PENGERTIAN DAN DEFINISI ALIRAN RUNOFF



Pengertian dan Definisi Istilah Aliran Runoff dipergunakan untuk menunjukan adanya variasi proses pengumpulan air mengalir yang akhirnya menghasilkan aliran sungai. Variasi proses aliran itu adalah sebagai berikut:
  1. Air hujan yang langsung pada tubuh perairan sungai adalah air hujan yang pertama langsung menjadi satu dengan aliran sungai. 
  2. Aliran di atas permukaan tanah (overland flow) adalah air hujan yang meninggalkan daerah aliran sungai (DAS) setelah terjadi hujan (badai) atau disebut sebagai bagian air dari aliran sungai yang terjadi dari hujan neto yang tidak lagi mengalami infiltrasi ke tanah mineral, dan mengalir di atas permukaan tanah menuju sungai terdekat. 
  3. Aliran permukaan (surface runoff) adalah sinonim dengan overland flow (b), tetapi lebih banyak dipergunakan untuk pengukuran air di pemukaan sungai. 
  4. Aliran langsung di bawah permukaan (sub surface storm flow) bagian aliran sungai yang dipasok dari sumber air di bawah permukaan tanah, dan sampai di saluran sungai secara langsung. Proses ini tidak dapat diamati dengan mata, namun menambah debit sungai. Kadang-kadang dipergunakan kata sinonim, yaitu aliran dalam (interflow), tetapi kata ini sering dipergunakan untukaliran di bawah permukaan tanah yang tidak berada di atas permukaan air tanah. 
  5. Aliran permukaan langsung (direct runoff, strom flow); merupakan total dari ketiga komponen aliran sungai yaitu curah hujan yang langsung tersalur aliran ke sungai di atas permukaan tanah (overland flow, surface runoff), dan aliran cepat di bawah permukaan tanah (sub surface storm flow,interflow) yang umumnya dipergunakan untuk mencirikan banjir akibat karakteristik DAS. 
  6.  f. Aliran dasar ( base flow, grand water outflow): keluaran dari equifer air tanah yang dihasilkan dari air perkolasi vertical melalui profil tanah ke air tanah, dan ditopang oleh aliran perlahan-lahan dari zona aerasi (zone of aeration) pada daerah miring. 

Artikel Terkait :

PENGERTIAN DAN DEFINISI NERACA AIR (WATER BALANCE)


Pengertian dan Definisi dari Neraca air adalah air yang diterima dikurangi air yang hilang, sama dengan air yang tersimpan. Nilai neraca air dapat menjadi positif (+) atau negative (-).

Air yang diterima misalnya curah hujan, dan adanya irigasi sedangkan air yang hilang misalnya evaporasi dan transpirasi, intersepsi, dan air yang mengalir di sungai, dan akhirnya ke laut.

Air merupakan komponen yang penting dalam kehidupan. Namun air yang melimpah pada saat turun hujan dapat mengakibatkan banjir yang membawa bencana.

Artikel Terkait :



BAHAN ORGANIK TANAH


Pengertian dan Definisi Bahan Organik Tanah adalah akumulasi bahan yang merupakan sisa-sisa organisme-organisme yang telah mati sebagai contoh seresah hutan yang belum mengalami pelapukan maupun yang sudah mengalami pelapukan lebih lanjut.

Biasanya berupa daun ranting dan sebagainya, yang belum hancur dan menutupi permukaan tanah sehingga merupakan pelindung tanah terhadap kekuatan perusakan butir-butir hujan yang jatuh. Bahan organik juga dapat menghambat aliran air di atas permukaan tanah. Bahan organik yang telah mulai mengalami pelapukan mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyerap air dan menahan air yang tinggi.

Di atas tanah hutan hujan tropis, bahan organik ini yang sangat berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah. Tanah-tanah di daerah hutan hujan tropis terkenal dengan miskin hara karena struktur tanah tersusun oleh partikel lempung yang bermuatan negatif rendah seperti kaolinite dan illite.

Artikel Terkait :
  1. Pengertian serasah / lantai hutan (forest floor)
  2. Pengertian dan definisi produktivitas serasah
  3. Pengertian humus dan humufikasi
  4. Porositas tanah
  5. Struktur tanah
  6. Pengertian tekstur tanah
  7. Tanah organis
  8. Tanah mineral
  9. Tanah hutan
  10. Definisi dan Pengertian Tanah
  11. Klasifikasi Tanah
  12. Proses Pembentukan Tanah
  13. Pencemaran Tanah
  14. Manfaat Tanah
  15. Unsur Hara Nitrogen (N)
  16. Unsur Hara Fosfor (P)
  17. Unsur Hara Kalium (K)
  18. Bahan Organik Tanah
  19. Kemasaman Tanah (pH Tanah)
  20. Lengas Tanah
  21. Tekstur dan Struktur Tanah
  22. Pemupukan Tanaman

PENGERTIAN PEMOTONGAN CABANG (PRUNNING)


 

Pengertian dari Pemotongan Cabang (Prunning) adalah suatu tindakan pemeliharaan tegakan dengan cara memotong cabang-cabang dari batang pohon-pohon yang relative muda, dengan tujuan agar dapat diperoleh batang yang bebas dari mata kayu, dengan kualitas yang lebih baik. Memang cabang-cabang tersebut sebetulnya dapat tanggal secara alamiah khususnya apabila jarak antara pohon rapat, namun demikian telah diketahui bahwa rapatnya jarak antar pohon, juga akan dapat mengurangi volume produksi yang laku dijual dari suatu tegakan.



 

Perlakuan yang berupa pemotongan cabang merupakan suatu kegiatan pemeliharaan tegakan, yang memerlukan dana cukup mahal, dengan hasil yang nilainya sangat rendah, sebagai kayu bakar, atau mungkin tidak laku dijual. Biaya pemotongan cabang tentunya bervariasi, mulai dari yang murah sampai yang sangat mahal, tergantung dari jumlah pohon yang dipangkas per hektar, juga jumlah dan ukuran dari cabang, tinggi pemotongan cabang, kecepatan pertumbuhan, tingkat suku bunga yang dibebankan pada investasi modal, serta waktu yang diperlukan, sampai dengan tegakan tersebut siap panen.


Karena hasil dari pemotongan cabang niainya sangat rendah, maka kegiatan ini lebih cendrung sebagai bagian dari investasi modal. Tindakan tersebut dapat diterima secara ekonomis, apabila biaya yang diperlukan  nilainya lebih rendah dari selisih antara nilai batang yang dipotong cabangnya, dengan yang tidak dipotong pada akhir daur, walaupun prediksi untuk hal ini bukan merupakan sutu hal mudah.


Dari penelitian yang ada, dilaporkan bahwa tindakan pemotongan cabang pada beberapa jenis tertentu dengan waktu tertentu, telah memberikan keuntungan finansial yang lebih dibanding dengan yang tidak. Pemotongan cabang biasanya dilakukan terhadap pohon-pohon yang relatif muda, dan hanya cabang-cabang  yang berada pada bawah dari batang. Karena bagian batang inilah yang mempunyai nilai paling tinggi,  dan biaya pemotongan cabang akan semakin tinggi dengan semakin tingginya letak cabang tersebut.

DEFINISI DAN PENGERTIAN ANAKAN ALAMI


Pengertian dan Definisi dari Anakan Alami adalah tanaman muda yang tumbuh secara alami pada tegakan hutan. Anakan alami tidak hanya tumbuh dan berkembang di bawah atau di sekitar pohon induknya tetapi dapat juga di tempat-tempat yang jauh, khususnya bagi tumbuh-tumbuhan yang buah dan/ atau bijinya mudah tersebar oleh angin, air, maupun binatang.


Anakan alami akan mempunyai arti yang penting untuk pembuatan tanaman hutan bagi jenis-jenis yang sulit didapatkan bijinya dalam jumlah besar, atau jenis-jenis yang masa berbuahnya sangat jarang  missal 4 tahun sekali. Jenis-jenis Dipterocarpaceae merupakan jenisnya yang masa berbuahnya (dalam jumlah yang banyak) tidak selau setiap tahun tapi 3-4 tahun sekali.

PENGERTIAN DAN DEFINISI ANAKAN atau SEEDLING

Pengertian dan Definisi dari anakan atau seedling adalah anakan muda yang tumbuh dari biji. Salah satu tugas dan tanggungjawab yang paling penting rimbawan adalah penanaman kembali bagi lahan-lahan yang telah dipanen kayunya dan lahan-lahan kritis.

Untuk melaksanakan kegiatan penghutanan kembali, kawasan tersebut memerlukan anakan dalam jumlah yang besar. Untuk memperoleh anakan dalam jumlah yang besar, denagan kualitas yang baik dengan tata waktu yang tepat, umumnya dilakukan kegiatan persemaian, yaitu mulai dari penaburan biji, pemeliharaan semainya, sampai dengan semai siap ditanam di lapangan.



Perkembangan anakan sejak dari perkecambahan sampai dengan menjadi anakan yang kuat, merupakan periode yang paling rawan dan sulit, kerena anakan itu kebanyakan mati dalam proses regenerasi hutan yang terjadi selama periode ini. Sebagai konsekuensinya, apabila kita menghendaki agar proses regenerasi hutan bisa berhasil, maka kita harus mengetahui sifat-sifat dasar dari pertumbuhan anakan.

Ada dua tingkatan penting pada periode pertumbuhan anakan jenis-jenis daun jarum, yaitu tingkat sembulan (succulent) dan tingkat remaja ( juvenile).



Tingkat succulent berlangsung mulai dari anakan muncul di atas permukaan tanah sampai dengan hypocotyls menjadi keras, sementara tingkat juvenile mulai dari mengerasnya hypocotyls sampai anakan tersebut tumbuh kuat, dan resiko kematiannya rendah.


Beberapa penyebab terjadinya kematian pada anakan antara lain adalah akibat teriknya panas matahari atau kurangnya sinar matahari, kurangnya air dalam tanah, adanya gangguan hama dan penyakit serta tumbuhan pengganggu. Untuk menanggulangi penyebab-penyebab kematian anakan tersebut. Tentunya harus diketahui dari jenis penyebabnya. Guna menghindari kelebihan atau kekurangan cahaya matahari, maka naungan yang alami atau buatan harus diatur sesuai dengan kebutuhan cahaya yang diperlukan.

Penyinaran secara teratur pada anakan di persemaian akan menghindarkan anakan dari bahaya kekeringan. Sedangkan hama dan penyakit dapat dikendalikan atau ditanggulangi, baik dengan cara biologis maupun kimiawi.

Dalam analisis vegetasi untuk anakan atau seedling (semai) diklasifikasikan sampai ukuran tinggi 1,5 meter, sedangkan lebih tinggi 1,5 meter disebut sapihan atau pancang.

Artikel Terkait :

JENIS BAMBU DI MALUKU

Bambu adalah salah satu sumber daya alam yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena memiliki sifat-sifat yang menguntungkan yaitu batang yang kuat, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk, mudah dikerjakan dan mudah diangkut. Selain itu, harga bambu relatif murah  dibandingkan bahan lain karena sering ditemukan disekitar pemukiman khususnya di daerah pedesaan. Bambu menjadi tanaman serba guna bagi kebanyakan orang di Indonesia.




Tanaman bambu di Maluku ditemukan mulai dataran rendah sampai pegunungan. Secara umum, ditemukan di tempat-tempat terbuka dan bebas dari genangan air. Tanaman bambu hidup merumpun, memiliki ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran lebih kecil. Pada ruas tumbuh akar muda sehingga bambu dimungkinkan untuk ditanam menggunakan ruas, selain batangnya dan tanaman muda yang berada disamping rumpunnya (Manuhuwa, 2008).
Jenis bambu yang tumbuh di Maluku sebanyak 13 jenis  yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan (Manuhuwa, 2006). Jenis bambu tersebut adalah,
  1. Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dimanfaatkan untuk tiang bangunan, dinding rumah dan rebungnya dimakan.
  2. Bambu Sero (Gigantochloa apus) dimanfaatkan untuk rakit, alat tangkap ikan dan pagar halaman.
  3. Bambu Tui (Schizostachyum lima) untuk bahan anyaman.
  4. Bambu Jawa (Schizostachyum brachyladumi) dimanfaatkan untuk rakit, tombak, dan alat musik, dll
  5. Bambu Suanggi (Schizostachyum arundinaceae) dimanfaatkan untuk konstruksi bangunan, padar, dll
  6. Bambu Baduri (Bambusa blumeana) untuk konstruksi bangunan, dan pagar.
  7. Bambu Loleba (Bambusa atra) untuk menjahit atap, pengikat, dan anyaman.
  8. Bambu Chen dapat dimanfaatkan untuk mebel.
  9. Bambu Tapir untuk alat musik tiup (suling)
  10. Bambu Kuning untuk tanaman hias dan pagar, dll
  11. Bambu Hias/Bambu Cina (Bambusa multiplex) untuk pagar halaman.
Sumber :
Manuhuwa, E, 2009. Hasil hutan bukan kayu Sebagai bagian dari pembangunan Hutan di Maluku. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Ambon.  


Artikel Terkait :

CARA MENGAWETKAN BAMBU

Bambu merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Bambu yang tumbuh berumpun dalam hutan akan dipanen dan ditebang oleh masyarakat apabila telah mencapai umur tebang sesuai dengan keperluannya.

Bambu siap ditebang setelah mencapai umur 4 (empat) tahun dengan cara tebang pilih. Tebang pilih dimaksudkan untuk  memberikan kesempatan pada bambu yang belum ditebang dalam rumpun tumbuh mencapai masak tebangnya.




Orang merendam batang bambu dalam air mengalir, air tergenang, lumpur atau air laut agar lebih awet, kemudian bambu  dikeringkan. Keawetan bambu cepat berkurang bila jumlah air yang dikandung masih tinggi dan pati yang dikandung cukup besar. Bambu yang diletakkan ditempat terbuka dan langsung berhubungan dengan tanah maka masa pakainya hanya mencapai 1-3 tahun.  Bambu dapat bertahan hingga 7 tahun bila diawetkan. 

Beberapa cara mengawetkan bambu dapat disebutkan seperti berikut :
  1. Merendam bambu dalam air untuk mengurangi kandungan pati.
  2. Membiarkan batang tetap dengan cabang dan daunnya selama  beberapa hari agar pati dimanfaatkan untuk metabolisme  sehingga pati  berkurang.
  3. Mengasapi dan memanaskan bambu untuk mematikan hama, merusak pati dan menghasilkan racun sehingga tidak diserang oleh hama.
  4. Menutupi pori bambu dan mengapuri untuk mencegah hama dan penyakit  masuk dan merusak bambu.
  5. Mengurangi kandungan air bambu dan menyimpan di ruangan kering untuk mencegah pertumbuhan jamur dan serangga perusak.
  6. Mengawetkan dengan mamasukkan bahan kimia yang bersifat racun, sehingga lebih efektif  menangkal serangan hama tetapi lebih mahal,
  7. Bambu dipanen pada musim kemarau daripada musim hujan

Jenis bambu yang rentan terhadap serangan bubuk bambu yaitu bambu kuning (Bambusa vulgaris), bambu loleba (Bambusa atra), bambu tui (Schizostachyum lima) dan bambu terung (Gigantochloa nigracillata). Sedangkan bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu jawa (Schizostachyum brachyla-dumi) dan bambu sero (Gigantochloa apus) relatif tahan terhadap serangan bubuk.  Jenis  bubuk bambu yang banyak ditemukan menyerang bambu adalah Dinederus sp sedangkan yang paling sedikit adalah Lytus sp.

Sumber :
Manuhuwa, E, 2009. Hasil hutan bukan kayu Sebagai bagian dari pembangunan Hutan di Maluku. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Ambon.  


Artikel Terkait :

MANFAAT DAN KUALITAS MINYAK KAYU PUTIH

Minyak kayu putih adalah salah satu minyak atsiri yang diperoleh dengan cara menyuling daun tanaman kayu putih (Mellauleca leucadendron Linn dan Mellauleca cajuputi Roxb). Pohon kayu putih tersebut ditemukan di Maluku khususnya di pulau Buru, Seram, Maluku Tenggara Barat dan Ambon.




Luas tegakan pohon kayu putih ± 120.000 ha di pulau Buru; ± 50.000 ha di Seram Bagian Barat dan ± 20.000 ha di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Sejak waktu lama hutan kayu putih di pulau Buru masih menjadi sumber pendapatan masyarakat. Pengelolaan hutan kayu putih tersebut belum dapat meningkatkan kesejahteraan mereka karena usaha penyulingan minyak tersebut didasarkan pada sistem ijon yang telah berlangsung turun menurun. Masyarakat sangat dirugikan sedangkan pedagang memperoleh keuntungan. Sistem ini harus dihapuskan melalui intervensi pemerintah agar produk hasil hutan bukan kayu tersebut dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat di sekitar hutan.

Manfaat Minyak Kayu Putih

Manfaat minyak kayu putih sudah diketahui oleh masyarakat luas. Disamping digunakan sebagai obat tradisional, seperti obat gatal-gatal, menghilangkan rasa kembung pada perut, masuk angin, tetapi juga dijadikan obat antiseptik, obat kumur-kumur, pasta gigi dan tablet tertentu (Anonim, 2008). Masa depan dari minyak kayu putih cukup cerah karena sangat dibutuhkan sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik dan kimia lainnya.



Proses Penyulingan dan Kualitas Minyak Kayu Putih

Minyak kayu putih disuling dari daun kayu putih melalui pelarutan minyak kedalam air mendidih dan diuapkan untuk kemudian diembunkan menjadi cair. Peralatan yang digunakan adalah ketel penyulingan, kondensor (bak pendingin), tungku dan alat penampung. Alat penyulingan yang digunakan berbentuk tradisional maupun modern. Bentuk dan desain alat penyulingan mempengaruhi jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Mutu minyak kayu putih diuji berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) seperti disajikan pada Tabel .

Tabel. Kualitas Minyak Kayu Putih berdararkan SNI.

No
KARAKTERISTIK
PERSYARATAN MUTU (SNI)
PRODUK M.K PUTIH DI MALUKU
(1)
(2)
(3)
(4)
PERSYARATAN KHUSUS
1.
Kadar Cineol Mutu Utama (U) ≥ 55% 50-65%
2.
Kadar Cineol Mutu Pertama (P) < 55% 45-50%
PERSYARATAN UMUM
1.
Bau Khas minyak kayu putih Khas minyak kayu putih
2.
Berat Jenis 0,90-0,93 0,92-0,96
3.
Indeks Bias 1,46-1,47 1,43-1,45
4.
Putaran Optik (-4)o - 0o -2o – (1,2)o
5.
Kelarutan Dalam Alkohol 80% 1 : 1 Jernih Jernih

1 : 2 Jernih Jernih

1 : 3 Jernih Jernih

s/d 1 : 10 Jernih Jernih
6.
Minyak Lemak Tidak diperkanankan -
7.
Minyak Pelikan Tidak diperkanankan -

Sumber : BARISTAN Ambon, 2008

Penyuluhan, pembinaan dan pendampingan telah dilakukan oleh pemerintah agar dihasilkan industri kecil yang mandiri dan jumlah serta mutu minyak terjamin.  Depatemen Perdagangan dan Industri telah memperkenal alat penyulingan kecil yang mudah dipindahkan untuk meringankan usaha kecil bidang minyak atsiri.  Hal ini memungkinkan petani penggarap minyak kayu putih termotivasi untuk meningkatkan jumlah dan kualitas minyak yang dihasilkan.  

Penanaman kembali pohon kayu putih untuk memperluas lahan usaha terkendala oleh harga minyak kayu putih yang tidak memenuhi harapan. Petani penggarap minyak kayu putih dapat  mengaplikasikan sistem agroforestry pada lahannya agar mereka dapat memelihara tanaman pangan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sumber : Manuhuwa, E, 2009. Hasil hutan bukan kayu Sebagai bagian dari pembangunan Hutan di Maluku. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Ambon. 




MANFAAT DAMAR RESIN DARI DIPTEROCARPACEAE

Kekayaan flora hutan Indonesia sangat beranekaragam, dan terdapat berbagai jenis hasil hutan non kayu salah satunya adalah damar. Manfaat damar atau yang biasa juga disebut resin, adalah sebagai bahan baku industri. Kualitas resin damar yang rendah dimanfaatkan pabrik cat bermutu rendah di Indonesia sedangkan mutu yang baik diekspor terutama ke Singapura. Dari Singapura, setelah diproses kemudian diekspor  sebagai insens atau bahan dasar industri cat, tinta, dan vernis di negara-negara maju. Sebagian kecil diekspor ke Indonesia untuk industri batik dan membuat insens berkualitas rendah.  Dewasa ini, Kalimantan dan terutama Sumatera Selatan merupakan  penghasil utama resin damar yaitu 80% dari total produksi.




Damar adalah resin yang diperoleh dari beberapa jenis pohon dari marga Dipterocarpaceae diantaranya meranti (Shorea spp). Resin tersebut dipanen dengan menyadap batang pohon yang masih hidup. Di Maluku terdapat 4 jenis damar yaitu damar mata kucing, damar pilau, damar batu dan damar daging dengan potensi rata-rata selama 5 tahun terakhir berkisar antara 20.000  kg s/d 715.000 kg (Anonim 2007). Penyebarannya diwilayah Seram Bagian Barat. Damar dihasilkan dari tumbuhan yang sakit atau mengalami kerusakan pada kayu gubalnya (Appanah dan Trumbull, 1998).

Resin damar dikelompokkan menjadi resin cair dan resin padat. Resin cair mengandung resin dan minyak esensial (oleresin) berwujud cair dan memiliki aroma yang khas. Resin padat adalah resin berbentuk padat karena sebagian kecil minyak esensialnya telah menguap. Resin padat mudah pecah atau patah (Appanah dan Trumbull, 1998). Resin damar mengandung asam gurjunik (C22H34O4) dan sejumlah naptha yang mudah menguap dan mengkristal.  Sifat fisik yang unik dari minyak damar adalah pada suhu 30oC  berubah menjadi gelatin.

Dalam tradisi masyarakat, resin damar dijadikan bahan bakar lampu, penambal perahu dan kerajinan tangan. Resin ini digunakan sebagai campuran resin aromatik, berupa styrax benzoin yang dimanfaatkan sebagai  bahan baku kemenyan dan disinfektan fumigan. Di luar Maluku dalam skala industri, resin damar dimanfaatkan pula sebagai bahan baku semir, kertas karbon, pita mesin ketik, plastik, vernis dan bantalan objek mikroskopik. Damar dapat juga digunakan sebagai bahan pelapis dinding, perekat kayu lapis dan asbes.



Resin damar dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk diare dan disentri, salep untuk penyakit kulit dan penyembuhan gangguan pendengaran, kerusakan gigi, sakit mata, bisul dan luka (Appanah dan Trumbull, 1998). Secara teknis, dapat digunakan sebagai bahan cat, celupan batik, lilin, tinta cetak, linoleum dan kosmetik. Triterpenes yang diisolasi dari damar telah digunakan sebagai media antivirus pada budidaya in vitro untuk penyakit Herpes simplex virus tipe I  dan II (Poehland et al, 1996).

Ada Masyarakat yang belum mengetahui pemanfaatan resin damar sebagai bahan baku industri, selain hanya secara tradisi digunakan untuk penerangan sehari hari. Resin damar dijual masih dalam bentuk bahan mentah dan belum diolah lebih lanjut. Teknik memanen dan mengolahnya masih secara konvensional, sehingga harga jualnya tidak menguntungkan selain belum ada pasar untuk menampungnya.

Sosialisasi kepada pemilik lahan damar tentang resin dan teknik memanen, seleksi dan gradingnya sangat perlu dilakukan. Pelatihan dan magang ke Sumatera Selatan sebagai kawasan yang berhasil dalam menghasilkan resin damar dapat memotivasi para petani untuk mengelola damarnya lebih baik dan berkualitas. Sebagai salah hasil hutan bukan kayu, maka sumber daya hutan tersebut harus dilestarikan melalui penanaman kembali pohon damar selain cara memanen yang harus mencegah kematian pohon yang bersangkutan.

Sumber :
Manuhuwa, E, 2009. Hasil hutan bukan kayu Sebagai bagian dari pembangunan Hutan di Maluku. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Ambon. 

ENDEMIK DAERAH

JURNAL PENELITIAN

Paling Populer