BAHAN PENGAWET KAYU


Bahan pengawet kayu adalah bahan kimia beracun untuk mengawetkan  kayu guna meningkatkan ketahanannya terhadap serangan perusak biologis. Ada 3 jenis bahan pengawet kayu yaitu : 
  • Bahan pengawet berupa minyak
  • Bahan pengawet larut minyak
  • Bahan pengawet larut air
Persyaratan umum bahan pengawet adalah beracun terhadap organism perusak kayu, mempunyai daya tembus tinggi, tidak mudah luntur, tidak menimbulkan pengkaratan, tidak mengganggu sifat kayu, tidak berbahaya bagi manusia, tidak mempertinggi daya kebakaran, mudah diangkut dan dikerjakan, mudah diperoleh dan murah.

Sampai saat ini, belum ada satu jenis bahan pengawet kayu dapat memenui semua persyaratan tersebut. Dalam memilih bahan pengawet kayu perlu diperhatikan antara lain tujuan penggunaan kayu (di dalam atau di luar ruangan), jenis organisme perusak kayu yang akan dicegah serangannya, bentuk dan kualitas bahan atau barang yang akan diawetkan dan cara pengawetan yang akan digunakan.

Golongan Bahan Pengawet

Berdasarkan organisme sasaran , bahan pengawet kayu dapat digolongkan sebagai insektisida fungisida dan/atau  insektisida-fungisida. Bahan pengawet tersebut digolonhkan atas :
  • Golongan CCA  
Basicum 74 PA, Celcure 100P, Inpretecc 75 PA, Kemirin 75P, Osmose K-33-C,  Permawood 96P, Sarmix 1200AS, Tanalith 100FW,Tanalith CT 106.
  • Golongan CCB
Basilit 97 CB, Diffusol CB, Impralit CKB, dan Wolmanit CB.
  • Golongan BFCA
Celsol 77P, dan Koppers Formula 7.
  • Senyawaan Boron
Celbor 63 PA, Impralit B1, Boron Plus
  • Senyawaan Fluorida
Woodpen 90 SP
  • Bahan Pengawet Organik
Dengan bahan aktif chlorpyriphos, azipetac zink, alaphametrin, sifluthria, permethrin, decamethrin, poxim, TCMBT, MTC, MBT,Copper-8, dll.
  • Creosate
Khusus untuk tiang dan bantalan rel kereta api
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI NO. 3261/Kpts/PT.270/4/94, maka sejak Januari 1995 bahan pengawet yang mengandung arsen sudah tidak diizinkan lagi untuk digunakan.

BAHAN PENGAWET CCF

 


Bahan pengawet CCF merupakan campuran senyawa tembaga, chorm, dan fluor, jadi tidak mengandung senyawa arsen seperti halnya CCB. Beberapa waktu yang lalu pernah diizinkan satu formulasi CCF yang berbentuk serbuk, yang mengandung 100% bahan aktif dengan komposisi 36,3% CuSIF…….

Uji penetrasi CCF

Untuk mengetahui penembusan bahan pengawet  di dalam kayu dapat dilakukan pengujian berdasarkan uji penetrasi tembaga atau fluor.

BAHAN PENGAWET CCB

 

Bahan pengawet CCB merupakan campuran garam tembaga, chrom, dan boron. Diperkenalkannya bahan pengawet ini antara lain dimaksudkan untuk mengembangkan bahan pengawet yang  dapat mencegah serangan soft rot. Jamur pelunak kayu ini, praktis menyerang kayu yang berhubungan dengan tanah dan air. Golongan jamur ini lebih banyak menyerang jenis-jenis kayu daun lebar, meskipun jenis-jenis kayu daun jarum pun diserangnya juga. Terhadap bahan pengawet dengan bahan aktif fluor, boron, dan arsen, golongan jamur ini sangat resisten dan diperlukan retensi yang sangat tinggi, sehingga dianggap tidak ekonomis. Tetapi bahan pengawet yan mengandung bahan aktif tembaga dapat menahannya.


Untuk menanggulangi masalah soft rot ini, di samping bahan pengawet CCA yang memang mengandung tembaga, dikembangkan juga bahan pengawet yang mengandung bahan aktif tembaga, chorm dan boron. Bahan pengawet ini dapat dipakai untuk proses vakum-tekan dengan kensentrsi minimum 3,5%, sedangkan untuk kayu yang berhubungan dengan air harus dipakai larutan 5%. Bahan pengawet ini dapat juga dipakai untuk proses rendaman dengan konsentrasi 10%.

Karena CCB tidak mengandung arsen atau fluor, maka bahan pengawet ini dianggap kurang berbahaya jika misalnya dipindahkan dengan bahan pengawet FCAP. Selain dari fiksasi tembaga, bahan pengawet ini diharapkan juga mampu mengikat boron dalam jumlah yang cukup banyak untuk dapat menahan serangan jamur yang resisten terhadap tembaga, dikatakan bahwa fiksasi tembaga pada bahan pengawet ini mencapai 98-99%, sedangkan fiksasi boron berkisar antara 10-18%.

Uji Penetrasi CCB

Untuk mengetahui penembusan bahan pengawet ke dalam kayu, dapat dilakukan pengujian berdasarkan uji penetrasi tenbaga atau boron.
Persyaratan Retensi dan Penetrasi CCB
Pada semua metode pengawetan kayu bangunan perumahan dan gedung retensi dan penetrasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Retensi bahan aktif (kg/m2)                  Penetrasi (mm)
Bangunan di bawah atap 8,0                           10
Bangunan di luar atap                                     10

BAHAN PENGAWET BFCA

Bahan pengawet BFCA adalah pengembangan dari penggunaan senyawa boron khususnya untuk pengawetan kayu basah dengan metode difusi (diffusion), diperlukan konsentrasi tinggi. Di Australia campuran ini hanya digunakan untuk mencegah bubuk kayu kering. Sedangkan di Selandia Baru, diharapkan juga dapat mencegah serangan rayap dan jamur.


Dalam hal ini penelitian di Australia menunjukan bahwa beberapa jenis rayap ternyata resisten terhadap senyawa boron. Oleh karena itu untuk mengembangkan kemampuan campuran asam borat dan borax ini, perlu ditambahkan senyawa lain.

Dengan  menambahkan senyawa fluor, ternyata daya larut campuranboron itu menjadi lebih tinggi meskipun dalam keadaan dingin. Larutan dingin asam borat hanya sekitar 6% saja, tetapi dengan menambahkan garam fluoride, dapat mencapai konsentrasi tinggi, berhubung dengan pembentukan borofluorida dan pentaborat. Misalnya: dengan mencampurkan asam  borat dan Na-fluorida dalam proporsi yang sesuai, dapat diperoleh larutan dingin asam borat tidak kurang dari 25%, dengan reaksi kimianya adalah sebagai berikut : 32 H3BO3 + 8 NaF ==== 2 NaBF4 + 3 Na2B10 O16 + 48H2O

Untuk mencegah serangan bubuk kayu kering seperti Lyctus dan Anobium, larutan ini dapat langsung dipakai tanpa tambahan bahan kimia lain. Tetapi jika dikehendaki , sepeti untuk proteksi tehadap jamur dan rayap, perlu ditambahkan senyawa lain, misalnya senyawa arsen dan chorm. Penambahan  Na2HAsO47H2O ternyata lebih meningkatkan lagi daya larut garam boron, dan bersamaan dengan itu garam boron pun menaikan daya larut garam arsen. Dengan demikian  dapat diperoleh larutan yang sangat tinggi kadar garamnya dengan total 80% atau lebih tanpa pemanasan, dan ini sangat menguntungkan untuk pengawetan dengan proses difusi. Penambahan senyawa fluor, arsen dan chorm menyebabkan cmpuran ini menjadi efektif terhadap bubuk, rayap dan jamur. Lagipula penambahan chorm itu (bichromat) dapat mencegah pengkaratan, dan sekaligus juga meningkatkan daya tahan senyawa arsen dan fluor terhadap pelenturan.

Dalam perkembangan selanjutnya Na-hidrogen arsenat diganti  dengan aksenpentoksida yang lebih mudah didapat, sedangkan sebagai pengganti asam borat dapat dipakai beberapa senyawa boron yang dapat menghasilkan asam borat jika dilarutkan dalam air.

Uji penetrasi BFCA

Untuk mengetahui masuknya bahan pengawet kedalam kayu, dapat dilakukan pengujian berdasar uji penetrasi  boron, uji penetrasi fluor, atau arsen.
Persyaratan Retensi dan Penetrasi BFCA

Pada semua metode pengawetan kayu bangunan perumahan dan gedung, retensi bahan aktif untuk bangunan di bawah atap 6,0 kg/m3, dengan penetrasi 10 mm. Bahan pengawet ini tidak dianjurkan untuk dipakai pada bangunan di luar atap.

PENGERTIAN DAN DEFINISI ALIRAN RUNOFF



Pengertian dan Definisi Istilah Aliran Runoff dipergunakan untuk menunjukan adanya variasi proses pengumpulan air mengalir yang akhirnya menghasilkan aliran sungai. Variasi proses aliran itu adalah sebagai berikut:
  1. Air hujan yang langsung pada tubuh perairan sungai adalah air hujan yang pertama langsung menjadi satu dengan aliran sungai. 
  2. Aliran di atas permukaan tanah (overland flow) adalah air hujan yang meninggalkan daerah aliran sungai (DAS) setelah terjadi hujan (badai) atau disebut sebagai bagian air dari aliran sungai yang terjadi dari hujan neto yang tidak lagi mengalami infiltrasi ke tanah mineral, dan mengalir di atas permukaan tanah menuju sungai terdekat. 
  3. Aliran permukaan (surface runoff) adalah sinonim dengan overland flow (b), tetapi lebih banyak dipergunakan untuk pengukuran air di pemukaan sungai. 
  4. Aliran langsung di bawah permukaan (sub surface storm flow) bagian aliran sungai yang dipasok dari sumber air di bawah permukaan tanah, dan sampai di saluran sungai secara langsung. Proses ini tidak dapat diamati dengan mata, namun menambah debit sungai. Kadang-kadang dipergunakan kata sinonim, yaitu aliran dalam (interflow), tetapi kata ini sering dipergunakan untukaliran di bawah permukaan tanah yang tidak berada di atas permukaan air tanah. 
  5. Aliran permukaan langsung (direct runoff, strom flow); merupakan total dari ketiga komponen aliran sungai yaitu curah hujan yang langsung tersalur aliran ke sungai di atas permukaan tanah (overland flow, surface runoff), dan aliran cepat di bawah permukaan tanah (sub surface storm flow,interflow) yang umumnya dipergunakan untuk mencirikan banjir akibat karakteristik DAS. 
  6.  f. Aliran dasar ( base flow, grand water outflow): keluaran dari equifer air tanah yang dihasilkan dari air perkolasi vertical melalui profil tanah ke air tanah, dan ditopang oleh aliran perlahan-lahan dari zona aerasi (zone of aeration) pada daerah miring. 

Artikel Terkait :

PENGERTIAN DAN DEFINISI NERACA AIR (WATER BALANCE)


Pengertian dan Definisi dari Neraca air adalah air yang diterima dikurangi air yang hilang, sama dengan air yang tersimpan. Nilai neraca air dapat menjadi positif (+) atau negative (-).

Air yang diterima misalnya curah hujan, dan adanya irigasi sedangkan air yang hilang misalnya evaporasi dan transpirasi, intersepsi, dan air yang mengalir di sungai, dan akhirnya ke laut.

Air merupakan komponen yang penting dalam kehidupan. Namun air yang melimpah pada saat turun hujan dapat mengakibatkan banjir yang membawa bencana.

Artikel Terkait :



BAHAN ORGANIK TANAH


Pengertian dan Definisi Bahan Organik Tanah adalah akumulasi bahan yang merupakan sisa-sisa organisme-organisme yang telah mati sebagai contoh seresah hutan yang belum mengalami pelapukan maupun yang sudah mengalami pelapukan lebih lanjut.

Biasanya berupa daun ranting dan sebagainya, yang belum hancur dan menutupi permukaan tanah sehingga merupakan pelindung tanah terhadap kekuatan perusakan butir-butir hujan yang jatuh. Bahan organik juga dapat menghambat aliran air di atas permukaan tanah. Bahan organik yang telah mulai mengalami pelapukan mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyerap air dan menahan air yang tinggi.

Di atas tanah hutan hujan tropis, bahan organik ini yang sangat berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah. Tanah-tanah di daerah hutan hujan tropis terkenal dengan miskin hara karena struktur tanah tersusun oleh partikel lempung yang bermuatan negatif rendah seperti kaolinite dan illite.

Artikel Terkait :
  1. Pengertian serasah / lantai hutan (forest floor)
  2. Pengertian dan definisi produktivitas serasah
  3. Pengertian humus dan humufikasi
  4. Porositas tanah
  5. Struktur tanah
  6. Pengertian tekstur tanah
  7. Tanah organis
  8. Tanah mineral
  9. Tanah hutan
  10. Definisi dan Pengertian Tanah
  11. Klasifikasi Tanah
  12. Proses Pembentukan Tanah
  13. Pencemaran Tanah
  14. Manfaat Tanah
  15. Unsur Hara Nitrogen (N)
  16. Unsur Hara Fosfor (P)
  17. Unsur Hara Kalium (K)
  18. Bahan Organik Tanah
  19. Kemasaman Tanah (pH Tanah)
  20. Lengas Tanah
  21. Tekstur dan Struktur Tanah
  22. Pemupukan Tanaman

PENGERTIAN PEMOTONGAN CABANG (PRUNNING)


 

Pengertian dari Pemotongan Cabang (Prunning) adalah suatu tindakan pemeliharaan tegakan dengan cara memotong cabang-cabang dari batang pohon-pohon yang relative muda, dengan tujuan agar dapat diperoleh batang yang bebas dari mata kayu, dengan kualitas yang lebih baik. Memang cabang-cabang tersebut sebetulnya dapat tanggal secara alamiah khususnya apabila jarak antara pohon rapat, namun demikian telah diketahui bahwa rapatnya jarak antar pohon, juga akan dapat mengurangi volume produksi yang laku dijual dari suatu tegakan.



 

Perlakuan yang berupa pemotongan cabang merupakan suatu kegiatan pemeliharaan tegakan, yang memerlukan dana cukup mahal, dengan hasil yang nilainya sangat rendah, sebagai kayu bakar, atau mungkin tidak laku dijual. Biaya pemotongan cabang tentunya bervariasi, mulai dari yang murah sampai yang sangat mahal, tergantung dari jumlah pohon yang dipangkas per hektar, juga jumlah dan ukuran dari cabang, tinggi pemotongan cabang, kecepatan pertumbuhan, tingkat suku bunga yang dibebankan pada investasi modal, serta waktu yang diperlukan, sampai dengan tegakan tersebut siap panen.


Karena hasil dari pemotongan cabang niainya sangat rendah, maka kegiatan ini lebih cendrung sebagai bagian dari investasi modal. Tindakan tersebut dapat diterima secara ekonomis, apabila biaya yang diperlukan  nilainya lebih rendah dari selisih antara nilai batang yang dipotong cabangnya, dengan yang tidak dipotong pada akhir daur, walaupun prediksi untuk hal ini bukan merupakan sutu hal mudah.


Dari penelitian yang ada, dilaporkan bahwa tindakan pemotongan cabang pada beberapa jenis tertentu dengan waktu tertentu, telah memberikan keuntungan finansial yang lebih dibanding dengan yang tidak. Pemotongan cabang biasanya dilakukan terhadap pohon-pohon yang relatif muda, dan hanya cabang-cabang  yang berada pada bawah dari batang. Karena bagian batang inilah yang mempunyai nilai paling tinggi,  dan biaya pemotongan cabang akan semakin tinggi dengan semakin tingginya letak cabang tersebut.

DEFINISI DAN PENGERTIAN ANAKAN ALAMI


Pengertian dan Definisi dari Anakan Alami adalah tanaman muda yang tumbuh secara alami pada tegakan hutan. Anakan alami tidak hanya tumbuh dan berkembang di bawah atau di sekitar pohon induknya tetapi dapat juga di tempat-tempat yang jauh, khususnya bagi tumbuh-tumbuhan yang buah dan/ atau bijinya mudah tersebar oleh angin, air, maupun binatang.


Anakan alami akan mempunyai arti yang penting untuk pembuatan tanaman hutan bagi jenis-jenis yang sulit didapatkan bijinya dalam jumlah besar, atau jenis-jenis yang masa berbuahnya sangat jarang  missal 4 tahun sekali. Jenis-jenis Dipterocarpaceae merupakan jenisnya yang masa berbuahnya (dalam jumlah yang banyak) tidak selau setiap tahun tapi 3-4 tahun sekali.

PENGERTIAN DAN DEFINISI ANAKAN atau SEEDLING

Pengertian dan Definisi dari anakan atau seedling adalah anakan muda yang tumbuh dari biji. Salah satu tugas dan tanggungjawab yang paling penting rimbawan adalah penanaman kembali bagi lahan-lahan yang telah dipanen kayunya dan lahan-lahan kritis.

Untuk melaksanakan kegiatan penghutanan kembali, kawasan tersebut memerlukan anakan dalam jumlah yang besar. Untuk memperoleh anakan dalam jumlah yang besar, denagan kualitas yang baik dengan tata waktu yang tepat, umumnya dilakukan kegiatan persemaian, yaitu mulai dari penaburan biji, pemeliharaan semainya, sampai dengan semai siap ditanam di lapangan.



Perkembangan anakan sejak dari perkecambahan sampai dengan menjadi anakan yang kuat, merupakan periode yang paling rawan dan sulit, kerena anakan itu kebanyakan mati dalam proses regenerasi hutan yang terjadi selama periode ini. Sebagai konsekuensinya, apabila kita menghendaki agar proses regenerasi hutan bisa berhasil, maka kita harus mengetahui sifat-sifat dasar dari pertumbuhan anakan.

Ada dua tingkatan penting pada periode pertumbuhan anakan jenis-jenis daun jarum, yaitu tingkat sembulan (succulent) dan tingkat remaja ( juvenile).



Tingkat succulent berlangsung mulai dari anakan muncul di atas permukaan tanah sampai dengan hypocotyls menjadi keras, sementara tingkat juvenile mulai dari mengerasnya hypocotyls sampai anakan tersebut tumbuh kuat, dan resiko kematiannya rendah.


Beberapa penyebab terjadinya kematian pada anakan antara lain adalah akibat teriknya panas matahari atau kurangnya sinar matahari, kurangnya air dalam tanah, adanya gangguan hama dan penyakit serta tumbuhan pengganggu. Untuk menanggulangi penyebab-penyebab kematian anakan tersebut. Tentunya harus diketahui dari jenis penyebabnya. Guna menghindari kelebihan atau kekurangan cahaya matahari, maka naungan yang alami atau buatan harus diatur sesuai dengan kebutuhan cahaya yang diperlukan.

Penyinaran secara teratur pada anakan di persemaian akan menghindarkan anakan dari bahaya kekeringan. Sedangkan hama dan penyakit dapat dikendalikan atau ditanggulangi, baik dengan cara biologis maupun kimiawi.

Dalam analisis vegetasi untuk anakan atau seedling (semai) diklasifikasikan sampai ukuran tinggi 1,5 meter, sedangkan lebih tinggi 1,5 meter disebut sapihan atau pancang.

Artikel Terkait :

ENDEMIK DAERAH

JURNAL PENELITIAN

Paling Populer