<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878</id><updated>2012-02-23T17:27:04.524-08:00</updated><category term='Identifikasi Kebuh Benih'/><category term='Sosial Budaya Masyarakat Maluku Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam'/><category term='Gunung Merapi'/><category term='Konservasi ex situ'/><category term='Metode Survey Vegetasi'/><category term='EKONOMI MIKRO'/><category term='EVAPOTRANSPIRASI'/><category term='GENETIKA'/><category term='Definisi Pohon'/><category term='reboisasi dan penghijauan'/><category term='pertambangan'/><category term='Analisis vegetasi'/><category term='Manajemen Hutan'/><category term='abrasi pantai'/><category term='ARTIKEL LINGKUNGAN'/><category term='Embryo'/><category term='STRUKTUR TANAH'/><category term='Etat Tebangan Tahunan'/><category term='Dampak Pemanenan Kayu Hutan'/><category term='Masyarakat Hukum Adat'/><category term='Biomasa'/><category term='Vulkanisme'/><category term='Kultur Jaringan Jati'/><category term='TIPE SUKSESI'/><category term='Pengertian definisi Hutan'/><category term='Ekotipe'/><category term='PENGERTIAN HUTAN PRODUKSI'/><category term='Pengukuhan Kawasan Hutan'/><category term='ELEMEN PENGINDERAAN JAUH REMOTE SENSING'/><category term='definisi tanah'/><category term='LAJU EROSI'/><category term='apa itu tsunami'/><category term='Konservasi Sumber Daya Genetik'/><category term='Predator'/><category term='KAWASAN PENYANGGA'/><category term='Mangrove'/><category term='Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan'/><category term='Hak Masyarakat Adat dalam pengelolaan sumber daya hutan'/><category term='Pohon Tumbuh'/><category term='konservasi tanah'/><category term='habitat ekologi'/><category term='hutan sekunder'/><category term='Pembiakan vegetatif'/><category term='UANG'/><category term='Pemangsaan'/><category term='DAERAH PENYANGGA'/><category term='HUTAN PRIMER'/><category term='Fungsi Hutan'/><category term='Manfaat Ekonomi Pengusahaan Hutan'/><category term='INFLASI'/><category term='PENDIDIKAN TINGGI'/><category term='Definsi Sumber Benih'/><category term='amdal'/><category term='DEVALUASI'/><category term='DANAU'/><category term='Pemilihan Pohon Induk Plus'/><category term='EKONOMI'/><category term='TAHAP SUKSESI'/><category term='Penataan batas kawasan hutan'/><category term='Manfaat Hutan'/><category term='PENDIDIKAN'/><category term='ekosistem binaan'/><category term='Ekologi Hutan'/><category term='PENGERTIAN PENGIDERAAN JAUH'/><category term='PENGERTIAN HUKUM ADAT'/><category term='EKONOMI MAKRO'/><category term='Jenis Persemaian'/><category term='Perencanaan Kehutanan'/><category term='penyakit tanaman'/><category term='Definisi Hutan Mangrove'/><category term='Translokasi'/><category term='DAM ATAU BENDUNGAN'/><category term='Vegetasi Hutan'/><category term='Pengertian Hak Pengusahaan Hutan (HPH)'/><category term='Endosperm'/><category term='TEORI CONTINENTAL DRIFT'/><category term='persemaian'/><category term='Pengertian Alang-alang'/><category term='respirasi'/><category term='Konservasi Sumber Daya Alam'/><category term='Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem'/><category term='Hak Pengusahaan Hutan (HPH)'/><category term='unsur hara'/><category term='Transpirasi'/><category term='Kebun Benih'/><category term='Dampak Pengusahaan Hutan'/><category term='Audit Lingkungan'/><category term='Kebakaran Hutan'/><category term='Hutan Lindung'/><category term='Kerusakan Hutan'/><category term='persaingan'/><category term='DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BAGIAN HULU  /UPPER WATERSHED'/><category term='BIOLOGI'/><category term='EROSIBILITAS TANAH'/><category term='Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi'/><category term='Gempa Bumi'/><category term='RADIASI ELEKTROMAGNETIK SISTEM PENGINDERAAN JAUH'/><category term='Masyarakat Tradisional'/><category term='ekosistem air'/><category term='Ekstrasi benih'/><category term='Tata Nilai Sosial Budaya'/><category term='Lingkungan'/><category term='Definisi Silvikultur'/><category term='PDRB'/><category term='KOMUNIKASI DAN PENGUMPULAN DATA PENGINDERAAN JAUH'/><category term='Parasit'/><category term='Keuntungan Gunung Api'/><category term='Tipe Tipe Hutan Tropis'/><category term='Kultur jaringan'/><category term='Definisi Benih'/><category term='Faktor Ekslpoitasi (FE)'/><category term='Definisi Sumber Benih'/><category term='Habitat'/><category term='Kendala-kendala Pengusahaan Hutan'/><category term='Pembuahan'/><category term='populasi'/><category term='SUMBERDAYA'/><category term='Pengelolaan Satwa Liar'/><category term='Tumbuhan'/><category term='Pengertian Pengelolaan Kawasan Hutan Produksi'/><category term='Definisi Kehutanan'/><category term='Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove'/><category term='Hormon Tumbuhan'/><category term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category term='Ekowisata'/><category term='Persyaratan Fisiologis'/><category term='Benih Pohon'/><category term='Flora'/><category term='Pengertian Habitat'/><category term='Formasi Ekosistem Hutan'/><category term='Kerugian Gunung Api'/><category term='ILMU EKONOMI'/><category term='GPS (Global Positioning System)'/><category term='Hukum Adat dan Masyarakat Hukum Adat'/><category term='pemupukan'/><category term='Produktivitas'/><category term='SISTEM PENDIDIKAN'/><category term='Hama tanaman'/><category term='Definisi Homoestatis'/><category term='Interaksi antara spesies'/><category term='FUNGSI DAS'/><category term='Pariwisata'/><category term='DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)'/><category term='Pencemaran Tanah'/><category term='Manfaat Tanah'/><category term='DEBIT ALIRAN SUNGAI'/><category term='Definisi Gunung Berapi'/><category term='makalah lingkungan'/><category term='DEFORESTASI'/><category term='BIOENERGI'/><category term='fotosintesis'/><category term='Benih Bermutu'/><category term='Definisi Hutan Klimaks'/><category term='Konservasi in situ'/><category term='Konservasi Tradisional'/><category term='Suksesi Primer'/><category term='TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH'/><category term='Macam dan Tipe Hutan'/><category term='Penyebab terjadinya tsunami'/><category term='DEFLASI'/><category term='Plasma Nutfah'/><category term='DEGRADASI HUTAN'/><category term='Tanaman Jati'/><category term='Penunjukkan kawasan hutan'/><category term='ekosistem'/><category term='Pengertian Hutan Alam'/><category term='evaporasi'/><category term='Kriteria Kelestarian Hasil Hutan'/><category term='Suksesi Sekunder'/><category term='Ovule'/><category term='Bioteknologi'/><category term='Annual Allowable Cut (AAC)'/><category term='EVALUASI LAHAN'/><category term='Penyimpanan Benih'/><category term='Suksesi Hutan'/><category term='PENGINDERAAN JAUH  REMOTE SENSING'/><category term='Heterogenitas Ruang'/><category term='Penyulaman Tanaman'/><category term='Pengertian Hak ulayat'/><category term='Pariwisata Minat Khusus'/><category term='Stratifikasi Hutan'/><category term='KEANEKARAGAMAN HAYATI'/><category term='Pengertian Riap Pertumbuhan'/><category term='Benih Bermutu Genetik'/><category term='Tipe Tipe Hutan Alam'/><category term='Inventarisasi Hutan'/><category term='Penyerbukan'/><title type='text'>DEFINISI | ISTILAH | PENGERTIAN | ARTI KATA</title><subtitle type='html'>Pengertian Istilah dan Definisi untuk Pelajar dan Mahasiswa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>228</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2689292035691536342</id><published>2012-02-22T00:12:00.009-08:00</published><updated>2012-02-22T00:37:35.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyerbukan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Benih'/><title type='text'>PENYERBUKAN ATAU POLINASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-rSF3uSnLQdY/T0SnnTisLDI/AAAAAAAAAs4/Z0Js_7-BtGE/s1600/penyerbukan-bunga.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 408px; height: 540px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-rSF3uSnLQdY/T0SnnTisLDI/AAAAAAAAAs4/Z0Js_7-BtGE/s400/penyerbukan-bunga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5711874521115143218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari Penyerbukan atau Polinasi adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) ke kepala putik (stigma) sehingga akan terjadi proses pembuahan.  Dari bentuk bantuan atau cara terjadinya penyerbukan dapat dikategorikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Anemogami&lt;/i&gt; adalah penyerbukan dengan bantuan angin.  Anemogami terjadi pada tumbuhan yang memiliki bunga dengan ciri-ciri:  bunga berukuran kecil; tidak mempunyai mahkota bunga atau mahkota  bunganya berukuran kecil, mahkota bunga tidak berrvarna menarik atau  berwarna seperti daun; tidak mempunyai kelenjar madu; tangkai bunga  panjang. bunga terletak jauh di atas daun; serbuk sari kecil, sangat  banyak, dan ringan sehingga mudah diterbangkan angin; kedudukan benang  sari bergantungan, serbuk sarinya berhamburan jika digoyang; kepala  putik besar, berbulu, tangkai putik terjulur ke luar, kepala putik  menyembul keluar dari bunga sehingga mudah menangkap serbuk sari.  Anemogami dapat terjadi pada rumput-rumputan, padi, dan jagung.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Hidrogami &lt;/i&gt;adalah penyerbukan dengan bantuan air.  Hidrogami dapat terjadi pada Hydrilla sp, eceng gondok, dan teratai.  Penyerbukan dengan bantuan air akan terjadi jika tubuh tanarnan terendam  dalam air.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Zoidiogami&lt;/i&gt; adalah penyerbukan dengan bantuan hewan.  Zoidiogami terjadi pada tumbuhan yang memiliki bunga dengan ciri-ciri:  bunga berukuran besar; mahkota bunga berwarna mencolok dengan aroma  khas; memiliki kelenjar madu; serbuk sari bersifat lengket (mudah  melekat). Zoidiogami dapat terjadi pada jambu, mangga, jeruk, dan  pepaya. Zoidiogami dibedakan berdasarkan jenis hewan yang membantu  penyerbukan. Misalnya. Entomogami (penyerbukan dengan bantuan serangga,  antara lain lalat, kumbang, dan lebah), malakogami (penyerbukan dengan  bantuan siput/bekicot), dan kiropterogani (penyerbukan dengan bantuan  kelelawar). &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyerbukan dengan bantuan manusia (antropogami), sampainya serbuk  sari ke kepala putik dengan bantuan manusia. Hal ini terjadi karena  tidak ada perantara yang membantu penyerbukan. Penyerbukan ini dapat  terjadi pada vanili dan beberapa jenis anggrek. Penyerbukan ini  dilakukan untuk mendapatkan jenis bibit baru yang unggul.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan  asal serbuk sari yang jatuh ke kepala putik. penyerbukan dapat dibedakan  sebagai berikut.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Penyerbukan sendiri (autogami)&lt;/i&gt;, terjadi apabila serbuk  sari yang jatuh ke kepala putik berasal dari benang sari bunga itu  sendiri. Jika terjadinya penyerbukan pada saat bunga masih kuncup,  disebut kleistogami.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Penyerbukan tetangga (geitonogami)&lt;/i&gt;, terjadi apabila serbuk sari yang jatuh ke kepala putik berasal dari benang sari bunga lain dalam satu tanaman.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Penyerbukan silang (allogami)&lt;/i&gt;, terjadi apabila serbuk  sari yang jatuh ke kepala putik berasal dari benang sari bunga tanaman  lain yang termasuk satu jenis (spesies).  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Penyerbukan bastar&lt;/i&gt;, terjadi apabila serbuk sari yang  jatuh ke kepala putik berasal dari benang sari bunga tanaman lain yang  sejenis, tetapi berbeda varietas, misalnya bunga mangga manalagi  diserbuki bunga mangga golek. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/endosperm.html" target="_blank"&gt;Endosperm dalam Biji&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/embryo.html" target="_blank"&gt;Embryo&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/ovule.html" target="_blank"&gt;Ovule&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/pembuahan.html" target="_blank"&gt;Pembuahan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/penyerbukan.html" target="_blank"&gt;Penyerbukan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/penyerbukan-atau-polinasi.html" target="_blank"&gt;Penyerbukan atau polinasi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/bioteknologi.html" target="_blank"&gt;Bioteknologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/08/kebun-benih.html" target="_blank"&gt;Kebun Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2689292035691536342?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2689292035691536342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2689292035691536342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/penyerbukan-atau-polinasi.html' title='PENYERBUKAN ATAU POLINASI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-rSF3uSnLQdY/T0SnnTisLDI/AAAAAAAAAs4/Z0Js_7-BtGE/s72-c/penyerbukan-bunga.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3952321458519470651</id><published>2012-02-21T23:34:00.004-08:00</published><updated>2012-02-22T00:07:57.100-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Benih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Sumber Benih'/><title type='text'>Diosis atau Berumah Dua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tkbBFEKJdUE/T0ShQoCiepI/AAAAAAAAAsg/FN1YiNj8HUg/s1600/salak-jantan-betina.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 455px; height: 341px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tkbBFEKJdUE/T0ShQoCiepI/AAAAAAAAAsg/FN1YiNj8HUg/s400/salak-jantan-betina.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5711867534410676882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bunga Salak Jantan dan Bunga Salak Betina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diosis atau Berumah Dua adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan tumbuhan yang organ reproduksi jantan dan betina tidak terdapat satu tumbuhan. Suatu  spesis atau tingkatan  takson lain dimana  individu-individunya  uniseksual (jantan atau betina), misalnya salak, pakis haji, rotan dan  beberapa jenis  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Casuarina&lt;/span&gt;. Lawannya adalah Monoesis atau berumah satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zrvjR4A15B8/T0SiHj5qZeI/AAAAAAAAAss/C9GF8ZxBsDE/s1600/penyerbukan-salak-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 454px; height: 340px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zrvjR4A15B8/T0SiHj5qZeI/AAAAAAAAAss/C9GF8ZxBsDE/s400/penyerbukan-salak-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5711868478192510434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3952321458519470651?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3952321458519470651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3952321458519470651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/diosis-atau-berumah-dua.html' title='Diosis atau Berumah Dua'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tkbBFEKJdUE/T0ShQoCiepI/AAAAAAAAAsg/FN1YiNj8HUg/s72-c/salak-jantan-betina.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-1532067501882810167</id><published>2012-02-19T05:03:00.006-08:00</published><updated>2012-02-21T23:34:16.626-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konservasi Sumber Daya Genetik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SUMBERDAYA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konservasi Sumber Daya Alam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan'/><title type='text'>DEFINISI DAN PENGERTIAN SUMBER DAYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-f8TRPudc68k/T0D10l0Z30I/AAAAAAAAAsQ/AZ4LItOHBRU/s1600/sumber-daya.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 462px; height: 346px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-f8TRPudc68k/T0D10l0Z30I/AAAAAAAAAsQ/AZ4LItOHBRU/s400/sumber-daya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710834611359702850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan pengertian dari Sumber Daya dapat dijelaskan sebagai berikut : Sumber Daya merupakan unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber  daya manusia,  sumber daya alam hayati, sumber daya alam nonhayati, dan  sumber daya buatan  (Undang-undang Republik  Indonesia Nomor  4 Tahun  1982). Dengan demikian, semua sumber baik manusia, materi maupun   energi yang secara nyata dan potensial dapat digunakan untuk  meningkatkan  kesejahteraan manusia disebut sumber daya (Manan, 1978).  Menurut Soerianegara  (1977) bahwa hutan, tanah, air, tanaman pertanian,  padang rumput, dan populasi  ikan merupakan beberapa contoh sumber daya  alam yang dapat dipulihkan  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;renewable resources&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan disebut  sebagai sumber daya alam yang dapat  dipulihkan karena proses regenerasi  tegakan hutan, baik secara alamiah maupun  secara buatan dapat terjadi  dalam periode waktu yang tidak sangat lama (10  tahun, 20 tahun, 30  tahun, 40 tahun, 50 tahun, 70 tahun, atau 100 tahun)  sehingga manusia  yang melakukan proses pemulihan hutan memungkinkan dapat  melihat  kembali wujud hutan yang dibangun, bahkan memungkinkan memanfaatkan   hasilnya. Berbeda dengan bahan-bahan tambang, misalnya minyak bumi dan  batu  bara, dikatagorikan sebagai sumber daya alam yang tidak dapat  dipulihkan  (&lt;em&gt;nonrenewable resources&lt;/em&gt;). Mengingat terbentuknya  bahan tersebut hanya terjadi  secara alamiah dan memerlukan waktu yang  sangat lama (ratusan bahkan ribuan  tahun), sehingga pemanfaatannya  harus sehemat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  karena itu, kelestariaan sumber daya alam tersebut bergantung  pada tingkat  eksploitasi yang dilakukan manusia. Untuk sumber daya  hutan dan  sumber daya pertanian, kelestariannya sangat  bergantung  kepada tingkat eksploitasi dan upaya rehabilitasi yang seimbang  dengan  eksploitasinya. Melalui upaya rehabilitasi lahan hutan dan pertanian   diharapkan keseimbangan ekologi tetap terjaga artinya keseimbangan  dinamis  antara manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan hidup akan  lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ul style="font-family: verdana;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/03/konservasi-sumber-daya-alam.html" target="_blank"&gt;Konservasi Sumber Daya Alam&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-plasma-nutfah.html" target="_blank"&gt;Definisi Plasma Nutfah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/manfaat-keanekaragaman-hayati.html" target="_blank"&gt;Manfaat Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-in-situ.html" target="_blank"&gt;Konservasi Insitu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-ex-situ.html" target="_blank"&gt;Konservasi Exsitu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-sumber-daya-genetik.html" target="_blank"&gt;Konservasi Sumber Daya Genetik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a target="_blank" dir="ltr" href="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/manfaat-dan-ancaman-keanekaragaman.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CAYQFjAB&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNFD8HZfnxGa2Ria3hJNpEGxTfowyg" class="gs-title"&gt;Manfaat dan Ancaman Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a target="_blank" dir="ltr" href="http://indonesiaforest.net/silvika.html" class="gs-title"&gt;Prespektif Silvika Dalam Keanekaragaman Hayati dan Silvikultur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a dir="ltr" target="_blank" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/keanekaragaman-hayati.html" class="gs-title"&gt;Istilah Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/pengelolaan-keanekaragaman-hayati-dalam-ekosistem-hutan/" target="_blank"&gt;Pengelolaan Keanekaragaman Hayati  dalam Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a dir="ltr" target="_top" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/keanekaragaman-hayati-dalam-hutan.html" class="gs-title"&gt;Keanekaragaman Hayati dalam Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a dir="ltr" target="_top" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/konservasi-keanekaragaman-hayati.html" class="gs-title"&gt;Konservasi Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a dir="ltr" target="_top" href="http://www.irwantoshut.net/bioindikator.html" class="gs-title"&gt;Keanekaragaman Serangga Sebagai Spesies Indikator&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a target="_blank" dir="ltr" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/faktor-penentu-perubahan-keanekaragaman.html" class="gs-title"&gt;Faktor Penentu Perubahan Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a dir="ltr" target="_top" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/hierarki-biodiversity.html" class="gs-title"&gt;Hierarki Keanekaragaman Hayati (Biodiversity)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a dir="ltr" target="_top" href="http://indonesiaforest.net/tumbuhan_satwa.html" class="gs-title"&gt;Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-1532067501882810167?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1532067501882810167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1532067501882810167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-dan-pengertian-sumber-daya.html' title='DEFINISI DAN PENGERTIAN SUMBER DAYA'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-f8TRPudc68k/T0D10l0Z30I/AAAAAAAAAsQ/AZ4LItOHBRU/s72-c/sumber-daya.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2739989414179675100</id><published>2012-02-19T04:39:00.005-08:00</published><updated>2012-02-20T00:16:00.808-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL LINGKUNGAN'/><title type='text'>DEFINISI DAN PENGERTIAN LINGKUNGAN HIDUP MENURUT PARA AHLI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-L32YPuE-f3c/T0Dxfxu_6dI/AAAAAAAAArs/9bMizdEybL0/s1600/lingkungan-hidup.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 460px; height: 305px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-L32YPuE-f3c/T0Dxfxu_6dI/AAAAAAAAArs/9bMizdEybL0/s400/lingkungan-hidup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710829855734491602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian Lingkungan  hidup adalah suatu kesatuan ruang dengan semua benda, daya,  keadaan, dan makhluk  hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya  yang berpengaruh pada  kelangsungan perikehidupan dan kesejahtraan  manusia serta mahkluk hidup  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya dukung lingkungan merupakan  kemampuan lingkungan untuk mendukung  perikehidupan manusia dan mahkluk  hidup lainnya (Undang-undang Republik  Indonesia Nomor 4 Tahun 1982).  Menurut para ahli : Manan (1978)   mengemukakan bahwa daya dukung lingkungan merupakan  kemampuan lingkungan  untuk medukung kehidupan pada tingkat yang  memungkinkan terhadap kegiatan manusia  dalam mencapai hidup yang wajar  dan lestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JkylKVIBtq0/T0DxuVAPZlI/AAAAAAAAAr4/EAqOgoyMcLs/s1600/lingkungan-hidup-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 461px; height: 327px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JkylKVIBtq0/T0DxuVAPZlI/AAAAAAAAAr4/EAqOgoyMcLs/s400/lingkungan-hidup-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710830105720219218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Daya dukung lingkungan harus diperhatikan agar setiap upaya  manusia memanfaatkan sumber daya alam disesuaikan  dengan daya  dukungnya. Misalnya pada pengelolaan hutan produksi, pemaanfaatan  kayu  yang dilakukan melalui kegiatan pemanenan kayu harus disesuaikan dengan   kemampuan lahan hutan menghasilkan kayu setiap hektar setiap tahun yang  dikenal  riap tahunan rata-rata (MAI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riap tahunan rata-rata sebagai  daya dukung untuk  hutan produksi dalam menghasilkan kayu, sehingga jika  pengelola hutan produksi  menghendaki  hutannya lestari maka  besarnya  jatah penebangan tahunan (JPT) tidak boleh melebihi riap tahunan  rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CljB1FZE2Rw/T0Dx_DPJa6I/AAAAAAAAAsE/DEdJu2vN7uU/s1600/lingkungan-hidup-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 457px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CljB1FZE2Rw/T0Dx_DPJa6I/AAAAAAAAAsE/DEdJu2vN7uU/s400/lingkungan-hidup-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710830393008679842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-dan-pengertian-lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/artikel-lingkungan.html" target="_blank"&gt;Artikel dam Makalah Lingkungan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/amdal-analisis-mengenai-dampak.html" target="_blank"&gt;Pengertian AMDAL&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/amdal_kehutanan.html"&gt;Penerapan AMDAL Pada Pembangunan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-dan-pengertian-audit.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Audit Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Pengertian Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Pengertian Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html"&gt;Pengertian Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Pengertian Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Pengertian Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/formasi-ekosistem-hutan.html" target="_blank"&gt;Formasi Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-hujan-tropis.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Hujan Tropis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-musim.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Musim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Pantai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-rawa.html%20target=" _blank=""&gt;Ekosistem Hutan Rawa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-gambut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Gambut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2739989414179675100?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2739989414179675100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2739989414179675100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-dan-pengertian-lingkungan.html' title='DEFINISI DAN PENGERTIAN LINGKUNGAN HIDUP MENURUT PARA AHLI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-L32YPuE-f3c/T0Dxfxu_6dI/AAAAAAAAArs/9bMizdEybL0/s72-c/lingkungan-hidup.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2323912264754524946</id><published>2012-02-17T18:05:00.000-08:00</published><updated>2012-02-17T19:09:15.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konservasi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reboisasi dan penghijauan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyulaman Tanaman'/><title type='text'>PENGERTIAN REBOISASI DAN PENGHIJAUAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-uZaQS7R13CE/Tz8S8dwDhjI/AAAAAAAAArE/T0VFJbR9ywQ/s1600/penanaman-hutan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 456px; height: 303px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uZaQS7R13CE/Tz8S8dwDhjI/AAAAAAAAArE/T0VFJbR9ywQ/s400/penanaman-hutan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710303682516715058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengertian dan definisi reboisasi dan penghijauan ditinjau  dari aspek rehabilitasi atau pemulihan lahan kritis, sebenarnya istilah dan arti kata ini hampir sama. Perbedaan arti kedua istilah  tersebut  pada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sasaran lokasi&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kesesuaian jenis  tanaman&lt;/span&gt;"&lt;/span&gt; yang ditanam  pada masing-masing lokasi kegiatan.&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5LPCTivNi6A/Tz8TarA2f6I/AAAAAAAAArc/pQnLILNYACI/s1600/reboisasi-penghijauan-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 455px; height: 297px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5LPCTivNi6A/Tz8TarA2f6I/AAAAAAAAArc/pQnLILNYACI/s400/reboisasi-penghijauan-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710304201472901026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Reboisasi  merupakan kegiatan penghutanan kembali kawasan hutan bekas  tebangan maupun  lahan-lahan kosong yang terdapat di dalam kawasan  hutan (Manan 1978). Reboisasi  meliputi kegiatan permudaan pohon,  penanaman jenis pohon lainnya di area hutan  negara dan area lain sesuai  rencana tata guna lahan yang diperuntukkan sebagai  hutan. Dengan  demikian, membangun hutan baru pada area bekas tebang habis,  bekas  tebang pilih, atau pada lahan kosong lain yang terdapat di dalam kawasan   hutan termasuk reboisasi (Kadri dkk,  1992).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ov97zGZGFQ0/Tz8TLv3ZA0I/AAAAAAAAArQ/LGuNL9RpX_0/s1600/reboisasi-penghijauan-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 456px; height: 338px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ov97zGZGFQ0/Tz8TLv3ZA0I/AAAAAAAAArQ/LGuNL9RpX_0/s400/reboisasi-penghijauan-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710303945077359426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Penghijauan  merupakan kegiatan penanaman pada lahan kosong di luar   kawasan hutan, terutama pada tanah milik  rakyat dengan tanaman keras,  misalnya jenis-jenis pohon hutan, pohon buah,  tanaman perkebunan,  tanaman penguat teras, tanaman pupuk hijau,  dan rumput pekan ternak.  Tujuan penanaman  agar lahan tersebut dapat dipulihkan, dipertahankan,  dan ditingkatkan kembali  kesuburannya. (Manan 1976; Supriyanto,1984).  Menurut (Kadri dkk,  1992) upaya yang termasuk dalam rangkaian kegiatan  penghijauan, yang sudah  disebutkan berupa pembuatan bangunan pencegah  erosi tanah, misalnya pembuatan  sengkedan (teras) dan bendungan (check  dam) yang dilakukan pada area di luar  kawasan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/01/penataan-batas-kawasan-hutan.html" target="_blank"&gt;Penataan batas kawasan hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/01/penunjukkan-kawasan-hutan.html" target="_blank"&gt;Penunjukkan kawasan hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/01/pengukuhan-kawasan-hutan.html" target="_blank"&gt;Pengukuhan Kawasan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/01/inventarisasi-hutan.html" target="_blank"&gt;Inventarisasi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/01/perencanaan-kehutanan.html" target="_blank"&gt;Perencanaan Kehutanan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/index.html" target="_blank" class="style1"&gt;Definisi Silvikultur&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_persemaian.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Persemaian&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/jenis-jenis_persemaian.html" target="_blank"&gt;Jenis-Jenis Persemaian&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/fungsi_akar_tanaman.html" title="manfaat dan fungsi akar tanaman" target="_blank"&gt;Manfaat dan Fungsi Akar Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/karakteristik_akar.html" title="Karakteristik Perakaran Pohon" target="_blank"&gt;Karakteristik Perakaran Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/distribusi_perakaran_pohon.html" title="Distribusi dan Biomasa Perakaran Pohon" target="_blank"&gt;Distribusi dan Biomasa  Perakaran Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/kecepatan_pertumbuhan_akar.html" title="Kecepatan Pertumbuhan Perakaran Pohon" target="_blank"&gt;Kecepatan Pertumbuhan Perakaran Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengaruh_lingkungan_pertumbuhan_akar.html" title="Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Akar" target="_blank"&gt;Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/kemampuan_pertumbuhan_akar.html" title="Kemampuan Pertumbuhan Akar" target="_blank"&gt;Kemampuan Pertumbuhan Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengentenan_akar.html" title="Pengentenan Akar" target="_blank"&gt;Pengentenan Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/patogen_akar.html" title="Patogen Akar" target="_blank"&gt;Patogen Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/control_akar_dalam_persemaian.html" title="Kontrol Perkembangan Akar Dalam Persemaian" target="_blank"&gt;Kontrol Perkembangan Akar Dalam Persemaian&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Faktor-Faktor_Lingkungan_dan_Pertumbuhan.html" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan &amp;amp; Pertumbuhan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2323912264754524946?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2323912264754524946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2323912264754524946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/pengertian-reboisasi-dan-penghijauan.html' title='PENGERTIAN REBOISASI DAN PENGHIJAUAN'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uZaQS7R13CE/Tz8S8dwDhjI/AAAAAAAAArE/T0VFJbR9ywQ/s72-c/penanaman-hutan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2885309972732217656</id><published>2012-02-17T06:58:00.000-08:00</published><updated>2012-02-17T18:12:15.651-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STRUKTUR TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konservasi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>KONSERVASI TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-FKf_YrDsuTY/Tz5t2ma7DoI/AAAAAAAAAqs/rUD6LlVBkXg/s1600/konservasi-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 465px; height: 288px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FKf_YrDsuTY/Tz5t2ma7DoI/AAAAAAAAAqs/rUD6LlVBkXg/s400/konservasi-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710122162346200706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengertian dari konservasi tanah adalah upaya untuk mempertahankan,  memelihara, memperbaiki/merehabilitasi, dan meningkatkan jumlah daya  tanah, agar berdaya guna optimum sesuai dengan pemanfaatannya atau  fungsinya. Konservasi meliputi masalah-masalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Benefisiasi : mempertahankan serta mempertinggi fungsi, manfaat atau faedah sumberdaya tertentu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Preservasi : pemeliharaan untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas sumberdaya tertentu sepanjang waktu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Restorasi : pemeliharaan, perbaikan untuk meningkatkan manfaat dan perkembangan sumber-sumber biotik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reklamasi : mengubah sumber-sumber yang tidak produktif atau tidak berguna, menjadi produktif dan bermanfaat kembali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Efisiensi : pemanfaatan atau pengeluaran sesuatu sumber yang tidak  boros atau berlebihan tetapi sesuai dengan keperluan atau kebutuhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daur Ulang dan Pemanfaatan Ulang (Recicling dan Reuse) : upaya  untuk mengolah ulang atau mendaur ulang bahan-bahan, sisa (waste)  menjadi barang baru untuk bisa dipergunakan kembali.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan konservasi antara lain termasuk : pengendalian banjir,  pengendalian erosi, pembangunan pedesaan, fasilitas kesediaan air,  irigasi, drainage, pengatur pembuangan limbah, reboisasi, penghijauan  dan perhutanan sosial.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3rjghbBM7gI/Tz5uOTwyYdI/AAAAAAAAAq4/6Q6OMu_TKes/s1600/konservasi-tanah-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 460px; height: 363px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-3rjghbBM7gI/Tz5uOTwyYdI/AAAAAAAAAq4/6Q6OMu_TKes/s400/konservasi-tanah-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710122569654493650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html" target="_blank"&gt;Porositas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2885309972732217656?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2885309972732217656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2885309972732217656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/konservasi-tanah.html' title='KONSERVASI TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FKf_YrDsuTY/Tz5t2ma7DoI/AAAAAAAAAqs/rUD6LlVBkXg/s72-c/konservasi-tanah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-9058470204997093938</id><published>2012-02-17T06:08:00.000-08:00</published><updated>2012-02-17T06:34:47.620-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEORI CONTINENTAL DRIFT'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekologi Hutan'/><title type='text'>TEORI CONTINENTAL DRIFT | Penyebaran Tumbuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-GvcII-3_xDc/Tz5haPslYNI/AAAAAAAAAqg/K5koTVZFmCU/s1600/teori-continental-drift-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 471px; height: 358px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-GvcII-3_xDc/Tz5haPslYNI/AAAAAAAAAqg/K5koTVZFmCU/s400/teori-continental-drift-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5710108481070391506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori Continental drift adalah teori yang menerangkan bahwa pada zaman sebelumnya, kurang lebih 200 juta   tahun, semua benua pernah bersatu dalam satu dataran besar. Kemudian  benua itu  terpisah sesuai dengan bukti-bukti secara geomorfologis,  geofisika, magnetis  bumi, usia batu-batuan dan oceanografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wilson (1963), dataran purba merupakan superkontinen, dimana  pada  permulaan Zaman Kapur (± 120 juta tahun yang lalu) mengalami  keretakan yang berakibat  timbulnya Lautan Atlantik. Retakan lain  terjadi lebih kurang 160 juta tahun  lalu, yang memisahkan Afrika dari  India dan Australia serta memisahkan  Australia dengan Antartika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, iklim sangat berperan juga dalam penyebaran flora.  Terjadinya  iklim ekstrem atau perubahan besar mengakibatkan musnahnya  migrasi, adaptasi  dan evolusi flora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat hutan merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh, juga   merupakan masyarakat yang dinamis, yang terbentuk secara  berangsur-angsur  melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuh ­tumbuhan.  Tahap tersebut antara lain adaptasi, agregasi,  persaingan dan  penguasaan serta reaksi terhadap tempat tumbuh serta  stabilisasi.  Proses inilah yang disebut suksesi. Suksesi ini merupakan hasil  dari  tumbuhan itu sendiri, dalam arti bahwa tumbuhan yang berada dalam daerah   tersebut suatu saat mampu mengubah lingkungannya, seperti tanah,  tumbuhan dan  iklim mikro di atasnya. Hal ini akan membuat spesies lebih  mudah menyesuaikan  diri daripada tumbuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  masyarakat hutan akan mengalami  perkembangan dan proses penuaan yang  terjadinya dipengaruhi faktor-faktor  tempat tumbuh dan reaksi dari  vegetasi terhadap tempat tumbuh tersebut. Proses  perkembangan  masyarakat hutan inilah dinamakan suksesi hutan. Tidak banyak  manusia  mengetahui bahwa tumbuhan seperti hutan alam tropika basah yang tumbuh   dengan mewahnya di Indonesia adalah melalui bentukan proses suksesi yang   berlangsung selama berpuluh bahkan beratus tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan  ini tidak  terjadi begitu saja tetapi dapat diramalkan pola dan arahnya  untuk suatu lokasi  dan masyarakat tumbuhannya. Sejak awal suksesi  sampai terjadinya stabilisasi  atau keseimbangan dinamis dengan  lingkungan, telah terjadi pergantian  masyarakat tumbuh-tumbuhan  sehingga nantinya akan terbentuk masyarakat tumbuhan  yang sudah mantap  yang disebut vegetasi klimaks, misalnya hutan tropika basah,  hutan  musim jati dan hutan bakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu contoh kejadian adalah di lereng gunung yang pada suatu waktu   tertentu mengalami bencana meletusnya gunung berapi. Lereng tersebut  akan  tertutup dengan bahan-bahan vulkanik dari hasil letusan gunung,  sehingga tidak  ada satu tumbuh-tumbuhan pun yang bisa hidup di atas  batuan baru. Hal ini  disebabkan min­eral-mineral batuan yang dibutuhkan  tumbuhan dalam hidupnya belum  terurai. Karena batuan mulai lapuk oleh  cuaca dari tahun ke tahun,  tumbuh-tumbuhan mulai bermunculan. Yang  mulai mampu tumbuh dan mendiami daerah  tersebut hanyalah tumbuhan yang  mampu menyesuaikan dengan batuan vulkanis muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diakibatkan oleh  adanya angin keras yang membawa biji-bijian dan spora  yang  terperangkap dalam rekahan dan celah di bawah di antara batu-batuan.   Tumbuhan sebangsa ganggang, cendawan dan lumut kerak (Lichenes), lumut  hati dan lumut daun, adalah makhluk perintis  kehidupan yang tangguh dan  terkhususkan. Lumut kerak sisa yang ditinggalkan  mengalami proses yang  lambat-laun mampu membentuk kandungan organik berupa  selaput humus.  Kemudian bersama unsur-unsur iklim dan cuaca, mereka mengalami   pelapukan dan perubahan-perubahan pada batu-batuan dan unsur-unsur  fisik  lainnya, sehingga membentuk lingkungan fisik yang lebih cocok  bagi tumbuhan  pelopor jenis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, apabila mati,  tumbuhan jenis lain  tersebut akan bermanfaat sebagai hara bagi tumbuhan  selanjutnya yang akan  menggantikan tumbuhan sebelumnya yang kurang  cocok dengan situasi baru. Spesies  yang mati tersebut dimungkinkan  karena terlalu dini memasuki daerah baru, yakni  pada waktu habitatnya  belum mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ada juga  tumbuhan yang  tumbuhnya lambat meskipun lingkungannya sesuai, hanya saja unsur   penunjang hidupnya tidak terikut pada saat pindah ke tempat yang baru  tersebut.  Umumnya suksesi daratan tersebut akan berkembang dengan  masyarakat  tumbuh-tumbuhan tingkat rendah (Cryptogamae),  tumbuh-tumbuhan herba (terna),  semak, perdu dan pohon. Apabila tumbuhan  yang tinggi mulai meneduhi tumbuhan  rendah, maka akan ada tumbuhan  yang mati karena kekurangan sinar. Akan tetapi  ada juga yang justru  lebih kuat pertumbuhannya karena sifat hidupnya tidak  tergantung pada  sinar. Ini berarti bahwa pohon-pohon tinggi tersebut merupakan   pengendali bagi tumbuhan di bawah dan di sekitarnya sebelum pada  akhirnya  sampai pada hutan klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, proses suksesi  tersebut berjalan  terus sampai pada akhirnya terbentuk keseimbangan  (klimaks), yaitu komunitas  hutan. Jenis klimaks yang terbentuk sebagai  hasil suksesi tergantung pada iklim  daerah secara menyeluruh, dimana  klimaks tersebut selalu berada dalam keadaan  seimbang dan mantap.  Keadaan ini akan bertahan selama iklim dan mutu tanah  tidak mengalami  perubahan dan selama tidak terjadi kemunduran nilai faktor  penunjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya masyarakat hutan yang terjadi dengan stabil tidak berarti bahwa   perubahan-perubahan tidak terjadi di dalamnya. Pohon-­pohon tua yang  tumbang  dan mati, misalnya, tetap akan menghasilkan anakan-anakan  pohon. Begitu pula  jika terjadi gangguan intensif dari luar seperti  kebakaran berulang kali,  serangan hama dan penyakit secara  besar-besaran, maupun penebangan habis dalam  praktek kehutanan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-9058470204997093938?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/9058470204997093938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/9058470204997093938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/teori-continental-drift.html' title='TEORI CONTINENTAL DRIFT | Penyebaran Tumbuhan'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GvcII-3_xDc/Tz5haPslYNI/AAAAAAAAAqg/K5koTVZFmCU/s72-c/teori-continental-drift-1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-1302640442380570093</id><published>2012-02-16T03:58:00.000-08:00</published><updated>2012-02-16T23:02:15.835-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='populasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EKONOMI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='habitat ekologi'/><title type='text'>PENGERTIAN DAN DEFINISI POPULASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-EqOQv-dz4K4/TzzxpvPqGfI/AAAAAAAAAp8/iqRA153m4BY/s1600/populasi-penduduk.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 454px; height: 270px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EqOQv-dz4K4/TzzxpvPqGfI/AAAAAAAAAp8/iqRA153m4BY/s400/populasi-penduduk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5709704126958017010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian dan definisi populasi diartikan  sebagai kumpulan  individu-individu yang sejenis. Istilah Populasi termasuk kata  serapan  dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris “Population”.   Arti kata ini dipakai menjelaskan : populasi  manusia, populasi kerbau,  populasi ayam, populasi orang utan, populasi pohon  meranti, dan  sebagainya. Populasi manusia sering akrab dengan sebutan penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi biasanya dinyatakan dalam satuan luas  persatuan waktu. Dalam  istilah Kependudukan, populasi digunakan untuk  menggambarkan jumlah  penduduk di suatu daerah dalam waktu tertentu. Misalnya di  Jakarta Pusat,  populasi penduduk pada tahun 2012 berjumlah 18.569 orang per km2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam biologi terlebih khusus ekologi, istilah populasi  dapat dipakai untuk  mengungkapkan kerapatan  atau densitas suatu kumpulan mahluk hidup yang  sejenis di suatu daerah. Misalnya  jumlah pohon jati dalam hutan jati  sebanyak 100 pohon per hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hutan alam jenis-jenis populasi satwa  atau flora menyebarkan  dalam pola tertentu. Misalnya menyebar secara teratur, mengelompok  atau  tidak teratur (random). Populasi satwa atau flora  tertentu tidak hidup sendiri tetapi menyatu dengan  lingkungannya, yang berisi  populasi-populasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah populasi berhubungan dengan kata  komunitas, karena kumpulan  beberapa populasi dalam suatu daerah atau ekosistem  akan membentuk  komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0t3vXP1sEY4/Tzzx9mxUzpI/AAAAAAAAAqI/y7f8a3hfL0c/s1600/populasi-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 433px; height: 418px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0t3vXP1sEY4/Tzzx9mxUzpI/AAAAAAAAAqI/y7f8a3hfL0c/s400/populasi-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5709704468280692370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-ekosistem.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Darat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Air&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Laut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-binaan-atau-ekosistem-buatan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Binaan atau Ekosistem Buatan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/formasi-ekosistem-hutan.html" target="_blank"&gt;Formasi Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-hujan-tropis.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Hujan Tropis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-musim.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Musim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Pantai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-rawa.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Hutan Rawa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-gambut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Gambut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-1302640442380570093?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1302640442380570093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1302640442380570093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/pengertian-dan-definisi-populasi.html' title='PENGERTIAN DAN DEFINISI POPULASI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EqOQv-dz4K4/TzzxpvPqGfI/AAAAAAAAAp8/iqRA153m4BY/s72-c/populasi-penduduk.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3885394515447406704</id><published>2012-02-15T04:11:00.000-08:00</published><updated>2012-02-15T06:57:54.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEANEKARAGAMAN HAYATI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Plasma Nutfah'/><title type='text'>MANFAAT KEANEKARAGAMAN HAYATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5e7AYsN-Mqg/TzvFrwE-_XI/AAAAAAAAApw/37Fm83AW1_o/s1600/keanekaragaman-hayati.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 456px; height: 323px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5e7AYsN-Mqg/TzvFrwE-_XI/AAAAAAAAApw/37Fm83AW1_o/s400/keanekaragaman-hayati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5709374308053089650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mahluk hidup di alam ini terdiri dari  beranekaragam jenis, baik itu  tumbuhan maupun hewan. Beranekaragam mahkluk hidup berperan  penting  dalam kehidupan manusia. Misalnya saja makanan kita sehari-hari, untuk  mencapai empat  sehat lima sempurna, diperlukan karbohidrat, lemak,  protein juga serat yang berasal dari aneka ragam  tumbuhan dan hewan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   Nasi  sebagai  sumber karbohidrat berasal dari beras  tanaman padi. Roti sebagai  makanan di pagi hari dan selingan berasal  dari gandum, sayur mayur seperti  kacang panjang, terong, nangka dan  beranekaragam buah-buahan seperti jeruk,  mangga, jambu, dan pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan juga dimanfaatkan sebagai bumbu-bumbu penyedap makanan dalam  makanan yang  dimasak, seperti cabai, bawang, merica, kunyit dan kencur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber   protein lauk  pauk diperoleh dari telur ayam, ikan, dan daging yang berasal  dari hewan. Hewan yang hidup di darat maupun di laut merupakan suatu kekayaan hayati yang berdaya guna untuk kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Selain  sebagai bahan makanan, tumbuhan dan hewan juga dimanfaatkan  sebagai bahan baku  industri: Kulit sapi disamak untuk membuat sepatu  dan tas. Kapas dipintal  menjadi benang, yang kemudian ditenun menjadi  kain. Getah karet diolah menjadi  ban mobil. Kayu jati dan kayu lainnya  digunakan untuk bahan bangunan dan  perabot rumah. Batang kina, akar  tinggal kunyit, daun keji beling dan tumbuhan  kumis kucing digunakan  sebagai ramuan obat. Ragi merupakan salah satu jenis  mikroorganisme  dimanfaatkan untuk membuat roti, tempe, kecap, dan berbagai  jenis  minuman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;   Manfaat Keanekaragaman  hayati baik langsung maupun tidak langsung  dapat dirasakan dalam bidang ekonomi,  lingkungan dan ilmu pengetahuan.  Adapun  manfaat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;manfaat berbagai jenis  mahkluk hidup dalam mendukung kelangsungan hidup manusia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dapat  diketahui adanya  kekerabatan di antara makhluk hidup sehingga dapat dipelajari asal usul dari setiap jenis.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;adanya saling ketergantungan  diantara berbagai jenis makhluk hidup.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;pentingnya keutuhan  keanekaragaman  hayati dalam  mempertahankan keseimbangan lingkungan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Dengan  mengetahui manfaat berbagai jenis makhluk hidup dan  kekerabatan diantara  makhluk hidup, manusia dapat membudidayakan dan  mengupayakan bibit unggul  tumbuhan dan hewan yang diperlukan untuk  keberlangsungan hidupnya. Pemanfaatan  keanekaragaman hayati harus  dilakukan seoptimal mungkin dengan memperhatikan  faktor-faktor  lingkungan. Hutan dengan keanekaragaman hayatinya dapat digunakan   sebagai objek rekreasi,  pariwisata, penelitian, dan pendidikan.  Pengambilan hasil hutan harus dilakukan  secara terkendali. Selanjutnya  berbagai tumbuhan dan hewan liar yang hidup di hutan dapat diteliti dan   dikembangkan kegunaannya untuk menghasilkan bibit unggul yang  bermanfaat,  antara lain sebagai sumber makanan baru dan obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui adannya saling  ketergantungan antara makhluk-makhluk hidup dan pentingnya keutuhan  keanekaragaman hayati  dalam mempertahankan keseimbangan lingkungan, diharapkan  manusia dapat  bertindak bijaksana dan tidak sewenang-wenang dalam memanfaatkan   bebagai jenis makhluk hidup. Kita harus menyadari bahwa hilangnya salah  satu  jenis mahkluk hidup akan menyebabkan terjadinya gangguan pada  lingkungan dan  akibatnya pasti juga dirasakan oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Juni 1992 diadakan konferensi tingkat tinggi (KTT)  Bumi di  Rio de Jainero, Brazil, guna membahas masalah keanekaragaman hayati dan   usaha-usaha untuk melestarikannya. KTT itu menghasilkan beberapa  konvensi  diantaranya ialah konvensi keanekaragaman hayati dan konvensi  perubahan iklim.  Indonesia sebagai salah satu penanda tangan konvensi  tersebut mempunyai  kewajiban untuk melestarikan keanekaragaman hayati,  mengingat bahwa kekayaan  flora (dunia tumbuhan) dan fauna (dunia  hewan)      yang kita miliki kini terancam kepunahan karena mengalami  penurunan dari waktu  ke waktu, baik disebabkan oleh faktor alami maupun  oleh perbuatan manusia.                            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ul style="font-family: verdana;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-plasma-nutfah.html" target="_blank"&gt;Definisi Plasma Nutfah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-in-situ.html" target="_blank"&gt;Konservasi Insitu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-ex-situ.html" target="_blank"&gt;Konservasi Exsitu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-sumber-daya-genetik.html" target="_blank"&gt;Konservasi Sumber Daya Genetik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/manfaat-dan-ancaman-keanekaragaman.html" target="_blank" cturl="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/manfaat-dan-ancaman-keanekaragaman.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CAYQFjAB&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNFD8HZfnxGa2Ria3hJNpEGxTfowyg" dir="ltr" href="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/manfaat-dan-ancaman-keanekaragaman.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CAYQFjAB&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNFD8HZfnxGa2Ria3hJNpEGxTfowyg" class="gs-title"&gt;Manfaat dan Ancaman Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://indonesiaforest.net/silvika.html" target="_blank" cturl="http://www.google.com/url?q=http://indonesiaforest.net/silvika.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CAQQFjAA&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNHDqgvEHQt7n7BZPheSApP8XmlLPA" dir="ltr" href="http://indonesiaforest.net/silvika.html" class="gs-title"&gt;Prespektif Silvika Dalam Keanekaragaman Hayati dan Silvikultur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/keanekaragaman-hayati.html" cturl="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/keanekaragaman-hayati.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CAgQFjAC&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNHWJ5EKYjLtug-W4CVzBTNTXGLxjw" dir="ltr" target="_blank" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/keanekaragaman-hayati.html" class="gs-title"&gt;Istilah Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/pengelolaan-keanekaragaman-hayati-dalam-ekosistem-hutan/" target="_blank"&gt;Pengelolaan Keanekaragaman Hayati  dalam Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/keanekaragaman-hayati-dalam-hutan.html" cturl="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/keanekaragaman-hayati-dalam-hutan.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CAoQFjAD&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNHJ1i6RSIlutSrtqp7usueqfj3WSQ" dir="ltr" target="_top" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/keanekaragaman-hayati-dalam-hutan.html" class="gs-title"&gt;Keanekaragaman Hayati dalam Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/konservasi-keanekaragaman-hayati.html" cturl="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/konservasi-keanekaragaman-hayati.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=grw7T-ndHuf6mAWbmfHLCw&amp;amp;ved=0CA4QFjAF&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNFBcNTMtK5uY0ZY4xBcN2-1DGiHtQ" dir="ltr" target="_top" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/konservasi-keanekaragaman-hayati.html" class="gs-title"&gt;Konservasi Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://www.irwantoshut.net/bioindikator.html" cturl="http://www.google.com/url?q=http://www.irwantoshut.net/bioindikator.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=FL87T-TfGejJmAXeqJiXCw&amp;amp;ved=0CAQQFjAAOAo&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNEAKtnVTg6QlQkibm9NpQFjls_N4A" dir="ltr" target="_top" href="http://www.irwantoshut.net/bioindikator.html" class="gs-title"&gt;Keanekaragaman Serangga Sebagai Spesies Indikator&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/faktor-penentu-perubahan-keanekaragaman.html" target="_blank" cturl="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/faktor-penentu-perubahan-keanekaragaman.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=FL87T-TfGejJmAXeqJiXCw&amp;amp;ved=0CAgQFjACOAo&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNEU6IMRGV736Vorx-1YPmAcewSpMQ" dir="ltr" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/11/faktor-penentu-perubahan-keanekaragaman.html" class="gs-title"&gt;Faktor Penentu Perubahan Keanekaragaman Hayati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/hierarki-biodiversity.html" cturl="http://www.google.com/url?q=http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/hierarki-biodiversity.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=FL87T-TfGejJmAXeqJiXCw&amp;amp;ved=0CAoQFjADOAo&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNFakpSoyosy9LmYxFB3u9sfBacswA" dir="ltr" target="_top" href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/09/hierarki-biodiversity.html" class="gs-title"&gt;Hierarki Keanekaragaman Hayati (Biodiversity)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a ctorig="http://indonesiaforest.net/tumbuhan_satwa.html" cturl="http://www.google.com/url?q=http://indonesiaforest.net/tumbuhan_satwa.html&amp;amp;sa=U&amp;amp;ei=FL87T-TfGejJmAXeqJiXCw&amp;amp;ved=0CAwQFjAEOAo&amp;amp;client=internal-uds-cse&amp;amp;usg=AFQjCNFiYxetCibVQUQYjT3Vi-7dazzYlg" dir="ltr" target="_top" href="http://indonesiaforest.net/tumbuhan_satwa.html" class="gs-title"&gt;Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe width="560" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/kKIjmUIoZ84" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;iframe width="560" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/8dF0CbhOHYY" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3885394515447406704?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3885394515447406704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3885394515447406704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/manfaat-keanekaragaman-hayati.html' title='MANFAAT KEANEKARAGAMAN HAYATI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5e7AYsN-Mqg/TzvFrwE-_XI/AAAAAAAAApw/37Fm83AW1_o/s72-c/keanekaragaman-hayati.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-9082905070108720503</id><published>2012-02-13T23:59:00.000-08:00</published><updated>2012-02-15T07:52:28.581-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='amdal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL LINGKUNGAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pertambangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audit Lingkungan'/><title type='text'>DAMPAK NEGATIF KEGIATAN PERTAMBANGAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-22ojQ63Tqc8/TzoWbJsA4SI/AAAAAAAAApM/B6eYW5a8L8c/s1600/dampak-pertambangan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 457px; height: 301px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-22ojQ63Tqc8/TzoWbJsA4SI/AAAAAAAAApM/B6eYW5a8L8c/s400/dampak-pertambangan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5708900133358330146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertambangan adalah suatu kegiatan mencari, menggali, mengolah, memanfaatkan dan menjual hasil dari bahan galian berupa mineral, batu bara, panas bumi dan minyak dan gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kegiatan pertambangan memanfaatkan sumberdaya alam dengan berwawasan lingkungan, agar kelestarian lingkungan hidup tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Negatif yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan adalah masalah lingkungan dan dapat diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, usaha pertambangan dalam waktu yang relatif singkat dapat mengubah bentuk topografi dan keadaan muka tanah (land impact), sehingga dapat mengubah keseimbangan sistem ekologi bagi daerah sekitarnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, usaha pertambangan dapat menimbulkan berbagai macam gangguan antara lain; pencemaran akibat debu dan asap yang mengotori udara dan air, limbah air, tailing serta buangan tambang yangmengandung zat-zat beracun. Gangguan juga berupa suara bising dari berbagai alat berat, suara ledakan eksplosive (bahan peledak) dan gangguan lainnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pertambangan yang dilakukan tanpa mengindahkan keselamatan kerja dan kondisi geologi lapangan, dapat menimbulkan tanah longsor, ledakan tambang, keruntuhan tambang dan gempa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-6a6YJViF1m8/TzoWmYohzbI/AAAAAAAAApY/U8NdMcki5sM/s1600/daerah-pertambangan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 454px; height: 303px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6a6YJViF1m8/TzoWmYohzbI/AAAAAAAAApY/U8NdMcki5sM/s400/daerah-pertambangan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5708900326348803506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/amdal-analisis-mengenai-dampak.html" target="_blank"&gt;Pengertian AMDAL&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/amdal_kehutanan.html"&gt;Penerapan AMDAL Pada Pembangunan di Bidang Kehutanan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-dan-pengertian-audit.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Audit Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/artikel-lingkungan.html" target="_blank"&gt;Artikel dam Makalah Lingkungan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-9082905070108720503?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/9082905070108720503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/9082905070108720503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/dampak-negatif-pertambangan.html' title='DAMPAK NEGATIF KEGIATAN PERTAMBANGAN'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-22ojQ63Tqc8/TzoWbJsA4SI/AAAAAAAAApM/B6eYW5a8L8c/s72-c/dampak-pertambangan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2668145476911481399</id><published>2012-02-12T08:17:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T22:14:28.867-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='amdal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL LINGKUNGAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audit Lingkungan'/><title type='text'>AMDAL | Analisis Mengenai Dampak Lingkungan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/tS4iY3byJHU" allowfullscreen="" frameborder="0" height="400" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Pembangunan yang dilakukan selalu berdampak pada lingkungan, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Dampak yang terjadi ini harus dianalisis sebaik mungkin untuk mendapat masukan dan pertimbangan guna menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari AMDAL diperkenalkan pertama kali tahun 1969 oleh National  Environmental Policy                 Act di Amerika Serikat. Menurut UU  No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan                 Hidup dan PP  No. 27/1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL)                  adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu  usaha dan/atau kegiatan                 yang direncanakan pada  lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan                  keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan  hidup,                 dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan  untuk pengambilan keputusan. Hal-hal                 yang dikaji dalam  proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi,                  sosial budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi  kelayakan suatu                 rencana usaha dan/atau kegiatan.  Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di                 satu sisi  merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana                  usaha dan/atau kegiatan, di sisi lain merupakan syarat yang  harus dipenuhi untuk                 mendapatkan izin melakukan usaha  dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini                 dapat  diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap  lingkungan                 hidup, baik dampak negatif maupun dampak  positif yang akan timbul dari usaha dan/atau                 kegiatan  sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif                  dan mengembangkan dampak positif.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya                 digunakan kriteria mengenai :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;" type="a"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau                     kegiatan;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; luas wilayah penyebaran dampak;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; intensitas dan lamanya dampak berlangsung;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; banyaknya komponen lingk ungan hidup lain yang akan terkena dampak;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; sifat kumulatif dampak;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Menurut PP No. 27/1999 pasal 3 ayat 1 Usaha dan/atau kegiatan yang  kemungkinan                 dapat menimbulkan dampak besar dan penting  terhadap lingkungan hidup meliputi :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;" start="1" type="a"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; pengubahan bentuk lahan dan bentang alam&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharu&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan  pemborosan,                     pencemaran dan kerusakan lingkungan  hidup, serta kemerosotan sumber daya alam                     dalam  pemanfaatannya;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan  alam,                     lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan  budaya;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi  pelestarian kawasan                     konservasi sumber daya dan/atau  perlindungan cagar budaya;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p&gt; introduksi                     jenis tumbuh -tumbuhan, jenis hewan, dan jenis jasad renik;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;   Tujuan secara umum AMDAL adalah menjaga dan meningkatkan kualitas  lingkungan                 serta menekan pencemaran sehingga dampak  negatifnya menjadi serendah mungkin.                 Dengan demikian  AMDAL diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang                  pelaksanaan rencana kegiatan yang mempunyai dampak terhadap  lingkungan hidup.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/hActx4UzrvA" allowfullscreen="" frameborder="0" height="400" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/TBUk6RtVqIA" allowfullscreen="" frameborder="0" height="400" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/amdal-analisis-mengenai-dampak.html" target="_blank"&gt;Pengertian AMDAL&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/amdal_kehutanan.html"&gt;Penerapan AMDAL Pada Pembangunan di Bidang Kehutanan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-dan-pengertian-audit.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Audit Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/artikel-lingkungan.html" target="_blank"&gt;Artikel dam Makalah Lingkungan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Pengertian Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Pengertian Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html"&gt;Pengertian Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Pengertian Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Pengertian Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2668145476911481399?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2668145476911481399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2668145476911481399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/amdal-analisis-mengenai-dampak.html' title='AMDAL | Analisis Mengenai Dampak Lingkungan'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/tS4iY3byJHU/default.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7645307164967237870</id><published>2012-02-10T17:52:00.002-08:00</published><updated>2012-02-10T18:59:44.340-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem binaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem air'/><title type='text'>EKOSISTEM BINAAN ATAU EKOSISTEM BUATAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-IjJucYOQchk/TzXV7bDX3ZI/AAAAAAAAAnA/J_S51rTipbs/s1600/perkebunan-ekosistem-buatan-binaan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 476px; height: 324px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IjJucYOQchk/TzXV7bDX3ZI/AAAAAAAAAnA/J_S51rTipbs/s400/perkebunan-ekosistem-buatan-binaan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707703319612874130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Ekosistem binaan atau ekosistem buatan adalah ekosistem yang dibuat dan direkayasa oleh manusia. Ekosistem buatan atau   binaan merupakan lingkungan yang diciptakan manusia untuk berbagai  keperluan.  Manusia harus terus-menerus mengelola  dan  mengembangkan  lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan. Contoh lingkungan  binaan  itu adalah lingkungan pemukiman, pertanian, perkotaan,  perkebunan,  tambak, bedungan, hutan tanaman  industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap lingkungan binaan tersebut, manusia senantiasa berupaya   mengaturnya. Interaksi alami hampir terkendali. Di dalam ekosistem  pertanian,  misalnya, serangga yang memakan tanaman dikendalikan dengan  memberantasnya  dengan menggunakan insektisida. Di daerah perkotaan  jarang terdapat tumbuhan  (produsen). Tumbuhan didominasi oleh tanaman  hijau di sepanjang jalan, di taman  atau di halaman. Kurangnya tumbuhan  hijau di perkotaan mengakibatkan udara kota  terasa pengap, kering, dan  suhu udara meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin meningkatnya kesadaran lingkungan, kota-kota banyak   dijadikan sasaran penghijauan. Anjuran untuk memelihara tanaman dan  menanam  bunga merupakan anjuran yang patut dilaksanakan. Taman-taman  kota tidak boleh  diganggu, sebaliknya harus dirawat dan dilestarikan.  Selain  berfungsi estetika atau untuk keindahan, taman kota juga berfungsi  ekologis.  Misalnya, sebagai pengatur suhu, mengurangi pencemaran udara,  dan menyediakan  habitat berbagai berung dan serangga. Taman kota juga  berfungsi sebagai daerah  resapan. Karena tanah di perkotaan dibeton  atau diaspal, air hujan tidak dapat  meresap kedalam tanah. Adanya taman  kota membantu peresapan air kedalam tanah  sesuai dengan daur air alami  yang seharusnya berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat fungsinya yang penting.  Seharusnya setiap kota memiliki  taman kota, tanah terbuka hijau, serta wilayah  penghijauan kota dekat  pemukiman padat. Tidak semua tanah digunakan untuk  pembangunan gedung  dan perumahan, tetapi disisakan untuk memberi kemungkinan   berlangsungnya fungsi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi pencemaran lingkungan,  di setiap pemukiman hendaknya  dibangun kolam pengolah limba rumah tangga. Limbah  cair dari rumah  tangga dialirkan ke kolam pengolahan, sebelum air yang bersih  dialirkan  ke got-got dan akhirnya ke sungai. Pengembangan pemukiman (developer)   perlu menyediakan sarana pengolahan limbah seperti ini. Pemerintah perlu   mensyaratkan diadakannya pengolahan limbah, disamping sarana-sarana  hidup lain  seperti penyediaan air bersih, WC, taman, tempat  bermain  anak-anak, dan listrik kepada pengembang pemukiman untuk menunjang   pembangunan berkelanjutan. Penyediaan saran peduli lingkungan seharusnya   digalakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Australia, di atap rumah penduduk sering  wadah-wadah berisi makanan  burung dan binatang liar lainnya. Burung-burung  berterbangan bebas di  taman-taman kota. Oleh karena di habitat buatan itu  makanan alami sulit  diperoleh, penduduk yang peduli lingkungan menyediakan  makanan untuk  hewan-hewan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lingkungan kita, Burung  jalak,  larwo, prenjak, yang dulu sering bertengger di pepohonan kini sudah   tidak terdengar kicauannya yang merdu. Mereka justru diburu, ditangkap,   kemudian dijual dengan harga murah. Ada pula yang memburunya, kemudian  dibunuh  tanpa peduli terhadap lingkungannya. Jika hewan-hewan itu  ditangkap dan  dipelihara, umumnya hewan-hewan itu mati karena stres  atau karena lingkungannya  yang tidak cocok. Maka sekarang sudah saatnya  kepeduliaan dan kesadaran  lingkungan masyarakat ditingkatkan untuk  tidak memburu binatang. Bahkan  penduduk  perlu dibiasakan untuk   menyediakan makanan untik hewan-hewan liar, seperti burung, karena  habitat  mereka sudah kita ubah untuk kepentingan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-ekosistem.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Darat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Air&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Laut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-binaan-atau-ekosistem-buatan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Binaan atau Ekosistem Buatan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekowisata-ecotourism.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekowisata / Ecotourism&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/formasi-ekosistem-hutan.html" target="_blank"&gt;Formasi Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-hujan-tropis.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Hujan Tropis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-musim.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Musim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Pantai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-rawa.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Hutan Rawa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-gambut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Gambut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7645307164967237870?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7645307164967237870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7645307164967237870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-binaan-atau-ekosistem-buatan.html' title='EKOSISTEM BINAAN ATAU EKOSISTEM BUATAN'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IjJucYOQchk/TzXV7bDX3ZI/AAAAAAAAAnA/J_S51rTipbs/s72-c/perkebunan-ekosistem-buatan-binaan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-265343988838679441</id><published>2012-02-10T17:28:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T06:42:25.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Formasi Ekosistem Hutan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem air'/><title type='text'>EKOSISTEM LAUT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lYPM3Qi8ohI/TzXX5dvxyqI/AAAAAAAAAnM/bv4Al0TpT9c/s1600/ekosistem-laut-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 459px; height: 307px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lYPM3Qi8ohI/TzXX5dvxyqI/AAAAAAAAAnM/bv4Al0TpT9c/s400/ekosistem-laut-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707705484999510690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai laut yang luas, dengan potensi sumberdaya alam yang besar di dalamnya. Ekosistem Laut merupakan ekosistem yang letaknya di laut maupun pesisir pantai. Ekosistem laut dibedakan menjadi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ekosistem  laut dalam&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ekosistem laut dangkal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1)  Ekosistem Laut Dalam           &lt;/span&gt;                                                                      &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bila kita melihat laut yang warnanya biru tua, tentu kita mengetahuinya sebagai laut yang sangat dalam. Laut yang dalam sangat gelap tidak ada cahaya matahari. Cahaya matahari hanya dapat menembus air laut hingga kedalaman 20-30   meter. Lebih dalam dari itu cahaya matahari tidak dapat menembusnya. Di  laut  dalam cahaya matahari tidak dapat menembus atau tidak sampai ke dasar laut.  Daerah ini  disebut daerah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;afotik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ini berarti bahwa di laut tidak  terjadi fotosintesis.  Kadar oksigennya juga rendah. Di daerah demikian  itu tidak terdapat produser  yang fotoautotrof. Yang terdapat hanyalah  organisme heterotrof yang  mengandalkan jatuhnya sisa-sisa  organik   dari lapisan diatasnya. Jadi, di laut dalam terdapat detritivor dan  scavanger.   Keanekaragaman hayatinya rendah. Jika tidak ada arus laut  yang “mengaduk”, daur  mater di dalam laut dalam merupakan daur yang  terputus. Semua makanan yang masuk  ke laut dalam akhirnya diurai dan  diendapkan di dasar laut, jadi, dilaut dalam  terdapat zat-zat organik  yang lebih kaya dibandingkan dengan di laut dangkal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Ekosistem Laut  Dangkal    &lt;/span&gt;                                                     &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan di pesisir pantai kita dapat menikmati keindahan alam yang ada, serta dapat berrekreasi dengan wisata pantai, seperti berenang, berperahu, memancing dan aktivitas lainnya. Daerah ini merupakan daerah laut yang dangkal, banyak aktivitas di dalamnya. Laut dangkal merupakan daerah&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; fotik&lt;/span&gt;, yang berarti daerah yang dapat   dicapai oleh cahaya matahari. Di daerah ini berlangsung proses  fotosintesis.  Produser yang berperan adalah fitoplankton dan gangang  laut mikroskopis. Kadar  oksigen di daerah ini lebih tinggi dari pada  di daerah afotik di laut dalam. Oleh  sebab itu, daerah yang demikian  memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Contoh  ekosistem laut dangkal  adalah ekosistem terumbu karang,  ekosistem pantai  batu, dan ekosistem pantai  lumpur.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-E4yIv1HdbVY/TzXYJCdRo1I/AAAAAAAAAnY/B3fAg3M-RYw/s1600/ekosistem-laut-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 466px; height: 279px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-E4yIv1HdbVY/TzXYJCdRo1I/AAAAAAAAAnY/B3fAg3M-RYw/s400/ekosistem-laut-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707705752552055634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a) Ekosistem  Terumbu Karang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di  dalam ekosistem ini banyak ditemukan cangkang coelenterata yang  telah mati yang  menyusun batu karang. Cangkang yang mati beserta  hewan-hewan air selurunya  disebut sebagai terumbu karang. Syarat hidup  binatang karang adalah air lautnya  jernih, arus dan gelombang kecil,  serta lautnya dangkal. Didalamnya hidup  berbagai macam biota laut  seperti coelenterata, cacing, Mollusca (siput,  kerang), Enchinodemata,  Athropoda dan berbagai jenis ikan berwarna-warni.  Bianatang-binatang  tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia memiliki beberapa ekosistem terumbu karang, yang indah yang   dijadikan objek wisata misalnya di pasir putih Jawa Timur, Bali,  Bunaken dan  Maluku. Pengambilan karang, dan binatang-binatang dari  ekosistem ini dapat  merusak ekosistem dan pada akhirnya akan  menyebabkan punahnya keanekaragaman  hayati di dalamnya. Demikian pula,  penangkapan ikan menggunakan aliran listrik  atau racun ( tuba, potas)  dapat merusakan ekosistem terumbu karang. Ekosistem  terumbu karang  terbentuk dalam waktu yang lama. Apbila punah, kita tidak akan  dapat  memunculkannya kembali. Oleh karena itu, kita perlu menjaga   kelestariannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;b). Ekosistem Pantai Batu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pantai terjal yang berdinding batu memiliki bongkahan-bongkahan batu   yang membentuk ekosistem pantai batu. Pada ekosistem ini, lingkungan  eksternalnya  didominasi oleh batu, kerikil, atau kapur. Misalnya,  ekosistem pantai batu yang  terdapat di pantai selatan jawa, Bali, Nusa  Tenggara, Maluku dan pantai barat  Sumatra. Vegetasinya didomunasi oleh  ganggang misalnya, Sargassum dan Eucheuma.  Keanekaragamannya rendah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;c) Ekosistem Pantai Lumpur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dekat muara sungai banyak terdapat endapan lumpur yang menyusun   ekosistem pantai lumpur. Ekosistem pantai lumpur banyak di jumpai di  pantai  utara Jawa, Kalimantan dan Irian Jaya. Vegetasinya didominasi  oleh tumbuhan mangrove dan rumput laut. Ekosistem ini juga merupakan  ekosistem yang memiliki  keanekaragaman  hayati tinggi. Di  dalamnya  hidup antara lain kepiting, udang, dan ikan glodok.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe width="500" height="400" src="http://www.youtube.com/embed/cbN161yBBGA" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe width="500" height="400" src="http://www.youtube.com/embed/HlgLQimm9ro" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe width="500" height="400" src="http://www.youtube.com/embed/_2j1jlrsZEg" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-ekosistem.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Darat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Air&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Laut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-binaan-atau-ekosistem-buatan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Binaan atau Ekosistem Buatan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekowisata-ecotourism.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekowisata / Ecotourism&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/formasi-ekosistem-hutan.html" target="_blank"&gt;Formasi Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-hujan-tropis.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Hujan Tropis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-musim.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Musim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Pantai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-rawa.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Hutan Rawa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-gambut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Gambut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-265343988838679441?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/265343988838679441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/265343988838679441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html' title='EKOSISTEM LAUT'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lYPM3Qi8ohI/TzXX5dvxyqI/AAAAAAAAAnM/bv4Al0TpT9c/s72-c/ekosistem-laut-1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3616387512823492897</id><published>2012-02-09T08:08:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T20:46:09.237-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Suksesi dalam Pengelolaan Hutan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-84iWf7shSYw/TzXxrYSAbNI/AAAAAAAAAnw/2VODhkCpYxg/s1600/suksesi-hutan-wanagama.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 456px; height: 341px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-84iWf7shSYw/TzXxrYSAbNI/AAAAAAAAAnw/2VODhkCpYxg/s400/suksesi-hutan-wanagama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707733830316616914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses suksesi yang dapat dilihat dalam  membangun hutan berkaitan dengan  pembangunan hutan Wanaga  I di Kabupaten Gunung  Kidul, D.I. Yogyakarta. Bermula dari bentang lahan  berbatuan kapur yang  kritis dan gundul, pada tahun sekitar 1963-an dimulai  proses  pembelukaran dengan menebar biji-biji jenis tumbuhan legume (berbuah   polong), a.l. lamtoro (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leucaena glauca&lt;/span&gt;)  dan lamtoro merah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Acacia  villosa&lt;/span&gt;).  Kedua jenis tumbuhan ini termasuk jenis pioneer yang mampu  tumbuh dan hidup  dengan kondisi tempat tumbuh yang sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  perjalanan waktu,  ditunjang pengembangaqn infrastruktur berupa  pembuatan teras-teras pada lahan  berbatu kapur, ternyata mampu  menghadirkan jenis tumput-rumputan. Oleh  masyarakat setempat,  pertumbuhan tanaman legume dan rumput menjadi sumber  kehidupan mereka,  yaitu untuk memberi makan hewan ternak. Mereka mengembalikan  ke areal  suksesi dengan membawa kotoran hewan. Kegiatan ini dapat mempercepat   proses restorasi lahan menjadi siap ditanami dengqan pohon-pohon berkayu   lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WcQmf64O3Tg/TzXx-r5CYyI/AAAAAAAAAn8/4pIUMRWmMMM/s1600/suksesi-hutan-wanagama-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 379px; height: 505px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-WcQmf64O3Tg/TzXx-r5CYyI/AAAAAAAAAn8/4pIUMRWmMMM/s400/suksesi-hutan-wanagama-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707734161998111522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percobaan pertama dengan mengembangkan  tanaman Cendana, dan pada  mulanya hanya sedikit yang mampu tumbuh dan hidup.  Rupanya pohon  cendana yang hidup ini telah menjadi sumber biji yang mampu  berkembang  secara alami dengan bantuan satwa burung pemakan buah cendana dan   membantu menyebarkannya di tempat lain. Saat ini Wanagama I sudah  menjadi hutan  setelah 40 tahun kemudian mulailah kehadiran satwa Rusa  Jawa hidup di Wanagama  I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3616387512823492897?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3616387512823492897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3616387512823492897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html' title='Suksesi dalam Pengelolaan Hutan'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-84iWf7shSYw/TzXxrYSAbNI/AAAAAAAAAnw/2VODhkCpYxg/s72-c/suksesi-hutan-wanagama.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2942334351882409542</id><published>2012-02-09T08:00:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T21:32:35.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Suksesi dalam Komunitas Hewan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tuj6VJ3_Iks/TzX8S2TMxmI/AAAAAAAAAow/T4hgZzO3e4I/s1600/suksesi-fauna.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 504px; height: 388px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tuj6VJ3_Iks/TzX8S2TMxmI/AAAAAAAAAow/T4hgZzO3e4I/s400/suksesi-fauna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707745503505860194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keanekaragaman jenis dalam suatu tipe  fungsional mungkin mempertinggi  efisiensi pemanfaatan sumberdaya hutan dan  proses penyimpanan dalam  ekosistem. Dengan berubahnya  struktur ekosistem  hutan yaitu akibat adanya perubahan komposisi jenis penyusun  maka akan  menimbulkan perubahan kondisi lingkungan, yang memungkinkan  terjadinya  perubahan komposisi komunitas hewan penyusun dalam habitat yang   bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Suatu  perubahan yang nyata adalah terhadap populasi hewan tanah yang  berperan sebagai  organisme pengurai (decomposer).  Apabila kondisi  tempat hidup semakin cocok maka reproduksi dan kehadiran jenis  baru  tentu akan terjadi. Sebagai contoh adalah jenis cacing tanah yang akan   meningkat jumlahnya bila kelembaban tanah semakin tinggi. Perubahan  kelembaban  tanah terjadi bila tumbuhan penutup permukaan tanah juga  semakin meningkat.  Demikian juga untuk jenis hewan tanah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila suatu ekosistem hutan mengalami  gangguan yang drastic, misalnya  pembukaan lahan yang menyebabkan cahaya  matahari langsung menerpa  permukaan tanah, maka suhu tanah akan meningkat dan  semakin tinggi. Hal  ini akan berakibat beberapa jenis hewan tanah tidak mampu  beradaptasi  dan mati. Akibatnya perubahan keanekaragaman hewan di dalam tanah  akan  berubah menjadi lebih sedikit. Hal ini tentunya akan sangat merugikan   dalam proses pembangunan hutan selanjutnya, yaitu proses penguraian  sisa-sisa  bahan organis maupun guguran lain yang ada di lantai hutan.  Dengan adanya  populasi hewan tanah tentunya akan sangat membantu dalam  menghancurkan seresah  dll. menjadi bahan atau unsure kimia yang lebih  tersedia bagi tumbuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/"&gt; &lt;img style="width: 508px; height: 390px;" alt="" id="Image1_img" src="http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/TJjwv2FWtHI/AAAAAAAAADw/4vNwYgkhA_I/S1600-R/hutan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2942334351882409542?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2942334351882409542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2942334351882409542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html' title='Suksesi dalam Komunitas Hewan'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tuj6VJ3_Iks/TzX8S2TMxmI/AAAAAAAAAow/T4hgZzO3e4I/s72-c/suksesi-fauna.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7575703814737530940</id><published>2012-02-09T07:57:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T08:59:04.227-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Perkembangan Suksesional Ekosistem</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut Ellenberg (1988),  keanekaragaman jenis/  species dalam hutan alam (perawan) di daerah tropis tidak  begitu  dipengaruhi oleh relief tanah (topografi) jika dibandingkan dengan   daerah beriklim sedang. Di daerah tropis, perbedaan antara lereng yang  terkena  sinar matahari dan yang tidak terkena sinar matahari tidak ada,  atau tidak  begitu penting dibanding di daerah iklim sedang. Akan  tetapi begitu  tumbuhan/pohon pelindungnya hilang, erosi tenah akan  semakin cepat dengan  bertambahnya kemiringan. Hanya ada tiga cara untuk  memberikan perlindungan  jangka panjang terhadap kerusakan tanah,  yaitu:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pelestarian  hutan (tidak ada pembukaan hutan sama sekali).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertanian  hutan permanent (agroforestry), atau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembuatan  terasering. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Lebih  lanjut dinyatakan pula bahwa harus diakui perbedaan kualitas  tanah di hutan  perawan, yaitu wilayah-wilayah hutan yang belum  tersentuh manusia tidak dapat  dilihat dari produktivitas lapisan  pepohonan saja. Struktur jenis tumbuhan,  misalnya dari jenis tanah  podzol berpasir ternyata betul berbeda dengan  struktur jenis tumbuhan  pada jenis tanah berlempung (liat) di dekatnya. Begitu  manusia masuk  dan menebang pohon-pohon penyusun hutan alam, kemudian  membakarnya dan  menanami kembali dengan tanaman pangan maka abu yang dapat  menyuburkan  tanah akan cepat hilang karena hujan yang bertubi-tubi. Akibatnya  lahan  hutan menjadi semakin miskin hara dan setelah dua dan tiga tahun  kemudian  sudah tidak mampu lagi mendukung pertumbuhan tanaman pangan.  Oleh manusia  ditinggalkan mencari ladang baru, dan cepat atau lambat  lahan tadi akan terjadi  suksesi alami untuk pemulihannya secara  alamiah. Namun, dengan semakin  rendahnya kandungan mineral tanah, maka  hanya jenis semak belukar yang akan  tumbuh dan menggantikan hutan lebat  menjadi hutan sekunder semak belukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus  di hutan Jati, dengan penanaman tumpangsari sebenarnya sudah  tidak cocok lagi  ditinjau dari segi ekologinya. Beberapa kegiatan yang  mengarah pada pembangunan  hutan tanaman campur pada awal  pembangunannya, ternyata setlah lima tahun pertama situasi  berubah sama  sekali, yaitu hanya pohon Jati yang tersisa dan tumbuhan bawah  yang  dimanfaatkan oleh ternak ayng digembala di dalamnya. Proses pengurusan   lahan hutan Jati, berlangsung dengan pemanfaatan lahan secara intensif  untuk  tumpang sari, serta gangguan pemadatan tanah oleh hewan ternak.  Hal ini dapat  saja menyebabkan hutan Jati yang dulunya berbonita tinggi  lama kelamaan akan  menjadi lahan hutan berbonita rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  dalam hutan Jati ada jenis tumbuhan bawah yang senantiasa hidup  baik dalam  keadaan basah maupun kering, namun hal ini tidak pernah  mendapat perhatian yang  serius. Akibatnya, pada hutan Jati senantiasa  mengalami kekeringan dan kematian  tumbuhan bawah, lalu terjadi  kebakaran di lantai hutan. Kondisi ini tentu tidak  menguntungkan dari  sisi proses suksesi di dalam hutan Jati yang dimanfaatkan  secara tidak  bijaksana. Di sisi lain pemahaman para pengelola terhadap fungsi   ekologis tumbuhan bawah juga belum memadai, sehingga mereka masih  menganggap  tumbuhan bawah mengganggu pertumbuhan tanaman pokok Jati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7575703814737530940?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7575703814737530940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7575703814737530940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html' title='Perkembangan Suksesional Ekosistem'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5888213204702973092</id><published>2012-02-09T07:55:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T07:56:45.581-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak komunitas tumbuhan hidup  berdampingan dalam suatu pola mosaic  yang kompleks. Dengan kata lain, satu  komunitas klimak tidak menutup  seluruh region. Kadang-kadang dalam mosaic  terjadi gangguan local  seperti kebakaran, sehingga membuat pembukaan lahan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksesi yang  terjadi karena kebakaran setempat, atau angina rebut, atau tipe   gangguan yang lain disebut suksesi Chronosequence. Di lain pihak, ada  juga  perbedaan mosaic akibat perbedaan topografi misalnya komunitas  tumbuhan pada  lereng bukit yang menghadap ke selatan berbeda dengan  lereng bukit yang  menghadap ke utara. Berkaitan dengan proses suksesi,  maka ini disebut sebagai  suksesi toposequence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5888213204702973092?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5888213204702973092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5888213204702973092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html' title='Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5849280657882419108</id><published>2012-02-09T07:52:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T07:54:33.789-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suksesi  direksional yaitu suksesi yang dicirikan oleh suatu akumulasi  perubahan  yang menyebabkan komunitas menjadi lebih luas. Misalnya  suksesi yang terjadi  pada pembentukan hutan klimaks di formasi hutan  hujan tropis di luar Pulau  Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem hutan klimaks tersebut yang  didominasi oleh pohon-pohon berkayu  dengan diameter setinggi dada  sampai sebesar 100 cm dari keluarga Dipterocarpaceae a.l. pohon meranti  (Shorea spp.), keruing (Dipterocarpus spp.), kamper (Dryobalanops spp.)  dan merawan (Hopea spp.) merupakan arah akhir dari  proses suksesi  direksional yang dimulai dari tumbuhnya jenis-jenis pioneer pada awal  suksesi. Jenis-jenis pioneer yang biasa dijumpai a.l. pohon  mahang  (Macaranga gigantean), simpur  (Dillenia sp.) dan jabon/kelempayan  (Anthocephalus cadamba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu,  di dalam suksesi yang searah  ini juga bisa terjadi suksesi siklis, yaitu yang  terjadi pada tiap  tingkat suksesi tergantung pada masa hidup jenis pohon  tertentu yang  menjadi penyusunnya. Pohon tua mati dan hilang tajuknya, sehingga   cahaya matahari masuk ke dalam lantai hutan, kemudian jenis baru  menempati  lubang cahaya dan hidup sebagai pengganti pohon yang mati  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5849280657882419108?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5849280657882419108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5849280657882419108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html' title='Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3267790830165288044</id><published>2012-02-09T07:50:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T20:04:15.028-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses suksesi senantiasa mengarah kepada  anggota komunitas yang  semakin tambah dan menjadi lebih besar kompleksitasnya,  dan juga dalam  pertambahan biomas serta habitat menjadi semakin lembab. Tipe  suksesi  ini disebut suksesi Progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan suksesi   Retrogresif adalah arahnya kebalikan daripada suksesi progresif, yaitu   komunitas menjadi lebih sederhana, dengan jumlah jenis yang lebih  sedikit, dan  habitat berubah menjadi lebih basah atau lebih kering.  Beberapa suksesi  retrogresif adalah allogenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/suksesihutan/" target="_blank"&gt;Suksesi Tumbuhan | Suksesi Hutan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html" target="_blank"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html" target="_blank"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3267790830165288044?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3267790830165288044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3267790830165288044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html' title='Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5019227805828995594</id><published>2012-02-09T07:48:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T07:50:18.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kekuatan yang mengatur  terjadinya proses suksesi adalah  pengaruh tumbuhan yang mempengaruhi kondisi  habitatnya. Tajuk tumbuhan  menciptakan naungan, menambah akumulasi seresah,  menambah kelembaban,  akarnya merubah struktur dan sifat kimia tanah. Modifikasi  kondisi  lingkungan seperti ini telah menyebabkan beberapa jenis anakan pohon   tidak mampu beradaptsi terhadap naungan, tetapi bagi anakan jenis pohon  lain  justru dapat beradaptasi sehingga tetap bias tumbuh dengan baik.  Berbarengan  dengan berjalannya waktu, maka kumpulan jenis tumbuhan baru  akan datang dan  mendominasi tempat tumbuh tersebut. Proses suksesi  seperti ini menurut Tansley  (1935, dikutip oleh Barbour dkk., 1980)  dinamakan suksesi autogenic. Dalam proses ini, baik lingkungan maupun   komunitas tumbuhan berubah, dan perubahan ini terjadi karena aktivitas   organisme itu sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu, yang dimaksud dengan suksesi allogenic adalah suksesi  yang  terjadi oleh karena perubahan lingkungan yang disebabkan oleh  diluar kendali  organisme asli. Misalnya adanya penanaman jenis pohon  eksotik yang justru  menjadi penguasa pada habitat jenis asli yang lebih  dulu ada.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5019227805828995594?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5019227805828995594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5019227805828995594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html' title='Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7725951090918906276</id><published>2012-02-09T07:43:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T21:01:27.997-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPE SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>TIPE TIPE SUKSESI</title><content type='html'>Proses terjadinya suksesi secara berurutan mempunyai beberapa tipe.  Tipe-tipe suksesi tersebut dapat digolongkan dalam 2 tipe suksesi yaitu : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suksesi Primer &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Suksesi Sekunder.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suksesi Primer&lt;/span&gt;  adalah terbentuknya  komunitas  tumbuhan pada  suatu  lahan yang pada awalnya kosong tanpa vegetasi. Bila komunitas pioneer terjadi pada lahan yang basah, misalnya pada tepian waduk yang menjadi dangkal maka disebut sebagai suksesi primer hidrarch. Sementara komunitas pioneer yang terjadi pada batu granit yang terbuka disebut sebagai suksesi primer xerarch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hVLQ0eAVw7k/TzX1F08BQtI/AAAAAAAAAoI/kMRjHnIDlVw/s1600/suksesi-primer.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 455px; height: 341px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-hVLQ0eAVw7k/TzX1F08BQtI/AAAAAAAAAoI/kMRjHnIDlVw/s400/suksesi-primer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707737583220507346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suksesi Sekunder&lt;/span&gt; adalah invasi tumbuhan pada lahan yang sebelumnya sudah ada vegetasi, namun vegetasi awal tersebut mengalami kerusakan dan gangguan baik alami maupun oleh kegiatan manusia. Misalnya pada areal bekas perladangan liar di hutan hujan tropis yang ditinggalkan, atau areal hutan bekas tebangan liar (illegal logging) yang dibiarkan akan kembali membentuk hutan sekunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XG40AhrqbxY/TzX1oaCgj1I/AAAAAAAAAoU/fqLjQXVlmbQ/s1600/suksesi-sekunder.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 545px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-XG40AhrqbxY/TzX1oaCgj1I/AAAAAAAAAoU/fqLjQXVlmbQ/s400/suksesi-sekunder.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707738177295388498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/suksesihutan/" target="_blank"&gt;Suksesi Tumbuhan | Suksesi Hutan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html" target="_blank"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html" target="_blank"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7725951090918906276?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7725951090918906276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7725951090918906276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html' title='TIPE TIPE SUKSESI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-hVLQ0eAVw7k/TzX1F08BQtI/AAAAAAAAAoI/kMRjHnIDlVw/s72-c/suksesi-primer.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-1435437665294068788</id><published>2012-02-09T07:38:00.001-08:00</published><updated>2012-02-10T21:18:52.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TAHAP SUKSESI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>TAHAP TAHAP SUKSESI  DAN KARAKTERISTIK SUKSESI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Rywc_kXmqWI/TzX5GyvzIZI/AAAAAAAAAog/nWvclA4_d44/s1600/tahap-suksesi.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 514px; height: 344px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Rywc_kXmqWI/TzX5GyvzIZI/AAAAAAAAAog/nWvclA4_d44/s400/tahap-suksesi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707741997858759058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam suksesi terjadi suatu proses perubahan secara bertahap menuju suatu keseimbangan. Clements menyusun urutan  kejadian secara rasional ke dalam 5 fase, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 1. NUDASI     : proses awal terjadinya pertumbuhan pada lahan terbuka/kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 2. MIGRASI    : proses hadirnya biji-biji tumbuhan, spora dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 3. ECESIS      : proses kemantapan pertumbuhan biji-biji tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 4. REAKSI      : proses persaingan atau kompetisi antara jenis  tumbuhan yang  telah ada/hidup, dan pengaruhnya terhadap habitat  setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase 5. STABILISASI: proses manakala  populasi jenis tumbuhan mencapai  titik akhir kondisi yang seimbang (equilibrium), di dalam keseimbangan   dengan kondisi habitat lokal maupun regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksesi  lebih lanjut tersusun atas suatu rangkaian rute perjalanan  terbentuknya  komunitas vegetasi transisional menuju komunitas dalam  kesetimbangan. Clements  memberi istilah untuk tingkat komunitas  vegetasi transisi dengan nama SERE/SERAL,  dan kondisi akhir yang  seimbang disebut sebagai Vegetasi Klimaks. Untuk komunitas  tumbuhan  yang berbeda akan berkembang pada tipe habitat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun  karakteristik umum peristiwa suksesi ini, Park (1980) menjelaskan sebagai  berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1).  Keanekaragaman ekologi (Ecological Diversity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanekaragaman  jenis/species umumnya meningkat selama suksesi karena  meningkatnya sejumlah  relung dalam habitat yang tersedia bagi tingkat  perkembangan seral berikutnya.  Regier dan Cowell (1972, dikutip oleh    Park, 1980) menyatakan  bahwa awal suksesi didominasi oleh sedikit jenis  organisme yang memiliki  kesempatan yang tinggi untuk tumbuh tanpa  kompetisi yang efektif dengan  sebagian besar jenis hidup lebih lama.  Menurut Loucks (1970, dikutip oleh Park,  1980), puncak keanekaragaman  jenis penyusun komunitas hutan terjadi setelah 100  sampai 200 tahun  setelah awal suksesi sekunder, dan suatu keanekaragaman yang  menurun  terjadi kemudian dalam proses suksesi. Kemungkinan akibat kebakaran   atau juga pengelolaan oleh manusia. Oleh karena itu, Park (1980)  menyimpulkan  bahwa jelasnya secara umum peningkatan keanekaragaman  ekologis melalui suksesi  ekologi harus menjadi  elemen kunci dalam   semua&lt;br /&gt;strategi  pengelolaan hutan. &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2).  Struktur Ekosistem dan Produktivitas.   &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan  adanya proses suksesi dalam suatu ekosistem maka biomas akan  cenderung  meningkat selaras dengan perubahan komposisi jenis pioneer  yang digantikan oleh bentuk vegetasi yang lebih besar, dan  meningkatnya  jumlah maupun keanekaragaman habitat. Produktivitas juga akan   meningkat, minimal selama awal suksesi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3).  Perubahan Karakteristik Tanah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti  dinyatakan oleh Clements bahwa suksesi berlangsung secara  progresif (semakin  maju) sepanjang waktu, maka perubahan komunitas  vegetasi juga akan memodifikasi  (menyebabkan perubahan) pada habitat  dan lingkungan local. Pada ekosistem  daratan, misalnya hutan Jati yang  dibiarkan menjadi hutan Jati alam seperti di  RPH Darupono, KPH Kendal,  karakteristik tanahnya berbeda dengan yang ada di  bawah tegakan Jati  yang dikelola secara intensif. Tampak a.l. pada ketebalan  humus,  kelembaban tanah dan iklim mikro di bawah tegakan hutan Jati yang   tercampur dengan berbagai jenis kayu lain secara bertingkat-tingkat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4).  Stabilitas Ekosistem.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selaras  dengan  meningkatnya formasi organisme  yang ada akibat  proses suksesi, kemudian tumbuh berkembang dan mati, telah memberikan   pelajaran berharga tentang terciptanya stabilitas ekosistem. Ada  beberapa pendapat yang masih  diperdebatkan, yaitu berkisar antara  ‘stabilitas ekosistem’ atau ‘stabilitas yang  dinamis’. Kedua pendapat  ini beralasan untuk yang pertama bahwa secara sederhana  dengan adanya  suksesi secara keseluruhan telah meniadakan perubahan ekologis  dalam  suatu system, atau hanya sedikit terjadi peningkatan melalui proses   suksesi. Adapun untuk pendapat yang kedua bahwa kecepatan komunitas giat   kembali setelah terjadinya beberapa gangguan secara temporal umumnya  menurun  selama proses suksesi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5).  Tingkatan waktu (Time Scales).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perhatian  juga difokuskan pada tingkatan waktu yang terkait dengan  proses suksesi, dan  kecepatan perubahan yang terjadi pada tingkat sere.  Hal ini memberikan  diagnosis yang bernilai terhadap indikator  stabilitas ekosistem yang potensial,  kerentanan terhadap penyebab  perubahan, dan tingkatan waktu yang dibutuhkan  (dalam strategi  pengelolaan/manajemen)   untuk memperbaiki diri secara alami bagi  ekosistem yang rusak. Odum  (1962, dikutip oleh   Park, 1980)  menyimpulkan  bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat klimaks  adalah berkaitan  dengan struktur komunitas. Dalam ekosistem hutan,  suksesi jauh lebih lama  karena biomas yang besar terakumulasi sepanjang  waktu, dan komunitas terus  berubah dalam komposisi jenis dan mengatur  lingkungan fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/suksesihutan/" target="_blank"&gt;Suksesi Tumbuhan | Suksesi Hutan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html" target="_blank"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html" target="_blank"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-1435437665294068788?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1435437665294068788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1435437665294068788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html' title='TAHAP TAHAP SUKSESI  DAN KARAKTERISTIK SUKSESI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Rywc_kXmqWI/TzX5GyvzIZI/AAAAAAAAAog/nWvclA4_d44/s72-c/tahap-suksesi.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7894641749068312756</id><published>2012-02-09T07:34:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T20:49:06.719-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Sekunder'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Primer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suksesi Hutan'/><title type='text'>DEFINISI SUKSESI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-HyzA8pmMysk/TzXv0Kjz48I/AAAAAAAAAnk/cXzYyLddRcY/s1600/definisi-pengertian-suksesi.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 459px; height: 247px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HyzA8pmMysk/TzXv0Kjz48I/AAAAAAAAAnk/cXzYyLddRcY/s400/definisi-pengertian-suksesi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707731782228763586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah "Suksesi" sudah akrab di pendengaran dan dipakai dalam masalah politik maupun ekologi. Dalam politik istilah suksesi dipakai untuk menjelaskan tentang pergantian kepemimpinan dalam suatu organisasi maupun institusi. Tetapi yang akan dibahas adalah suksesi dalam ilmu ekologi yang menggambarkan perubahan  vegetasi yang berlangsung secara berurutan dalam suatu kawasan, hal inilah yang disebut sebagai  suksesi dalam ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dan definisi Suksesi menurut Barbour dkk. (1980), menyebutkan bahwa suksesi merupakan suatu perubahan  komposisi jenis tumbuhan yang kumulatif dan  searah dan terjadi pada suatu  wilayah tertentu. Pengertian suksesi  seperti itu segera dinyatakan memenuhi  syarat bila dikaitkan dengan  batas waktu, karena bisa jadi perubahan jenis  tumbuhan terjadi secara  musiman sepanjang tahun. Contoh: suatu padang rumput mungkin pada  musim  tertentu (musim semi) didominasi oleh jenis herba Dikotiledon (kelompok   jenis tumbuhan dengan biji berkeping dua), kemudian pada akhir musim  kering  mungkin jenis tumbuhan rumput tinggi (kelompok tumbuhan  Monokotil) menggantikan  posisinya sebagai jenis yang dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian  suksesi vegetasi dimulai dari pendapat Clements (1916,  dikutip oleh Park,  1980), yang menunjukkan perkembangan vegetasi  sebagai suatu urutan yang teratur  dan dapat diprediksi/diduga yang  terjadi sepanjang alur perkembangan yang  terbatas menuju pada situasi  akhir yang dapat diduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tulisan-Tulisan Berkaitan :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tahap-tahap-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-Tahap Suksesi&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-tipe-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tipe-Tipe Suksesi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Primer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-sekunder.html" target="_blank"&gt;Definisi Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/suksesihutan/" target="_blank"&gt;Suksesi Tumbuhan | Suksesi Hutan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-pengelolaan-hutan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Pengelolaan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-dalam-komunitas-hewan.html" target="_blank"&gt;Suksesi dalam Komunitas Hewan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-suksesional-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Perkembangan Suksesional Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-chronosequence-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Chronosequence dan Suksesi Toposequence&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-siklis-dan-suksesi-direksional.html" target="_blank"&gt;Suksesi Siklis dan Suksesi Direksional (searah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-progresif-dan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Suksesi Progresif dan Suksesi Retrogresif&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/suksesi-autogenik-dan-suksesi-allogenik.html" target="_blank"&gt;Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/tahap-tahap-perkembangan-suksesi.html" target="_blank"&gt;Tahap-tahap Perkembangan Suksesi Sekunder&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove Pulau Marsegu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-habitat.html"&gt;Definisi Habitat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_pengertian_hutan.html" title="Pengertian dan definisi" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Hutan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_hutan.html" title="klasifikasi hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html" title="klasifikasi pohon hutan" target="_blank"&gt;Klasifikasi Pohon  dalam Sebuah Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/miracle_tree.html" title="definisi pohon" target="_blank"&gt;Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/picture_tree.html" title="gambar pohon" target="_blank"&gt;Gambar dan Bentuk Pohon Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/silvikultur_hutan_alam_tropika.html" title="Silvikultur Hutan Alam Tropika" target="_blank"&gt;Silvikultur Hutan Alam Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/jenis_tipe_hutan.html" title="jenis tipe hutan di Indonesia" target="_blank"&gt;Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/tipe_tipe_hutan_tropis.html" title="Tipe hutan tropika" target="_blank"&gt;Tipe-tipe Hutan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2010/10/struktur-hutan-hujan-tropis.html" title="struktur hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Hujan Tropika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/faktor_faktor_yang_mengontrol_siklus_hara.html" title="faktor mengontrol siklus hara pada hutan hujan tropika" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mengontrol Siklus Hara&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/faktor_lingkungan_pembangunan_hutan_tanaman.html" title="faktor lingkungan pembangunan hutan tanaman" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor Lingkungan dan Pembangunan Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengelolaan_hutan_tanaman.html" target="_blank"&gt;Pengelolaan Hutan Tanaman&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="Penentuan Kerapatan Tegakan" target="_blank"&gt;Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_penentuan_kerapatan_tegakan.html" title="metode penentuan kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Metode Penentuan Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/ruang_tumbuh_kerapatan_tegakan.html" title="ruang tumbuh kerapatan tegakan" target="_blank"&gt;Ruang Tumbuh  Kerapatan Tegakan Jarak Antar Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metode_lain_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="metode lain pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Metode Lain  Pengukuran Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/evaluasi_metode_pengukuran_kerapatan_tegakan.html" title="evaluasi metode pengukuran tegakan" target="_blank"&gt;Evaluasi Berbagai Metode Mengukur Kerapatan Tegakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_habis.html" title="keuntungan kerugian tebang habis" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Habis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/keuntungan_kerugian_tebang_pilih.html" title="keuntungan kerugian sistem tebang pilih" target="_blank"&gt;Keuntungan dan Kerugian Sistem Tebang Pilih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2011/05/proyek-pembuatan-hutan-di-gurun-sahara.html" title="pembuatan hutan di gurun sahara" target="_blank"&gt;Proyek Pembuatan Hutan di Gurun Sahara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7894641749068312756?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7894641749068312756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7894641749068312756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-suksesi.html' title='DEFINISI SUKSESI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HyzA8pmMysk/TzXv0Kjz48I/AAAAAAAAAnk/cXzYyLddRcY/s72-c/definisi-pengertian-suksesi.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2883041357788679583</id><published>2012-02-06T21:19:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T16:22:43.961-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Formasi Ekosistem Hutan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem air'/><title type='text'>TIPE-TIPE  EKOSISTEM | EKOSISTEM DARAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-pfy_umUBhz8/TzC8sfGG78I/AAAAAAAAAmc/iKmIe4Re2YI/s1600/ekosistem-darat-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 441px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pfy_umUBhz8/TzC8sfGG78I/AAAAAAAAAmc/iKmIe4Re2YI/s400/ekosistem-darat-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706268200325803970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap ekosistem memiliki spesies dominan yang berbeda. Ekosistem pesisir memiliki spesies dominan yang berbeda dengan ekosistem hutan pegunungan. Biasanya ekosistem pesisir didominasi oleh vegetasi &lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;hutan pantai&lt;/a&gt; dan vegetasi &lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;hutan mangrove&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam spesies yang dominan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor biotik maupun faktor abiotik. Misalnya,  jika yang dominan tumbuh Meranti maka akan tumbuh Hutan Meranti. Karena itu dapat kita temukan ekosistem tumbuhan dominan, misalnya ekosistem &lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;hutan mangrove&lt;/a&gt;, ekosistem hutan sagu, ekosistem alang-alang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau faktor abiotiknya yang didominasi oleh air, maka ekosistem perairan juga bermacam-macam. Ada ekosistem air tawar, ada ekosistem air laut, dan air payau. Dalam setiap ekosistem terdapat ciri-ciri komunitas yang menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai tipe ekosistem yang dapat dijumpai di permukaan bumi. Besaran luasnya ekosistem tidak dapat ditentukan secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai ekosistem di bumi mengadakan interaksi berbentuk biosfer. Jadi biosfer adalah lapisan bumi yang dihuni oleh organisme, yang terdiri atas berbagai ekosistem yang saling berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biosfer dapat dipandang sebagai ekosistem yang sangat besar. Secara garis besar, Ekosistem dapat dibedakan menjadi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ekosistem Darat, &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html"&gt;Ekosistem Air&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;dan&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; Ekosistem Buatan (Binaan)&lt;/span&gt; dan dapat dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;EKOSISTEM DARAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem darat adalah ekosistem yang faktor lingkungan eksternalnya didominasi oleh daratan.                                  Ekosistem dapat dibedakan menjadi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ekosistem darat alami &lt;/span&gt;dan&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/suksesi-hutan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ekosistem Suksesi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;                                 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ekositem Darat Alami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem darat alami adalah ekosistem yang tumbuh dan berkembang secara alami. Berdasarkan topografinya ekosistem darat alami di Indonesia dapat dibedakan menjadi Ekosistem vegetasi pamah, ekosistem vegetasi pegunungan, dan ekosistem vegetasi munson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Ekosistem Vegetasi Pamah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem ini membentang dari ketinggian 0 sampai 1000 meter di atas permukaan laut. Vegetasi berupa hutan belukar. Sebagian besar hutan di Indonesia tergolong ekosistem vegetasi pamah. Vegetasi yang terdapat dalam ekosistem ini terdiri dari vegetasi darat dan rawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi rawa adalah vegetasi yang terdapat di daerah yang berawa, yang tergenang air.  Vegetasi darat adalah vegetasi yang terdapat di darat yang tidak tergenang air. Yang tergolong ekosistem vegetasi rawa adalah ekosistem hutan mangrove di daerah pantai, ekosistem hutan rawa air tawar, dan ekosistem hutan tepi sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan mangrove yang terdapat di tepi pantai, yang air lautnya selalu tergenang saat air laut pasang naik. Luasnya mencapai 4.250.000 ha dan tersebar diseluruh kepulauan di Indonesia. Selain berfungsi untuk menjaga terjadinya abrasi (erosi air laut), hutan bakau memiliki fungsi ekologi yang sangat penting. Biasanya tumbuhan bakau menjadi sarang berbagai unggas atau tempat bertengger burung-burung yang sedang mengadakan migrasi. Kotoran burung yang jatuh ke dasar hutan menyuburkan air laut. Fitoplankton dan Zooplankton hidup subur di daerah hutan mangrove. Oleh karenanya, perairan di sekitar hutan mangrove memiliki banyak spesies organisme air, termasuk ikan. Keadaan yang demikian sangat menguntungkan para nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah pantai yang berbatasan dengan hutan mangrove terdapat ekosistem hutan rawa air tawar. Di Kalimantan banyak terdapat  ekosistem ini karena genangan air tawar dapat mencapai daerah yang luas. Pohon-pohon memiliki akarr lutut atau akar tunjang. Hutan ini lebat dan pohon-pohonnya dapat mencapai ketinggian hingga 30 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem hutan tepi sungai banyak terdapat di sepanjang tepi sungai besar, misalnya banyak terdapat di tepi sungai-sungai Sumatra, Kalimantan, dan Irian Jaya. Pada musim penghujan sering digenangi air, dimusim kemarau kering. Karenanya disebut sebagai vegetasi rawa musiman. Vegetasinya berupa tumbuhan besar yang berkayu yang memiliki akar yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ekosistem Vegetasi Pegunungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem  vegetasi pegunungan bermacam-macam tergantung pada ketinggiannya (elevasinya). Ekosistem ini dapat dibedakan menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Vegetasi Hutan Pegunungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi hutan pegunungan terdapat pada ketinggian 1500- 3.300 meter diatas permukaan air laut. Cirinya, semakin tinggi elevasinya, semakin kecil dan pendek vegetasinya, dan semakin rendah keanekaragamannya. Misalnya ekosistem hutan pegunungan bawah pada elevasi 1000-2000 m dan ekosistem hutan pegunungan atas yang terdapat pada elevasi 2500-3300 m. Di dalam ekosistem hutan pegunungan atas yang lembab banyak dijumpai lumut, anggrek dan tumbuhan epifit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Vegetasi Padang Rumput Pegunungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang rumput pegunungan terdapat pada elevasi 3.200-3.600 m. Komunitasnya terdiri dari rumput yang dapat mencapai 1 m tingginya. Contohnya adalah padang rumput yang terdapat di pegunungan Irian Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Vegetasi Terbuka Lereng Berbatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasinya berupa rumput, tumbuhan paku, dan semak tertentu. Ekosistem ini terdapat di lereng-lereng bukit batu kapur yang memiliki curah hujan sedikit tetapi lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Vegetasi Rawa Gambut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasinya berupa perdu rawa gambut atau rumput yang menutupi tanah gambut. Misalnya terdapat di Irian Jaya pada ketinggian 3.300-4.000 m atau di Jawa pada ketinggian 2.000-3.500 m dari permukaan air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(e) Vegetasi Danau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi danau banyak dijumpai di daerah pegunungan tinggi. Di Indonesia banyak terdapat danau eutrofik, yakni danau yang kaya unsur hara dan ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan air. Jika tumbuhan air menutupi danau, maka kegiatan pernapasan di malam hari akan menghabiskan oksigen. Akibatnya banyak spesies ikan dan hewan air yang mati. Yang tertinggal adalah  ikan dan hewan air yang  tahan terhadap kekurangan oksigen. Contohnya adalah Danau Singkarak, dan Danau Meninjau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(f) Vegetasi Alpin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi ini dijumpai didaerah yang memiliki elevasi diatas 4.000  m. Vegetasinya rumput, lumut, dan lumut kerak.Podang lumut dikenal sebagaitundra. Pada elevasi 4.100-4.200 m vegetasinya berupa lumut dan lumut kerak. Pada elevasi 4.000-4.500 m vegetasinya berupa padang rumput yang lebat dan padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ekosistem Vegetasi Munson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi ini banyak dijumpai didaerah beriklim kering yang memiliki curah hujan sedikit. Daerahnya meliputi wilayah pada elevasi 0-800 m. Misalnya hutan munson yang terdapat di Jawa Timur bagian timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Irian Jaya. Ciri hutan munson adalah pohon-pohonnya rendah, banyak cabang dan batangnya tidak lurus. Contoh yang lain adalah savana. Vegetasinya berupa padang rumput yang diselingi semak belukar. Savana terdapat di Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur dan Irian Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/suksesi-hutan.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ekosistem Suksesi&lt;/span&gt;.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem suksesi dibedakan menjadi ekosistem &lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html"&gt;suksesi primer&lt;/a&gt; dan ekosistem &lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/definisi-hutan-sekunder.html"&gt;suksesi sekunder&lt;/a&gt;. Ekosistem &lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-suksesi-primer.html"&gt;suksesi primer&lt;/a&gt; adalah   ekosistem yang tumbuh pada permukaan yang terbuka. Jadi mula-mula vegetasinya kosong, hanya ada batuan, kemudian terjadi suksesi dan tumbuh ekosistem baru. Contohnya pada suksesi yang terjadi di krakatau.  Ekosistem &lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/definisi-hutan-sekunder.html"&gt;suksesi sekunder&lt;/a&gt; adalah ekosistem yang tumbuh akibat ekosistem alami rusak. Jadi ekosistem sekunder tidak dimulai dari kondisi yang kosong. Misalnya jika hutan terbakar, akan muncul hutan belantara lagi setelah mengalami &lt;a href="http://irwantoshut.blogspot.com/2010/03/definisi-hutan-sekunder.html"&gt;suksesi sekunder&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Selanjutnya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-ekosistem.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Darat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Air&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/formasi-ekosistem-hutan.html" target="_blank"&gt;Formasi Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-hujan-tropis.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Hujan Tropis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-musim.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Musim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Pantai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-rawa.html%20target=" _blank=""&gt;Ekosistem Hutan Rawa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-gambut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Gambut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html" target="_blank"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekowisata-ecotourism.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekowisata / Ecotourism&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2883041357788679583?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2883041357788679583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2883041357788679583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-ekosistem.html' title='TIPE-TIPE  EKOSISTEM | EKOSISTEM DARAT'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-pfy_umUBhz8/TzC8sfGG78I/AAAAAAAAAmc/iKmIe4Re2YI/s72-c/ekosistem-darat-1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2389365024587700345</id><published>2012-02-06T00:15:00.001-08:00</published><updated>2012-02-12T07:12:30.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Formasi Ekosistem Hutan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekosistem air'/><title type='text'>EKOSISTEM AIR | Ekosistem Sungai dan Ekosistem Laut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WYCIB3YLbcA/Ty-OVhACIOI/AAAAAAAAAmQ/44WSZx3Nkag/s1600/ekosistem-air.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 453px; height: 374px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WYCIB3YLbcA/Ty-OVhACIOI/AAAAAAAAAmQ/44WSZx3Nkag/s400/ekosistem-air.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705935753188614370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengertian dan definisi dari Ekosistem Air adalah ekosistem yang  faktor lingkungan  eksternalnya didominasi oleh air sebagai habitat dari  berbagai organisme  air.  Ekosistem air dapat dibedakan  menjadi  beberapa ekosistem yaitu :        &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;a.  Ekosistem Sungai (ekosistem air tawar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk dapat membedakan  dengan ekosistem lainnya perlu diketahui Ciri-ciri  ekosistem air tawar dan dapat  dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Salinitas (kadar garam) rendah, lebih  rendah jika dibandingkan dengan sitoplasma                          &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Variasi suhu  antara siang dan malam tidak terlalu  besar                                                                                           &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penetrasi (masuknya) cahaya matahari  terbatas/kurang                                                                                             &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ekosistem air tawar tetap dipengaruhin oleh iklim dan cuaca,  meskipun  pengaruh tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan  ekosistem   darat.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan  gerak airnya, ekosistem air tawar dapat dibedakan menjadi ekosistem lentik dan  lotik. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ekosistem Lentik&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; adalah ekosistem yang airnya tenang atau diam,  misalnya danau, telaga dan rawa. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em style="font-weight: bold;"&gt;Ekosistem  Lotik &lt;/em&gt;adalah ekosistem yang airnya bergerak  mengalir, misalnya selokan,  parit, atau sungai. Ciri-ciri ekosistem  lotik adalah airnya mengalir, merupakan  ekosistem terbuka dari kadar  oksigen terlarut relatif tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aliran air dalam ekosistem lotik merupakan faktor pembatas bagi   organisme yang ada di dalamnya. Artinya organisme yang tidak dapat  melakukan  adaptasi terhadap adanya aliran air akan tersingkir. Aliran  ini juga dapat  menjadi penentu jenis dan komposisi komponen biotik  dalam ekosistem. Aliran air  tergantung pada topografi, besarnya sungai  dan debit air yang mengalir.  Misalnya, jenis organisme di pinggir sungai  berbeda dengan jenis organisme  di dalam atau di dasar sungai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Air ekosistem lotik tidak tetap, melainkan berubah tergantung pada  musim.  Di pulau Jawa, pada umumnya air sungai keruh dan banjir di musim  hujan  sedangkan di musim kemarau airnya kecil dan bahkan mengering.  Keadaan ini  merupakan suatu indikator adanya kerusakan ekosistem darat  didaerah hulu  sungai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai suatu Ekosistem terbuka. Ekosistem lotik memperoleh kiriman   bahan organik yang terbawa aliran air dari daerah hulu atau daratan  misalnya,  berupa bangkai, sampah atau daun-daun yang gugur ke sungai.  Meskipun dari  ekosistem lotik itu sendiri hewan-hewan dapat memperoleh  makanan, beberapa  hewan sungai ada yang memakan bahan organik yang  terbawa aliran air. Jadi,  ekosistem lotik mendapat pengaruh yang besar  dari ekosistem daratan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai ekosistem yang mobil, aliran air memudahkan terjadinya   persentuhan antara permukaan air yang luas dengan udara. Apalagi, jika  disepanjang  ekosistem lotik terdapat jeram, riak-riak kecil, dan air  terjun. Keadaan yang  demikian menyebabkan kadar oksigen terlarut  relatif tinggi. Tingginya kadar  oksigen memberikan kondisi pada  hewan-hewan sungai untuk hidup dilingkungan  yang cukup oksigen,  sehingga mereka menjadi peka terhadap kekurangan oksigen.  Adanya bahan  pencemar yang dapat mereduksi (mengurangi) oksigen terlarut dapat   menimbulkan bencana bagi hewan air itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;b. &lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Laut&lt;/a&gt;                                                                                                                                                                          &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia  merupakan negara kepulauan mempunyai lebih dari 17.000 pulau yang dikelilingi oleh lautan.  Ekosistem laut  Indonesia sangat menentukan iklim (suhu, kelembapan,  angin), flora dan  fauna serta kehidupan penduduk. Luas perairan  laut  di daerah pesisir dapat dilihat di bawah ini  :                                                                                        &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Laut  : &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; perairan teritorial  (sampai batas 12 mil laut): 5,1 x 106 km2&lt;/li&gt;&lt;li&gt; paparan benua (sampai kedalaman 200  m): 3,0 x 106   km2                                                                                   &lt;/li&gt;&lt;li&gt; ekonomi ekslusif 200 mil : 2,7x 106 km2&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Wilayah Pesisir :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;panjang pantai : 81 x 1012  km2                                                                                                              &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;hutan payau : 10 x 106  km2                                                                                                                                          &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;hutan bakau  : 3,6 x 106 km2&lt;/li&gt;&lt;li&gt;tambak : 183 x 1012 km2&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ekosistem Laut memiliki sifat khas yang tidak  dimiliki oleh  ekosistem lainnya. Sifat-sifat itu antara lain sebagai berikut   :                                                                                                                                                                                              &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; berkadar garam sekitar 0,3% yang mirip dengan kepekatan  protoplasma                                                                                                                        &lt;/li&gt;&lt;li&gt; terdapat kehidupan disemua kedalaman, kecuali di dasar laut yang  sangat   dalam                                                                      &lt;/li&gt;&lt;li&gt; ekosistem laut saling  bersambungan, dan memiliki kemungkinan  untuk bercampur karena adanya sirkulasi air  laut                                                                                                                                                                                                                  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; rantai makanan  relatif panjang dengan kata lain, disepanjang rantai makanan terjadi pemboroson  energi.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lautan Indonesia merupakan lautan tropik, dengan suhu di lapisan   permukaan yang relatif tinggi yaitu 26-30 C, sementara di lapisan lebih  dalam  suhunya lebih rendah. Cahaya matahari menciptakan stratifikasi  termal secara  vertikal. Maksudnya, suhu air laut dipermukaan relatif  tinggi dan semakin  kedalam suhunya semakin rendah. Karena daerah  permukaan air laut cukup menerima  cahaya matahari sepanjang tahun, maka  produktifitas produser (fitoplankton)  cukup tinggi. Curah hujan di  Indonesia cukup tinggi, yang mengakibatkan lapisan  pemukaan laut  memiliki kadar garam rendah, berkisar antara 27 – 33 %o,  sedangkan  di bagian lebih dalam kadar garamnya lebih tinggi. Ekosistem laut  lebih  stabil terhadap pengaruh musim dibandingkan ekosistem darat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti halnya hutan tropik, lautan tropik, memiliki keanekaragaman  yang  tinggi, namun besarnya populasi masing-masing spesies rendah.  Oleh  karena itu, bentuk rantai makanan di perairan  Indonesia menjadi  kompleks. Hal ini berbeda dengan lautan subtropik yang  memiliki  keanakaragaman rendah tetapi jumlah populasi spesiesnya tinggi. Di   daerah pantai di Indonesia berkembang komunitas hayati yang khas,  misalnya  terumbu karang, hutan payau (mangrove), dan rumput  laut.                                                        &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dalam ekosistem laut terdapat stratifikasi kedalaman akibat  intensitas  cahaya, suhu, kandungan mineral yang pada akhirnya  menentukan keanekaragaman  hayati yang ada didalamnya. Seolah-olah  terdapat dua lapisan yang terpisah,  yaitu lapisan atas dan lapisan  bawah. Berdasarkan intensitas cahaya matahari  yang dapat mencapainya,  ekosistem laut dibedakan menjadi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ekosistem laut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; dalam&lt;/span&gt;  dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ekosistem  laut dangkal&lt;/span&gt;.   Selanjutnya &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;Ekosistem Laut &lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;&amp;lt;&amp;lt;&amp;lt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe width="500" height="400" src="http://www.youtube.com/embed/XJzxz8xZIhU" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe width="500" height="400" src="http://www.youtube.com/embed/y3A-c8ERXGE" frameborder="0" allowfullscreen&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul class="posts"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/tipe-ekosistem.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Darat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Air&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-laut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Laut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-binaan-atau-ekosistem-buatan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Binaan atau Ekosistem Buatan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html"&gt;Pencemaran Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekologi Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/parasit.html" target="_blank"&gt;Parasit&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/predator.html" target="_blank"&gt;Predator&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pemangsaan.html"&gt;Pemangsaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/heterogenitas-ruang.html" target="_blank"&gt;Heterogenitas Ruang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/persaingan.html" target="_blank"&gt;Persaingan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-homoestatis.html" target="_blank"&gt;Definisi Homoestatis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekotipe.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekotipe&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-ekowisata-ecotourism.html" target="_blank"&gt;Definisi Ekowisata / Ecotourism&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/formasi-ekosistem-hutan.html" target="_blank"&gt;Formasi Ekosistem Hutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-hujan-tropis.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Hujan Tropis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-musim.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Musim&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-pantai.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Pantai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-rawa.html" target=" _blank="&gt;Ekosistem Hutan Rawa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-gambut.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Gambut&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2389365024587700345?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2389365024587700345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2389365024587700345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/ekosistem-air.html' title='EKOSISTEM AIR | Ekosistem Sungai dan Ekosistem Laut'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-WYCIB3YLbcA/Ty-OVhACIOI/AAAAAAAAAmQ/44WSZx3Nkag/s72-c/ekosistem-air.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2642039697690773142</id><published>2012-02-01T02:05:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T02:11:12.285-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilihan Pohon Induk Plus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Bermutu Genetik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><title type='text'>AREAL PENGUMPULAN BENIH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Areal Pengumpulan Benih adalah Suatu  areal dengan batas yang jelas serta ketinggian tertentu sehingga  tanah dan  iklimnya cukup seragam untuk mengindikasikan kemungkinan  besar adanya  reproduksi suatu ekotipa tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_benih.html" target="_blank"&gt;Definisi Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/definisi_benih_bermutu.html" target="_blank"&gt;Definisi Benih Bermutu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kendala_Penyediaan_Benih_Bermutu_Genetik.html" target="_blank"&gt;Kendala Penyediaan Benih Bermutu Genetik&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Definsi_Sumber_Benih.html" target="_blank"&gt;Definsi Sumber Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/viabilitas_benih.html" target="_blank"&gt;Viabilitas Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/vigor_benih.html" target="_blank"&gt;Vigor Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/dormansi_benih.html" target="_blank"&gt;Dormansi Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/tipe_dormansi_benih.html" target="_blank"&gt;Tipe Dormansi Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/perlakuan_awal_dormansi%20_fisik.html" target="_blank"&gt;Perlakuan Awal Dormansi Fisik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/metabolisme_perkecambahan.html" target="_blank"&gt;Metabolisme Perkecambahan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengaruh_suhu_terhadap_daya_kecambah_benih.html" target="_blank"&gt;Pengaruh Suhu Selama Penyimpanan Terhadap Daya Kecambah Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/penyimpanan_benih.html" target="_blank"&gt;Penyimpanan Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/periode_simpan_benih.html" target="_blank"&gt;Periode Simpan Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/seed_viability_factor.html" title="perkecambahan benih" target="_blank"&gt;Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan Benih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2642039697690773142?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2642039697690773142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2642039697690773142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/areal-pengumpulan-benih.html' title='AREAL PENGUMPULAN BENIH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3058149326387711527</id><published>2012-02-01T01:56:00.001-08:00</published><updated>2012-02-01T01:59:20.585-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><title type='text'>ARBORETUM PEMULIAAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arboretum Pemuliaan adalah Koleksi dari pohon atau spesis terpilih yang  dibangun untuk  ditangkarkan. Apabila koleksi didapat secara vegetatif,  seringkali  disebut Bank kion. Jarak tanam, budidaya dan perlindungan dirancang   untuk merangsang pembungaan yang lebih dini dan lebih banyak untuk  keperluan  penyerbukan terkendali dan pemanenan benih. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3058149326387711527?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3058149326387711527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3058149326387711527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/arboretum-pemuliaan.html' title='ARBORETUM PEMULIAAN'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3995682669501764182</id><published>2012-02-01T01:54:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T02:05:12.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><title type='text'>APEK DAN APIKAL</title><content type='html'>Ujung, bagian paling ujung, titik akhir  sesuatu. Pada tunas dan akar, bagian ujungnya mengandung meristem apikal. Sedangkan Apikal berhubungan dengan apek.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3995682669501764182?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3995682669501764182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3995682669501764182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/apek-dan-apikal.html' title='APEK DAN APIKAL'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7407235722179434784</id><published>2012-02-01T01:47:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:53:23.370-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Bermutu'/><title type='text'>ANTESIS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Periode atau tahap ekspansi dari bunga, pemekaran bunga diklasifikasikan menjadi diurnal, nokturnal, ekstended,dll. Seringkali antesis mengacu pada membukanya. Kantong serbuk sari dan kemudian melepaskan serbuk sari. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7407235722179434784?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7407235722179434784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7407235722179434784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/antesis.html' title='ANTESIS'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-8188062120256860913</id><published>2012-01-31T17:24:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:45:08.871-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN TINGGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM PENDIDIKAN'/><title type='text'>MELIHAT SEJARAH PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gLuBvVv2wyo/TyiVYNESQZI/AAAAAAAAAl4/ZTxiqvgb8ZQ/s1600/stovia.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 476px; height: 360px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gLuBvVv2wyo/TyiVYNESQZI/AAAAAAAAAl4/ZTxiqvgb8ZQ/s400/stovia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703973171121766802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perguruan tinggi di Indonesia saat ini berjumlah ribuan, semua itu tidak terlepas dari sejarah bagaimana terbentuk perguruan tinggi di Indonesia. Berbagai masalah bisa dilewati sehingga pada saat ini bangsa Indonesia bisa memilih perguruan tinggi yang terbaik di antara ribuan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat kembali sejarah berdirinya perguruan tinggi di Indonesa bermula pada tahun 1870, pemerintah Belanda memberlakukan apa yang disebut Etische Politiek di Hindia Belanda, yaitu suatu perubahan sikap Belanda terhadap koloninya karena merasa berhutang budi kepada bumi putera yang telah menyebabkan Nederland dapat membangun dan menjadi makmur. Bermula dari bidang kesehatan, pada tahun 1902 didirikan STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang kemudian menjadi NIAS (Nerderlandsch Indische Artsen School) tahun 1913 dan GHS (Geneeskundige Hoge School) sebagai embrio fakultas kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian disusul dengan berdirinya Rechts School tahun 1922 dan menjadi Rechthoogen School tahun 1924 sebagai embrio Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di Jakarta tahun 1940 didirikan Faculteit de Letterenen Wijsbegeste yang kemudian menjadi Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Di Bandung tahun 1920 didirikan Technische Hoge School (THS). Sementara di Bogor juga didirikan Landsbouwkundige Faculteit pada tahun 1941 yang sekarang disebut Institut Pertanian Bogor (IPB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 19 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mendirikan Balai Perguruan Tinggi RI yang kemudian mendorong berdirinya Universitas Indonesia yang pada dasarnya merupakan gabungan dari fakultas-fakultas yang telah ada sebelumnya. Sementara itu di dalam masa perjuangan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, pemerintah RI di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1949 mendirikan pula Universitas Gajah Mada. Kemudian dari dua universitas ini dikembangkan menjadi lima dengan hadirnya ITB-1959, IPB-1963, dan Unair-1954.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-8188062120256860913?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/8188062120256860913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/8188062120256860913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/melihat-sejarah-pendidikan-tinggi-di.html' title='MELIHAT SEJARAH PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gLuBvVv2wyo/TyiVYNESQZI/AAAAAAAAAl4/ZTxiqvgb8ZQ/s72-c/stovia.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-1968097635438973468</id><published>2012-01-31T08:48:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T17:18:15.569-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN TINGGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM PENDIDIKAN'/><title type='text'>DEFINISI DAN PENGERTIAN PENDIDIKAN TINGGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-20swdVdc-u8/TyiSU2d2QjI/AAAAAAAAAls/e_-47k2XMo8/s1600/pendidikan-tinggi-3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 489px; height: 493px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-20swdVdc-u8/TyiSU2d2QjI/AAAAAAAAAls/e_-47k2XMo8/s400/pendidikan-tinggi-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703969814980477490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dan dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jMnkApDrfzM/TygfNhnWKNI/AAAAAAAAAlg/s9EflGMLqpk/s1600/PENDIDIKAN-TINGGI.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 468px; height: 472px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jMnkApDrfzM/TygfNhnWKNI/AAAAAAAAAlg/s9EflGMLqpk/s400/PENDIDIKAN-TINGGI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703843245286893778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar akademik, profesi, atau vokasi hanya digunakan oleh lulusan dari perguruan tinggi yang dinyatakan berhak memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi. Penggunaan gelar akademik, profesi, atau vokasi lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-1968097635438973468?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1968097635438973468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1968097635438973468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/definisi-dan-pengertian-pendidikan_31.html' title='DEFINISI DAN PENGERTIAN PENDIDIKAN TINGGI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-20swdVdc-u8/TyiSU2d2QjI/AAAAAAAAAls/e_-47k2XMo8/s72-c/pendidikan-tinggi-3.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-1050215381497724073</id><published>2012-01-31T08:15:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:38:51.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN TINGGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM PENDIDIKAN'/><title type='text'>DEFINISI DAN PENGERTIAN PENDIDIKAN MENURUT PARA AHLI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-s7AUBJaRvwk/TygZF1iV9rI/AAAAAAAAAlU/Zk2cy0AmcI8/s1600/pengertian-definisi-pendidikan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 485px; height: 327px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-s7AUBJaRvwk/TygZF1iV9rI/AAAAAAAAAlU/Zk2cy0AmcI8/s400/pengertian-definisi-pendidikan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703836516125898418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian Pendidikan menurut para ahli pada hakekatnya adalah suatu proses pembentukan perilaku  manusia secara intelektual untuk menguasai ilmu pengetahuan, secara  emosional untuk menguasai diri dan secara moral sebagai pendalaman dan  penghayatan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara  etimologi pendidikan berasal dari kata “educare” dalam bahasa latin  yang bermakna melatih atau mengajarkan. Educare berasal dari kata ex dan  ducare, yang berarti memimpin. Jadi pendidikan adalah suatu proses  pelatihan dimana terdapat dua subyek yang saling berhubungan, yaitu yang  satu memimpin dan yang satunya lagi dipimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah  kegiatan kemanusiaan atau disebut sebagai kegiatan “memanusiakan  manusia”. Kesuma, dkk (2007), menyebutkan bahwa sebagai kegiatan  manusiawi, pendidikan membuat manusia membuka diri terhadap dunia. Lebih  dari itu Khan (2010), menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu  proses humanisasi yang artinya dengan pendidikan manusia akan lebih  bermartabat, berkarakter, terampil, yang memiliki tanggung jawab  terhadap sistem sosial sehingga akan lebih baik, aman dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, mendefinisikan pendidikan sebagai suatu   usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan  suasana  belajar dan proses   pembelajaran agar peserta didik secara  aktif  mengembangkan potensi   dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual   keagamaan, pengendalian diri,   kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,   serta keterampilan yang   diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan   negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur pendidikan tinggi di Indonesia terdiri dari 2 jalur pendidikan, yaitu pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Pendidikan akademik adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan dan pengembangannya, dan lebih mengutamakan peningkatan mutu serta memperluas wawasan ilmu pengetahuan. Pendidikan akademik diselenggarakan oleh sekolah tinggi, institut, dan universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-1050215381497724073?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1050215381497724073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1050215381497724073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/definisi-dan-pengertian-pendidikan.html' title='DEFINISI DAN PENGERTIAN PENDIDIKAN MENURUT PARA AHLI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-s7AUBJaRvwk/TygZF1iV9rI/AAAAAAAAAlU/Zk2cy0AmcI8/s72-c/pengertian-definisi-pendidikan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5367907149029994391</id><published>2012-01-31T08:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T08:48:13.434-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN TINGGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SISTEM PENDIDIKAN'/><title type='text'>UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ggHvLa4gnME/TygXEWGqjcI/AAAAAAAAAlI/b7oM4WW_KuE/s1600/PENDIDIKAN.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 502px; height: 360px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ggHvLa4gnME/TygXEWGqjcI/AAAAAAAAAlI/b7oM4WW_KuE/s400/PENDIDIKAN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703834291485183426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari UU SISDIKNAS adalah suatu undang-undang yang mengatur sistem pendidikan di Indonesia,  sedangkan Sistem Pendidikan merupakan keseluruhan komponen  pendidikan yang saling terkait   secara terpadu untuk mencapai tujuan  pendidikan nasional.  Berikut ini disajikan Undang-Undang  Sistem Pendidikan di Indonesia Nomor 20 Tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003    TENTANG   SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL   DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA  ESA   PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menimbang:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. bahwa pembukaan   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia  tahun 1945 mengamanatkan   Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi  segenap bangsa Indonesia dan   seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk  memajukan kesejahteraan umum,   mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut  melaksanakan ketertiban dunia   yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian  abadi dan keadilan sosial;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. bahwa   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945  mengamanatkan   Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem  pendidikan   nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada  Tuhan Yang Maha   Esa serta akhlak mulia dalam bangsa yang diatur dengan  undang-undang;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. bahwa sistem   pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan  kesempatan   pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi  manajemen   pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan  tuntutan perubahan   kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga  perlu dilakukan   pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan  berkesinambungan;   d. bahwa Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang  Sistem Pendidikan   Nasional tidak memadai lagi dan perlu diganti serta  perlu disempurnakan   agar sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang  Dasar Negara Republik   Indonesia Tahun 1945;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e. bahwa berdasarkan   pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf  a, b, c, dan d perlu   membentuk Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan  Nasional. Mengingat:   Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal  31, dan Pasal 32   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun  1945;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;DENGAN PERSETUJUAN BERSAMA   DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA   DAN   PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;MEMUTUSKAN:&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Menetapkan: Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB I&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Pasal 1&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Pendidikan adalah   usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan  suasana belajar dan proses   pembelajaran agar peserta didik secara  aktif mengembangkan potensi   dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan, pengendalian diri,   kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,  serta keterampilan yang   diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan  negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Pendidikan   nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila  dan Undang-Undang   Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang  berakar pada nilai-nilai   agama, kebudayaan nasional Indonesia  dantanggap terhadap tuntutan   perubahan zaman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Sistem pendidikan   nasional adalah keseluruhan komponen  pendidikan yang saling terkait   secara terpadu untuk mencapai tujuan  pendidikan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Peserta didik   adalah anggota masyarakat yang berusaha  mengembangkan potensi diri   melalui proses pembelajaran yang tersedia  pada jalur, jenjang, dan jenis   pendidikan tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. Pendidik adalah   tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai  guru, dosen, konselor,   pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,  fasilitator, dan sebutan   lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta  berpartisipasi dalam   menyelenggarakan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;7. Jalur pendidikan   adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk  mengembangkan potensi   diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai  dengan tujuan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;8. Jenjang   pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan  berdasarkan tingkat   perkembangan peserta didik, tujuan yang akan  dicapai, dan kemampuan   yang dikembangkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;10. Satuan   pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang  menyelenggarakan   pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal  pada setiap   jenjang dan jenis pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;11. Pendidikan   formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan  berjenjang yang   terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah,  dan pendidikan   tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;12. Pendidikan   nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan  formal yang dapat   dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;13. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;14. Pendidikan anak   usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang  ditujukan kepada anak sejak   lahir sampai dengan usia enam tahun yang  dilakukan melalui pemberian   rangsangan pendidikan untuk membantu  pertumbuhan dan perkembangan   jasmani dan rohani agar anak memiliki  kesiapan dalam memasuki pendidikan   lebih lanjut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;15. Pendidikan jarak   jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya  terpisah dari pendidik dan   pembelajarannya menggunakan berbagai sumber  belajar melalui teknologi   komunikasi, informasi, dan media lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;16. Pendidikan   berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan  pendidikan berdasarkan   kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan  potensi masyarakat sebagai   perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk  masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;17. Standar nasional   pendidikan adalah kriteria minimal tentang  sistem pendidikan di seluruh   wilayah hukum Negara Kesatuan Republik  Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;18. Wajib belajar   adalah program pendidikan minimal yang harus  diikuti oleh Warga Negara   Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan  Pemerintah Daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;19. Kurikulum adalah   seperangkat rencana dan pengaturan mengenai  tujuan, isi, dan bahan   pelajaran serta cara yang digunakan sebagai  pedoman penyelenggaraan   kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan  pendidikan tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;21. Evaluasi   pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan,  dan penetapan mutu   pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan  pada setiap jalur,   jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk  pertanggungjawaban   penyelenggaraan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;22. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;23. Sumber daya   pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan  dalam penyelenggaraan   pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan,  masyarakat, dana, sarana,   dan prasarana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;24. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;25. Komite   sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang  beranggotakan orang   tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta  tokoh masyarakat yang   peduli pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;26. Warga Negara   adalah Warga Negara Indonesia baik yang tinggal di  wilayah Negara   Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah  Negara Kesatuan   Republik Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;27. Masyarakat   adalah kelompok Warga Negara Indonesia nonpemerintah  yang mempunyai   perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.28.  Pemerintah adalah   Pemerintah Pusat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;29. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, atau Pemerintah Kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;30. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB II   DASAR, FUNGSI, DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Pasal 2&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendidikan nasional   berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk  watak serta peradaban   bangsa yang bermartabat dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa,   bertujuan untuk berkembangnya potensi  peserta didik agar menjadi manusia   yang beriman dan bertakwa kepada  Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,   sehat, berilmu, cakap, kreatif,  mandiri, dan menjadi warga negara yang   demokratis serta bertanggung  jawab.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB III   PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Pasal 4&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan   diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan  serta tidak   diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia,  nilai   keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Pendidikan   diselenggarakan dengan memberi keteladanan,  membangun kemauan, dan   mengembangkan kreativitas peserta didik dalam  proses pembelajaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(6) Pendidikan   diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen  masyarakat melalui   peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian  mutu layanan   pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB IV   HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA,   ORANG TUA, MASYARAKAT, DAN PEMERINTAH&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesatu&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Hak dan Kewajiban Warga Negara&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 5&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Warga negara   yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,  intelektual, dan/atau   sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Warga negara di   daerah terpencil atau terbelakang serta  masyarakat adat yang terpencil   berhak memperoleh pendidikan layanan  khusus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 6&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Hak dan Kewajiban Orang Tua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 7&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Orang tua berhak   berperan serta dalam memilih satuan pendidikan  dan memperoleh informasi   tentang perkembangan pendidikan anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Ketiga&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Hak dan Kewajiban Masyarakat&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 8&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 9&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Keempat&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 10&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemerintah dan   Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing,  membantu, dan   mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan  peraturan   perundang-undangan yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 11&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan  kemudahan, serta menjamin   terselenggaranya pendidikan yang bermutu  bagi setiap warga negara tanpa   diskriminasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya  dana guna terselenggaranya   pendidikan bagi setiap warga negara yang  berusia tujuh sampai dengan   lima belas tahun.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB V&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PESERTA DIDIK&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 12&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. mendapatkan   pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya  dan diajarkan oleh   pendidik yang seagama;b. mendapatkan pelayanan  pendidikan sesuai dengan   bakat, minat, dan kemampuannya;   c.  mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu  membiayai pendidikannya;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e. pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;f. menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar  masing-masing dan tidak   menyimpang dari ketentuan batas waktu yang  ditetapkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Setiap peserta didik berkewajiban:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. ikut menanggung   biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi  peserta didik yang   dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan  peraturan   perundang-undangan yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Warga negara   asing dapat menjadi peserta didik pada satuan  pendidikan yang   diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik  Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1),  ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB VI&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesatu&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Umum&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 13&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan   sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan  dengan sistem   terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 14&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 15&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 16&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jalur, jenjang, dan   jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk  satuan pendidikan yang   diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah  Daerah, dan/atau masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Dasar&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 17&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan dasar   berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah  Ibtidaiyah (MI) atau bentuk   lain yang sederajat serta Sekolah Menengah  Pertama (SMP) dan Madrasah   Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang  sederajat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud dalam  ayat (1) dan ayat   (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Ketiga&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Menengah&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 18&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pendidikan   menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),  Madrasah Aliyah (MA),   Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah  Aliyah Kejuruan (MAK),   atau bentuk lain  yang sederajat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1), ayat   (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Keempat&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Tinggi&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 19&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan   tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah  pendidikan menengah yang   mencakup program pendidikan diploma, sarjana,  magister, spesialis, dan   doktor yang diselenggarakan oleh perguruan  tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 20&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam  ayat (1), ayat (2),   dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 21&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Perguruan tinggi   yang memenuhi persyaratan pendirian dan  dinyatakan berhak   menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat  memberikan gelar   akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program  pendidikan yang   diselenggarakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Perseorangan,   organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang  bukan perguruan tinggi   dilarang memberikan gelar akademik, profesi,  atau vokasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Gelar akademik,   profesi, atau vokasi hanya digunakan oleh  lulusan dari perguruan tinggi   yang dinyatakan berhak memberikan gelar  akademik, profesi, atau vokasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Penggunaan gelar   akademik, profesi, atau vokasi lulusan  perguruan tinggi hanya   dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang  diterima dari perguruan   tinggi yang bersangkutan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (5)   Penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan  pendirian   sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau penyelenggara  pendidikan bukan   perguruan tinggi yang melakukan tindakan sebagaimana  dimaksud dalam ayat   (2) dikenakan sanksi administratif berupa  penutupan penyelenggaraan   pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(6) Gelar akademik,   profesi, atau vokasi yang dikeluarkan oleh  penyelenggara pendidikan yang   tidak sesuai dengan ketentuan  sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau   penyelenggara pendidikan yang  bukan perguruan tinggi sebagaimana   dimaksud dalam ayat (2) dinyatakan  tidak sah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(7) Ketentuan   mengenai gelar akademik, profesi, atau vokasi  sebagaimana dimaksud dalam   ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4),  ayat (5), dan ayat (6) diatur   lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 22&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Universitas,   institut, dan sekolah tinggi yang memiliki program  doktor berhak   memberikan gelar doktor kehormatan (doktor honoris  causa) kepada setiap   individu yang layak memperoleh penghargaan  berkenaan dengan jasa-jasa   yang luar biasa dalam bidang ilmu  pengetahuan, teknologi,   kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau  seni.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 23&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pada   universitas, institut, dan sekolah tinggi dapat diangkat  guru besar atau   profesor sesuai dengan peraturan perundang-undangan  yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Sebutan guru   besar atau profesor hanya dipergunakan selama yang  bersangkutan masih   aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan  tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 24&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Dalam   penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu  pengetahuan, pada   perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan  kebebasan mimbar   akademik serta otonomi keilmuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Perguruan tinggi   memiliki otonomi untuk mengelola sendiri  lembaganya sebagai pusat   penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian  ilmiah, dan pengabdian   kepada masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Perguruan tinggi   dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat  yang pengelolaannya   dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas  publik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi  sebagaimana dimaksud dalam   ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur  lebih lanjut dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 25&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelulusan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Lulusan   perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk  memperoleh gelar   akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan  jiplakan dicabut   gelarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai persyaratan kelulusan dan pencabutan gelar  akademik, profesi,   atau vokasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan  ayat (2) diatur   lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kelima&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Nonformal&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 26&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan   nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang  memerlukan layanan   pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti,  penambah, dan/atau   pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung  pendidikan sepanjang   hayat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan   nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta  didik dengan penekanan   pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan  fungsional serta   pengembangan sikap dan kepribadian profesional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pendidikan   nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,  pendidikan anak usia   dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan  pemberdayaan perempuan,   pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan  dan pelatihan kerja,   pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain  yang ditujukan untuk   mengembangkan kemampuan peserta didik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Satuan   pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus,  lembaga pelatihan,   kelompok belajar, pusat kegiatan belajar  masyarakat, dan majelis taklim,   serta satuan pendidikan yang sejenis.    (5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang  memerlukan   bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap  untuk   mengembangkan diri, mengembangkan profesi,  bekerja, usaha  mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(6) Hasil pendidikan   nonformal dapat dihargai setara dengan hasil  program pendidikan formal   setelah melalui proses penilaian penyetaraan  oleh lembaga yang ditunjuk   oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah  dengan mengacu pada standar   nasional pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(7) Ketentuan   mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal  sebagaimana dimaksud dalam   ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4),  ayat (5), dan ayat (6) diatur   lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Keenam&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Informal&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 27&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Hasil pendidikan   sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diakui  sama dengan pendidikan   formal dan nonformal setelah peserta didik  lulus ujian sesuai dengan   standar nasional pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal  sebagaimana dimaksud dalam ayat  (2) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Ketujuh&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Anak Usia Dini&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 28&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pendidikan anak   usia dini pada jalur pendidikan formal  berbentuk Taman Kanak-kanak (TK),   Raudatul Athfal (RA), atau bentuk  lain yang sederajat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Pendidikan anak   usia dini pada jalur pendidikan nonformal  berbentuk Kelompok Bermain   (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau  bentuk lain yang sederajat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Pendidikan anak   usia dini pada jalur pendidikan informal  berbentuk pendidikan keluarga   atau pendidikan yang diselenggarakan  oleh lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(6) Ketentuan   mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1),   ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih  lanjut dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedelapan&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Kedinasan&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 29&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan   kedinasan merupakan pendidikan profesi yang  diselenggarakan oleh   departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan   kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan  keterampilan dalam   pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon  pegawai negeri suatu   departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai pendidikan kedinasan sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1), ayat   (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagian Kesembilan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendidikan Keagamaan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal 30&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan   keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau  kelompok masyarakat   dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan  perundang-undangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan   keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik  menjadi anggota   masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai  ajaran agamanya   dan/atau menjadi ahli ilmu agama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Ketentuan   mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1), ayat   (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesepuluh&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Jarak Jauh&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 31&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan jarak   jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan  kepada kelompok masyarakat   yang tidak dapat mengikuti pendidikan  secara tatap muka atau reguler.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pendidikan jarak   jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk,  modus, dan cakupan yang   didukung oleh sarana dan layanan belajar serta  sistem penilaian yang   menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar  nasional pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai penyelenggaraan pendidikan jarak jauh  sebagaimana dimaksud   dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur  lebih lanjut dengan   Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesebelas&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 32&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidikan   khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang  memiliki tingkat   kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena  kelainan fisik,   emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi  kecerdasan dan   bakat istimewa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidikan   layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta  didik di daerah   terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang  terpencil, dan/atau   mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak  mampu dari segi   ekonomi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai pelaksanaan pendidikan khusus dan pendidikan  layanan khusus   sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)  diatur lebih lanjut   dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB VII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAHASA PENGANTAR&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 33&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Bahasa daerah   dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam  tahap awal pendidikan   apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan  dan/atau keterampilan   tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Bahasa asing   dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada  satuan pendidikan tertentu   untuk mendukung kemampuan berbahasa asing  peserta didik.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB VIII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;WAJIB BELAJAR&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 34&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya  wajib belajar minimal pada   jenjang pendidikan dasar tanpa memungut  biaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Wajib belajar   merupakan tanggung jawab negara yang  diselenggarakan oleh lembaga   pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah,  dan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud dalam  ayat (1), ayat (2),   dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB IX&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 35&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Standar nasional   pendidikan terdiri atas standar isi, proses,  kompetensi lulusan, tenaga   kependidikan, sarana dan prasarana,  pengelolaan, pembiayaan, dan   penilaian pendidikan yang harus  ditingkatkan secara berencana dan   berkala.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Standar nasional   pendidikan digunakan sebagai acuan  pengembangan kurikulum, tenaga   kependidikan, sarana dan prasarana,  pengelolaan, dan pembiayaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pengembangan   standar nasional pendidikan serta pemantauan dan  pelaporan pencapaiannya   secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan  standardisasi,   penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai standar nasional pendidikan sebagaimana  dimaksud dalam ayat   (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB X&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;KURIKULUM   Pasal 36&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pengembangan   kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar  nasional pendidikan   untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Kurikulum pada   semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan  dengan prinsip   diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi  daerah, dan   peserta didik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. peningkatan iman dan takwa;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. peningkatan akhlak mulia;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;f. tuntutan dunia kerja;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;h. agama;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;i. dinamika perkembangan global; dan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;j.persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1),   ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 37&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. pendidikan agama;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. pendidikan kewarganegaraan;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. bahasa;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. matematika;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e. ilmu pengetahuan alam;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;f. ilmu pengetahuan sosial;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;g. seni dan budaya;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;h. pendidikan jasmani dan olahraga;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;i. keterampilan/kejuruan; dan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;j. muatan lokal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. pendidikan agama;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. pendidikan kewarganegaraan; dan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. bahasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (3)   Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana dimaksud dalam ayat  (1) dan   ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 38&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Kurikulum   pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai  dengan relevansinya   oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan  komite sekolah/madrasah   di bawah koordinasi dan supervisi dinas  pendidikan atau kantor   Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk  pendidikan dasar dan Propinsi   untuk pendidikan menengah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Kurikulum   pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi  yang bersangkutan   dengan mengacu pada standar nasional pendidikan  untuk setiap program   studi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Kerangka dasar   dan struktur kurikulum pendidikan tinggi  dikembangkan oleh perguruan   tinggi yang bersangkutan dengan mengacu  pada standar nasional pendidikan   untuk setiap program studi.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XI&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 39&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Tenaga   kependidikan bertugas melaksanakan administrasi,  pengelolaan,   pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk  menunjang proses   pendidikan pada satuan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidik   merupakan tenaga profesional yang bertugas  merencanakan dan melaksanakan   proses pembelajaran, menilai hasil  pembelajaran, melakukan pembimbingan   dan pelatihan, serta melakukan  penelitian dan pengabdian kepada   masyarakat, terutama bagi pendidik  pada perguruan tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 40&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual; dan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e. kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 41&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pengangkatan,   penempatan, dan penyebaran pendidik dan tenaga  kependidikan diatur oleh   lembaga yang mengangkatnya berdasarkan  kebutuhan satuan pendidikan   formal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah wajib memfasilitasi satuan  pendidikan dengan pendidik   dan tenaga kependidikan yang diperlukan  untuk menjamin terselenggaranya   pendidikan yang bermutu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana  dimaksud dalam   ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal 42&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendidik harus   memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi  sesuai dengan jenjang   kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani,  serta memiliki kemampuan   untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pendidik untuk   pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia  dini, pendidikan dasar,   pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi  dihasilkan oleh perguruan   tinggi yang terakreditasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1) dan   ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 43&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Promosi dan   penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan  dilakukan berdasarkan   latar belakang pendidikan, pengalaman,  kemampuan, dan prestasi kerja   dalam bidang pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Sertifikasi   pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang  memiliki program   pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai promosi, penghargaan, dan sertifikasi  pendidik sebagaimana   dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih  lanjut dengan   Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 44&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah wajib membina dan  mengembangkan tenaga kependidikan   pada satuan pendidikan yang  diselenggarakan oleh Pemerintah dan   Pemerintah Daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Penyelenggara   pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina  dan mengembangkan tenaga   kependidikan pada satuan pendidikan yang  diselenggarakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah wajib membantu pembinaan dan  pengembangan tenaga   kependidikan pada satuan pendidikan formal yang  diselenggarakan oleh   masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 45&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap satuan   pendidikan formal dan nonformal menyediakan  sarana dan prasarana yang   memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan  pertumbuhan dan perkembangan   potensi fisik, kecerdasan intelektual,  sosial, emosional, dan kejiwaan   peserta didik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Ketentuan   mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan  pada semua satuan   pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)  diatur lebih lanjut   dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XIII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PENDANAAN PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesatu&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Tanggung Jawab Pendanaan&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 46&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pemerintah dan   Pemerintah Daerah bertanggung jawab menyediakan  anggaran pendidikan   sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4)  Undang-Undang Dasar Negara   Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai tanggung jawab pendanaan pendidikan  sebagaimana dimaksud dalam   ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Sumber Pendanaan Pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 47&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pemerintah,   Pemerintah Daerah, dan masyarakat mengerahkan  sumber daya yang ada   sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang  berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai sumber pendanaan pendidikan sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1)   dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Ketiga&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pengelolaan Dana Pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 48&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Ketentuan   mengenai pengelolaan dana pendidikan sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1)   diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagian Keempat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengalokasian Dana Pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal 49&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Dana pendidikan   selain gaji pendidik dan biaya pendidikan  kedinasan dialokasikan minimal   20% dari Anggaran Pendapatan dan  Belanja Negara (APBN) pada sektor   pendidikan dan minimal 20% dari  Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah   (APBD).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Dana pendidikan   dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk  satuan pendidikan diberikan   dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan  perundang-undangan yang   berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Dana pendidikan   dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah  diberikan dalam bentuk hibah   sesuai dengan peraturan  perundang-undangan yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Ketentuan mengenai pengalokasian dana pendidikan sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1),  ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih  lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XIV&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PENGELOLAAN PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesatu&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Umum&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 50&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab  Menteri.   (2) Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar  nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (3)   Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan    sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan    untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf    internasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Pemerintah   Daerah Propinsi melakukan koordinasi atas  penyelenggaraan pendidikan,   pengembangan tenaga kependidikan, dan  penyediaan fasilitas   penyelenggaraan pendidikan lintas daerah  Kabupaten/Kota untuk tingkat   pendidikan dasar dan menengah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Pemerintah   Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan  pendidikan menengah, serta   satuan pendidikan yang berbasis keunggulan  lokal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(6) Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(7) Ketentuan   mengenai pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1),   ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6)  diatur lebih lanjut   dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 51&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pengelolaan   satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar,  dan pendidikan   menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan  minimal dengan   prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pengelolaan   satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan  prinsip otonomi,   akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang  transparan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai pengelolaan satuan pendidikan sebagaimana  dimaksud dalam ayat   (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 52&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Ketentuan   mengenai pengelolaan satuan pendidikan nonformal  sebagai-mana dimaksud   dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan  Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Badan Hukum Pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 53&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Penyelenggara   dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan  oleh Pemerintah atau   masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Badan hukum   pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)  berprinsip nirlaba dan   dapat mengelola dana secara mandiri untuk  memajukan satuan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XV&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesatu&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Umum&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 54&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Peran serta   masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta  perseorangan, kelompok,   keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan  organisasi kemasyarakatan   dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu  pelayanan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1) dan   ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pendidikan Berbasis Masyarakat&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 55&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Masyarakat   berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis  masyarakat pada pendidikan   formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan  agama, lingkungan sosial,   dan budaya untuk kepentingan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Penyelenggara   pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan  melaksanakan kurikulum   dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan  pendanaannya sesuai dengan   standar nasional pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Dana   penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat  bersumber dari   penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, Pemerintah  Daerah dan/atau sumber   lain yang tidak bertentangan dengan peraturan  perundang- undangan yang   berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Lembaga   pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan  teknis, subsidi   dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata  dari Pemerintah   dan/atau Pemerintah Daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(5) Ketentuan   mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud  dalam ayat (1),   ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Ketiga&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/Madrasah&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 56&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Masyarakat   berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan  yang meliputi   perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program  pendidikan melalui dewan   pendidikan dan komite sekolah/madrasah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Dewan pendidikan   sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan  dalam peningkatan mutu   pelayanan pendidikan dengan memberikan  pertimbangan, arahan dan dukungan   tenaga, sarana dan prasarana, serta  pengawasan pendidikan pada tingkat   Nasional, Propinsi, dan Kabupaten/  Kota yang tidak mempunyai hubungan   hirarkis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Komite   sekolah/madrasah, sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan  berperan dalam   peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan  pertimbangan, arahan dan   dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta  pengawasan pendidikan pada   tingkat satuan pendidikan.   (4) Ketentuan  mengenai pembentukan dewan pendidikan dan komite   sekolah/madrasah  sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat   (3) diatur  lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XVI&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;EVALUASI, AKREDITASI, DAN SERTIFIKASI&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kesatu&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Evaluasi&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 57&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Evaluasi   dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan  secara nasional   sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan  kepada pihak-pihak   yang berkepentingan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Evaluasi   dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program  pendidikan pada   jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang,  satuan, dan jenis   pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 58&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Evaluasi hasil   belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik  untuk memantau proses,   kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta  didik secara   berkesinambungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Evaluasi peserta   didik, satuan pendidikan, dan program  pendidikan dilakukan oleh lembaga   mandiri secara berkala, menyeluruh,  transparan, dan sistemik untuk   menilai pencapaian standar nasional  pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal 59&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Masyarakat   dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga  yang mandiri untuk   melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal  58.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan   mengenai evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)  dan ayat (2)   diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Kedua&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Akreditasi&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 60&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Akreditasi   dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan  satuan pendidikan pada   jalur pendidikan formal dan nonformal pada  setiap jenjang dan jenis   pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Akreditasi   terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan  oleh Pemerintah   dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk  akuntabilitas   publik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai akreditasi sebagaimana dimaksud dalam ayat  (1), ayat (2), dan   ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Bagian Ketiga&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Sertifikasi&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 61&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Ijazah diberikan   kepada peserta didik sebagai pengakuan  terhadap prestasi belajar   dan/atau penyelesaian suatu jenjang  pendidikan setelah lulus ujian yang   diselenggarakan oleh satuan  pendidikan yang terakreditasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Sertifikat   kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan  dan lembaga pelatihan   kepada peserta didik dan warga masyarakat  sebagai pengakuan terhadap   kompetensi untuk melakukan pekerjaan  tertentu setelah lulus uji   kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan  pendidikan yang   terakreditasi atau lembaga sertifikasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai sertifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat  (1), ayat (2), dan   ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan  Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XVII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 62&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Syarat-syarat   untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan,  jumlah dan kualifikasi   pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan  prasarana pendidikan,   pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan  sertifikasi, serta manajemen   dan proses pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Pemerintah atau   Pemerintah Daerah memberi atau mencabut izin  pendirian satuan pendidikan   sesuai dengan peraturan perundang-undangan  yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Ketentuan   mengenai pendirian satuan pendidikan sebagaimana  dimaksud dalam ayat   (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut  dengan Peraturan   Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal 63&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satuan pendidikan   yang didirikan dan diselenggarakan oleh  Perwakilan Republik Indonesia di   negara lain menggunakan ketentuan  Undang-undang ini.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XVIII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 64&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satuan pendidikan   yang diselenggarakan oleh perwakilan negara asing  di wilayah Negara   Kesatuan RepublikIndonesia, bagi peserta didik  warga negara asing, dapat   menggunakan ketentuan yang berlaku di negara  yang bersangkutan atas   persetujuan Pemerintah Republik Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 65&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Lembaga   pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di  negaranya dapat   menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara  Kesatuan Republik   Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan  yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Lembaga   pendidikan asing pada tingkat pendidikan dasar dan  menengah wajib   memberikan pendidikan agama dan kewarganegaraan bagi  peserta didik Warga   Negara Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Penyelenggaraan   pendidikan asing wajib bekerja sama dengan  lembaga pendidikan di wilayah   Negara Kesatuan Republik Indonesia  dengan mengikutsertakan tenaga   pendidik dan pengelola Warga Negara  Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Kegiatan   pendidikan yang menggunakan sistem pendidikan negara  lain yang   diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik  Indonesia dilakukan   sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang  berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (5)   Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan asing  sebagaimana dimaksud   dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)  diatur lebih lanjut   dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (1)   Pemerintah, Pemerintah Daerah, dewan pendidikan, dan komite  sekolah/   madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan  pada semua   jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan    masing-masing.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Ketentuan mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XX&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;KETENTUAN PIDANA&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 67&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Perseorangan,   organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang  memberikan ijazah,   sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi,  dan/ atau vokasi tanpa   hak dipidana dengan pidana penjara paling lama  sepuluh tahun dan/atau   pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00  (satu miliar rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Penyelenggara   perguruan tinggi yang dinyatakan ditutup  berdasarkan Pasal 21 ayat (5)   dan masih beroperasi dipidana dengan  pidana penjara paling lama sepuluh   tahun dan/atau pidana denda paling  banyak Rp1.000.000.000,00 (satu   miliar rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Penyelenggara   pendidikan yang memberikan sebutan guru besar  atau profesor dengan   melanggar Pasal 23 ayat (1) dipidana dengan  pidana penjara paling lama   sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling  banyak Rp 1.000.000.000,00   (satu miliar rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Penyelenggara   pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi  persyaratan sebagaimana   dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) dipidana  dengan pidana penjara paling   lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda  paling banyak Rp   1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 68&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap orang   yang membantu memberikan ijazah, sertifikat  kompetensi, gelar akademik,   profesi, dan/atau vokasi dari satuan  pendidikan yang tidak memenuhi   persyaratan dipidana dengan pidana  penjara paling lama lima tahun   dan/atau pidana denda paling banyak Rp  500.000.000,00 (lima ratus juta   rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Setiap orang   yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi,  gelar akademik, profesi,   dan/atau vokasi yang diperoleh dari satuan  pendidikan yang tidak   memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana  penjara paling lama lima   tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp  500.000.000,00 (lima ratus   juta rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(3) Setiap orang   yang menggunakan gelar lulusan yang tidak sesuai  dengan bentuk dan   singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang  bersangkutan   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) dipidana  dengan pidana   penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda  paling banyak Rp   200.000.000,00 (dua ratus juta   rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(4) Setiap orang   yang memperoleh dan/atau menggunakan sebutan guru  besar yang tidak   sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) dan/atau ayat (2)  dipidana dengan pidana   penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana  denda paling   banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 69&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1) Setiap orang   yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi,  gelar akademik, profesi,   dan/atau vokasi yang terbukti palsu dipidana  dengan pidana penjara   paling lama lima tahun dan/atau pidana denda  paling banyak Rp   500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2) Setiap orang   yang dengan sengaja tanpa hak menggunakan ijazah  dan/atau sertifikat   kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61  ayat (2) dan ayat (3)   yang terbukti palsu dipidana dengan pidana  penjara paling lama   lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp  500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasal 70&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lulusan yang karya   ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar  akademik, profesi, atau   vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25  ayat (2) terbukti merupakan   jiplakan dipidana dengan pidana penjara  paling lama dua tahun dan/atau   pidana denda paling banyak Rp  200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 71&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penyelenggara satuan   pendidikan yang didirikan tanpa izin  Pemerintah atau Pemerintah Daerah   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62  ayat (1) dipidana dengan pidana   penjara paling lama sepuluh tahun  dan/atau pidana denda paling banyak Rp   1.000.000.000,00 (satu miliar  rupiah).&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XXI&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 72&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penyelenggara   dan/atau satuan pendidikan formal yang pada saat  Undang-undang ini   diundangkan belum berbentuk badan hukum pendidikan  sebagaimana dimaksud   dalam Pasal 53 tetap berlaku sampai dengan  terbentuknya Undang-undang   yang mengatur badan hukum pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 73&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemerintah atau   Pemerintah Daerah wajib memberikan izin paling  lambat dua tahun kepada   satuan pendidikan formal yang telah berjalan  pada saat Undang-undang ini   diundangkan belum memiliki izin.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 74&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua peraturan   perundang-undangan yang merupakan peraturan  pelaksanaan Undang-undang   Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan  Nasional (Lembaran Negara   Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran  Negara Nomor 3390) yang ada pada   saat diundangkannya Undang- undang  ini masih tetap berlaku sepanjang   tidak bertentangan dan belum diganti  berdasarkan Undang-undang ini.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;BAB XXII&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 75&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua peraturan   perundang-undangan yang diperlukan untuk  melaksanakan Undang-undang ini   harus diselesaikan paling lambat dua  tahun terhitung sejak berlakunya   Undang-undang ini.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 76&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada saat mulai   berlakunya Undang-undang ini, Undang-undang Nomor  48/Prp./1960 tentang   Pengawasan Pendidikan dan Pengajaran Asing  (Lembaran Negara Tahun 1960   Nomor 155, Tambahan Lembaran Negara Nomor  2103) dan Undang-undang Nomor 2   Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan  Nasional (Lembaran Negara Tahun   1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara  Nomor 3390) dinyatakan tidak   berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;Pasal 77&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Undang-undang ini   mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar  setiap orang mengetahuinya,   memerintahkan pengundangan Undang-undang  ini dengan penempatannya dalam   Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disahkan di Jakarta pada tanggal 8 Juli 2003&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Presiden Republik Indonesia,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;ttd.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;MEGAWATI SOEKARNOPUTRI&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diundangkan di Jakarta pada Tanggal 8 Juli 2003&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekretaris Negara Republik Indonesia, Bambang Kesowo&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sistem Pendidikan Nasional. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Pemerintah Daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301)&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5367907149029994391?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5367907149029994391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5367907149029994391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/undang-undang-sistem-pendidikan.html' title='UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ggHvLa4gnME/TygXEWGqjcI/AAAAAAAAAlI/b7oM4WW_KuE/s72-c/PENDIDIKAN.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-4392575362325404095</id><published>2012-01-28T08:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T09:54:53.137-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Hutan Mangrove'/><title type='text'>PENYEBARAN HUTAN MANGROVE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-hk2yhBdyFWk/TyQ2Sec5uHI/AAAAAAAAAkY/Wkpwyq5-1kg/s1600/zonasi-penyebaran-mangrove.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 484px; height: 364px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hk2yhBdyFWk/TyQ2Sec5uHI/AAAAAAAAAkY/Wkpwyq5-1kg/s400/zonasi-penyebaran-mangrove.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702742719197722738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diperkirakan sekitar 89 spesies mangrove yang terdapat di dunia, yang   terdiri dari 31 genus dan 22 famili.  Untuk Indonesia di perkirakan ada  sekitar 38  spesies yang tumbuh dan tersebar pada beberapa daerah,  seperti Aceh, Riau,  Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku,  dan Irian Jaya  (Supriharyono, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutchinson (1965) mengatakan bahwa pada umumnya faktor-faktor abiotik   membentuk garis batas luar dan didalam garis batas tersebut vegetasi  dapat  bertahan hidup, tetapi faktor-faktor lain dapat menyebabkan suatu  vegetasi  tidak hadir pada suatu tempat tertentu di dalam garis batas  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-mangrove.html" title="definsi mangrove" target="_blank"&gt;Definisi Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/peranan-manfaat-dan-fungsi-hutan.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" title="Suksesi Hutan Mangrove" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_kotania.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/2010/08/28/mangrove-tanjung-batu-piru/" title="Jenis mangrove" target="_blank"&gt;Jenis - Jenis Tumbuhan Mangrove&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.webs.com/manfaat_hutan_mangrove.pdf" target="_blank"&gt;Hutan Mangrove dan Manfaatnya &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/fauna_mangrove.pdf" title="fauna mangrove" target="_blank"&gt;Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/penyebaran-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Penyebaran Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/komposisi-jenis-dan-zonasi-hutan.html" target="_blank"&gt;Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_flora.html" title="Zonasi Mangrove" target="_blank"&gt;Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/sistem_silvikultur_hutan_payau.html" target="_blank"&gt;Sistim Silvikultur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.co.cc/mangrove_forest.html" target="_blank"&gt;Gambar-Gambar Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/piru_coastal.html" target="_blank"&gt;Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-4392575362325404095?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/4392575362325404095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/4392575362325404095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/penyebaran-hutan-mangrove.html' title='PENYEBARAN HUTAN MANGROVE'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hk2yhBdyFWk/TyQ2Sec5uHI/AAAAAAAAAkY/Wkpwyq5-1kg/s72-c/zonasi-penyebaran-mangrove.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-4223321866022504117</id><published>2012-01-28T08:33:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T09:58:58.269-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Hutan Mangrove'/><title type='text'>STRUKTUR HUTAN MANGROVE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-UggM5o900tY/TyQ3QKj9wdI/AAAAAAAAAkk/9bmTD9H7DBA/s1600/struktur-hutan-mangrove.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 502px; height: 323px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-UggM5o900tY/TyQ3QKj9wdI/AAAAAAAAAkk/9bmTD9H7DBA/s400/struktur-hutan-mangrove.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702743779010527698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hutan mangrove merupakan istilah yang dipakai  untuk menggambarkan   suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa  spesies  pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan  untuk tumbuh  dalam perairan asin (Nybakken, 1992). Hutan mangrove  meliputi pohon-pohon dan  semak yang tergolong kedalam 8 famili dan  terdiri atas 12 genera tumbuhan  berbunga : &lt;em&gt;Avicenia, Sonneratia,  Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Aegiceras, Aegiatilis,  Snaeda, dan Conocarpus&lt;/em&gt; (Bengen,  2000).&lt;br /&gt;Indonesia  merupakan salahsatu negara di dunia yang memiliki hutan  mangrove dengan  keanekaragaman jenis yang tinggi. Tercatat terdapat 202  jenis yang terdiri dari  89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana  dan 44 jenis epifit. Gause (1997)  mengatakan bahwa populasi berbagai  jenis dengan keperluan sumber daya yang sama  tidak dapat berkonsentrasi  untuk waktu yang tidak terbatas dan bahwa hal ini  akan menyebabkan  terjadinya keanekaragaman di dalam dan antar habitat. Namun  demikian  hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan   mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak di dalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan   sejati penting atau dominan yang termasuk kedalam 4 famili : &lt;em&gt;Rhizophoraceae (Rhizophora, Bruguiera dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia),  Aviceniaceae (Avicenia), &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; Meliaceae  (xylocarpus)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-mangrove.html" title="definsi mangrove" target="_blank"&gt;Definisi Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/peranan-manfaat-dan-fungsi-hutan.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" title="Suksesi Hutan Mangrove" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_kotania.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/2010/08/28/mangrove-tanjung-batu-piru/" title="Jenis mangrove" target="_blank"&gt;Jenis - Jenis Tumbuhan Mangrove&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.webs.com/manfaat_hutan_mangrove.pdf" target="_blank"&gt;Hutan Mangrove dan Manfaatnya &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/fauna_mangrove.pdf" title="fauna mangrove" target="_blank"&gt;Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/penyebaran-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Penyebaran Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/komposisi-jenis-dan-zonasi-hutan.html" target="_blank"&gt;Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_flora.html" title="Zonasi Mangrove" target="_blank"&gt;Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/sistem_silvikultur_hutan_payau.html" target="_blank"&gt;Sistim Silvikultur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.co.cc/mangrove_forest.html" target="_blank"&gt;Gambar-Gambar Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/piru_coastal.html" target="_blank"&gt;Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-4223321866022504117?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/4223321866022504117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/4223321866022504117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-hutan-mangrove.html' title='STRUKTUR HUTAN MANGROVE'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-UggM5o900tY/TyQ3QKj9wdI/AAAAAAAAAkk/9bmTD9H7DBA/s72-c/struktur-hutan-mangrove.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2572857847793505435</id><published>2012-01-28T08:26:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T10:03:22.565-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Hutan Mangrove'/><title type='text'>KOMPOSISI JENIS DAN ZONASI HUTAN MANGROVE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-9FN2GvPzzWg/TyQ4QCFfkqI/AAAAAAAAAkw/QJfOt0KL3sA/s1600/komposisi-mangrove.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 476px; height: 356px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9FN2GvPzzWg/TyQ4QCFfkqI/AAAAAAAAAkw/QJfOt0KL3sA/s400/komposisi-mangrove.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702744876246864546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jenis-jenis mangrove memiliki tuntutan dan siklus hidup  yang  berbeda-beda, sehingga komposisi hutan mangrove juga berbeda dari sutu   tempat ke tempat lain.  Hal ini disebabkan karena keberadaan  komunitas  hutan mangrove sangat bergantung pada faktor ekologisnya, antara lain  :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tipe tanah, keras dan lembek, berpasir atau berlumpur  dala berbagai perbandingan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salinitas/kadar garam dalam per mil, dari variasi  rata-rata  harian maupun tahanan, yang secara kasar berkaitan dengan frekwensi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lama serta dalamnya penggenangan yang dialami jenis  tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketahanan jenis-jenis mangrove terhadap kuat arus dan  ombak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Komposisi hutan mangrove terdiri dari asosiasi &lt;em&gt;Avicenia spp, Sonneratia spp, Rhizophora spp, Bruguiera spp, Ceriops  spp, Lumnitzera spp dan Xylocarpus spp.&lt;/em&gt;   Nipa merupakan batas hutan mangrove dan hutan  rawa atau hutan pantai.  Susunan formasi dari masing-masing di atas sangat  dipengaruhi oleh  kadar garam yang semakin ke darat semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jenis pohon yang berbeda membentuk zonasi vegetasi antara tempat yang   satu dengan yang lain berbeda.  Zonasi adalah mintakat atau suatu   daerah yang dicirikan oleh suatu organisme atau biota yang hidupnya  melimpah  dan mendominasi serta seragam pada daerah tertentu, zonasi  tumbuhan mangrove  mempunyai variasi pada lokasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hutan mangrove memiliki zona tumbuh tertentu.  Pembagian zona ini di  mulai dari bagian yang  paling kuat mengalami pengaruh angin dan ombak  yakni zona terdepan yang  digenangi air berkadar garam tinggi dan  ditumbuhi pohon pionir (&lt;em&gt;Sonneratia spp&lt;/em&gt;). Dari depan kebelakang  zona tumbuh mangrove antara lain : &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Zona yang paling depan yakni ; tumbuhan &lt;em&gt;Avicenia spp&lt;/em&gt;  (api-api) yang berasosiasi  dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sonneratia spp&lt;/span&gt;, zona ini  menghadapi  ombak, tanah berlumpur agak lembek dengan salinitas tinggi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zona Rhizophora  (mange-mange) umumnya didominasi dengan tanaman  bakau jenis Rhizophora spp. Pada beberapa tempat  berasosiasi dengan  jenis seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bruguiera  sp&lt;/span&gt; (tongke). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zona Bruguiera,  umumnya didominasi oleh tanaman bakau jenis&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  Bruguiera  spp&lt;/span&gt;. Pada beberapa tempat sering dijumpai berasosiasi dengan  jenis lain  seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ceriops tagal&lt;/span&gt;. Salinitas  sedang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zona kering dan nipa. Pada zona ini salinitas airnya  sangat  rendah dan tanahnya keras serta kurang dipengaruhi oleh pasang surut air   laut. Daerah ini umumnya didominasi oleh tumbuhan nipa (&lt;em&gt;Nypa fruticans&lt;/em&gt;). &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-mangrove.html" title="definsi mangrove" target="_blank"&gt;Definisi Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/peranan-manfaat-dan-fungsi-hutan.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" title="Suksesi Hutan Mangrove" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_kotania.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/2010/08/28/mangrove-tanjung-batu-piru/" title="Jenis mangrove" target="_blank"&gt;Jenis - Jenis Tumbuhan Mangrove&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.webs.com/manfaat_hutan_mangrove.pdf" target="_blank"&gt;Hutan Mangrove dan Manfaatnya &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/fauna_mangrove.pdf" title="fauna mangrove" target="_blank"&gt;Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/penyebaran-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Penyebaran Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/komposisi-jenis-dan-zonasi-hutan.html" target="_blank"&gt;Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_flora.html" title="Zonasi Mangrove" target="_blank"&gt;Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/sistem_silvikultur_hutan_payau.html" target="_blank"&gt;Sistim Silvikultur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.co.cc/mangrove_forest.html" target="_blank"&gt;Gambar-Gambar Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/piru_coastal.html" target="_blank"&gt;Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2572857847793505435?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2572857847793505435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2572857847793505435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/komposisi-jenis-dan-zonasi-hutan.html' title='KOMPOSISI JENIS DAN ZONASI HUTAN MANGROVE'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9FN2GvPzzWg/TyQ4QCFfkqI/AAAAAAAAAkw/QJfOt0KL3sA/s72-c/komposisi-mangrove.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5571688783335432267</id><published>2012-01-27T19:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:58:41.658-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><title type='text'>ANEUPLOIDI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2h9vdz7qS-Y/TygPjBtE80I/AAAAAAAAAk8/nFpFMyJB7h8/s1600/kromosom.gif"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 378px; height: 389px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2h9vdz7qS-Y/TygPjBtE80I/AAAAAAAAAk8/nFpFMyJB7h8/s400/kromosom.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703826022492074818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kondisi dimana tidak semua kromosom tampak  pada jumlah yang sama dan  oleh karena itu jumlah total tidak sepenuhnya  merupakan perkalian dari  kumpulan haploid. Hal ini terjadi apabila kromosom  gagal memisahkan  diri selama meiosis, gamet mungkin kekurangan sebuah kromosom  atau  bahkan memiliki kromosom tambahan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5571688783335432267?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5571688783335432267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5571688783335432267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/aneoploidi.html' title='ANEUPLOIDI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2h9vdz7qS-Y/TygPjBtE80I/AAAAAAAAAk8/nFpFMyJB7h8/s72-c/kromosom.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7685992302349571955</id><published>2012-01-27T19:49:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:35:30.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><title type='text'>ALOENZIM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari Aloenzim adalah Suatu isozim yang berbeda dari varian enzim  lain sebagai akibat dari  perubahan alel yaitu kode enzim yang berbeda oleh  lokus gen yang sama. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7685992302349571955?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7685992302349571955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7685992302349571955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/aloenzim.html' title='ALOENZIM'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5322135520150263092</id><published>2012-01-27T19:48:00.001-08:00</published><updated>2012-01-27T19:48:57.732-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><title type='text'>ALIRAN GEN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian dan Definisi dari Aliran Gen adalah Perjalanan gen dari satu populasi ke populasi  lainnya (juga disebut migrasi gen). &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5322135520150263092?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5322135520150263092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5322135520150263092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/aliran-gen.html' title='ALIRAN GEN'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5683493575639357603</id><published>2012-01-27T19:44:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T19:45:59.541-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Tumbuh'/><title type='text'>APOMIKSIS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah umum yang mencakup semua bentuk  reproduksi aseksual yang  cendrung menggantikan regenerasi seksual. Sering  digunakan dalam  mengartikan produksi benih tanpa terjadinya pembuahan.  Tergantung dari  tipe apomiksis, jenis yang melakukan apomiksis biasanya secara  genetik  identik dengan asal tanamannya (ortet).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5683493575639357603?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5683493575639357603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5683493575639357603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/apomiksis.html' title='APOMIKSIS'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3256880684521749403</id><published>2012-01-27T19:43:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T20:13:53.710-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Tumbuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENETIKA'/><title type='text'>ALEL | ALEL GANDA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-K3GQiWJqbes/TyN11ARRQfI/AAAAAAAAAkM/SUeC8jemu8U/s1600/alel-ganda.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 454px; height: 293px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-K3GQiWJqbes/TyN11ARRQfI/AAAAAAAAAkM/SUeC8jemu8U/s400/alel-ganda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702531106647130610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian Alel adalah Satu dari sebuah kumpulan gen yang mungkin  menduduki posisi tertentu  (lokus) pada kromosom yang tersedia. Pengaruh  alternatif (mendelian)  pada karakter yang sama yang diproduksi alel yang  berbeda, misalnya:  dijumpai pada bibit bewarna hijau dan albino. Apabila  kumpulan gen  terdiri atas dua gen atau lebih, gen disebut alel ganda. Alel  ganda  muncul karena berulangnya mutasi gen dengan efek yang berbeda. Tidak   lebih dari dua alel yang terlihat pada organisme  diploid.&lt;br /&gt;Sedangkan Alel Ganda adalah Serial alel dari gen tertentu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3256880684521749403?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3256880684521749403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3256880684521749403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/alel.html' title='ALEL | ALEL GANDA'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-K3GQiWJqbes/TyN11ARRQfI/AAAAAAAAAkM/SUeC8jemu8U/s72-c/alel-ganda.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3656545138230897662</id><published>2012-01-27T19:38:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T19:39:56.087-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Tumbuh'/><title type='text'>ALBINISME</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian Albinisme adalah Hilangnya seluruh atau sebagian pigmen pada  suatu tanaman atau  bagiannya. Bagian yang terkena berubah putih atau hampir  putih. Tanaman  albino biasanya akan segera mati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3656545138230897662?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3656545138230897662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3656545138230897662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/albinisme.html' title='ALBINISME'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-507230052573109567</id><published>2012-01-27T19:37:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T06:28:27.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Tumbuh'/><title type='text'>AKAR PAPAN BANIR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-w4qle6Js3aE/TyN0X5BTehI/AAAAAAAAAkA/f_hTRjpo5Io/s1600/akar-papan-banir.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 404px; height: 538px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-w4qle6Js3aE/TyN0X5BTehI/AAAAAAAAAkA/f_hTRjpo5Io/s400/akar-papan-banir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702529506973284882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Irisan silang yang tidak membulat (non-circular)  dari batang, sering  disebabkan oleh akar papan, yaitu bentuk menyerupai papan  yang tumbuh  pada bagian atas akar, berfungsi menopang pohon. Pembentukan akar  papan  dan banir dapat diwariskan dengan tingkat yang bervariasi. Umumnya,   karakter ini tidak disukai dalam pemuliaan pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar banir merupakan ciri khas dari beberapa jenis pohon yang hidup hutan dan dapat dibedakan karena termasuk dalam famili tertentu misalnya Kenari (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Canarium vulgare&lt;/span&gt;) termasuk famili &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Burseraceae&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini merupakan salah satu petunjuk untuk mengidentifikasi jenis pohon di dalam hutan. Dengan melihat bentuk akar pohon tersebut, apakah mempunyai banir atau tidak maka kita dapat menggolongkan pohon tersebut dalam famili tertentu yang dikenal mempunyai akar banir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-507230052573109567?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/507230052573109567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/507230052573109567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/akar-papan-banir.html' title='AKAR PAPAN BANIR'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-w4qle6Js3aE/TyN0X5BTehI/AAAAAAAAAkA/f_hTRjpo5Io/s72-c/akar-papan-banir.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7384997811816388629</id><published>2012-01-27T19:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T17:44:08.383-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Tumbuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Silvikultur'/><title type='text'>ADVENTIF</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Organ yang muncul pada posisi yang tidak  seharusnya pada tanaman  misalnya akar liar  (adventitious roots) yang tumbuh pada batang atau  daun, atau tunas yang  tumbuh pada akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/fungsi_akar_tanaman.html" title="manfaat dan fungsi akar tanaman" target="_blank"&gt;Manfaat dan Fungsi Akar Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/karakteristik_akar.html" title="Karakteristik Perakaran Pohon" target="_blank"&gt;Karakteristik Perakaran Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/distribusi_perakaran_pohon.html" title="Distribusi dan Biomasa Perakaran Pohon" target="_blank"&gt;Distribusi dan Biomasa  Perakaran Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/kecepatan_pertumbuhan_akar.html" title="Kecepatan Pertumbuhan Perakaran Pohon" target="_blank"&gt;Kecepatan Pertumbuhan Perakaran Pohon&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengaruh_lingkungan_pertumbuhan_akar.html" title="Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Akar" target="_blank"&gt;Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/kemampuan_pertumbuhan_akar.html" title="Kemampuan Pertumbuhan Akar" target="_blank"&gt;Kemampuan Pertumbuhan Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengentenan_akar.html" title="Pengentenan Akar" target="_blank"&gt;Pengentenan Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/patogen_akar.html" title="Patogen Akar" target="_blank"&gt;Patogen Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/control_akar_dalam_persemaian.html" title="Kontrol Perkembangan Akar Dalam Persemaian" target="_blank"&gt;Kontrol Perkembangan Akar Dalam Persemaian&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7384997811816388629?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7384997811816388629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7384997811816388629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/adventif.html' title='ADVENTIF'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-114597830293690206</id><published>2012-01-27T19:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T19:30:32.643-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='habitat ekologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOLOGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekologi Hutan'/><title type='text'>ADAPTASI POHON</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari Adaptasi berkaitan dengan bagaimana kemampuan pohon  untuk menyesuaikan diri  secara fisiologis agar bertahan hidup, tumbuh baik, dan  tahan hidup  terhadap hama serta lingkungan yang merugikan. Untuk jenis eksotik   dapat diartikan bagaimana pohon akan berdampak baik pada lingkungan  barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-114597830293690206?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/114597830293690206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/114597830293690206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/adaptasi.html' title='ADAPTASI POHON'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-765518958155842556</id><published>2012-01-26T07:08:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T20:02:39.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STRUKTUR TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>POROSITAS TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8Xfci6p5mEI/TyFtWw9jExI/AAAAAAAAAjM/UxZuVUnS2vc/s1600/porositas-tanah-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 415px; height: 459px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8Xfci6p5mEI/TyFtWw9jExI/AAAAAAAAAjM/UxZuVUnS2vc/s400/porositas-tanah-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701958841095361298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Definisi dan Pengertian dari Porositas Tanah adalah ruang volume  seluruh pori-pori makro dan mikro dalam tanah yang dinyatakan dalam  persentase volume tanah di lapangan. Dengan kata lain porositas tanah  adalah bagian dari volume tanah yang tidak ditempati oleh padatan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5x0beOupRJ0/TyFtWrbAKLI/AAAAAAAAAjE/jYsxdjaqZuE/s1600/porositas-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 202px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5x0beOupRJ0/TyFtWrbAKLI/AAAAAAAAAjE/jYsxdjaqZuE/s400/porositas-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701958839608289458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Porositas tanah ada karena bentuk dan ukuran agregat tanah yang tidak  dapat saling merapa merupakan dasar dari pori-pori tanah. Merupakan  ruang antara agregat yang satu dengan yang lain disebut pori-pori mikro  dan makro tanah.&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-v3srZkkvXG0/TyFtXOcSgnI/AAAAAAAAAjo/Dw8r6i5SZGg/s1600/porositas-tanah-3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 391px; height: 365px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-v3srZkkvXG0/TyFtXOcSgnI/AAAAAAAAAjo/Dw8r6i5SZGg/s400/porositas-tanah-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701958849008927346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut ukuran pori-pori dapat dibedakan sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Makro porositas yang dibentuk oleh rongga-rongga besar yang dalam  keadaan normal terisi udara. Bila tanah terisi air sampai terlalu basah  maka tanaman akan mati lemas atau tumbuhnya menjadi kerdil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mikro porositas yang merupakan rongga-rongga paling halus yang biasanya terisi air kapiler.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanah pasir mempunyai porositas kurang dari 50%, dengan jumlah  pori-pori makro lebih besar dari pada pori-pori mikro, bersifat mudah  merembes air dan gerakan udara di dalam tanah menjadi lebih lancar.  Sebaliknya berliat mempunyai porositas lebih dari 50%.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Hu2czcSS0Fs/TyFtXtqproI/AAAAAAAAAjw/uMsj6ZL_NSg/s1600/porositas-tanah-4.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 333px; height: 333px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Hu2czcSS0Fs/TyFtXtqproI/AAAAAAAAAjw/uMsj6ZL_NSg/s400/porositas-tanah-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701958857390665346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jumlah pori-pori  mikro lebih besar dan bersifat mundah menangkap air hujan, tetapi sulit  merembeskan air dan gerakan udara lebih terbatas. Untuk pertumbuhan  tanaman menghendaki keseimbangan antara porositas makro dan mikro. Pada  tanah yang baik mikro porositas 60% dari pada seluruh porositas.  Porositas sangat dipengaruhi oleh tekstur tanah, struktur tanah,  kedalaman tanah, dan pengolahan tanah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-6EikjFsZbHU/TyFtXPHj7dI/AAAAAAAAAjU/HGuJ7eGZWSc/s1600/porositas-tanah-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 438px; height: 351px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6EikjFsZbHU/TyFtXPHj7dI/AAAAAAAAAjU/HGuJ7eGZWSc/s400/porositas-tanah-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701958849190424018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html" target="_blank"&gt;Porositas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-765518958155842556?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/765518958155842556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/765518958155842556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html' title='POROSITAS TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8Xfci6p5mEI/TyFtWw9jExI/AAAAAAAAAjM/UxZuVUnS2vc/s72-c/porositas-tanah-1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5263158497051625303</id><published>2012-01-24T05:05:00.001-08:00</published><updated>2012-01-24T17:46:26.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='STRUKTUR TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>STRUKTUR TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/--peQIF5jf1o/Tx6vpz9OTPI/AAAAAAAAAi4/QnioGsPUmDE/s1600/struktur-tanah-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 450px; height: 360px;" src="http://2.bp.blogspot.com/--peQIF5jf1o/Tx6vpz9OTPI/AAAAAAAAAi4/QnioGsPUmDE/s400/struktur-tanah-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701187311154121970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari Struktur tanah adalah susunan agregat  primer tanah secara alami menjadi bentuk tertentu dibatasi oleh beberapa  bidang. Struktur tanah terbentuk karena penggabungan butir-butir primer  tanah oleh pengikat koloid tanah menjadi agregrat primer. Sekelompok  tanah terdiri dari gumpalan-gumpalan kecil beraneka bentuk yang disebut  agregat sekunder tanah. Bagian-bagian ini terbentuk dari penggabungan  butir-butir lebih kecil yang disebut agregat primer.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Agregat primer tersusun dari butir-butir mineral atau pecahan batuan  berbagai bentuk dan ukuran yang diselaputi oleh senyawa-senyawa hasil  pelapukan. Senyawa hasil pelapukan mineral dan pecahan batuan terdiri  dari koloid tanah, senyawa kapur, senyawa besi dan almunium yang  bertindak sebagai perekat yang menggabungkan agregat-agregat primer.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penggabungan agregat primer menjadi bentukan yang masing-masing  bentukan tersebut dibatasi oleh bidang-bidang permukaan tertentu.  Agregat primer sering disebut struktur mikro, sedangkan agregat sekunder  yang merupakan struktur lapisan olah disebut struktur makro.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Struktur tanah yang baik adalah mengandung udara dan air dalam jumlah  cukup dan seimbang serta mantap. Struktur seperti ini hanya terdapat  pada ruang pori-pori besar dengan perbandingan yang sama antara  pori-pori makro dan mikro serta tahan terhadap kekuatan tetesan air  hujan. Selain itu struktur yang baik mempunyai perbandingan antara  padatan, air dan udara yang sama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lapisan tanah pertanian umumnya mempunyai tiga bentuk struktur yang berbeda:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Struktur Gumpal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Struktur ini biasanya terdapat pada tanah liat. Gumpalan tanah  biasanya lebih besar daripada struktur lain, dan terdapat lebih banyak  pori-pori mikro yang terisi oleh air daripada pori-pori makro sehingga  tata udaranya kurang baik. Struktur ini biasanya mudah larut karena air  hujan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Struktur Remah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Struktur ini adalah gumpalan yang lebih kecil. Pada struktur remah  terdapat pori-pori makro non-kapiler yang tidak terisi air melainkan  oleh udara. Ruang pori-pori mikro bersifat kapiler yang dapat menahan  air dan tidak merembesa ke bawah. Mudah larutnya struktur remah oleh air  hujan tergantung dari sifat bahan perekat yang membentuknya. Adanya  bahan organik cenderung membentuk struktur remah yang stabil dan mantap.  Pada struktur remah terdapat keseimbangan yang baik antara udara dan  air tanah sebagai medium larutnya unsur hara tanaman. Struktur rermah  merupakan struktur yang sangat baik untuk tanaman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Struktur Butir&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya struktur ini bukan merupakan struktur melainkan campuran  butir-butir primer yang kasar tanpa adanya bahan pengikat agregat.  Struktur ini terdapat pada tanah-tanah pasir, pasir berlempung, atau  pasir berdebu. Porositas tanahnya tinggi kaya pori-pori makro dan mudah  merembeskan air menyebabkan tanah mudah mengering.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5263158497051625303?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5263158497051625303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5263158497051625303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html' title='STRUKTUR TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--peQIF5jf1o/Tx6vpz9OTPI/AAAAAAAAAi4/QnioGsPUmDE/s72-c/struktur-tanah-1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-519396190468826959</id><published>2012-01-23T08:35:00.001-08:00</published><updated>2012-01-24T17:54:29.243-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>PENGERTIAN TEKSTUR TANAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian tentang tekstur tanah adalah banyaknya setiap bagian tanah  menurut ukuran partikel-partikelnya ditentukan oleh besarnya butiran  tanah. Sehingga pengertian dan definisinya adalah perbandingan antara  banyaknya liat, lempung dan pasir yang terkandung dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Pertanahan Nasional mendefinisikan bahwa tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena  terdapatnya perbedaan  komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat  yang terkandung pada tanah. Dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran  diameter paling besar yaitu 2 – 0.05 mm, debu dengan ukuran 0.05 – 0.002  mm dan liat dengan ukuran &amp;lt; 0.002 mm.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Maka dapat terjadi bahwa pada suatu tanah, butiran pasir merupakan  penyusun yang dominan, pada kasus lain liat merupakan penyusun tanah  yang terbesar. Sebaliknya pada tempat lain, kandungan pasir, liat dan  lempung terdapat sama banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perbandingan tersebut akan  mudah terlihat pada grafik segitiga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-xfIlaaaYEMI/Tx2N6eJzHEI/AAAAAAAAAis/EAtbvwUBYCI/s1600/segitiga-tekstur-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 480px; height: 428px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-xfIlaaaYEMI/Tx2N6eJzHEI/AAAAAAAAAis/EAtbvwUBYCI/s400/segitiga-tekstur-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700868738987007042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setiap kaki segitiga menggambarkan suatu fraksi ukuran butir-butir tanah :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pasir berukuran 2 mm - 20 mµ&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lempung berukuran 20 mµ - 2 mµ&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Liat kurang dari 2 mµ.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sesuai dengan klasifikasi  USDA (The United States Department of Agriculture) butiran atau partikel tanah dikelompokan dalam :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sand :   &amp;gt; 0.05 mm&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Silt :    0.002 - 0.05 mm&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Clay:    &amp;lt; 0.002 mm&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" width="300"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;i&gt;Name of soil separate&lt;/i&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;i&gt;Diameter limits (mm) (&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/USDA" title="USDA" target="_blank"&gt;USDA&lt;/a&gt; classification)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Clay&lt;/td&gt; &lt;td&gt;less than 0.002&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Silt&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.002–0.05&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Very fine sand&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.05–0.10&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Fine sand&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.10–0.25&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Medium sand&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.25–0.50&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Coarse sand&lt;/td&gt; &lt;td&gt;0.50–1.00&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Very coarse sand&lt;/td&gt; &lt;td&gt;1.00–2.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut tempatnya dalam segitiga ini dapat dibaca teksturnya. Maka  tekstur berarti perbandingan antara banyaknya liat, lempung dan pasir,  yang dalam garis besarnya lebih dari :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;30% liat adalah tanah liat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;35% lempung adalah tanah lempung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;60% pasir adalah tanah pasir.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari ketiga bagian liat, lempung dan pasir jika hanya satu bagian  saja belum dapat mencerminkan jenis tanah. Lazimnya disebut dua bagian  tanah yang terpenting. misalnya : tekstur liat berpasir, pasir  berlempung dan seterusnya. dimana bagian yang terbanyak disebut lebih  dahulu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada segitiga tidak menyebutkan kandungan pasir dan bahan organik,  walaupun kapur dan bahan organik sangat ikut menentukan sifat-sifat  tanah. Jika kandungan ini besar maka perlu disebut juga, misalnya tanah  mengandung 20% liat dan 10-30% kapur; selanjutnya disebut tanah liat  berkapur. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Bila setiap bagian merupakan perbandingan yang merata, disebut tanah  yang baik. Umpamanya saja mengandung 50-70% pasir (halus dan kasar),  10-15% lempung, 5-10% liat, 1-5% kapur, 3-5% bahan organik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tekstur tanah merupakan dasar dari kebanyakan sifat-sifat tanah.  Susunan menurut besarnya butir-butir suatu jenis tanah biasanya dilihat  pada grafik segitiga. Menurut besarnya tersusun dari butir-butir pasir  60%, lempung 15% dan liat 25%.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Perlu diketahui&lt;/span&gt; : bahwa ada perbedaan penyebutan nama dan istilah dari partikel tekstur tanah dalam bahasa Indonesia. Misalnya Istilah untuk "Loam" artinya Geluh dipergunakan oleh UGM dan Lempung dipergunakan oleh IPB, sedangkan untuk istilah "Clay" artinya Lempung dipergunakan UGM dan Liat dipergunakan oleh IPB.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-519396190468826959?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/519396190468826959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/519396190468826959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html' title='PENGERTIAN TEKSTUR TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xfIlaaaYEMI/Tx2N6eJzHEI/AAAAAAAAAis/EAtbvwUBYCI/s72-c/segitiga-tekstur-tanah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5652584268839128228</id><published>2012-01-18T17:55:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T17:50:29.090-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>TANAH ORGANIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vZgr7ppy-0s/Txd5737rAVI/AAAAAAAAAiA/MZ-RPLozEXI/s1600/tanah-organis.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 434px; height: 384px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vZgr7ppy-0s/Txd5737rAVI/AAAAAAAAAiA/MZ-RPLozEXI/s400/tanah-organis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699157922994127186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanah organis adalah tanah yang mempunyai bahan organik, mulai dari permukaan sampai kedalaman 10 cm, atau kurang dari kontak litik atau paralitik, asalkan ketebalan bahan organik lebih dari dua kali ketebalan tanah mineral  di atas kontak tersebut. Tanah yang mempunyai lapisan tanah bahan organik berada di atas bahan fragmen (kerikil, batu, kerakal) dan celah-celahnya terisi oleh bahan organik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5652584268839128228?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5652584268839128228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5652584268839128228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/tanah-organis.html' title='TANAH ORGANIS'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vZgr7ppy-0s/Txd5737rAVI/AAAAAAAAAiA/MZ-RPLozEXI/s72-c/tanah-organis.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-1999324529535673715</id><published>2012-01-18T17:46:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T17:55:15.665-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>TANAH MINERAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-_FSjdDev5_s/Txd3m01ljcI/AAAAAAAAAh0/edYOgJJWZ30/s1600/tanah-mineral.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 401px; height: 594px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-_FSjdDev5_s/Txd3m01ljcI/AAAAAAAAAh0/edYOgJJWZ30/s400/tanah-mineral.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699155362362789314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian dan Definisi dari tanah mineral adalah tanah pada lapisan bagian atas di bawah lapisan humus, yang umumnya terdapat pada tanah di bawah hutan. Humus umumnya  meloloskan air ke bawah secara cepat, sedangkan tanah mineral oleh para hidrologis dipandang sebagai lapisan tanah yang juga meloloskan air (infiltrasi) namun tidak secepat humus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-1999324529535673715?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1999324529535673715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/1999324529535673715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/tanah-mineral.html' title='TANAH MINERAL'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-_FSjdDev5_s/Txd3m01ljcI/AAAAAAAAAh0/edYOgJJWZ30/s72-c/tanah-mineral.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2983096105528201952</id><published>2012-01-18T17:44:00.002-08:00</published><updated>2012-01-18T18:34:21.682-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tipe Tipe Hutan Tropis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>TANAH HUTAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-jyh0aDPEIYE/Txd_BxMLAeI/AAAAAAAAAiM/vbSY1ZtEPpI/s1600/tanah-hutan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 389px; height: 572px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jyh0aDPEIYE/Txd_BxMLAeI/AAAAAAAAAiM/vbSY1ZtEPpI/s400/tanah-hutan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699163521821639138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanah hutan adalah jenis tanah yang terbentuk dan berkembang di bawah pengaruh lingkungan hutan.  Tanah hutan pada daerah hutan hujan tropis mempunyai kondisi pH yang rendah dan miskin unsur hara karena proses pencucian. Sedangkan kandungan unsur hara tertentu pada tanah lebih rendah dibandingkan yang berada dalam tegakan atau pohon-pohon.&lt;br /&gt;Kapasitas Pertukaran Kation pada tanah hutan hujan tropis rendah namun keadaan humus dan bahan organik diatas tanah dapat memberikan kondisi yang lebih baik karena mempunyai kapasitas pertukaran kation yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah hutan mempunyai mekanisme yang dikenal dengan nama "siklus hara tertutup", dimana siklus unsur hara berputar hanya di dalam hutan, bila terjadi eksploitasi hutan maka unsur-unsur hara di dalam pohon akan terbawa keluar hutan. Bila hal ini terjadi terus-menerus mengakibatkan siklus unsur hara terganggu dan tidak terjadi keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2983096105528201952?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2983096105528201952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2983096105528201952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/tanah-hutan.html' title='TANAH HUTAN'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jyh0aDPEIYE/Txd_BxMLAeI/AAAAAAAAAiM/vbSY1ZtEPpI/s72-c/tanah-hutan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-429650184178463308</id><published>2012-01-18T17:42:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T17:44:19.095-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><title type='text'>TANAH HIDROMORFIK</title><content type='html'>Tanah Hidromorfik adalah jenis tanah yang terbentuk dan berkembang di bawah pengaruh air secara terus menerus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-429650184178463308?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/429650184178463308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/429650184178463308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/tanah-hidromorfik.html' title='TANAH HIDROMORFIK'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-8784281304558002690</id><published>2012-01-18T17:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T17:42:12.697-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><title type='text'>TANAH GLEI</title><content type='html'>Tanah Glei adalah tanah yang mempunyai ciri adanya lapisan glei berwarna kelabu, terbentuk karena pengaruh genangan air / drainage yang buruk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-8784281304558002690?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/8784281304558002690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/8784281304558002690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/tanah-glei.html' title='TANAH GLEI'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-7197803324385952768</id><published>2012-01-18T16:59:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T17:26:13.127-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAJU EROSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>PENGAWETAN TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2BIL0ENZ2w4/TxdwpFyEwgI/AAAAAAAAAhk/Sa_8J0tdUic/s1600/pengawetan-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 405px; height: 537px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2BIL0ENZ2w4/TxdwpFyEwgI/AAAAAAAAAhk/Sa_8J0tdUic/s400/pengawetan-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699147704689803778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Definisi dan Pengertian Pengawetan tanah pada dasarnya meliputi beberapa cara yaitu :&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;pencegahan erosi (pengikisan oleh air)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;mengendalikan aliran/arus air&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pencegahan kemunduran kesuburan tanah, yakni mencegah hilangnya zat-zat mineral yang mudah diserap tanaman.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari beberapa cara di atas menunjukan bahwa  pengawetan tanah sangat erat hubungannya dengan :&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;usaha peningkatan hasil produksi pangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;peningkatan laba para petani&lt;/li&gt;&lt;li&gt;peningkatan taraf hidup petani&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya pengawetan tanah berarti mengamankan "Daerah Aliran  Sungai" (DAS) yang sangat erat hubungannya dengan pengamanan  kelangsungan debit aliran sungai atau bendungan (dam) tertentu. Dam-dam  tersebut dimanfaatkan untuk keperluan irigrasi atau PLTA sekaligus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengawetan tanah dilaksanakan tidak hanya di dataran tinggi saja,  namun juga di dataran rendah dimana terdapat kemiringan. Setiap derajat  kemiringan tanah mengakibatkan air mengalir ke bawah. Aliran air yang  ada dapat mengakibatkan pengikisan tanah (top-soil).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa pengikisan tanah tergantung pada :&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;kemiringan tanah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jenis tanah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jenis tumbuh-tumbuhan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;intensitas  curah hujan per tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pemeliharaan tanaman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pemupukan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-7197803324385952768?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7197803324385952768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/7197803324385952768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengawetan-tanah.html' title='PENGAWETAN TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2BIL0ENZ2w4/TxdwpFyEwgI/AAAAAAAAAhk/Sa_8J0tdUic/s72-c/pengawetan-tanah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-8258231075516489664</id><published>2012-01-10T17:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-26T07:22:07.741-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>PROFIL TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-6whPoknHzMY/TwziYHgKyQI/AAAAAAAAAf4/f_KKmHkEXj4/s1600/profil-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 358px; height: 495px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-6whPoknHzMY/TwziYHgKyQI/AAAAAAAAAf4/f_KKmHkEXj4/s400/profil-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696176532675545346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Profil tanah merupakan kumpulan berbagai macam lapisan tanah.  Horison-horison tanah diberi tanda dengan huruf, dari lapisan atas  sampai dibawah dengan huruf : O, A, B, C dan R. Horison O adalah profil  tanah bagian atas yang terdiri dari seresah tanah atau bahan organik  tanah yang masih segar, lapisan ini merupakan guguran dari daun-daun dan  ranting pohon yang menutupi lapisan atas tanah. Bagian horison O  merupakan horison "Organik" yang terdiri dari beberapa lapisan L =  litter, F = Fermentation, dan H = Humus. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Horison A merupakan hasil pelapukan dari horison O, disini terjadi  pelarutan unsur-unsur hara dan senyawa lain yang dibawa air infiltrasi  ke lapisan dibawahnya. Terjadi proses leaching yaitu proses pencucian  unsur hara oleh air. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Horison B merupakan horison yang miskin bahan organik. Kegiatan  mikrobia hampir tidak ada, lebih padat dan warnannya lebih merah.  Sebagai horison akumulasi unsur-unsur hara dan senyawa-senyawa horison  pencucian yang tercuci.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Horison C adalah horison yang terdiri dari bahan induk tanah, merupakan batuan yang sebagian sudah mengalami pelapukan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagian terakhir adalah R atau Rock merupakan batu-batuan lapisan keras yang sulit untuk ditembus.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dgQsT8eT7DY/Twzim5reW8I/AAAAAAAAAgE/yV2Ct8MwwMs/s1600/lapisan-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 410px; height: 470px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dgQsT8eT7DY/Twzim5reW8I/AAAAAAAAAgE/yV2Ct8MwwMs/s400/lapisan-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696176786662906818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html" target="_blank"&gt;Porositas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-8258231075516489664?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/8258231075516489664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/8258231075516489664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html' title='PROFIL TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6whPoknHzMY/TwziYHgKyQI/AAAAAAAAAf4/f_KKmHkEXj4/s72-c/profil-tanah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2985197224910558303</id><published>2011-11-13T07:46:00.000-08:00</published><updated>2012-02-20T00:20:00.011-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencemaran Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>PENCEMARAN TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-_7_JG6ehcgw/Tr_nhwODAzI/AAAAAAAAAdw/m9CGQ595yqQ/s1600/pencemaran-tanah1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 466px; height: 309px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-_7_JG6ehcgw/Tr_nhwODAzI/AAAAAAAAAdw/m9CGQ595yqQ/s400/pencemaran-tanah1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674508622575633202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan Pengertian dari Pencemaran tanah  adalah kerusakan lapisan tipis bumi yang bermanfaat yaitu   tanah produktif untuk menumbuhkan tanaman sebagai sumber bahan  makanan. Tanpa tanah yang subur, petani tidak bisa bercocok tanam dan  menghasilkan makanan untuk orang di seluruh dunia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanah yang subur dipengaruhi juga oleh organisme seperti bakteri, jamur,  dan organisme lain yang menguraikan limbah dalam tanah dan menyediakan unsur hara. Unsur hara memberikan pertumbuhan bagi tanaman. Pupuk dan  pestisida dapat membatasi kemampuan organisme tanah untuk menguraikan   limbah. Akibat penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan dapat merusak   produktivitas tanah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pencemaran tanah disebabkan oleh hasil pembuangan  limbah yang  mengandung bahan-bahan anorganik yang sukar terurai dalam tanah seperti plastik,  kaca, dan kaleng. Bahan-bahan ini sukar diuraikan oleh organisme dan  mengakibatkan produktivitas tanah akan berkurang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Jika limbah atau sampah yang dibuang  mudah terurai oleh  mikroorganisme, bahan-bahan itu akan mengalami proses pembusukan  kemudian terurai dan menyatu dengan tanah sehingga tidak menimbulkan  pencemaran. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dampak langsung akibat limbah yang dirasakan manusia adalah timbulnya  bau yang tidak sedap dan kotor. Dampak yang tidak langsung diantaranya  tempat pembuangan limbah dapat menjadi tempat berkembangnya organisme  penyebab penyakit. Organisme ini dapat menyebabkan pernyakit ataupun  hanya sebagai vektor (pembawa) penyakit yang merugikan manusia. Adapun  penyakit yang dapat berkembang pada daerah berlimbah yang tidak terjada  sanitasinya seperti pes, kaki gajah, malaria, demam berdarah ataupun  penyakit yang lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-suHBULtdANY/Tr_nh7tYDGI/AAAAAAAAAdo/K0SGM3-eg4s/s1600/pencemaran-tanah.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 451px; height: 385px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-suHBULtdANY/Tr_nh7tYDGI/AAAAAAAAAdo/K0SGM3-eg4s/s400/pencemaran-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674508625659825250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyebab pencemaran tanah diantaranya sampah-sampah anorganik yang  tidak dapat diuraikan oleh bakteri. Upaya untuk mengurangi penumpukan  sampah adalah dengan melakukan daur ulang sampah anorganik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahan-bahan yang tidak bisa terurai seharusnya dapat dipisahkan  kemudian dimasukan dalam proses daur ulang. Proses daur ulang yang  dilakukan membuat limbah diolah kembali menjadi barang yang dapat  dipergunakan. Barang hasil daur ulang dapat berupa barang yang sama  dengan asalnya ataupun dapat memproduksikan barang yang berbeda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  Limbah padat mungkin merupakan bentuk yang paling terlihat dari  Pencemaran. Setiap  tahun, orang membuang miliaran ton sampah padat.  Industri limbah account untuk  sebagian besar bahan dibuang. Limbah  padat dari rumah, kantor, dan toko disebut  limbah padat perkotaan. Ini  termasuk kertas, plastik, kaca, kaleng logam, sisa  makanan, dan hiasan  halaman. Limbah lainnya dibuang terdiri dari mobil, besi  tua, bahan  sisa dari proses pertanian, dan limbah pertambangan dikenal sebagai   merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan limbah padat menjadi masalah karena metode pembuangannya merusak mencemari lingkungan. Pembuangan terbuka merusak keindahan tanah alam dan  menyediakan persembunyian untuk tikus dan hewan pembawa penyakit.  Kedua pembuangan  terbuka dan landfill (daerah penanaman limbah) dapat mengandung racun yang  meresap ke dalam air tanah atau mengalir ke sungai dan  danau. Kegiatan Pembakaran limbah padat menciptakan asap dan  Pencemaran udara lainnya. Bahkan pembakaran limbah dapat melepaskan bahan  kimia beracun, abu, dan logam berat berbahaya  ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limbah berbahaya terdiri dari zat dibuang yang dapat mengancam  kesehatan  manusia dan lingkungan. Sumber limbah berbahaya meliputi  industri, rumah sakit, dan  laboratorium. Limbah tersebut dapat  menyebabkan cedera langsung ketika orang  bernapas, menelan, atau  menyentuhnya. Ketika dikuburkankan di tanah atau  ditinggalkan di tempat  pembuangan terbuka, beberapa limbah berbahaya dapat  mencemari udara,  air tanah, dan tanaman pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kegiatan manusia lainnya juga dapat merusak tanah. Irigasi  tanah di  daerah kering dengan drainase yang buruk bisa menyebabkan  genangan air di  ladang. Ketika air yang ada menguap, ia meninggalkan  endapan garam, membuat tanah terlalu asin untuk tanaman bertumbuh. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan pertambangan  dan peleburan mencemari tanah dengan logam  berat beracun. Banyak ilmuwan  percaya bahwa hujan asam juga dapat  mengurangi kesuburan tanah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  Beberapa limbah berbahaya serius dapat membahayakan kesehatan  manusia, satwa  liar, dan tanaman. Polutan ini termasuk radiasi,  pestisida, dan logam berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radiasi adalah polutan tak terlihat yang dapat mencemari setiap bagian  dari  lingkungan. Kebanyakan radiasi berasal dari sumber-sumber alam,  seperti mineral  dan sinar matahari. Para ilmuwan juga dapat  menghasilkan unsur-unsur radioaktif  dari laboratoriumnya. Radiasi radio aktif dalam jumlah besar dapat merusak sel  dan menyebabkan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limbah radioaktif yang dihasilkan oleh reaktor nuklir dan  pabrik-pabrik senjata  menimbulkan masalah lingkungan yang serius.  Beberapa limbah ini akan tetap  bersifat radioaktif selama ribuan tahun.  Penyimpanan limbah radioaktif yang aman sangat sulit dan mahal.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PAGnwWTDzP4/Tr_niP8y2QI/AAAAAAAAAeA/pppg9o2uzHA/s1600/pencemaran-tanah2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PAGnwWTDzP4/Tr_niP8y2QI/AAAAAAAAAeA/pppg9o2uzHA/s400/pencemaran-tanah2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674508631093205250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pestisida   disemprotkan pada tanaman atau di kebun, pestisida dapat  ditiup oleh angin ke  daerah lain. Mereka juga dapat mengalir dengan air  hujan ke sungai terdekat  atau dapat merembes melalui tanah ke dalam  air tanah. Beberapa pestisida dapat  tetap berada di lingkungan selama  bertahun-tahun dan lolos dari satu organisme  ke organisme lain. Sebagai  contoh, ketika pestisida yang hadir terdapat dalam sungai,  ikan kecil  dan organisme lain dapat menyerapnya. Ikan yang lebih besar memakan ikan  terkontaminasi, dalam organisme ini tertimbun sejumlah pestisida yang  lebih besar   dalam dagingnya. Proses ini disebut bioakumulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logam berat termasuk merkuri dan timah menyebabkan pencemaran. Aktivitas pertambangan,  penghasil  limbah padat, proses industri, dan kendaraan bermotor semua  dapat melepaskan  logam berat ke lingkungan sekitar. Seperti pestisida, dapat bertahan lama dan menyebar melalui lingkungan. Pestisida dapat terakumulasi  dalam tulang dan jaringan dalam tubuh hewan. Pada manusia, logam berat dapat  merusak tulang, berbagai  organ, dan sistem saraf. Banyak juga dapat menyebabkan  kanker.&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/Q8Q8Mamdfs4" allowfullscreen="" frameborder="0" height="365" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/_GpI8QBtH8c" allowfullscreen="" frameborder="0" height="365" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/q95QDKLU38g" allowfullscreen="" frameborder="0" height="365" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/definisi-dan-pengertian-lingkungan.html" target="_blank"&gt;Pengertian Lingkungan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/10/artikel-lingkungan.html" target="_blank"&gt;Artikel dan Makalah Lingkungan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/amdal-analisis-mengenai-dampak.html" target="_blank"&gt;Pengertian AMDAL&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/amdal_kehutanan.html"&gt;Penerapan AMDAL Pada Pembangunan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-dan-pengertian-audit.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Audit Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/ekologi.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekologi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/pengertian-ekosistem.html" target="_blank"&gt;Pengertian Ekosistem&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/02/konservasi-tanah.html" target="_blank"&gt;Konservasi Tanah&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html" target="_blank"&gt;Porositas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2985197224910558303?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2985197224910558303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2985197224910558303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html' title='PENCEMARAN TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_7_JG6ehcgw/Tr_nhwODAzI/AAAAAAAAAdw/m9CGQ595yqQ/s72-c/pencemaran-tanah1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-6642490633506518790</id><published>2011-11-11T19:13:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T05:25:01.530-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>PROSES PEMBENTUKAN TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 334px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-eDJ0ZtZIt4s/Tr3mRRijq5I/AAAAAAAAAdY/9awmK8dH1Jc/s400/tanah-lapisan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673944289997204370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Proses pembentukan tanah adalah perubahan dari bahan induk menjadi  lapisan tanah. Perkembangan tanah dari bahan induk yang padat menjadi  bahan induk yang agar lunak, selanjutnya berangsur-angsur menjadi tanah  pada lapisan bawah (subsoil) dan lapisan tanah bagian atas (topsoil),  dalam jangka waktu lama sampai ratusan tahun hingga ribuan tahun.  Perubahan-perubahan dari batuan induk sampai menjadi tanah karena batuan  induk mengalami proses pelapukan, yaitu proses penghancuran karena  iklim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahap pertama dari proses pembentukan tanah adalah proses pelapukan.  Proses ini terjadi penghancuran dan pelembutan dari bahan induk tanpa  perubahan susunan kimianya. Pelapukan dipengaruhi oleh faktor iklim yang  bersifat merusak. Faktor-faktor iklim yang turut menentukan adalah  sinar matahari, perbedaan temperatur antara siang dan malam, keadaan  musim kemarau dan musim penghujan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya batuan pecah dalam bentuk pecahan-pecahan batuan dan  mineral-mineral penyusunnya. Selanjutnya oleh adanya air, asam dan  senyawa-senyawa yang larut dalam air, pecahan-pecahan bantuan dan  mineral ini menjadi lunak dan terurai ke dalam unsur-unsur penyusunnya.  Dari bahan-bahan sisa penguraian dan senyawa kembali membentuk  mineral-mineral baru.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pelapukan digolongkan dalam tiga bentuk :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pelapukan fisik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelapukan kimia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelapukan biologis&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pelapukan fisik sering disebut juga alterasi yakni proses pemecahan  dan pelembutan batuan tanpa mengalami perubahan susunan kimia dan tidak  ada pembentukan mineral baru.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pelapukan kimia adalah proses pelapukan dan penguraian  pecahan-pecahan batuan dan mineral-mineral ke dalam unsur-unsur  penyusunnya yang biasa disertai dengan pembentukan mineral-mineral baru.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pelapukan biologis adalah pelapukan yang disebabkan kegiatan tanaman  dan hewan, baik yang tingkat tinggi maupun yang tingkat rendah. Dalam  proses pemecahan batuan induk menjadi tanah terjadi aktivitas hidup  organisme. Bakteri autotrof dan lumut-lumut pada waktu mati menjadi  bahan organik bagi kehidupan organisme yang lain. Tumbuhan tingkat  tinggi berperan dengan aktivitas akar-akarnya masuk dicelah-celah  retakan batuan dan seterusnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 444px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jRmkBP68rt0/Tr3mREHb49I/AAAAAAAAAdQ/9Ww3kFLrpbI/s400/Profil-lapisan-tanah.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673944286393787346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Faktor-Faktor Pembentukan Tanah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Faktor-faktor yang menentukan pembentukan tanah adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Iklim&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batuan Induk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Vegetasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Relief (tinggi rendahnya permukaan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Waktu&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semua faktor ini tidak berdiri sendiri tetapi saling mempengaruhi dan saling berkaitan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/zqe_MVPF7F8" allowfullscreen="" frameborder="0" height="400" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/bTzslvAD1Es" allowfullscreen="" frameborder="0" height="400" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html" target="_blank"&gt;Porositas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-6642490633506518790?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/6642490633506518790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/6642490633506518790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html' title='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eDJ0ZtZIt4s/Tr3mRRijq5I/AAAAAAAAAdY/9awmK8dH1Jc/s72-c/tanah-lapisan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-3605638888422391678</id><published>2011-11-11T15:54:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T17:52:53.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>MANFAAT TANAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 440px; height: 440px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-l9XA9fAet48/Tr22pt6MpVI/AAAAAAAAAdE/eWCVz-RZ7dA/s400/manfaat-tanah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673891933371278674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manfaat tanah dalam kehidupan bukan saja untuk manusia tetapi juga  mahluk hidup yang lain seperti hewan dan tumbuhan. Berbagai sudut  pandang dari manfaat tanah tergantung kepentingan orang yang  memanfaatkannya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk seorang petani tradisional memanfaatkan tanah sebagai  lingkungan tempat tinggal dan sebagai sumber penghidupan, karena dengan  demikian petani tersebut dapat menanam serta memungut hasilnya sebagai  bahan makanan maupun bahan dagang. Hasil ini bisa dimanfaatkan sendiri  sebagai pola hidup subsisten ataupun dijual untuk memenuhi kepentingan  yang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha batu merah, genting dan keramik memanfaatkan tanah sebagai  bahan baku produksi untuk pengembangan usaha, terutama tanah liat yang  dimanfaatkan untuk menghasilkan barang-barang produksi dalam  mendatangkan keuntungan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ahli Pertanian memandang tanah sebagai benda yang lunak menempati  kulit bumi bagian atas yang terdiri dari bahan organik dan anorganik  sebagai media pertumbuhan tanaman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi yang tidak tahu menahu tentang tanah menganggap tanah sebagai  benda yang kotor karena becek (nggak ada ojek) dan dapat melekat pada  apa saja.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para ahli pedologi mempelajari asal dan perkembangan tanah dan  faktor-faktor serta proses pembentukan tanah yang memenuhi sebagian  besar kebutuhan tanamannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-3605638888422391678?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3605638888422391678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/3605638888422391678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html' title='MANFAAT TANAH'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-l9XA9fAet48/Tr22pt6MpVI/AAAAAAAAAdE/eWCVz-RZ7dA/s72-c/manfaat-tanah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5303681101588015614</id><published>2011-11-10T16:08:00.000-08:00</published><updated>2012-01-26T07:25:54.896-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAJU EROSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='definisi tanah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROSES PEMBENTUKAN TANAH'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EROSIBILITAS TANAH'/><title type='text'>Definisi dan Pengertian Tanah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 387px; height: 472px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PGqvnVMW5s0/Trxqx8iaubI/AAAAAAAAAcA/S4UfeqPV6uk/s400/definisi-tanah.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673527036876601778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi dan pengertian dari Tanah adalah kumpulan tubuh alam yang menduduki sebagian besar daratan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan sebagai tempat mahluk hidup lainnya dalam melangsungkan kehidupannya. Tanah mempunyai sifat yang mudah dipengaruhi oleh iklim, serta jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam jangka waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah tubuh alam bebas adalah hasil pelapukan batuan yang menduduki sebagian besar daratan permukaan bumi, dan memiliki kemampuan untuk menumbuhkan tanaman, serta menjadi tempat mahluk hidup lainnya dalam melangsungkan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Menurut pandangan dan pengertian yang diberikan oleh para ahli tanah adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tanah adalah bentukan alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan  manusia, yang mempunyai sifat tersendiri dan mencerminkan hasil pengaruh  berbagai faktor yang membentuknya di alam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanah adalah sarana produksi tanaman yang mampu menghasilkan berbagai tanaman.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Seorang Pedolog, melihat tanah sebagai lapisan kulit bumi yang lunak  dan gembur yang berasal dari batuan induk. Tanah mempunyai  lapisan-lapisan yang berbeda warna sampai ke dalam terdapat bagian keras  yang sulit ditembus disebut batuan induk.&lt;/p&gt;Tanah mempunyai beberapa sifat yang menentukan kualitas tanah seperti sifat biologi, sifat fisik dan sifat kimia. Tanah bagian paling atas sering disebut top soil, selanjutnya ada lapisan-lapisan dibawahnya sehingga terbentuk profil tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/profil-tanah.html" target="_blank"&gt;Profil Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-tanah.html" target="_blank"&gt;Manfaat Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/pengertian-tekstur-tanah.html" target="_blank"&gt;Pengertian Tekstur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-tanah.html" target="_blank"&gt;Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/proses-pembentukan-tanah.html" target="_blank"&gt;Proses Pembentukan Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/klasifikasi_jenis_tanah.html" target="_blank"&gt;Klasifikasi Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html" target="_blank"&gt;Pencemaran Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/porositas-tanah.html" target="_blank"&gt;Porositas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Bahan_Organik_Tanah.html" target="_blank"&gt;Bahan Organik Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html" target="_blank"&gt;Kemasaman Tanah (pH Tanah)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Lengas_Tanah.html" target="_blank"&gt;Lengas Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Tekstur_dan_Struktur_Tanah.html" target="_blank"&gt;Tekstur dan Struktur Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jenis_Tanah.html" title="jenis tanah" target="_blank"&gt;Jenis Tanah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pengertian_unsur_hara.html" title="Pengertian Unsur Hara" target="_blank"&gt;Pengertian Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Jumlah_Kebutuhan_Unsur_Hara.html" title="Jumlah Kebutuhan Unsur Hara" target="_blank"&gt;Jumlah Kebutuhan Unsur Hara&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pergerakan_unsur_hara.html" title="Pergerakan Unsur Hara Dari Larutan Tanah Ke Akar" target="_blank"&gt;Pergerakan Unsur Hara  Dari Larutan Tanah Ke Akar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Penyerapan_Unsur_Hara.html" title="Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)" target="_blank"&gt;Pergerakan Hara di dalam Tubuh Tanaman (Penyerapan Unsur Hara)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Metode_Status_Hara_Tanaman.html" title="Metode untuk Mengetahui Status Hara Tanaman" target="_blank"&gt;Metode untuk Mengetahui  Status Hara Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Nitrogen.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Nitrogen (N)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Fosfor.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Fosfor (P)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/Unsur_Hara_Kalium.html" target="_blank"&gt;Unsur Hara Kalium (K) &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/pemupukan_tanaman.html" title="pemupukan tanaman" target="_blank"&gt;Pemupukan Tanaman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/agroforestry_kesuburan_tanah.html" title="Sistem Agroforestri" target="_blank"&gt;Perbaikan Kesuburan Tanah dengan Sistem Agroforestri&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5303681101588015614?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5303681101588015614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5303681101588015614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html' title='Definisi dan Pengertian Tanah'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PGqvnVMW5s0/Trxqx8iaubI/AAAAAAAAAcA/S4UfeqPV6uk/s72-c/definisi-tanah.png' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5514260202159315434</id><published>2011-11-10T15:45:00.001-08:00</published><updated>2012-02-10T22:02:03.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Hutan Mangrove'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manfaat Hutan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Plasma Nutfah'/><title type='text'>Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove untuk Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://irwantomangrove.webs.com/" target="_blank"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 375px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qT9OkJeAUO4/TrxmDXwSMZI/AAAAAAAAAb0/YBNh32_5LmI/s400/manfaat-fungsi-mangrove.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673521838682157458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manfaat dan Fungsi  Hutan Mangrove dari berbagai sudut pandang baik itu manfaat ekologi, manfaat ekonomi, manfaat fisik, manfaat biologi dan manfaat kimia maupun manfaat sosial sangat dirasakan dalam kehidupan masyarakat pesisir. Penelitian-penelitian telah banyak dilakukan dan membuktikan bahwa hutan mangrove memegang peranan penting bagi kehidupan di pesisir. Adapun manfaat dan fungsi tersebut dapat dirangkum sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Habitat satwa langka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hutan mangrove sering menjadi &lt;a href="http://irwantoshut.net/picture_indonesia_fauna.html" target="_blank"&gt;habitat jenis-jenis satwa&lt;/a&gt;. Lebih dari 100  jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan  dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai  ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Limnodrumus  semipalmatus&lt;/span&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pelindung terhadap bencana alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Vegetasi hutan mangrove dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau  vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan  garam melalui proses filtrasi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pengendapan lumpur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sifat fisik tanaman pada hutan mangrove membantu proses pengendapan lumpur.  Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur  hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel  lumpur. Dengan hutan mangrove, kualitas air laut terjaga dari endapan  lumpur erosi.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penambah unsur hara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sifat fisik hutan mangrove cenderung memperlambat aliran air dan terjadi  pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara  yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal  pertanian.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penambat racun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada  permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel  tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan mangrove bahkan membantu  proses penambatan racun secara aktif&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber alam dalam kawasan &lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-in-situ.html" target="_blank"&gt;(In-Situ)&lt;/a&gt; dan luar Kawasan &lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/11/konservasi-ex-situ.html" target="_blank"&gt;(Ex-Situ)&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau  mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan.  Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan  mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan  oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi  organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai  karena pemindahan pasir dan lumpur.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Transportasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber plasma nutfah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi  perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi  kehidupan liar itu sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rekreasi dan pariwisata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun  dari kehidupan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove yang telah  dikembangkan menjadi obyek wisata alam antara lain di Sinjai (Sulawesi  Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan dan  Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Hutan mangrove  memberikan obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya.  Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut  memiliki keunikan dalam beberapa hal. Para wisatawan juga memperoleh  pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. Pantai Padang, Sumatera  Barat yang memiliki areal mangrove seluas 43,80 ha dalam kawasan hutan,  memiliki peluang untuk dijadikan areal wisata mangrove.&lt;br /&gt;Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi  pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu  menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan  lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan,  menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sarana pendidikan dan penelitian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hutan mangrove dimanfaatkan dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan  laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; Memelihara proses-proses dan sistem alami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hutan mangrove sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya  proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penyerapan karbon&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/fotosintesis.html" target="_blank"&gt;Proses fotosentesis&lt;/a&gt; mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon  organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem,  bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai  (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan  organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan mangrove lebih berfungsi  sebagai &lt;a href="http://irwantoshut.net/carbon_trade_indonesia_forests.html" target="_blank"&gt;penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Memelihara iklim mikro&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Evapotranspirasi hutan mangrove mampu menjaga kelembaban dan curah hujan  kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan hutan mangrove dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Artikel Terkait :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-mangrove.html" title="definsi mangrove" target="_blank"&gt;Definisi Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/ekosistem-hutan-payau-atau-hutan.html" target="_blank"&gt;Ekosistem Hutan Payau atau Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/peranan-manfaat-dan-fungsi-hutan.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/suksesi1.html" title="Suksesi Hutan Mangrove" target="_blank"&gt;Suksesi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_kotania.html" title="manfaat mangrove" target="_blank"&gt;Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantoforester.wordpress.com/2010/08/28/mangrove-tanjung-batu-piru/" title="Jenis mangrove" target="_blank"&gt;Jenis - Jenis Tumbuhan Mangrove&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.webs.com/manfaat_hutan_mangrove.pdf" target="_blank"&gt;Hutan Mangrove dan Manfaatnya &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/fauna_mangrove.pdf" title="fauna mangrove" target="_blank"&gt;Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/penyebaran-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Penyebaran Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/struktur-hutan-mangrove.html" target="_blank"&gt;Struktur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2012/01/komposisi-jenis-dan-zonasi-hutan.html" target="_blank"&gt;Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/mangrove_flora.html" title="Zonasi Mangrove" target="_blank"&gt;Zonasi Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.silvikultur.com/sistem_silvikultur_hutan_payau.html" target="_blank"&gt;Sistim Silvikultur Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://indonesiaforest.co.cc/mangrove_forest.html" target="_blank"&gt;Gambar-Gambar Hutan Mangrove&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/piru_coastal.html" target="_blank"&gt;Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5514260202159315434?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5514260202159315434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5514260202159315434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/manfaat-dan-fungsi-hutan-mangrove-untuk.html' title='Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove untuk Kehidupan'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qT9OkJeAUO4/TrxmDXwSMZI/AAAAAAAAAb0/YBNh32_5LmI/s72-c/manfaat-fungsi-mangrove.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-5851263021375705603</id><published>2011-11-07T08:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T09:22:26.986-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Definisi Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilihan Pohon Induk Plus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Benih Pohon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Tumbuh'/><title type='text'>DEFINISI POHON</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-TouTPPsbtTw/TrgTILElDVI/AAAAAAAAAa4/cb7Gf32LVhs/s1600/definisi-pohon.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 435px; height: 851px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-TouTPPsbtTw/TrgTILElDVI/AAAAAAAAAa4/cb7Gf32LVhs/s400/definisi-pohon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672304761805016402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi Pohon ialah tumbuhan dengan batang dan  cabang yang berkayu. Kayu dari pohon terdiri dari jaringan pembuluh kayu (xylem) dan jaringan pembuluh tapis (floem). Di antara kedua jaringan ini terdapat lapisan kambium yang membuat pohon bertambah besar diameternya. Pengertian dari Pohon biasa juga disebut pokok. Pohon memiliki batang utama yang tumbuh tegak,  menopang tajuk pohon.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-axuvS2S9ox4/TrgSzbMfXYI/AAAAAAAAAas/rHMZ89JSESQ/s1600/xilem_floem_pada_pohon.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 501px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-axuvS2S9ox4/TrgSzbMfXYI/AAAAAAAAAas/rHMZ89JSESQ/s400/xilem_floem_pada_pohon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672304405355912578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pohon berbeda dengan semak melalui bentuk dan ukurannya.  Semak juga memiliki batang berkayu, tetapi tidak tumbuh tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisang sering dikatakan "pohon pisang" tetapi sebenarnya tidak demikian karena pisang tidak mempunyai batang yang berkayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon-pohon yang kecil yang tidak bertambah tinggi lagi hanya sebagai tumbuhan penutup tanah disebut semak dan perdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis mawar hias lebih tepat disebut semak  daripada pohon karena batangnya walaupun berkayu tidak berdiri tegak dan  habitusnya cenderung menyebar menutup permukaan tanah.&lt;br /&gt;  Batang merupakan bagian utama pohon dan menjadi penghubung utama  antara bagian akar, sebagai alat transportasi tumbuhan untuk mengumpulkan air dan mineral, dan bagian tajuk  pohon (&lt;em&gt;canopy&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran batang yang lebih kecil disebut cabang dan yang lebih kecil lagi adalah ranting, keduanya berfungsi memperluas ruang bagi pertumbuhan  daun sehingga mendapat lebih banyak cahaya matahari dan juga menekan  tumbuhan pesaing di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-5851263021375705603?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5851263021375705603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/5851263021375705603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-pohon.html' title='DEFINISI POHON'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-TouTPPsbtTw/TrgTILElDVI/AAAAAAAAAa4/cb7Gf32LVhs/s72-c/definisi-pohon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-2426796200780237426</id><published>2011-11-04T19:14:00.000-07:00</published><updated>2011-11-04T20:07:53.853-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produktivitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENGERTIAN HUTAN PRODUKSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BIOENERGI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bioteknologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biomasa'/><title type='text'>DEFINISI BIOENERGI ATAU ENERGI BIOMASSA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.irwantoshut.net/pongamia.html" target="_blank"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 332px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CMhYtTJfY1k/TrSlgk3lUXI/AAAAAAAAAag/TQJtQ-P4kuQ/s400/mobil-bioethanol.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671339809837502834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Definisi dari Bioenergi adalah energi yang berasal dari biomassa.   Sedangkan Pengertian dari Biomassa adalah Jumlah bahan hidup yang  terdapat di dalam satu atau beberapa jenis organism yang berada di dalam  habitat tertentu. Biomasa pada umumnya dinyatakan dalam berat kering  organisme persatuan luas habitat, yang dinyatakan dalam kg/m2, atau  kg/m3. Biomasa adalah salah satu sumberdaya hayati, merupakan energi  matahari yang telah ditransformasi menjadi energi kimia oleh tumbuhan  berhijau daun. Ada yang mendefinisikan Biomassa sebagai bahan-bahan  organik berumur relatif muda dan berasal dari tumbuhan atau hewan;  produk &amp;amp; limbah industri budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan,  peternakan, perikanan).  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bioenergi merupakan sektor perekonomian energi dunia yang paling  dinamis dan berubah cepat.  Pertumbuhan pesat industri bahan bakar  nabati (BBN, liquid biofuels) memasok sekitar 10 % dari kebutuhan energi  dunia dan merupakan 78 % dari seluruh pasokan energi terbarukan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bangsa Indonesia mempunnyai biodiversitas dan lahan potensial yang  amat besar, harus dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk memperkuat  ketersediaan pasokan energi dan neraca pembayaran negara, membuka banyak   lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, melancarkan pertumbuhan  ekonomi yang merata, dan turut meredam emisi gas-gas rumah kaca. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Produksi bioenergi dapat dihasilkan dari residu dan limbah pemanenan  serta pengolahan pangan memiliki makna penting dalam mengefisienkan  (memperkuat struktur &amp;amp; daya saing) industri pangan domestik (residu  seperti sekam, jerami, bagas, tetes, tandan kosong sawit, dll). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemanfaatan bioenergi di Indonesia masih rendah bila dibandingkan  ketersediaan biomassa yang melimpah. Pemanfaatan biomassa untuk  bioenergi negara kita masih tertinggal jauh dari Thailand yang mempunyai  produksi lebih rendah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia yang mempunyai hutan hujan tropis yang kaya akan sumberdaya  alam nabati menyediakan beranekaragam tumbuhan yang bisa dijadikan  bahan bakar terbarukan. Dengan jumlah pulau-pulau lebih dari 17.000  pulau membuat Indonesia kaya potensi biomassa di darat maupun di laut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Potensi dari tumbuhan-tumbuhan energi multiguna kawasan tropik seperti : &lt;a href="http://www.irwantoshut.net/pongamia.html" target="_blank"&gt;pogam/kranji/mabai (&lt;em&gt;Pongamia pinnata&lt;/em&gt;)&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.irwantoshut.net/bintangur.html" target="_blank"&gt;nyamplung/bintangur (&lt;em&gt;Calophyllum inophyllum&lt;/em&gt;)&lt;/a&gt;, nimba (&lt;em&gt;Azadirachta indica&lt;/em&gt;), gatep pait (&lt;em&gt;Samadera indica&lt;/em&gt;), &lt;a href="http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html" target="_blank"&gt;jarak pagar (&lt;em&gt;Jatropha curcas&lt;/em&gt;)&lt;/a&gt;,  kelor (&lt;em&gt;Moreinga oleifera&lt;/em&gt;), kacang hiris (&lt;em&gt;Cajanus cajan&lt;/em&gt;), &lt;a href="http://www.irwantoshut.net/info_sukun.html" target="_blank"&gt;sukun (&lt;em&gt;Artocarpus altilis&lt;/em&gt;)&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.kapetseram.com/info_bioetanol.html" target="_blank"&gt;Aren (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arenga pinnata&lt;/span&gt;),&lt;/a&gt; &lt;a href="http://info.kapetseram.com/?p=136" target="_blank"&gt;Sagu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metroxylon sp&lt;/span&gt;)&lt;/a&gt; dan aneka alga mikro.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Konversi biomassa menjadi bioenergi dapat melalui beberapa cara yaitu  Pembakaran Langsung, Konversi Termokimiawi, dan Konversi Biokimiawi.  Konversi Termokimiawi pada akhirnya menghasilkan bahan bakar cair dan  biodiesel, konversi biokimiawi dengan cara pencernaan kimiawi  menghasilkan gas metan sedangkan konversi biokimiawi dengan fermentasi  hidrolisis menghasilkan etanol.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Terkait ;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-biomasa.html" target="_blank"&gt;Definisi dan Pengertian Biomassa&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html" target="_blank"&gt;Pengembangan Jarak Pagar (&lt;em&gt;Jatropha curcas&lt;/em&gt;) sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/bintangur.html" target="_blank"&gt;Bintangur Pantai (&lt;em&gt;Callophylum inophylum &lt;/em&gt;L ) Sumber Bahan Bakar Alternatif dan Manfaat Lainnya. &lt;/a&gt;                                         &lt;a href="http://www.irwantoshut.net/pongamia.html" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/pongamia.html" target="_blank"&gt;Kayu Besi Pantai (&lt;em&gt;Pongamia pinnata (L.) Pierre&lt;/em&gt;) Tumbuhan Sumber Bahan Bakar Alternatif.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kapetseram.com/info_bioetanol.html" target="_blank"&gt;Kajian Tekno-Ekonomi Produksi Fuel Grade Ethanol  dari Nira Aren (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arenga pinnata&lt;/span&gt;) dan Kelapa sebagai Sumber Energi Engine Alternatif.&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/730518080529841878-2426796200780237426?l=pengertian-definisi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2426796200780237426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/730518080529841878/posts/default/2426796200780237426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-bioenergi-atau-energi-biomassa.html' title='DEFINISI BIOENERGI ATAU ENERGI BIOMASSA'/><author><name>IRWANTO FORESTER</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_FW0DJTHcGXc/S6wJVOLBLoI/AAAAAAAAAAg/z8FGbTWA1p0/S220/irwanto-dosen.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CMhYtTJfY1k/TrSlgk3lUXI/AAAAAAAAAag/TQJtQ-P4kuQ/s72-c/mobil-bioethanol.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-730518080529841878.post-8531972381925012411</id><published>2011-10-31T23:01:00.000-07:00</published><updated>2012-02-20T00:10:10.819-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kerusakan Hutan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah lingkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL LINGKUNGAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DEFORESTASI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DEGRADASI HUTAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audit Lingkungan'/><title type='text'>ARTIKEL DAN MAKALAH LINGKUNGAN HIDUP</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artikel Lingkungan dan Makalah Lingkungan berisi materi tentang kelestarian lingkungan hidup, pengaruh dan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan (Hutan, Tanah dan Air). Bagaimana cara memanfaatkan sumberdaya alam dengan menekan sekecil-kecilnya dampak negatif yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-EwmROTtj73s/Tq-Skvsr4xI/AAAAAAAAAaU/8IkoVw2U9FY/s1600/pemanenan-hutan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 499px; height: 326px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EwmROTtj73s/Tq-Skvsr4xI/AAAAAAAAAaU/8IkoVw2U9FY/s400/pemanenan-hutan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669911615859581714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kegiatan Pembangunan sering diperhadapkan dengan masalah ekonomi dan masalah ekologi. Kedua masalah ini harus ditangani secara bijaksana sehingga fungsi salah satunya tidak berkurang dan dapat berjalan selaras. Kerusakan Lingkungan dan pencemaran lingkungan menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun bahan publikasi di media massa. Disini coba disajikan beberapa topik pembicaraan artikel lingkungan dan makalah lingkungan. Contohnya saja artikel "&lt;a href="http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/pencemaran-tanah.html"&gt;Pencemaran Tanah yang  menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan pencemaran tanah&lt;/a&gt;". Sebagian kecil artikel lingkungan dan makalah lingkungan ini belum dapat menjawab semua permasalahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita, tetapi setidaknya dapat memberikan sumbangan pemikiran demi menciptakan lingkungan hidup yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ARTIKEL LINGKUNGAN (HUTAN, TANAH DAN AIR)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="AutoNumber1" align="center" bgcolor="#ffffff" border="1" cellpadding="1" cellspacing="1" width="95%"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr bgcolor="#ffffff"&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="8%"&gt; NO&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="76%"&gt; &lt;div class="style24" align="center"&gt;J       U D U L&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center"&gt;TIPE FILE &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style27" align="center" width="8%"&gt;1&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE2" align="left" bgcolor="#ffffff"&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/hutan_indonesia.html" target="_blank"&gt;HUTAN INDONESIA &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="center"&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/hutan_indonesia.html" target="_blank"&gt;HTML&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;2&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE2" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.indonesiaforest.net/hutan_sekunder.pdf" target="_blank"&gt; DINAMIKA PERTUMBUHAN HUTAN SEKUNDER&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://www.indonesiaforest.net/hutan_sekunder.pdf" target="_blank"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;3&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://naturehealthy.webs.com/keragaman_genetik.pdf" target="_blank"&gt; HUBUNGAN KONSEPTUAL DAN PEROLEHAN KERAGAMAN GENETIK&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://naturehealthy.webs.com/keragaman_genetik.pdf" target="_blank"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;4&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/shorea_smithiana.pdf" target="_blank"&gt; HUTAN TANAMAN       &lt;em&gt;Shorea       smithiana&lt;/em&gt; PROSPEKTIF, SEHAT DAN LESTARI&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/shorea_smithiana.pdf" target="_blank"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;5&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html" target="_blank"&gt; PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK (Jatropha       curcas L)&lt;br /&gt; SEBAGAI SUMBER BAHAN BAKAR ALTERNATIF&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/jarak.pdf" target="_blank"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;6&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.irwantoshut.net/info_jati.html" target="_blank"&gt; USAHA PENGEMBANGAN JATI (Tectona grandis       L.f)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/jati.pdf" target="_blank"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;7&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/fauna_mangrove.pdf" target="_blank"&gt; KEANEKARAGAMAN FAUNA PADA HABITAT MANGROVE&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://irwantomangrove.webs.com/fauna_mangrove.pdf" target="_blank"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;8&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/konservasi_gajah.pdf" target="_blank"&gt; DEFORESTASI DAN IMPLIKASINYA PADA&lt;br /&gt; KONSERVASI GAJAH DI SUMATRA DAN SRI LANKA &lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/konservasi_gajah.pdf" target="_blank" class="style24"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;9&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://naturehealthy.webs.com/kesehatan_hutan.pdf" target="_blank"&gt; PENILAIAN KESEHATAN HUTAN TEGAKAN JATI (Tectona       grandis) dan EUCALYPTUS (Eucalyptus pellita) PADA KAWASAN HUTAN WANAGAMAI&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://naturehealthy.webs.com/kesehatan_hutan.pdf" target="_blank" class="style24"&gt; PDF&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;10&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#ffffff" width="76%"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/mikroorganisme_agroforestry.ppt" target="_blank"&gt; MIKROORGANISME TANAH DALAM SISTEM       AGROFORESTRY&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td class="TESXTABLE" align="center" width="12%"&gt;&lt;a href="http://saveforest.webs.com/mikroorganisme_agroforestry.ppt" target="_blank" class="style24"&gt; PPT&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td class="style26" align="center" width="8%"&gt;11&lt;/td&gt;             &lt;td class="TESXTABLE" align="left" bgcolor="#
