PENGERTIAN DAN FUNGSI FUNGISIDA


Pengertian Fungisida bila dilihat dari asal katanya, merupakan gabungan kata "fungi" dan "sida". Fungi berarti jamur atau kapang dan Sida berarti Racun. Jadi fungisida adalah bahan untuk meracuni atau mematikan jamur yang merupakan penyakit tanaman.

Fungisida adalah Bahan kimia yang dapat mematikan patogen, dapat disemprotkan untuk membunuh patogen yang ada atau untuk mencegah terhadap patogen yang akan datang dari daerah lain.

Telah banyak fungisida digunakan untuk memberantas bermacam-macam penyakit tanaman, tetapi penggunaan di bidang kehutanan masih terbatas, biasanya hanya pada persemaian-persemaian, terutama dalam menghadapi penyakit-penyakit lodoh (damping off).

Fungisida berdasarkan penggunaannya dapat dibagi menjadi :
  • Fungisida pelindung
Fungisida ini digunakan untuk melindungi tanaman atau biji-biji di persemaian agar tidak diserang cendawan
  • Fungisida pemberantas
Fungisida yang digunakan untuk memberantas atau membunuh patogen.
  • Fungisida pengobatan
Fungisida yang digunakan untuk menyembuhkan tanaman yang sedang sakit. Pemakaian fungisida di lapangan biasanya dengan jalan penyemprotan, penghembusan, dan fumigasi.

BAHAN PEWARNA ALAMI

Bahan pewarna alami masih dipergunakan oleh industri batik sampai sekarang ini, sedangkan dalam industry tekstil lainnya, kebanyakan sudah menggunakan bahan pewarna sintetis. Bahan pewarna sintetis mudah didapat, banyak macamnya, mudah pemakaiannya, dan yang terpenting adalah sudah diketahui sifatnya.
Jenis pohon yang sering dipakai sebagai sumber pewarna batik adalah : Soga jambal (Peltophorum pterocarpum Backer). Bahan pewarna yang di ambi dari kulit kayu Ceriops cendellenana Am. Bewarna merah.


 Peltophorum pterocarpum Backer.

Bahan pewarna yang dambil dari kulit yang telah ditumbuk berwarna merah sawo. Soga tinggi yang di ambil dari kulit kayu  Ceriops candellenana Am. Berwarna merah. Soga tegaran yang diambil dari bagian kayu Cudrania javanenses Tec. Berwarna kuning.

Bahan lain tanaman yang dapat memberi warna pada pembatikan yaitu : soga Jawa, soga kenet, blendek trembolo, getah dari binatang Tachardia lacca Kerr. Yang hidup pada pohon kesambi (Schlechera Oleosa Merr, daun teh (Thea sinensis Linn) dan gambir ( Terra japonica).

BAHAN PENGAWET KAYU


Bahan pengawet kayu adalah bahan kimia beracun untuk mengawetkan  kayu guna meningkatkan ketahanannya terhadap serangan perusak biologis. Ada 3 jenis bahan pengawet kayu yaitu : 
  • Bahan pengawet berupa minyak
  • Bahan pengawet larut minyak
  • Bahan pengawet larut air
Persyaratan umum bahan pengawet adalah beracun terhadap organism perusak kayu, mempunyai daya tembus tinggi, tidak mudah luntur, tidak menimbulkan pengkaratan, tidak mengganggu sifat kayu, tidak berbahaya bagi manusia, tidak mempertinggi daya kebakaran, mudah diangkut dan dikerjakan, mudah diperoleh dan murah.

Sampai saat ini, belum ada satu jenis bahan pengawet kayu dapat memenui semua persyaratan tersebut. Dalam memilih bahan pengawet kayu perlu diperhatikan antara lain tujuan penggunaan kayu (di dalam atau di luar ruangan), jenis organisme perusak kayu yang akan dicegah serangannya, bentuk dan kualitas bahan atau barang yang akan diawetkan dan cara pengawetan yang akan digunakan.

Golongan Bahan Pengawet

Berdasarkan organisme sasaran , bahan pengawet kayu dapat digolongkan sebagai insektisida fungisida dan/atau  insektisida-fungisida. Bahan pengawet tersebut digolonhkan atas :
  • Golongan CCA  
Basicum 74 PA, Celcure 100P, Inpretecc 75 PA, Kemirin 75P, Osmose K-33-C,  Permawood 96P, Sarmix 1200AS, Tanalith 100FW,Tanalith CT 106.
  • Golongan CCB
Basilit 97 CB, Diffusol CB, Impralit CKB, dan Wolmanit CB.
  • Golongan BFCA
Celsol 77P, dan Koppers Formula 7.
  • Senyawaan Boron
Celbor 63 PA, Impralit B1, Boron Plus
  • Senyawaan Fluorida
Woodpen 90 SP
  • Bahan Pengawet Organik
Dengan bahan aktif chlorpyriphos, azipetac zink, alaphametrin, sifluthria, permethrin, decamethrin, poxim, TCMBT, MTC, MBT,Copper-8, dll.
  • Creosate
Khusus untuk tiang dan bantalan rel kereta api
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI NO. 3261/Kpts/PT.270/4/94, maka sejak Januari 1995 bahan pengawet yang mengandung arsen sudah tidak diizinkan lagi untuk digunakan.

BAHAN PENGAWET CCF

Bahan pengawet CCF merupakan campuran senyawa tembaga, chorm, dan fluor, jadi tidak mengandung senyawa arsen seperti halnya CCB. Beberapa waktu yang lalu pernah diizinkan satu formulasi CCF yang berbentuk serbuk, yang mengandung 100% bahan aktif dengan komposisi 36,3% CuSIF…….

Uji penetrasi CCF

Untuk mengetahui penembusan bahan pengawet  di dalam kayu dapat dilakukan pengujian berdasarkan uji penetrasi tembaga atau fluor.

BAHAN PENGAWET CCB

Bahan pengawet CCB merupakan campuran garam tembaga, chrom, dan boron. Diperkenalkannya bahan pengawet ini antara lain dimaksudkan untuk mengembangkan bahan pengawet yang  dapat mencegah serangan soft rot. Jamur pelunak kayu ini, praktis menyerang kayu yang berhubungan dengan tanah dan air. Golongan jamur ini lebih banyak menyerang jenis-jenis kayu daun lebar, meskipun jenis-jenis kayu daun jarum pun diserangnya juga. Terhadap bahan pengawet dengan bahan aktif fluor, boron, dan arsen, golongan jamur ini sangat resisten dan diperlukan retensi yang sangat tinggi, sehingga dianggap tidak ekonomis. Tetapi bahan pengawet yan mengandung bahan aktif tembaga dapat menahannya.

Untuk menanggulangi masalah soft rot ini, di samping bahan pengawet CCA yang memang mengandung tembaga, dikembangkan juga bahan pengawet yang mengandung bahan aktif tembaga, chorm dan boron. Bahan pengawet ini dapat dipakai untuk proses vakum-tekan dengan kensentrsi minimum 3,5%, sedangkan untuk kayu yang berhubungan dengan air harus dipakai larutan 5%. Bahan pengawet ini dapat juga dipakai untuk proses rendaman dengan konsentrasi 10%.

Karena CCB tidak mengandung arsen atau fluor, maka bahan pengawet ini dianggap kurang berbahaya jika misalnya dipindahkan dengan bahan pengawet FCAP. Selain dari fiksasi tembaga, bahan pengawet ini diharapkan juga mampu mengikat boron dalam jumlah yang cukup banyak untuk dapat menahan serangan jamur yang resisten terhadap tembaga, dikatakan bahwa fiksasi tembaga pada bahan pengawet ini mencapai 98-99%, sedangkan fiksasi boron berkisar antara 10-18%.

Uji Penetrasi CCB

Untuk mengetahui penembusan bahan pengawet ke dalam kayu, dapat dilakukan pengujian berdasarkan uji penetrasi tenbaga atau boron.
Persyaratan Retensi dan Penetrasi CCB
Pada semua metode pengawetan kayu bangunan perumahan dan gedung retensi dan penetrasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Retensi bahan aktif (kg/m2)                  Penetrasi (mm)
Bangunan di bawah atap 8,0                           10
Bangunan di luar atap                                     10

BAHAN PENGAWET BFCA

Bahan pengawet BFCA adalah pengembangan dari penggunaan senyawa boron khususnya untuk pengawetan kayu basah dengan metode difusi (diffusion), diperlukan konsentrasi tinggi. Di Australia campuran ini hanya digunakan untuk mencegah bubuk kayu kering. Sedangkan di Selandia Baru, diharapkan juga dapat mencegah serangan rayap dan jamur.


Dalam hal ini penelitian di Australia menunjukan bahwa beberapa jenis rayap ternyata resisten terhadap senyawa boron. Oleh karena itu untuk mengembangkan kemampuan campuran asam borat dan borax ini, perlu ditambahkan senyawa lain.

Dengan  menambahkan senyawa fluor, ternyata daya larut campuranboron itu menjadi lebih tinggi meskipun dalam keadaan dingin. Larutan dingin asam borat hanya sekitar 6% saja, tetapi dengan menambahkan garam fluoride, dapat mencapai konsentrasi tinggi, berhubung dengan pembentukan borofluorida dan pentaborat. Misalnya: dengan mencampurkan asam  borat dan Na-fluorida dalam proporsi yang sesuai, dapat diperoleh larutan dingin asam borat tidak kurang dari 25%, dengan reaksi kimianya adalah sebagai berikut : 32 H3BO3 + 8 NaF ==== 2 NaBF4 + 3 Na2B10 O16 + 48H2O

Untuk mencegah serangan bubuk kayu kering seperti Lyctus dan Anobium, larutan ini dapat langsung dipakai tanpa tambahan bahan kimia lain. Tetapi jika dikehendaki , sepeti untuk proteksi tehadap jamur dan rayap, perlu ditambahkan senyawa lain, misalnya senyawa arsen dan chorm. Penambahan  Na2HAsO47H2O ternyata lebih meningkatkan lagi daya larut garam boron, dan bersamaan dengan itu garam boron pun menaikan daya larut garam arsen. Dengan demikian  dapat diperoleh larutan yang sangat tinggi kadar garamnya dengan total 80% atau lebih tanpa pemanasan, dan ini sangat menguntungkan untuk pengawetan dengan proses difusi. Penambahan senyawa fluor, arsen dan chorm menyebabkan cmpuran ini menjadi efektif terhadap bubuk, rayap dan jamur. Lagipula penambahan chorm itu (bichromat) dapat mencegah pengkaratan, dan sekaligus juga meningkatkan daya tahan senyawa arsen dan fluor terhadap pelenturan.

Dalam perkembangan selanjutnya Na-hidrogen arsenat diganti  dengan aksenpentoksida yang lebih mudah didapat, sedangkan sebagai pengganti asam borat dapat dipakai beberapa senyawa boron yang dapat menghasilkan asam borat jika dilarutkan dalam air.

Uji penetrasi BFCA

Untuk mengetahui masuknya bahan pengawet kedalam kayu, dapat dilakukan pengujian berdasar uji penetrasi  boron, uji penetrasi fluor, atau arsen.
Persyaratan Retensi dan Penetrasi BFCA

Pada semua metode pengawetan kayu bangunan perumahan dan gedung, retensi bahan aktif untuk bangunan di bawah atap 6,0 kg/m3, dengan penetrasi 10 mm. Bahan pengawet ini tidak dianjurkan untuk dipakai pada bangunan di luar atap.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Populer