HASIL HUTAN NON KAYU : ROTAN


Rotan adalah hasil hutan non kayu yang dapat memberi konstribusi kepada masyarakat dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Rotan adalah tanaman pemanjat dari famili Palmae.  Rotan  tumbuh liar di dalam hutan atau ada yang sengaja ditanam. Rotan dapat dipanen setiap saat, dengan memperhatikan bagian bawah batangnya tidak tertutup oleh kelopak, daun sudah mengering, duri dan kelopak daun sudah rontok. Panen rotan yang tidak benar menghasilkan limbah yang besar. Rata-rata limbah pemanenan rotan  secara tradisional di Indonesia sebesar 12,6-28,5%, dan dengan menggunakan alat bantu tirfor dan lir sebesar 4,1-11,1%, sedangkan besarnya limbah yang dihasilkan selama pengangkutan berkisar antara 5-10%, Sinaga (1998).

Indonesia adalah Negara penghasil rotan terbesar di dunia. Luas hutan rotan di Indonesia sebesar 13,20 juta hektar tergolong kedalam 8 marga dan 306 jenis  daripadanya 51 jenis yang sudah dimanfaatkan. Jenis yang memiliki harga yang tinggi adalah  Calamus dan Daemonorops, yang terdapat juga di Maluku.  Maluku memiliki potensi rotan yang cukup besar, tiap tahun dihasilkan rotan sebesar 629.829 ton (Anonim, 2008).

Pemanenan dan pengolahan rotan masih dilakukan secara tradisional menggunakan alat alat  sederhana. Jumlah industri pengolahan rotan di Maluku sebanyak 19 buah yang berskala kecil hanya menghasilkan mebel dan asesoris rumahtangga. Produk tersebut dijual untuk memenuhi pasar lokal, namun sebenarnya dapat diekspor asalkan mutu dan designnya diperbaiki.

Komponen kimia, anatomi, sifat fisik dan mekanika rotan menentukan bentuk pemanfaatan dan mutu produk akhir suatu jenis rotan. Komponen kimia rotan menentukan kekuatan dan keawetan rotan.  Menurut Rachman (1996), komponen kimia rotan adalah  holoselulosa (71%-76%),  selulosa (39%-58%), lignin (18%-27%), silika (0,54-8%), tanin (8,14%-8,88%0) dan pati (18,50%-23,57%). Selulosa menentukan kekuatan tarik rotan Semakin tinggi kadar selulosa rotan maka makin besar pula keteguhan lenturnya. Lignin membuat ikatan antar sel serat menjadi kuat. Tanin berperan sebagai bahan yang bersifat racun terhadap rayap dan jamur (Jasni dkk, 1997).  Pati adalah  sumber makanan utama bubuk kayu selain rayap. Makin tinggi  kandungan pati dalam rotan, maka  makin mudah diserang oleh bubuk kayu kering (Jasni, 1998).

Ukuran sel pori dan  tebal dinding sel serat  menentukan keawetan dan kekuatan rotan.  Tebal dinding sel serat berkisar antara 3,49 µm – 4,89 µm. Makin tebal dinding sel maka makin keras  dan berat suatu jenis rotan  (Rachman, 1996). Sifat fisika dan mekanika rotan antara lain, berat jenis  0,47-0,57; kadar air basah 84,32%-167,11%; kadar air kering udara   13,76%-18,19%;  panjang ruas 20,76-37,20 cm; tingi buku 0,16-,39; keteguhan patah (MOR) 421-834 kg/cm2; keteguhan lentur (MOE)  14.548-22.000 kg/cm2.

Pengolahan Rotan

Rotan mentah atau rotan bulat diproses menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dalam industri, rotan dipisah menjadi bagian kulit dan bagian hati sesuai tujuan dan pemanfaatanya. Selanjutnya rotan digoreng, digosok, dicuci, dikeringkan, dipolis, dibengkokkan, diputihkan, dan diasap atau diawetkan. 

Pengrajin rotan di Maluku belum optimal mengelola usahanya. Salah satu masalah yang dihadapi adalah kurangnya modal, dan pemasaran yang terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, selain masih rendahnya motivasi masyarakat untuk bekerja dibidang kerajinan rotan.  Harga produk yang relatif tinggi dibandingkan mebel yang dibuat dari plastik menjadi kendala pemasarannya. Diharapkan adanya perhatian pemerintah untuk mengembangkan industri rotan di Maluku a.l. kredit modal usaha dan pemasarannya keluar daerah malahan ekspor asalkan mutu dan harganya dapat bersaing.  Peningkatan motivasi berusaha dalam industri rotan dapat dilakukan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan agar pengrajin rotan makin tekun berusaha malahan  membuka lapangan kerja baru.  (Manuhuwa, 2009).


Artikel Terkait :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Populer