hutan rawa (swamp forest) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Tidak terpengaruh iklim;
  • Tanah tergenang air tawar;
  • Umumnya terdapat di belakang hutan payau;
  • Tanah rendah;
  • Tajuk terdiri dari beberapa strata;
  • Pohon dapat mencapai tinggi 50 - 60 m;
  • Terdapat terutama di Sumatera dan Kalimantan mengikuti sungai-sungai besar.
c. Hutan Pantai (Coastal forest) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Tidak terpengaruh iklim;
  • Tanah kering (tanah pasir, berbatu karang, lempung);
  • Tanah rendah pantai;
  • Pohon kadang-kadang ditumbuhi epyphit
  • Terdapat terutama di pantai selatan P. Jawa, pantai barat daya Sumatera dan pantai Sulawesi.

Faktor Iklim :


a. Hutan Gambut (peat swamp forest) dengan ciri antara lain sebagai berikut:
  • Iklim selalu basah;
  • Tanah tergenang air gambut, lapisan gambut 1 - 20 m;
  • Tanah rendah rata;
  • Terdapat di Kalimantan Barat dan Tengah, Sumatera Selatan dan Jambi.
b. Hutan Karangas (heath forest) dengan ciri antara lain sebagai berikut:
  • Iklim selalu basah;
  • Tanah pasir, podsol;
  • Tanah rendah rata; .
  • Terdapat di Kalimantan Tengah.
c. Hutan Hujan Tropik (tropical rain forest) dengan ciri umum antara lain sbb:
  • Iklim selalu. basah;
  • Tanah kering dan bermacam-macam jenis tanah;
  • Terdapat di pedalaman yang selanjutnya dapat dibagi lagi menurut ketinggian daerahnya, yaitu :
  • hutan hujan bawah, terdapat pada tanah rendah rata atau berbukit dengan ketinggian 2 - 2000 m dpl.;
  • hutan hujan tengah, terdapat pada dataran tinggi dengan ketinggian 1000 – 3000 m dpl.;
  • hutan hujan atas, terdapat di daerah pegunungan dengan ketinggian 3000 - 4000 m dpl.; Tipe hutan ini terdapat terutama di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya.

d. Hutan musim (monsoon forest) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Iklim musim;
  • Tanah kering dan bermacam-macam jenis tanah;
  • Terdapat di pedalaman yang selanjutnya dapat dibagi lagi menurut ketinggian, yaitu:
  • hutan musim bawah terdapat pada ketinggian 2 - 1000 m dpl.;
  • hutan musim tengah atas terdapat pada ketinggian 1000 - 4000 m dpl.;
  • Terdapat secara mozaik diantara hutan hujan di Jawa dan Nusa Tenggara.

Sebelum dilakukan Penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Hutan pada wilayah KPH perlu disusun Dokumen Tata Hutan agar dapat dikelompokan sumber daya hutan sesuai dengan tipe ekosistem dan potensi yang terkandung di dalamnya.

Tata hutan pada dasarnya dilaksanakan untuk memastikan pemanfaatan dan penggunaan sumberdaya hutan dilakukan secara terencana berdasarkan informasi sumberdaya hutan, ekonomi, sosial budaya dan lingkungan yang akurat, serta memperhatikan kebijakan-kebijakan pemerintah, propinsi, kabupaten/kota termasuk integrasi dengan tata ruang. Penjelasan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan menyebutkan bahwa tata hutan merupakan kegiatan rancang bangun unit pengelolaan hutan yang dalam pelaksanaannya memperhatikan keadaan hutan dan hak-hak masyarakat setempat yang lahir karena kesejarahannya. Sedangkan PP 6 tahun 2007 jo PP nomor 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Rencana Pengelolaan Hutan serta pemanfaatan hutan menjelaskan bahwa tata hutan adalah kegiatan rancang bangun unit pengelolaan hutan atau KPH mencakup pengelompokkan sumberdaya hutan sesuai dengan tipe ekosistem dan potensi yang terkandung didalamnya dengan tujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat secara lestari. Dengan kata lain, tata hutan merupakan penataan ruang di dalam KPH yang mencerminkan arah pengelolaannya dalam tiap bagian ruang KPH.

Terkait :

PROSES SUKSESI TUMBUHAN | KLIMAKS IKLIM


Klimaks iklim merupakan tingkat terakhir dari suatu proses Suksesi, baik primer maupun sekunder dengan komposisi dan struktur alam ditentukan oleh faktor-faktor iklim, dengan vegetasi dominan yang stabil. Jenis dominan ini tidak dapat diganti oleh tumbuhan lain, kecuali kalau terjadi perubahan iklim, atau adanya gangguan dari luar.

Secara umum, kondisi klimaks iklim bagi suatu daerah yang cukup air, adalah berupa hutan. Apabila kurang cukup air maka akan berupa padang rumput, semak belukar atau savana. Apabila kondisinya terlalu kering maka akan dapat berupa Gurun Pasir.

Dalam suatu ekosistem hutan, terdapat suatu Tahapan Suksesi yang mencapai klimaks. Jenis-jenis pionir pada akhirnya akan diganti oleh jenis-jenis yang kurang agresif, yang menyelinap di bawah kanopi.

Ciri-ciri bahwa hutan dalam tingkatan klimaks adalah : vegetasi dalam keadaan stabil, jenis dominan akan mengganti dirinya sendiri, tidak ada jenis dominan baru yang masuk, kondisi tanahnya mantap; dan komposisi jenisnya seragam untuk daerah-daerah yang mempunyai tipe iklim sama.

Sulit untuk mengenali suatu hutan klimaks yang sebenarnya, karena vegetasi yang stabil dalam suatu daerah yang luas mungkin akan sering mengalami gangguan-gangguan seperti adanya berbagai macam aktivitas manusia, kebakaran yang berulang-ulang serta adanya penggembalaan. Adanya gangguan-gangguan eksternal secara terus-menerus, akan menghasilkan vegetasi yang seolah-oleh telah sampai pada kondisi klimaks. Kondisi vegetasi ini dikenal dengan istilah "sub klimaks".

Tulisan-Tulisan Berkaitan :
  1. Definisi Suksesi
  2. Tahap-Tahap Suksesi
  3. Tipe-Tipe Suksesi
  4. Definisi Suksesi Primer
  5. Definisi Suksesi Sekunder
  6. Suksesi Tumbuhan | Suksesi Hutan
  7. Suksesi dalam Pengelolaan Hutan
  8. Suksesi dalam Komunitas Hewan
  9. Perkembangan Suksesional Ekosistem
  10. Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence
  11. Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)
  12. Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif
  13. Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.
  14. Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder
  15. Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu
  16. Definisi Habitat
  17. Definisi Homoestatis
  18. Definisi Ekotipe
  19. Pengertian Ekosistem
  20. Pengertian Lingkungan
  21. Pencemaran Lingkungan
  22. Ekologi
  23. Ekologi Hutan
  24. Parasit
  25. Predator
  26. Pemangsaan
  27. Heterogenitas Ruang
  28. Persaingan
  29. Definisi dan Pengertian Hutan
  30. Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll
  31. Klasifikasi Pohon dalam Sebuah Hutan
  32. Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan
  33. Gambar dan Bentuk Pohon Pohon
  34. Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon
  35. Silvikultur Hutan Alam Tropika
  36. Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia
  37. Tipe-tipe Hutan Tropika
  38. Struktur Hutan Hujan Tropika
  39. Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara
  40. Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan
  41. Pengelolaan Hutan Tanaman
  42. Penentuan Kerapatan Tegakan
  43. Metode Penentuan Kerapatan Tegakan
  44. Ruang Tumbuh Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon
  45. Metode Lain Pengukuran Kerapatan Tegakan
  46. Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan
  47. Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis
  48. Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih
  49. Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara

PENGERTIAN DAN DEFINISI HUTAN SEKUNDER


Pengertian dan Definisi dari Hutan Sekunder yang dikemukakan oleh Lamprecht (1986) adalah hutan yang tumbuh dan berkembang secara alami sesudah terjadi kerusakan/perubahan pada hutan yang pertama. Hutan sekunder merupakan fase pertumbuhan hutan dari keadaan tapak gundul, karena alam ataupun antropogen, sampai menjadi klimaks kembali.

Beberapa ciri dari hutan sekunder dapat dilihat dibawah ini :

  • Komposisi dan struktur tidak saja tergantung tapak namun juga tergantung pada umur.
  • Tegakan muda berkomposisi dan struktur lebih seragam dibandingkan hutan aslinya.
  • Tak berisi jenis niagawi. Jenis-jenis yang lunak dan ringan, tidak awet, kurus, tidak laku.
  • Persaingan ruangan dan sinar yang intensif sering membuat batang bengkok.
  • Jenis-jenis cepat gerowong. Riap awal besar, lambat laun mengecil.
  • Karena struktur, komposisi dan riapnya tidak akan pernah stabil, sulit merencanakan pemasaran hasilnya.
Sedangkan Catterson (1994) mendefinisikan Hutan Sekunder sebagai Suatu bentuk hutan dalam proses suksesi yang mengkolonisasi areal-areal yang sebelumnya rusak akibat sebab-sebab alami atau manusia, dan yang suksesinya tidak dipengaruhi oleh vegetasi asli di sekitarnya karena luasnya areal yang rusak. Bentuk-bentuk formasi vegetasi berikut ini dapat terbentuk: lahan kosong / padang-padang rumput buatan / areal areal bekas-tebangan baru / areal-areal bekas tebangan yang lebih tua.

Artikel Terkait :

PENGERTIAN DAN DEFINISI HUTAN PERDU


Pengertian dan Definisi Hutan Perdu adalah hutan yang terdiri dari jenis-jenis tumbuhan perdu dan semak yang umumnya tidak tinggi. Perdu ini merupakan tumbuhan berkayu dan bercabang yang tumbuh rendah pada permukaan tanah, tidak mempunyai batang (Contohnya : Puring, Bambu, Jenis Rumput rumputan, tanaman yang kadang berdaun lebar, tetapi tidak mempunyai batang besar).


Artikel Terkait :



PENGERTIAN DAN DEFINISI HUTAN MUSIM


Hutan Musim adalah Hutan yang sifat-sifatnya dipengaruhi oleh perubahan musim. Hutan musim dipengaruhi oleh musim kemarau yang nyata, sehingga air merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhannya. Hal ini mempengaruhi sifat hutannya yang sangat mengikuti pada perubahan dua musim, kemarau dan hujan.
Pada daerah ekosistem hutan musim, curah hujan rendah sehingga jenis-jenis yang dapat hidup di daerah tersebut adalah jenis yang tahan terhadap kekeringan.
Mekanisme fisiologis dalam mempertahankan diri terhadap kekeringan maka tumbuhan tersebut akan menggugurkan daun untuk mengurangi proses transpirasi atau penguapan air melalui daun.

Artikel Terkait :

PENGERTIAN DAN DEFINISI HUTAN KEMASYARAKATAN


Pengertian dan Definisi dari Hutan Kemasyarakatan adalah suatu kegiatan Pengelolaan Hutan yang bertujuan untuk mendukung kesejahteraan hidup masyarakat sekitar hutan dengan mengutamakan fungsi Kelestarian lingkungan hutan. Program Hutan Kemasyarakatan adalah suatu bentuk Sosial Forestry dengan menerapkan teknologi Agroforestri pada lahan milik. Program ini diselenggarakan untuk mengatasi masalah erosi dan kemunduran kesuburan tanah. Dalam program ini, di Jawa dan Luar Jawa dibuat sejumlah unit-unit percontohan, yaitu :

  1. Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumberdaya Alam (UPSA). UPSA merupakan percontohan usaha tani lahan kering terpadu, masing-masing seluas 10 ha, didalamnya diterapkan teknik-teknik konservasi tanah yang disertai dengan pembuatan teras, untuk melakukan intensifikasi usaha tanah kering, dengan memperhatikan daya dukung lahan. Demplot-Demplot ini merupakan alat penyuluhan.
  2. Unit Percontohan Usaha Pertanian Menetap (UP-UPM). Tujuan UP-UPM adalah untuk memperkenalkan usaha tani lahan kering terpadu kepada petani-petani tradisional, terutama kepada peladang berpindah-pindah di luar Jawa. Luas satu unit UP-UPM adalah 20 Ha, yang dikerjakan oleh 10 rumah tangga. Yang diperagakan adalah cara-cara/teknik pertanian penetap, termasuk upaya konservasi tanah.
Artikel Terkait :

PENGERTIAN DAN DEFINISI KOMUNITAS


Pengertian dan definisi dari komunitas adalah kumpulan beberapa populasi hewan dan tumbuhan yang berbeda, hidup bersama pada suatu tempat. Contohnya ular sawah, tikus, katak, burung bangau, tanaman padi adalah beberapa populasi yang membentuk komunitas sawah. Komunitas Padang Rumput terdapat rusa, belalang, semut, rumput dan sebagainya.

Ahli ekologi mempelajari peran spesies yang berbeda hidup di dalam komunitasnya.
Para ahli juga mempelajari berbagai jenis-jenis komunitas, dan bagaimana terjadinya perubahan di dalam komunitas. Beberapa komunitas, seperti hutan pedalaman atau padang rumput, dapat diidentifikasi dengan mudah.



Sebuah komunitas tumbuhan dan hewan yang mencakup wilayah geografis yang luas disebut bioma. Batas-batas bioma yang berbeda ditentukan terutama oleh iklim. Para bioma utama termasuk padang pasir, hutan, padang rumput, tundra, dan beberapa jenis bioma air.
Artikel Terkait :




TEORI CONTINENTAL DRIFT | Penyebaran Tumbuhan


Teori Continental drift adalah teori yang menerangkan bahwa pada zaman sebelumnya, kurang lebih 200 juta tahun, semua benua pernah bersatu dalam satu dataran besar. Kemudian benua itu terpisah sesuai dengan bukti-bukti secara geomorfologis, geofisika, magnetis bumi, usia batu-batuan dan oceanografi.

Menurut Wilson (1963), dataran purba merupakan superkontinen, dimana pada permulaan Zaman Kapur (± 120 juta tahun yang lalu) mengalami keretakan yang berakibat timbulnya Lautan Atlantik. Retakan lain terjadi lebih kurang 160 juta tahun lalu, yang memisahkan Afrika dari India dan Australia serta memisahkan Australia dengan Antartika.

Di samping itu, iklim sangat berperan juga dalam penyebaran flora. Terjadinya iklim ekstrem atau perubahan besar mengakibatkan musnahnya migrasi, adaptasi dan evolusi flora.

Masyarakat hutan merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh, juga merupakan masyarakat yang dinamis, yang terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuh ­tumbuhan. Tahap tersebut antara lain adaptasi, agregasi, persaingan dan penguasaan serta reaksi terhadap tempat tumbuh serta stabilisasi. Proses inilah yang disebut suksesi. Suksesi ini merupakan hasil dari tumbuhan itu sendiri, dalam arti bahwa tumbuhan yang berada dalam daerah tersebut suatu saat mampu mengubah lingkungannya, seperti tanah, tumbuhan dan iklim mikro di atasnya. Hal ini akan membuat spesies lebih mudah menyesuaikan diri daripada tumbuhan itu sendiri.

Suatu masyarakat hutan akan mengalami perkembangan dan proses penuaan yang terjadinya dipengaruhi faktor-faktor tempat tumbuh dan reaksi dari vegetasi terhadap tempat tumbuh tersebut. Proses perkembangan masyarakat hutan inilah dinamakan suksesi hutan. Tidak banyak manusia mengetahui bahwa tumbuhan seperti hutan alam tropika basah yang tumbuh dengan mewahnya di Indonesia adalah melalui bentukan proses suksesi yang berlangsung selama berpuluh bahkan beratus tahun lamanya.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja tetapi dapat diramalkan pola dan arahnya untuk suatu lokasi dan masyarakat tumbuhannya. Sejak awal suksesi sampai terjadinya stabilisasi atau keseimbangan dinamis dengan lingkungan, telah terjadi pergantian masyarakat tumbuh-tumbuhan sehingga nantinya akan terbentuk masyarakat tumbuhan yang sudah mantap yang disebut vegetasi klimaks, misalnya hutan tropika basah, hutan musim jati dan hutan bakau.

Suatu contoh kejadian adalah di lereng gunung yang pada suatu waktu tertentu mengalami bencana meletusnya gunung berapi. Lereng tersebut akan tertutup dengan bahan-bahan vulkanik dari hasil letusan gunung, sehingga tidak ada satu tumbuh-tumbuhan pun yang bisa hidup di atas batuan baru. Hal ini disebabkan min­eral-mineral batuan yang dibutuhkan tumbuhan dalam hidupnya belum terurai. Karena batuan mulai lapuk oleh cuaca dari tahun ke tahun, tumbuh-tumbuhan mulai bermunculan. Yang mulai mampu tumbuh dan mendiami daerah tersebut hanyalah tumbuhan yang mampu menyesuaikan dengan batuan vulkanis muda.

Hal ini diakibatkan oleh adanya angin keras yang membawa biji-bijian dan spora yang terperangkap dalam rekahan dan celah di bawah di antara batu-batuan. Tumbuhan sebangsa ganggang, cendawan dan lumut kerak (Lichenes), lumut hati dan lumut daun, adalah makhluk perintis kehidupan yang tangguh dan terkhususkan. Lumut kerak sisa yang ditinggalkan mengalami proses yang lambat-laun mampu membentuk kandungan organik berupa selaput humus. Kemudian bersama unsur-unsur iklim dan cuaca, mereka mengalami pelapukan dan perubahan-perubahan pada batu-batuan dan unsur-unsur fisik lainnya, sehingga membentuk lingkungan fisik yang lebih cocok bagi tumbuhan pelopor jenis lainnya.

Dengan demikian, apabila mati, tumbuhan jenis lain tersebut akan bermanfaat sebagai hara bagi tumbuhan selanjutnya yang akan menggantikan tumbuhan sebelumnya yang kurang cocok dengan situasi baru. Spesies yang mati tersebut dimungkinkan karena terlalu dini memasuki daerah baru, yakni pada waktu habitatnya belum mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ada juga tumbuhan yang tumbuhnya lambat meskipun lingkungannya sesuai, hanya saja unsur penunjang hidupnya tidak terikut pada saat pindah ke tempat yang baru tersebut. Umumnya suksesi daratan tersebut akan berkembang dengan masyarakat tumbuh-tumbuhan tingkat rendah (Cryptogamae), tumbuh-tumbuhan herba (terna), semak, perdu dan pohon. Apabila tumbuhan yang tinggi mulai meneduhi tumbuhan rendah, maka akan ada tumbuhan yang mati karena kekurangan sinar. Akan tetapi ada juga yang justru lebih kuat pertumbuhannya karena sifat hidupnya tidak tergantung pada sinar. Ini berarti bahwa pohon-pohon tinggi tersebut merupakan pengendali bagi tumbuhan di bawah dan di sekitarnya sebelum pada akhirnya sampai pada hutan klimaks.

Dengan kata lain, proses suksesi tersebut berjalan terus sampai pada akhirnya terbentuk keseimbangan (klimaks), yaitu komunitas hutan. Jenis klimaks yang terbentuk sebagai hasil suksesi tergantung pada iklim daerah secara menyeluruh, dimana klimaks tersebut selalu berada dalam keadaan seimbang dan mantap. Keadaan ini akan bertahan selama iklim dan mutu tanah tidak mengalami perubahan dan selama tidak terjadi kemunduran nilai faktor penunjang.

Adanya masyarakat hutan yang terjadi dengan stabil tidak berarti bahwa perubahan-perubahan tidak terjadi di dalamnya. Pohon-­pohon tua yang tumbang dan mati, misalnya, tetap akan menghasilkan anakan-anakan pohon. Begitu pula jika terjadi gangguan intensif dari luar seperti kebakaran berulang kali, serangan hama dan penyakit secara besar-besaran, maupun penebangan habis dalam praktek kehutanan.

PENGERTIAN DAN DEFINISI POPULASI


Pengertian dan definisi populasi diartikan sebagai kumpulan individu-individu sejenis pada suatu daerah tertentu. Istilah Populasi termasuk kata serapan dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris “Population”. Arti kata ini dipakai menjelaskan : populasi manusia, populasi kerbau, populasi ayam, populasi orang utan, populasi pohon meranti, dan sebagainya. Populasi manusia sering akrab dengan sebutan penduduk.

Populasi biasanya dinyatakan dalam satuan luas persatuan waktu. Dalam istilah Kependudukan, populasi digunakan untuk menggambarkan jumlah penduduk di suatu daerah dalam waktu tertentu. Misalnya di Jakarta Pusat, populasi penduduk pada tahun 2012 berjumlah 18.569 orang per km2.

Dalam biologi terlebih khusus ekologi, istilah populasi dapat dipakai untuk mengungkapkan kerapatan atau densitas suatu kumpulan mahluk hidup yang sejenis di suatu daerah. Misalnya jumlah pohon jati dalam hutan jati sebanyak 100 pohon per hektar.

Faktor-faktor yang dapat mengontrol populasi. Ukuran populasi ada yang tergantung pada interaksi dua kekuatan dasar. Salah satunya adalah tingkat di mana populasi akan tumbuh di bawah kondisi ideal. Yang kedua adalah efek gabungan dari semua faktor lingkungan kurang-ideal yang membatasi pertumbuhan. Faktor pembatas tersebut dapat mencakup kurang nya pasokan pangan, pemangsa, persaingan dengan organisme dari spesies yang sama atau berbeda, iklim, dan penyakit.
Dalam ukuran yang besar dari suatu populasi didukung oleh lingkungan tertentu yang disebut kapasitas dukung lingkungan untuk spesies tersebut. Populasi nyata biasanya jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas dukung lingkungan mereka karena efek dari cuaca buruk, musim kawin yang rendah, perburuan oleh predator, atau faktor lainnya.
Faktor-faktor yang mengakibatkan perubahan populasi. Tingkat populasi suatu spesies dapat berubah drastis dari waktu ke waktu. Terkadang perubahan ini terjadi akibat peristiwa alam. Misalnya, perubahan curah hujan dapat menyebabkan beberapa populasi meningkat dan lainnya menurun. Atau masuknya penyakit baru yang dapat mengurangi populasi tumbuhan atau spesies hewan. Dalam kasus lain, perubahan bisa terjadi akibat aktivitas manusia. Misalnya, pembangunan pembangkit listrik dan mobil melepaskan gas asam ke atmosfer, dimana mereka bercampur dengan awan dan jatuh ke bumi sebagai hujan asam. Di beberapa daerah yang menerima sejumlah besar hujan asam, populasi ikan telah menurun secara dramatis.


Pada hutan alam jenis-jenis populasi satwa atau flora menyebarkan dalam pola tertentu. Misalnya menyebar secara teratur, mengelompok atau tidak teratur (random). Populasi satwa atau flora tertentu tidak hidup sendiri tetapi menyatu dengan lingkungannya, yang berisi populasi-populasi lain.

Istilah populasi berhubungan dengan kata komunitas, karena kumpulan beberapa populasi dalam suatu daerah atau ekosistem akan membentuk komunitas.



Artikel Terkait :


EKOSISTEM BINAAN ATAU EKOSISTEM BUATAN


Ekosistem binaan atau ekosistem buatan adalah ekosistem yang dibuat dan direkayasa oleh manusia. Ekosistem buatan atau binaan merupakan lingkungan yang diciptakan manusia untuk berbagai keperluan. Manusia harus terus-menerus mengelola dan mengembangkan lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan. Contoh lingkungan binaan itu adalah lingkungan pemukiman, pertanian, perkotaan, perkebunan, tambak, bedungan, hutan tanaman industri.

Terhadap lingkungan binaan tersebut, manusia senantiasa berupaya mengaturnya. Interaksi alami hampir terkendali. Di dalam ekosistem pertanian, misalnya, serangga yang memakan tanaman dikendalikan dengan memberantasnya dengan menggunakan insektisida. Di daerah perkotaan jarang terdapat tumbuhan (produsen). Tumbuhan didominasi oleh tanaman hijau di sepanjang jalan, di taman atau di halaman. Kurangnya tumbuhan hijau di perkotaan mengakibatkan udara kota terasa pengap, kering, dan suhu udara meningkat.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan, kota-kota banyak dijadikan sasaran penghijauan. Anjuran untuk memelihara tanaman dan menanam bunga merupakan anjuran yang patut dilaksanakan. Taman-taman kota tidak boleh diganggu, sebaliknya harus dirawat dan dilestarikan. Selain berfungsi estetika atau untuk keindahan, taman kota juga berfungsi ekologis. Misalnya, sebagai pengatur suhu, mengurangi pencemaran udara, dan menyediakan habitat berbagai berung dan serangga. Taman kota juga berfungsi sebagai daerah resapan. Karena tanah di perkotaan dibeton atau diaspal, air hujan tidak dapat meresap kedalam tanah. Adanya taman kota membantu peresapan air kedalam tanah sesuai dengan daur air alami yang seharusnya berlangsung.

Mengingat fungsinya yang penting. Seharusnya setiap kota memiliki taman kota, tanah terbuka hijau, serta wilayah penghijauan kota dekat pemukiman padat. Tidak semua tanah digunakan untuk pembangunan gedung dan perumahan, tetapi disisakan untuk memberi kemungkinan berlangsungnya fungsi lingkungan.

Untuk mengurangi pencemaran lingkungan, di setiap pemukiman hendaknya dibangun kolam pengolah limba rumah tangga. Limbah cair dari rumah tangga dialirkan ke kolam pengolahan, sebelum air yang bersih dialirkan ke got-got dan akhirnya ke sungai. Pengembangan pemukiman (developer) perlu menyediakan sarana pengolahan limbah seperti ini. Pemerintah perlu mensyaratkan diadakannya pengolahan limbah, disamping sarana-sarana hidup lain seperti penyediaan air bersih, WC, taman, tempat bermain anak-anak, dan listrik kepada pengembang pemukiman untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. Penyediaan saran peduli lingkungan seharusnya digalakkan.

Di Australia, di atap rumah penduduk sering wadah-wadah berisi makanan burung dan binatang liar lainnya. Burung-burung berterbangan bebas di taman-taman kota. Oleh karena di habitat buatan itu makanan alami sulit diperoleh, penduduk yang peduli lingkungan menyediakan makanan untuk hewan-hewan liar.

Di Lingkungan kita, Burung jalak, larwo, prenjak, yang dulu sering bertengger di pepohonan kini sudah tidak terdengar kicauannya yang merdu. Mereka justru diburu, ditangkap, kemudian dijual dengan harga murah. Ada pula yang memburunya, kemudian dibunuh tanpa peduli terhadap lingkungannya. Jika hewan-hewan itu ditangkap dan dipelihara, umumnya hewan-hewan itu mati karena stres atau karena lingkungannya yang tidak cocok. Maka sekarang sudah saatnya kepeduliaan dan kesadaran lingkungan masyarakat ditingkatkan untuk tidak memburu binatang. Bahkan penduduk perlu dibiasakan untuk menyediakan makanan untik hewan-hewan liar, seperti burung, karena habitat mereka sudah kita ubah untuk kepentingan manusia.

Artikel Terkait :





EKOSISTEM LAUT


Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai laut yang luas, dengan potensi sumberdaya alam yang besar di dalamnya. Ekosistem Laut merupakan ekosistem yang letaknya di laut maupun pesisir pantai. Ekosistem laut dibedakan menjadi ekosistem laut dalam dan ekosistem laut dangkal.

1) Ekosistem Laut Dalam

Bila kita melihat laut yang warnanya biru tua, tentu kita mengetahuinya sebagai laut yang sangat dalam. Laut yang dalam sangat gelap tidak ada cahaya matahari. Cahaya matahari hanya dapat menembus air laut hingga kedalaman 20-30 meter. Lebih dalam dari itu cahaya matahari tidak dapat menembusnya. Di laut dalam cahaya matahari tidak dapat menembus atau tidak sampai ke dasar laut. Daerah ini disebut daerah afotik.

Ini berarti bahwa di laut tidak terjadi fotosintesis. Kadar oksigennya juga rendah. Di daerah demikian itu tidak terdapat produser yang fotoautotrof. Yang terdapat hanyalah organisme heterotrof yang mengandalkan jatuhnya sisa-sisa organik dari lapisan diatasnya. Jadi, di laut dalam terdapat detritivor dan scavanger. Keanekaragaman hayatinya rendah. Jika tidak ada arus laut yang “mengaduk”, daur mater di dalam laut dalam merupakan daur yang terputus. Semua makanan yang masuk ke laut dalam akhirnya diurai dan diendapkan di dasar laut, jadi, dilaut dalam terdapat zat-zat organik yang lebih kaya dibandingkan dengan di laut dangkal.

2) Ekosistem Laut Dangkal

Sedangkan di pesisir pantai kita dapat menikmati keindahan alam yang ada, serta dapat berrekreasi dengan wisata pantai, seperti berenang, berperahu, memancing dan aktivitas lainnya. Daerah ini merupakan daerah laut yang dangkal, banyak aktivitas di dalamnya. Laut dangkal merupakan daerah fotik, yang berarti daerah yang dapat dicapai oleh cahaya matahari. Di daerah ini berlangsung proses fotosintesis. Produser yang berperan adalah fitoplankton dan gangang laut mikroskopis. Kadar oksigen di daerah ini lebih tinggi dari pada di daerah afotik di laut dalam. Oleh sebab itu, daerah yang demikian memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Contoh ekosistem laut dangkal adalah ekosistem terumbu karang, ekosistem pantai batu, dan ekosistem pantai lumpur.



a) Ekosistem Terumbu Karang

Di dalam ekosistem ini banyak ditemukan cangkang coelenterata yang telah mati yang menyusun batu karang. Cangkang yang mati beserta hewan-hewan air selurunya disebut sebagai terumbu karang. Syarat hidup binatang karang adalah air lautnya jernih, arus dan gelombang kecil, serta lautnya dangkal. Didalamnya hidup berbagai macam biota laut seperti coelenterata, cacing, Mollusca (siput, kerang), Enchinodemata, Athropoda dan berbagai jenis ikan berwarna-warni. Bianatang-binatang tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Indonesia memiliki beberapa ekosistem terumbu karang, yang indah yang dijadikan objek wisata misalnya di pasir putih Jawa Timur, Bali, Bunaken dan Maluku. Pengambilan karang, dan binatang-binatang dari ekosistem ini dapat merusak ekosistem dan pada akhirnya akan menyebabkan punahnya keanekaragaman hayati di dalamnya. Demikian pula, penangkapan ikan menggunakan aliran listrik atau racun ( tuba, potas) dapat merusakan ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang terbentuk dalam waktu yang lama. Apbila punah, kita tidak akan dapat memunculkannya kembali. Oleh karena itu, kita perlu menjaga kelestariannya.

b). Ekosistem Pantai Batu

Pantai terjal yang berdinding batu memiliki bongkahan-bongkahan batu yang membentuk ekosistem pantai batu. Pada ekosistem ini, lingkungan eksternalnya didominasi oleh batu, kerikil, atau kapur. Misalnya, ekosistem pantai batu yang terdapat di pantai selatan jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan pantai barat Sumatra. Vegetasinya didomunasi oleh ganggang misalnya, Sargassum dan Eucheuma. Keanekaragamannya rendah.

c) Ekosistem Pantai Lumpur

Di dekat muara sungai banyak terdapat endapan lumpur yang menyusun ekosistem pantai lumpur. Ekosistem pantai lumpur banyak di jumpai di pantai utara Jawa, Kalimantan dan Irian Jaya. Vegetasinya didominasi oleh tumbuhan mangrove dan rumput laut. Ekosistem ini juga merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Di dalamnya hidup antara lain kepiting, udang, dan ikan glodok.




Artikel Terkait :

ENDEMIK DAERAH

JURNAL PENELITIAN

Paling Populer