MANFAAT DAMAR RESIN DARI DIPTEROCARPACEAE

Kekayaan flora hutan Indonesia sangat beranekaragam, dan terdapat berbagai jenis hasil hutan non kayu salah satunya adalah damar. Manfaat damar atau yang biasa juga disebut resin, adalah sebagai bahan baku industri. Kualitas resin damar yang rendah dimanfaatkan pabrik cat bermutu rendah di Indonesia sedangkan mutu yang baik diekspor terutama ke Singapura. Dari Singapura, setelah diproses kemudian diekspor  sebagai insens atau bahan dasar industri cat, tinta, dan vernis di negara-negara maju. Sebagian kecil diekspor ke Indonesia untuk industri batik dan membuat insens berkualitas rendah.  Dewasa ini, Kalimantan dan terutama Sumatera Selatan merupakan  penghasil utama resin damar yaitu 80% dari total produksi.




Damar adalah resin yang diperoleh dari beberapa jenis pohon dari marga Dipterocarpaceae diantaranya meranti (Shorea spp). Resin tersebut dipanen dengan menyadap batang pohon yang masih hidup. Di Maluku terdapat 4 jenis damar yaitu damar mata kucing, damar pilau, damar batu dan damar daging dengan potensi rata-rata selama 5 tahun terakhir berkisar antara 20.000  kg s/d 715.000 kg (Anonim 2007). Penyebarannya diwilayah Seram Bagian Barat. Damar dihasilkan dari tumbuhan yang sakit atau mengalami kerusakan pada kayu gubalnya (Appanah dan Trumbull, 1998).

Resin damar dikelompokkan menjadi resin cair dan resin padat. Resin cair mengandung resin dan minyak esensial (oleresin) berwujud cair dan memiliki aroma yang khas. Resin padat adalah resin berbentuk padat karena sebagian kecil minyak esensialnya telah menguap. Resin padat mudah pecah atau patah (Appanah dan Trumbull, 1998). Resin damar mengandung asam gurjunik (C22H34O4) dan sejumlah naptha yang mudah menguap dan mengkristal.  Sifat fisik yang unik dari minyak damar adalah pada suhu 30oC  berubah menjadi gelatin.

Dalam tradisi masyarakat, resin damar dijadikan bahan bakar lampu, penambal perahu dan kerajinan tangan. Resin ini digunakan sebagai campuran resin aromatik, berupa styrax benzoin yang dimanfaatkan sebagai  bahan baku kemenyan dan disinfektan fumigan. Di luar Maluku dalam skala industri, resin damar dimanfaatkan pula sebagai bahan baku semir, kertas karbon, pita mesin ketik, plastik, vernis dan bantalan objek mikroskopik. Damar dapat juga digunakan sebagai bahan pelapis dinding, perekat kayu lapis dan asbes.



Resin damar dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk diare dan disentri, salep untuk penyakit kulit dan penyembuhan gangguan pendengaran, kerusakan gigi, sakit mata, bisul dan luka (Appanah dan Trumbull, 1998). Secara teknis, dapat digunakan sebagai bahan cat, celupan batik, lilin, tinta cetak, linoleum dan kosmetik. Triterpenes yang diisolasi dari damar telah digunakan sebagai media antivirus pada budidaya in vitro untuk penyakit Herpes simplex virus tipe I  dan II (Poehland et al, 1996).

Ada Masyarakat yang belum mengetahui pemanfaatan resin damar sebagai bahan baku industri, selain hanya secara tradisi digunakan untuk penerangan sehari hari. Resin damar dijual masih dalam bentuk bahan mentah dan belum diolah lebih lanjut. Teknik memanen dan mengolahnya masih secara konvensional, sehingga harga jualnya tidak menguntungkan selain belum ada pasar untuk menampungnya.

Sosialisasi kepada pemilik lahan damar tentang resin dan teknik memanen, seleksi dan gradingnya sangat perlu dilakukan. Pelatihan dan magang ke Sumatera Selatan sebagai kawasan yang berhasil dalam menghasilkan resin damar dapat memotivasi para petani untuk mengelola damarnya lebih baik dan berkualitas. Sebagai salah hasil hutan bukan kayu, maka sumber daya hutan tersebut harus dilestarikan melalui penanaman kembali pohon damar selain cara memanen yang harus mencegah kematian pohon yang bersangkutan.

Sumber :
Manuhuwa, E, 2009. Hasil hutan bukan kayu Sebagai bagian dari pembangunan Hutan di Maluku. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. Ambon. 

POTENSI, PENYEBARAN DAN TEMPAT TUMBUH GAHARU


Gaharu termasuk hasil hutan non kayu yang merupakan potensi alami Hutan Indonesia. Penyebaran pohon yang dapat menghasilkan gaharu di Indonesia adalah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara. Di Maluku, gaharu lebih banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara dan Maluku Barat Daya. 

Gaharu adalah resin yang diperoleh dari hasil infeksi  mikroba pada pohon dari famili Thymeleacea, Leguminoceae dan Euforbiacea. Di Indonesia terdapat 16 jenis pohon yang dapat menghasilkan gaharu diantaranya 6 jenis tumbuh di wilayah  Maluku (Sumarna, 2002 dalam Manuhuwa, 2009).   Diantara 6 jenis tersebut, terdapat 3 (tiga) jenis yang berkualitas baik yaitu Aquilaria malaccensis, Aquilaria filarial dan Aetoxylon sympethallum.



Jenis yang  dikategorikan berkualitas tersebut menghasilkan resin  dengan aroma yang khas. Gaharu dimanfaatkan untuk industri wewangian dan obat-obatan.

Jenis pohon penghasil gaharu dapat tumbuh pada ketinggian 0-2400 m dpl,  beriklim panas dengan suhu 28°-34°C, kelembaban 60-80% dan curah hujan 1000-2000 mm/tahun, struktur dan tekstur tanah yang subur, sedang maupun ekstrim. Tanaman penghasil gaharu dapat tumbuh pada hutan rawa, hutan gambut, hutan dataran rendah dan hutan pegunungan dengan tesktur  tanah berpasir bahkan pada  celah-celah bebatuan.



Panen Gaharu

Pohon yang akan dipungut gaharunya ditandai oleh beberapa hal berikut ini,
  • Daun pada tajuk pohon menguning secara bertahap.
  • Daun yang menguning tersebut mulai rontok
  • Ranting kehilangan daun dan mulai mengering
  • Pertumbuhan pohon terhenti dan kulit batang mulai mengering dan kehilangan air
  • Ranting dan cabang mulai merangas dan mudah patah.
  • Kulit batang lebih mudah terkelupas dan pecah
  • Batang, cabang dan ranting berwarna putih serta berserat coklat kehitaman dengan teras kayu berwarna merah kecoklatan atau hitam bila kulitnya dikupas.
  • Bila dibakar, kulit kupasan mengeluarkan aroma harum yang khas.
Gaharu dipanen dengan cara mengerut bagian batang yang terinfeksi secara bertahap atau memotong seluruh bagian tanaman (akar, batang, cabang dan ranting) dengan cara ditebang dan akarnya digali. Bagian pohon yang dipanen, dicacah dan diseleksi berdasarkan warna dan kualitas. (Manuhuwa, 2009).

Artikel Terkait :

JUAL BIBIT GAHARU

JUAL BIBIT GAHARU

HASIL HUTAN NON KAYU : ROTAN


Rotan adalah hasil hutan non kayu yang dapat memberi konstribusi kepada masyarakat dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Rotan adalah tanaman pemanjat dari famili Palmae.  Rotan  tumbuh liar di dalam hutan atau ada yang sengaja ditanam. Rotan dapat dipanen setiap saat, dengan memperhatikan bagian bawah batangnya tidak tertutup oleh kelopak, daun sudah mengering, duri dan kelopak daun sudah rontok. Panen rotan yang tidak benar menghasilkan limbah yang besar. Rata-rata limbah pemanenan rotan  secara tradisional di Indonesia sebesar 12,6-28,5%, dan dengan menggunakan alat bantu tirfor dan lir sebesar 4,1-11,1%, sedangkan besarnya limbah yang dihasilkan selama pengangkutan berkisar antara 5-10%, Sinaga (1998).

Indonesia adalah Negara penghasil rotan terbesar di dunia. Luas hutan rotan di Indonesia sebesar 13,20 juta hektar tergolong kedalam 8 marga dan 306 jenis  daripadanya 51 jenis yang sudah dimanfaatkan. Jenis yang memiliki harga yang tinggi adalah  Calamus dan Daemonorops, yang terdapat juga di Maluku.  Maluku memiliki potensi rotan yang cukup besar, tiap tahun dihasilkan rotan sebesar 629.829 ton (Anonim, 2008).

Pemanenan dan pengolahan rotan masih dilakukan secara tradisional menggunakan alat alat  sederhana. Jumlah industri pengolahan rotan di Maluku sebanyak 19 buah yang berskala kecil hanya menghasilkan mebel dan asesoris rumahtangga. Produk tersebut dijual untuk memenuhi pasar lokal, namun sebenarnya dapat diekspor asalkan mutu dan designnya diperbaiki.

Komponen kimia, anatomi, sifat fisik dan mekanika rotan menentukan bentuk pemanfaatan dan mutu produk akhir suatu jenis rotan. Komponen kimia rotan menentukan kekuatan dan keawetan rotan.  Menurut Rachman (1996), komponen kimia rotan adalah  holoselulosa (71%-76%),  selulosa (39%-58%), lignin (18%-27%), silika (0,54-8%), tanin (8,14%-8,88%0) dan pati (18,50%-23,57%). Selulosa menentukan kekuatan tarik rotan Semakin tinggi kadar selulosa rotan maka makin besar pula keteguhan lenturnya. Lignin membuat ikatan antar sel serat menjadi kuat. Tanin berperan sebagai bahan yang bersifat racun terhadap rayap dan jamur (Jasni dkk, 1997).  Pati adalah  sumber makanan utama bubuk kayu selain rayap. Makin tinggi  kandungan pati dalam rotan, maka  makin mudah diserang oleh bubuk kayu kering (Jasni, 1998).

Ukuran sel pori dan  tebal dinding sel serat  menentukan keawetan dan kekuatan rotan.  Tebal dinding sel serat berkisar antara 3,49 µm – 4,89 µm. Makin tebal dinding sel maka makin keras  dan berat suatu jenis rotan  (Rachman, 1996). Sifat fisika dan mekanika rotan antara lain, berat jenis  0,47-0,57; kadar air basah 84,32%-167,11%; kadar air kering udara   13,76%-18,19%;  panjang ruas 20,76-37,20 cm; tingi buku 0,16-,39; keteguhan patah (MOR) 421-834 kg/cm2; keteguhan lentur (MOE)  14.548-22.000 kg/cm2.

Pengolahan Rotan

Rotan mentah atau rotan bulat diproses menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dalam industri, rotan dipisah menjadi bagian kulit dan bagian hati sesuai tujuan dan pemanfaatanya. Selanjutnya rotan digoreng, digosok, dicuci, dikeringkan, dipolis, dibengkokkan, diputihkan, dan diasap atau diawetkan. 

Pengrajin rotan di Maluku belum optimal mengelola usahanya. Salah satu masalah yang dihadapi adalah kurangnya modal, dan pemasaran yang terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, selain masih rendahnya motivasi masyarakat untuk bekerja dibidang kerajinan rotan.  Harga produk yang relatif tinggi dibandingkan mebel yang dibuat dari plastik menjadi kendala pemasarannya. Diharapkan adanya perhatian pemerintah untuk mengembangkan industri rotan di Maluku a.l. kredit modal usaha dan pemasarannya keluar daerah malahan ekspor asalkan mutu dan harganya dapat bersaing.  Peningkatan motivasi berusaha dalam industri rotan dapat dilakukan melalui pelatihan, bimbingan dan pendampingan agar pengrajin rotan makin tekun berusaha malahan  membuka lapangan kerja baru.  (Manuhuwa, 2009).


Artikel Terkait :

PENGERTIAN DAN DEFINISI HASIL HUTAN BUKAN KAYU


Pengertian dan Definisi Hasil Hutan Bukan Kayu atau Hasil Hutan Non Kayu Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), adalah hasil-hasil biologi selain kayu yang diperoleh dari hutan. Terdapat banyak istilah yang dipakai seperti hasil hutan ikutan, hasil hutan sekunder, hasil hutan special, dll. Beberapa contoh yang dimaksudkan dengan hasil hutan bukan kayu adalah hasil-hasil yang dapat dimakan (seperti kacang-kacangan, jamur, buah, herba, bumbu dan rempah-rempah, tanaman beraroma, dan satwa), serat (yang digunakan untuk konstruksi, mebel, pakaian dan perkakas), damar, resin, serta hasil tanaman dan binatang yang digunakan untuk obat, kosmetik dan kepentingan budaya.

Hasil hutan bukan kayu telah lama diketahui menjadi komponen penting dari kehidupan masyarakat sekitar hutan. Bagi sebagian besar penduduk, hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu sumber daya penting dibandingkan kayu. Beberapa juta rumahtangga didunia ini, menggantungkan hidupnya terutama pada hasil hutan bukan kayu sebagai kebutuhan sampingan (subsisten) dan atau sebagai sumber pendapatan utama. FAO menaksir 80% penduduk Negara berkembang memanfaatkan hasil hutan bukan kayu untuk kesehatan dan sumber nutrisi dan satu satunya sumber bagi perempuan rumah tangga miskin untuk dijadikan uang dan manfaat langsung dari hasil hutan bukan kayu.

    Artikel Terkait :

      HUTAN MANGROVE sering disebut Hutan Bakau, Hutan Payau atau Hutan Pasang Surut

      Gambar Hutan Mangrove dengan Bentuk Perakaran yang Khusus

      Hutan Mangrove sering disebut juga hutan bakau, hutan payau atau hutan pasang surut, merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut. Pengertian dan definisi ini sering dipakai untuk menggambarkan hutan mangrove secara keseluruhan dengan jenis-jenis yang terdapat didalamnya.

      Hutan mangrove terdapat di daerah tropis dan sub tropis di sepanjang pantai yang terlindung dan di muara sungai. Sebagai daerah peralihan antara darat dan laut, ekosistem mangrove mempunyai gradien sifat lingkungan yang berat; sehingga hanya jenis-jenis tertentu yang memiliki toleransi terhadap kondisi lingkungan seperti itulah yang dapat bertahan hidup dan berkembang.

      Vegetasi hutan mangrove umumnya terdiri dari jenis-jenis yang selalu hijau (evergreen plant) dari beberapa famili. Untuk adaptasi terhadap kondisi yang ekstrim, maka jenis-jenis tersebut mempunyai bentuk-bentuk perakaran yang khusus. Sonneratia spp, Avicennia spp dan Xylocarpus spp mempunyai akar horisontal; Bruguiera spp dan Lumnitzera spp berakar tunjang, sedangkan Ceriops spp tidak mempunyai bentuk perakaran yang khusus tetapi akarnya terbuka dan bagian bawah batangnya mempunyai lenti sel yang besar.

      Hutan mangrove di Indonesia tersebar di daerah-daerah pantai dan muara dari banyak pulau yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara dan yang terluas adalah di Papua.


      Artikel Terkait :
      1. Definisi Mangrove
      2. Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove
      3. Zonasi dan Syarat Pertumbuhan Mangrove
      4. Zonasi Hutan Mangrove Menurut Komposisi Jenis
      5. Jenis Perakaran Akar Nafas (Pneumatophore) Pada Hutan Mangrove.
      6. Suksesi Hutan Mangrove
      7. Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku
      8. Jenis - Jenis Tumbuhan Mangrove
      9. Penyebaran Hutan Mangrove
      10. Struktur Hutan Mangrove
      11. Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove
      12. Zonasi Hutan Mangrove Andaman
      13. Sistim Silvikultur Hutan Mangrove
      14. Gambar-Gambar Hutan Mangrove
      15. Hutan Mangrove dan Manfaatnya
      16. Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove
      17. Perbanyakan Mangrove dengan Sistem Cangkok dalam Upaya Regenerasi Mangrove
      18. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumberhayati Perikanan Pantai
      19. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat
      20. Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove
      21. Pembuatan Tanaman Rehabilitasi Hutan Mangrove
      22. Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.
      23. Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon

      PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRI DI INDONESIA

      Jumlah Penduduk Indonesia pada tahun 2012 sekitar 244.000.000 jiwa, warga bermata pencaharian sebagai petani saat ini masih dominan, yakni 39 % terdiri dari berbagai kelompok etnis sehingga muncul aneka-ragam pilihan sistem usahatani.

      Semua unsur ini menjadi pendorong proses penerapan bermacam-macam sistem agroforestri. Sekarang ini sistem agroforestri sepertinya hanya diterapkan oleh petani-petani kecil. Usaha-usaha agroforestri kebanyakan bisa ditemukan di sekitar pemukiman penduduk. Sekeliling rumah merupakan tempat yang cocok untuk melindungi dan membudidayakan tumbuhan hutan, karena memudahkan pengawasannya.

      Kebun-kebun pekarangan (homegarden) memadukan berbagai sumberdaya tanaman asal hutan dengan jenis-jenis tanaman eksotis yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, seperti buah-buahan, sayuran dan tanaman untuk penyedia bumbu dapur (Bhs. Jawa : empon-empon), tanaman obat, serta jenis tanaman yang diyakini memiliki kegunaan gaib. Sebagai contoh, menurut kepercayaan di Jawa ranting pohon kelor (Moringa pterygosperma Gaerttn.) dapat digunakan untuk menghilangkan kekebalan seorang yang ber’ilmu’, ranting bambu kuning dapat digunakan untuk mengusir ular, dan sebagainya.

      Seperti telah disebutkan di atas, kebun pekarangan di Jawa memadukan tanaman bermanfaat asal hutan dengan tanaman khas pertanian. Semakin banyak campur tangan manusia membuat kebun itu menjadi semakin artifisial (sistem buatan yang tidak alami).

      Kekhasan vegetasi hutan seringkali masih bisa ditemukan, misalnya dapat dijumpai berbagai jenis tumbuhan bawah seperti berbagai macam pakis (fern), atau epiphyte (misalnya anggrek liar). Kekayaan jenisnya bervariasi, beberapa pekarangan yang tidak terlalu banyak campur tangan pemiliknya memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi, yang dapat mencapai lebih dari 50 jenis tanaman pada lahan seluas 400 m2 (Karyono, 1979 ; Michon, 1985). Bila diperhatikan dari struktur kanopi tajuknya, kebun-kebun itu memiliki lapisan/strata tajuk bertingkat (multi-strata) mirip dengan yang dijumpai di hutan. Kemiripan dengan kanopi hutan ini menyebabkan estimasi luasan hutan berdasarkan hasil foto udara menjadi kurang dapat dipercaya.

      Di Maluku, khususnya di desa Uwen Seram Bagian Barat, Masyarakat memanfaatkan lahan dengan menanam dan mengkombinasikan berbagai jenis tanaman, baik berbentuk sistem agroforestri sederhana atau pun sistem agroforestri kompleks sehingga lahan mereka mirip dengan ekosistem hutan.
      Kebun yang dekat dengan pemukiman lebih banyak menggunakan sistem tumpang sari : jenis tanaman perkebunan dan tanaman pertanian, misalnya ”kelapa – coklat” atau ”kelapa – nenas”, selain itu terdapat kombinasi lebih dari dua jenis tanaman misalnya ”kelapa – nenas – pisang” (Irwanto, 2008).




      Sesuai dengan jenis kebunnya, tingkat lapisan tajuk vegetasi dapat dibedakan menjadi 3 sampai 5 tingkat, mulai dari lapisan semak (sayuran, cabai, umbi-umbian), perdu (pisang, pepaya, tanaman hias) hingga lapisan pohon tinggi (sampai lebih 35 m, misalnya damar, durian, duku). Proses reproduksi sistem yang menyerupai hutan ini lebih banyak mengikuti kaidah alam daripada teknik-teknik budidaya perkebunan. Sebagai contoh, kasus terbentuknya damar agroforestri di Krui.

      Artikel Terkait :

      PENGERTIAN DEFINISI SISTEM AGROFORESTRI KOMPLEKS: Hutan dan Kebun

      Pengertian dan definisi Sistem Agroforestri kompleks adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan.

      Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Penciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforest (Icraf, 1996).

      Berdasarkan jaraknya terhadap tempat tinggal, sistim agroforestri kompleks ini dibedakan menjadi dua, yaitu kebun atau pekarangan berbasis pohon (home garden) yang letaknya di sekitar tempat tinggal dan ‘agroforest’, yang biasanya disebut ‘hutan’ yang letaknya jauh dari tempat tinggal (De Foresta, 2000). Contohnya ‘hutan damar’ di daerah Krui, Lampung Barat atau ‘hutan karet’ di Jambi.



      DEFINISI DAN PENGERTIAN SISTEM AGROFORESTRI SEDERHANA

       Gambar.1. Agroforestri Sederhana

      Definisi dan Pengertian Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpangsari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.


       Gambar.2. Agroforestri Sederhana

      Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, belinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, sayur-mayur dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.

       Gambar.3. Agroforestri Sederhana

      Bentuk agroforestri sederhana yang paling banyak dibahas di Jawa adalah tumpangsari (Bratamihardja, 1991). Sistem ini, dalam versi Indonesia, dikenal dengan “taungya” yang diwajibkan di areal hutan jati di Jawa dan dikembangkan dalam rangka program perhutanan sosial dari Perum Perhutani. Pada lahan tersebut petani diijinkan untuk menanam tanaman semusim di antara pohon-pohon jati muda. Hasil tanaman semusim diambil oleh petani, namun petani tidak diperbolehkan menebang atau merusak pohon jati dan semua pohon tetap menjadi milik Perum Perhutani. Bila pohon telah menjadi dewasa, tidak ada lagi pemaduan dengan tanaman semusim karena adanya masalah naungan dari pohon.


       Gambar.4. Agroforestri Sederhana

      Jenis pohon yang ditanam khusus untuk menghasilkan kayu bahan bangunan (timber) saja, sehingga akhirnya terjadi perubahan pola tanam dari sistem tumpangsari menjadi perkebunan jati monokultur. Sistem sederhana tersebut sering menjadi penciri umum pada pertanian komersial (Siregar, 1990).


      Gambar.5. Agroforestri Sederhana

      Dalam perkembangannya, sistem agroforestri sederhana ini juga merupakan campuran dari beberapa jenis pepohonan tanpa adanya tanaman semusim. Sebagai contoh, kebun kopi biasanya disisipi dengan tanaman dadap (Erythrina) atau kelorwono disebut juga gamal (Gliricidia) sebagai tanaman naungan dan penyubur tanah. Contoh tumpangsari lain yang umum dijumpai di daerah Ngantang, Malang adalah menanam kopi pada hutan pinus.

      Artikel Terkait :

      DEFINISI DAN PENGERTIAN HASIL HUTAN NON KAYU


      Definisi dan pengertian dari hasil hutan non kayu adalah semua jenis hasil hutan, kecuali kayu. Pengertian kayu adalah termasuk kayu bakar.

      Hasil hutan non kayu secara umum dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu :
      1. Golongan nabati (segala bentuk hasil diperoleh dari tumbuh-tumbuhan).
      2. Golongan hewani (berupa hewan, bagian dari hewan dan yang dihasilkan dari hewan)
      Hasil hutan non kayu golongan nabati termasuk dalam pengertian hasil hutan non kayu secara sempit dibagi dalam golongan :
      • bahan karet atau lateks
      • gula, kanji dan sebagainya,
      • minyak dan lemak,
      • resin (harsa atau arpus)
      • bahan penyamak
      • alkoloid
      • dan lain-lain.

      Artikel Terkait :

      PENGERTIAN DAN DEFINISI HASIL HUTAN


      Pengertian dan definisi Hasil Hutan adalah semua benda hayati yang berasal dari hutan disebut hasil hutan. Benda hanyati itu dapat berupa nabati atau hewani. Pengertian ini merupakan pengertian secara luas, sedangkan pengertiannya secara sempit adalah yang berupa nabati saja. Hasil hutan nabati dapat dibagi lagi menjadi kayu dan bukan kayu (non kayu).

      Selain itu hutan juga menghasilkan produk-produk lain seperti jasa lingkungan. Hutan dikenal sebagai penghasil oksigen yang memberi kehidupan bagi mahluk hidup di bumi, sehingga sering disebut paru-paru dunia. Hasil yang tidak langsung dari hutan yang memberi manfaat seperti
      • Pengatur sistem tata air (debit air, erosi, banjir, kekeringan),
      • Mengontrol pola iklim (suhu, kelembaban, penguapan/evapotranspirasi)
      • Mengontrol pemanasan bumi (Global Warming)
      • Ekowisata (rekreasi, berburu, camping dll)
      • Laboratorium plasma nutfah (taman nasional, kebun raya dll)
      • Pusat pendidikan dan penelitian
      • Sumber bahan pendukung industri-industri kimia (pewarna, terpen, kosmetik, obat-obatan, tekstil dll).
      • Menghasilkan devisa lewat program CDM dan REDD. 

      Artikel Terkait :

      SIFAT-SIFAT AKAR TUMBUHAN


      Akar merupakan bagian tumbuhan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Selaku organ dari bagian mahluk hidup, akar tumbuhan mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat menunjukan karakteristiknya masing-masing. Beberapa sifat-sifat dari akar dapat dijelaskan sebagai berikut :
      • Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya 
      • Tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainnya Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan. 
      • Tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah pesat jika dibandingkan dengan bagian permukaan tanah 
      • Bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah

      AKAR LINGKAR (Root Wrenching)


      Akar Lingkar atau Root Wrenching merupakan perkembangan akar yang tidak dapat masuk jauh ke dalam tanah, tetapi hanya melingkar di dekat permukaan. Perkembangaan akar banya ditentukan oleh tingkat kesuburan tanah. Sebagai akibat dari ketersediaan hara yang kurang terhadap perkembangan akar, maka perkembangan akar hanya terjadi pada lapisan tanah paling atas yang subur. Hal ini untuk mendorong perkembangan sistem perakaran berada di dekat permukaan tanah.


      AKAR DANGKAL (Shallow Root)


      Definisi dan Pengertian Akar Dangkal (Shallow Root) yaitu sistem perakaran yang tidak dapat menembus ke dalam tanah, sehingga pohon peka terhadap hembusan angin. Pertumbuhan akar dibatasi oleh tanah yang kompak (padat), karena adanya rintangan fisik dan juga karena rendahnya aerasi dan perkolasi air.

      Kepadatan tanah juga membatasi pertumbuhan akar, sehingga hanya berkembang di atas pembatas tersebut. Dalam banyak kasus, pembatas terhadap pertumbuhan akar mengakibatkan sistem perakaran yang dangkal.


      DEFINISI DAN PENGERTIAN STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI TUMBUHAN HUTAN


      Definisi dan Pengertian struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan hutan diberikan oleh beberapa ahli dalam bidang kehutanan. Untuk menjelaskan Struktur dan Komposisi Vegetasi, Mueller-Dombois dan Ellenberg (1974) membagi struktur vegetasi menjadi lima berdasarkan tingkatannya, yaitu: fisiognomi vegetasi, struktur biomassa, struktur bentuk hidup, struktur floristik, struktur tegakan.

      Menurut Kershaw (1973), struktur vegetasi terdiri dari 3 komponen, yaitu:
      1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi.
      2. Sebaran, horisotal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.
      3. Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas.
      Hutan hujan tropika terkenal karena pelapisannya, ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara kontinu. Tampaknya pelapisan vertikal komunitas hutan itu mempunyai sebaran populasi hewan yang hidup dalam hutan itu. Sering terdapat suatu atau beberapa populasi yang dalam kehidupan dan pencarian makanannya (Whitmore,1975).

      Selanjutnya Kershaw (1973) menyatakan, stratifikasi hutan hujan tropika dapat dibedakan menjadi 5 lapisan, yaitu : Lapisan A (lapisan pohonpohon yang tertinggi atau emergent), lapisan B dan C (lapisan pohon-pohon yang berada dibawahnya atau yang berukuran sedang), lapisan D (lapisan semak dan belukar) dan lapisan E (merupakan lantai hutan). Struktur suatu masyarakat tumbuhan pada hutan hujan tropika basah dapat dilihat dari gambaran umum stratifikasi pohon-pohon perdu dan herba tanah. Kelimpahan jenis ditentukan, berdasarkan besarnya frekwensi, kerapatan dan dominasi setiap jenis. Penguasaan suatu jenis terhadap jenisjenis lain ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting, volume, biomassa, persentase penutupan tajuk, luas bidang dasar atau banyaknya individu dan kerapatan (Soerianegara dan Indrawan,1988).

      Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu, misalnya 100 individu/ha. Frekwensi suatu jenis tumbuhan adalah jumlah petak contoh dimana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat. Biasanya frekwensi dinyatakan dalam besaran persentase. Basal area merupakan suatu luasan areal dekat permukaan tanah yang dikuasai oleh tumbuhan. Untuk pohon, basal areal diduga dengan mengukur diameter batang (Kusmana, 1997).

      Suatu daerah yang didominasi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah. Keanekaragaman jenis terdiri dari 2 komponen; Jumlah jenis dalam komunitas yang sering disebut kekayaan jenis dan Kesamaan jenis. Kesamaan menunjukkan bagaimana kelimpahan species itu (yaitu jumlah individu, biomass, penutup tanah, dan sebagainya) tersebar antara banyak species itu (Ludwiq and Reynolds, 1988).




      Tulisan - Tulisan Berkaitan :
      1. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Hutan Lindung Pulau Marsegu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku
      2. Ekologi Hutan - Mempelajari Ekosistem Hutan
      3. Struktur Hutan Hujan Tropika
      4. Definisi dan Pengertian Hutan
      5. Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll
      6. Klasifikasi Pohon dalam Sebuah Hutan
      7. Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan
      8. Gambar dan Bentuk Pohon Pohon
      9. Silvikultur Hutan Alam Tropika
      10. Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia
      11. Tipe-tipe Hutan Tropika
      12. Perbandingan Struktur Hutan Alam dan Struktur Hutan Tanaman (Hutan Kendal)
      13. Penilaian Kesehatan Hutan
      14. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Hutan
      15. Diversitas serangga pada beberapa tipe penggunaan lahan di Kawasan Bukit Mandiangin Tahura Sultan Adam Kalimantan Selatan

      DEFINISI DAN PENGERTIAN AKAR NAFAS (Pneumatophore)

       Gambar Akar Nafas Jenis Mangrove Sonneratia sp


      Definisi dan Pengertian Akar Nafas adalah akar yang tumbuh dan berkembang dengan fungsi sebagai pembantu pernafasan tanaman. Jenis tumbuhan yang memiliki akar nafas, umumnya tumbuh pada media tumbuh yang khusus, seperti pada daerah yang ditumbuhi oleh jenis-jenis mangrove atau pada hutan-hutan rawa.

      Jenis penyusun hutan mangrove mempunyai akar nafas dengan bentuk yang bermacam-macam misalnya Genus Sonneratia dan Genus Avicennia mempunyai akar horisontal, Bruguiera berakar lutut, sedang Rhizopora mempunyai akar tunjang.

      Jenis vegetasi mangrove mempunyai bentuk khusus yang menyebabkan mereka dapat hidup di perairan yang dangkal yaitu mempunyai akar pendek, menyebar luas dengan akar penyangga atau tundung akarnya yang khas tumbuh dari batang dan atau dahan. Akar-akar dangkal sering memanjang yang disebut ”pneumatofor” ke permukaan subtrat yang memungkinkan mereka mendapatkan oksigen dalam lumpur yang anoksik dimana pohon-pohon ini tumbuh. Daun-daunnya kuat dan mengandung banyak air dan mempunyai jaringan internal penyimpan air dan konsentrasi garamnya tinggi. Beberapa jenis tumbuhan mangrove mempunyai kelenjar garam yang menolong menjaga keseimbangan osmotik dengan mengeluarkan garam (Nybakken, 1988).


      Gambar Jenis Akar Mangrove Rhizopora sp 

      Selanjutnya :

      Artikel Mangrove :
      1. Definisi Mangrove
      2. Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove
      3. Zonasi dan Syarat Pertumbuhan Mangrove
      4. Zonasi Hutan Mangrove Menurut Komposisi Jenis
      5. Jenis Perakaran Akar Nafas (Pneumatophore) Pada Hutan Mangrove.
      6. Suksesi Hutan Mangrove
      7. Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku
      8. Jenis - Jenis Tumbuhan Mangrove
      9. Penyebaran Hutan Mangrove
      10. Struktur Hutan Mangrove
      11. Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove
      12. Zonasi Hutan Mangrove Andaman
      13. Sistim Silvikultur Hutan Mangrove
      14. Gambar-Gambar Hutan Mangrove
      15. Hutan Mangrove dan Manfaatnya
      16. Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove
      17. Perbanyakan Mangrove dengan Sistem Cangkok dalam Upaya Regenerasi Mangrove
      18. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumberhayati Perikanan Pantai
      19. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat
      20. Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove
      21. Pembuatan Tanaman Rehabilitasi Hutan Mangrove
      22. Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.
      23. Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon

      DEFINISI DAN PENGERTIAN AKAR TUMBUHAN (SILVIKULTUR)


      Definisi dan pengertian dari akar tumbuhan adalah bagian tumbuh-tumbuhan yang berada di bawah permukaan tanah dan merupakan bagian yang sangat penting bagi tumbuh-tumbuhan karena fungsinya yang tidak saja sebagai penyangga tegak dan berdirinya batang tetapi juga untuk penyerapan air dan unsur-unsur hara.


      Dalam budidaya tanaman hutan, perlakuan-perlakuan silvikultur hendaknya didasarkan pada sifat-sifat perakaran, karena penelitian-penelitian yang berkaitan dengan perakaran memang bukan hal yang mudah dilakukan.

      Sifat-sifat akar pada pohon sangat bervariasi dari jenis ke jenis, dari individu ke individu pada jenis yang sama, dan bahkan pada akar yang berbeda pada individu yang sama. Pertumbuhan memanjang akar pada ke arah lateral umumnya berkaitan dengan kondisi tempat tumbuh, sementara pertumbuhan akar ke arah dalam dipengaruhi oleh sifat-sifat genetik.

      Dari sudut pandang silvikultur, dinamika perkembangan akar sangat penting karena penyerapan air dan unsur-unsur hara tergantung pada kemampuan akar untuk tumbuh. Pada proses perkecambahan, akar pokok muncul dan memanjang dengan cepat, karena persediaan energi dan hara yang ada dalam biji.
      Selanjutnya, tingkat pertumbuhan akar menurun dan tergantung pada kondisi tanahnya. Perkembangan akar erat kaitannya dengan tingkat kesuburan tanah, semakin subur tanah, semakin baik perkembangan akarnya.



      Artikel Terkait :
      1. Struktur Morfologi dan Anatomi Akar Tumbuhan
      2. Bentuk Tipe Sistem Perakaran Tumbuhan
      3. Ciri-ciri Akar Tumbuhan
      4. Pengertian Akar Papan atau Banir
      5. Manfaat dan Fungsi Akar Tanaman
      6. Karakteristik Perakaran Pohon
      7. Distribusi dan Biomasa Perakaran Pohon
      8. Kecepatan Pertumbuhan Perakaran Pohon
      9. Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Akar
      10. Kemampuan Pertumbuhan Akar
      11. Patogen Akar
      12. Kontrol Perkembangan Akar Dalam Persemaian

      PENGERTIAN DAN DEFINISI PERMUDAAN (HUTAN)


      Pengertian dan definisi Permudaan hutan adalah suatu proses peremajaan kembali dari pohon-pohon penyusun tegakan yang telah mati secara alami, atau setelah dipanen oleh manusia. Proses pemanenan tersebut dapat berlangsung untuk semua pohon dalam suatu luas kawasan tertentu, atau hanya pohon tertentu saja. Pohon-pohon yang sudah tua dalam satu tegakan, akhirnya akan mati dan digantikan oleh anakan-anakan pohon secara alami.

      Permudaan pada dibagi menjadi Permudaan Alam (Natural Regeneration) dan Permudaan Buatan (Artificial Regeneration).

      Permudaaan alam adalah suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan hutan yang terjadi secara alami. Dalam pengelolaan hutan tropika basah di luar Pulau Jawa sampai saat ini, sistem silvikultur yang dipakai adalah sistem tebang pilih dengan permudaan alam.

      Permudaan buatan adalah suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan yang dilakukan oleh manusia. Permudaan buatan umumnya dilakukan pada areal-areal bekas tebang habis, bekas jalan sarad, tempat penimbunan kayu, atau pada areal hutan yang tidak produktif. Tujuan utamanya terdiri dari tujuan ekologis dan ekonomis.


      DEFINISI DAN PENGERTIAN PERLADANGAN BERPINDAH-PINDAH (SHIFTING CULTIVATION)


      Istilah perladangan berpindah-pindah dalam bahasa Inggris adalah Shifting Cultivation, Slash and Burn Agriculture, Swidden agriculture.

      Definisi dan Pengertian dari Perladangan Berpindah adalah suatu sistem usaha tani yang dimulai dengan penebangan pohon-pohonan (terutama pohon-pohon kecil). Pohon-pohonan yang ditebas dikeringkan, kemudian dibakar. Sesudah dibersihkan, ladang ditanami tanaman pangan, antara lain padi gogo, jagung, terong, cabe dan sebagainya. Biasanya lahan digunakan 2 - 3 tahun untuk tanaman pangan. Pada waktu akan ditinggalkan atau bersamaan dengan tanaman semusim, petani peladang menanam tanaman keras, umumnya buah-buahan (durian, rambutan, duku, kelapa, dll.) tetapi juga tanaman perdagangan (damar mata kucing, karet, dsb.). Tanaman keras ini tumbuh bersama belukar, yaitu pohon-pohonan yang tumbuh secara alami di lahan bekas berladang.

      Sesudah beberapa tahun, hutan belukar ditebang lagi, disusul dengan penanaman kembali dengan tanaman pangan. Masa pertumbuhan belukar dari mulai lahan ditinggalkan, sampai penanaman kembali disebut "masa bera" atau juga masa rotasi.

      Perladangan berpindah merupakan cara-cara bercocok tanam secara tradisonal yang telah lama dilakukan. Mereka membuka lahan baru lagi ketika lahan tempat bercocok tanam dirasakan produksinya sudah mulai menurun. Lahan dibiarkan dalam masa bera, agar secara alami lahan tersebut dapat memulihkan dirinya sendiri. Beberapa tahun kemudian mereka akan kembali bercocok tanam lagi pada lahan semula.

       

      DEFINISI DAN PENGERTIAN CABUTAN (TANAMAN)

       

      Definisi dan Pengertian Cabutan adalah salah satu cara pembiakan vegetatif tanaman dengan mengambil bibit atau mencabut bibit dari tempat tumbuhnya, tanpa menyertakan tanah yang melingkupi tanaman tersebut. Cabutan merupakan bentuk bibit yang berasal dari pembiakan generatif (berasal dari biji).




      Pada waktu pemindahan semai biasanya terjadi kerusakan akar yang mengakibatkan sistem perakaran dengan bagian di atas tanah tidak seimbang.




      Bibit-bibit tersebut akan cepat kering dan kehilangan daya hidupnya karena air dan karbohidrat terus terbuang lewat penguapan, sementara sistem perakarannya belum berfungsi. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal itu antara lain :
      1. dengan mengurangi daun terutama daun muda yang mempunyai lapisan kutikula tipis;
      2. pemangkasan cabang atau batang, tetapi cara ini mengandung resiko karena adanya luka-luka bekas potongan akan memudahkan masuknya patogen penyebab penyakit.
      3. bibit yang dipindahkan dibungkus jadi satu dan diusahakan agar akar-akarnya tertutup rapat sedang bagian atas dibiarkan terbuka;
      4. pada waktu pengangkutan diusahakan semai dalam kondisi basah/lembab, biasanya tanah diikutsertakan atau dibiarkan terbuka, tetapi kelembabannya harus tetap terjaga.




      DEFINISI DAN PENGERTIAN POLUSI ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN



      Definisi dan Pengertian Polusi atau Pencemaran lingkungan adalah suatu istilah yang mengacu pada semua aktivitas manusia yang merugikan lingkungan alam sekitar.

      Sesuai Undang-Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982 mendefinisikan Polusi atau Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.




      Banyak orang telah menyaksikan polusi yang terjadi pada lingkungan.  Secara jelas dapat dilihat pada daerah pembuangan sampah atau pun kepulan asap hitam yang dikeluarkan suatu mobil di jalanan. Namun pencemaran atau polusi dapat juga tidak kelihatan, tidak berbau, dan tidak berasa.
      Beberapa macam polusi nampaknya tidak mengotori tanah, udara, atau air, tetapi dapat mengurangi kualitas hidup manusia atau mahluk hidup di sekitarnya. Sebagai contoh, kebisingan dari lalu lintas dan mesin-mesin industri dapat digolongkan dalam bentuk polusi.




      Polusi atau pencemaran lingkungan adalah salah satu permasalahan yang paling serius dihadapi oleh manuasia dan bentuk kehidupan lainnya. Udara yang kotor dapat merugikan tanaman dan penyebab berkembangnya macam-macam penyakit. Polusi udara juga sudah mengurangi kapasitas atmosfir dalam menyaring radiasi ultra violet yang berbahaya dari sinar matahari. Para ilmuwan memprediksikan bahwa polusi udara sudah mulai merubah iklim di seluruh permukaan bumi. Polusi air dan tanah mengancam kemampuan petani untuk memproduksi jumlah bahan makanan yang cukup.

      DEFINISI DAN PENGERTIAN POLUTAN (POLLUTANT)



      Definisi dan Pengertian Polutan adalah semua bahan yang dapat menjadi penyebab pencemar. Bahan Pencemar tersebut dapat berasal dari rumah tangga, dari pabrik/industri, dari hasil suatu kegiatan/pekerjaan; misalnya puing-puing/bekas galian, bekas tebangan.

      Bahan atau zat yang ada di alam dapat disebut polutan atau pencemar jika :
      1. Jumlah bahan atau zat tersebut telah melampaui batas normal.
      2. Bahan atau zat berada pada waktu yang tidak tepat.
      3. Bahan atau zat tersebut terdapat di tempat yang tidak tepat.
      Beberapa sifat polutan yang memberikan pengaruh pada lingkungan :
      1. Penyebab kerusakan untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi.
      2. Penyebab kerusakan dalam waktu lama. Misalnya pada konsentrasi yang rendah Pb tidak menyebabkan kerusakan, namun dalam jangka waktu yang panjang, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai memberikan efek merusak.
      Bahan pencemar tersebut dapat dibedakan dalam bentuk ; gas, cairan dan padat (partikel); dan dapat berupa organisme, misalnya bakteri atau virus; dapat pula sebagai senyawa kimia organik maupun anorganik. Selain itu dapat pula berupa suara (noise pollution) dan panas (thermal pollution). Polutan sering juga disebut kontaminan (Contaminant).




      Pencemaran yang terjadi dapat dibedakan berdasarkan bahan, bentuk, jenis atau tempat terjadinya pencemaran. Contohnya pembagian berdasarkan tempat pencemaran yaitu pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah.




      Pencemaran Lingkungan :
      1. Macam dan Jenis Pencemaran Lingkungan
      2. Berdasarkan Lingkungan Tempat Terjadinya
      3. Berdasarkan Bahan dan Tingkat Pencemaran
      4. Parameter Pencemaran Lingkungan
      5. Dampak Pencemaran Lingkungan
      6. Usaha Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

      PENGERTIAN DAN DEFINISI PRODUKTIVITAS SERASAH



      Pengertian dan Definisi dari Produktivitas Serasah adalah jumlah serasah yang jatuh ke lantai hutan pada periode tertentu, per satuan luas areal tertentu. Dilihat dari sudut pandang ekologi hutan, produktivitas serasah merupakan hal yang sangat penting karena merupakan pengembalian unsur-unsur hara pokok bagi pertumbuhan suatu tegakan hutan, jenis penyusun, tingkat kerapatan pohon dan luas bidang dasar suatu tegakan telah diketahui mempunyai korelasi dengan tingkat produktivitas serasah tegakan. Secara umum hutan-hutan yang selalu hijau mempunyai tingkat produktivitas serasah yang lebih tinggi dibanding dengan hutan yang menggugurkan daun.

      Tingkat kesuburan tanah tempat tegakan hutan itu berada, juga berpengaruh terhadap tingkat produksi serasahnya. Pada hutan-hutan di daerah tropis, secara umum mempunyai tingkat produktivitas yang paling tinggi, semakin ke utara atau ke selatan, yaitu untuk hutan-hutan Warm Temperate, Cool Temperate, dan di daerah Artic alphin, semakin menurun tingkat produktivitas serasahnya. Dari hasil penelitian yang sudah ada, perbandingan angka tingkat produksi serasah dari ke empat daerah iklim tersebut, adalah 10 : 5 : 3 : 1.




      Secara vertikal, tinggi tempat dari permukaan laut juga berpengaruh terhadap tingkat produktivitas serasah dari suatu tegakan hutan. Produksi serasah suatu tegakan akan berfluktuasi secara musiman. Fluktuasi tersebut sangat bervariasi, tergantung dari keadaan tegakan serta iklim dimana tegakan tersebut berada. Secara umum, dapat dijelaskan bahwa serasah daun yang merupakan bagian utama dari keseluruhan serasah, mencapai maksimum pada awal dan akhir musim pertumbuhan. Pada hutan hutan di daerah sedang (temperate), misalnya produksi serasah mencapai puncaknya pada musim semi dan musim gugur.

      Faktor cuaca seperti adanya angin topan, badai salju dan aktivitas cuaca lainnya, juga sangat berpengaruh terhadap fluktuasi produksi serasah. Disamping faktor yang sifatnya insidentil seperti serangan hama dan penyakit. Produksi serasah suatu tegakan juga berfluktuasi dari tahun ke tahun. Maksimum produksi serasah tahunan umumnya dicapai pada saat terjadi musim bunga, musim buah dan biji, yang besar.

      Artikel Terkait :
      1. Pengertian serasah / lantai hutan (forest floor)
      2. Pengertian dan definisi produktivitas serasah
      3. Pengertian humus dan humufikasi
      4. Porositas tanah
      5. Struktur tanah
      6. Pengertian tekstur tanah
      7. Tanah organis
      8. Tanah mineral
      9. Tanah hutan
      10. Definisi dan Pengertian Tanah
      11. Klasifikasi Tanah
      12. Proses Pembentukan Tanah
      13. Pencemaran Tanah
      14. Manfaat Tanah
      15. Unsur Hara Nitrogen (N)
      16. Unsur Hara Fosfor (P)
      17. Unsur Hara Kalium (K)
      18. Bahan Organik Tanah
      19. Kemasaman Tanah (pH Tanah)
      20. Lengas Tanah
      21. Tekstur dan Struktur Tanah
      22. Pemupukan Tanaman

      PENGERTIAN SERASAH / LANTAI HUTAN (FOREST FLOOR)


      Pengertian dari Serasah pada Lantai Hutan adalah lapisan yang terdiri dari bagian tumbuh-tumbuhan yang telah mati seperti guguran daun, tangkai, ranting, dahan, cabang, kulit kayu, bunga, kulit, onak dan sebagainya, yang menyebar di permukaan tanah di bawah hutan sebelum bahan-bahan tersebut mengalami dekomposisi.

      Dalam Bahasa Inggris, istilah serasah sering disebut "Litter" yaitu bahan hasil guguran dari bagian tumbuhan yang menutupi permukaan tanah. Definisi serasah yang dipakai dalam bahasa Inggris yaitu "Litter" bila dilihat dalam terjemahan aslinya ke Bahasa Indonesia diberi arti "kotoran" atau "sampah". Memang bila dilihat tampak jelas bahwa guguran bagian tumbuhan itu mengotori lantai hutan, namun pada akhirnya guguran itu bermanfaat sebagai input unsur hara ke dalam tanah.

      Serasah dapat mempengaruhi pola regenerasi semai di hutan hujan tropis dengan proses yang mempengaruhi lingkungan phisik dan kimia (Facelli& Pickett, 1991).

      Di tingkat perkecambahan benih, serasah dapat menghalangi cahaya, akan menghambat perkecambahan dengan mengubah perbandingan red/far-red (Vazquez-Yanes et al., 1990); hal ini dapat menjadi suatu penghalang phisik untuk kemunculan semai (Molofsky& Augspurger, 1992), terutama untuk jenis small-seeded yang tidak mempunyai suatu persediaan sumber daya besar (Metcalfe& Turner, 1998), dan dapat menghambat radicula berkecambah mencapai tanah. Serasah dapat juga mencegah pendeteksian benih oleh pemangsa benih, dengan demikian meningkatkan kesempatan sukses perkecambahan (Cintra, 1997).

      Untuk tanaman pada tingkat semai, serasah dapat menciptakan lingkungan micro setempat berbeda dengan pelepasan nutrisi atau campuran phytotoxic selama pembusukannya, dengan mengurangi erosi lahan dan evapotranspiration (tetapi mungkin juga menahan curah hujan) dan mengurangi temperatur tanah maksimum.

      Serasah juga dapat bertindak sebagai suatu faktor mekanik, merusakkan atau mematikan semai ketika gugur ke tanah (Clark & Clark, 1989; Scariot, 2000). Dapat juga terjadi efek tidak langsung serasah daun, sebagai contoh, kelembaban yang lebih tinggi di dalam lapisan serasah dapat menunjang pertumbuhan jamur pathogens yang dapat kemudian menyerang semai (Garcia-Guzman& Benitez-Malvido, 2003).

      Di dalam hutan hujan tropis tingkat serasah gugur sangat tinggi, dan merupakan jalan siklus hara yang paling penting dalam ecosystems (Vitousek& Sanford, 1986; Proctor,1987). Heterogenitas Serasah meningkat dengan perbedaan tingkat pembusukan daun-daun dari jenis yang berbeda. Keanekaragaman jenis serasah pada lantai hutan dapat menciptakan relung regenerasi berbeda (sensu Grubb, 1977) dan karenanya membantu menyumbangkan keanekaragaman jenis yang begitu tinggi dalam hutan hujan tropis.

      Tumbuh-tumbuhan hutan hujan tropis lebih nyata proses dekomposisi serasah untuk nutrisi sebagai penyedia hara karena iklim. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa, dalam hutan, variasi utama status nutrisi akan berkaitan dengan variasi masukan nutrisi organik, berasal dari serasah daun.

      Artikel Terkait :
      1. Pengertian serasah / lantai hutan (forest floor)
      2. Pengertian dan definisi produktivitas serasah
      3. Pengertian humus dan humufikasi
      4. Bahan organik tanah
      5. Porositas tanah
      6. Struktur tanah
      7. Pengertian tekstur tanah
      8. Tanah organis
      9. Tanah mineral
      10. Tanah hutan
      11. Definisi dan Pengertian Tanah
      12. Klasifikasi Tanah
      13. Proses Pembentukan Tanah
      14. Pencemaran Tanah
      15. Manfaat Tanah
      16. Unsur Hara Nitrogen (N)
      17. Unsur Hara Fosfor (P)
      18. Unsur Hara Kalium (K)
      19. Bahan Organik Tanah
      20. Kemasaman Tanah (pH Tanah)
      21. Lengas Tanah
      22. Tekstur dan Struktur Tanah
      23. Pemupukan Tanaman
      Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

      Paling Populer