Analisis Vegetasi


Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit.

Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan :
  1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
  2. Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.




Sedikit berbeda dengan inventarisasi hutan yang titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Perbedaan ini akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis-ekologis “random-sampling” hanya mungkin digunakan apabila langan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systimatic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu.




Tulisan - Tulisan Berkaitan :
  1. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Hutan Lindung Pulau Marsegu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku
  2. Ekologi Hutan - Mempelajari Ekosistem Hutan
  3. Struktur Hutan Hujan Tropika
  4. Definisi dan Pengertian Hutan
  5. Klasifikasi Hutan menurut Jenis, Kerapatan dll
  6. Klasifikasi Pohon dalam Sebuah Hutan
  7. Definisi Pohon dan Pohon-Pohon Menakjubkan
  8. Gambar dan Bentuk Pohon Pohon
  9. Silvikultur Hutan Alam Tropika
  10. Jenis dan Tipe Hutan di Indonesia
  11. Tipe-tipe Hutan Tropika
  12. Perbandingan Struktur Hutan Alam dan Struktur Hutan Tanaman (Hutan Kendal)
  13. Penilaian Kesehatan Hutan
  14. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Hutan
  15. Diversitas serangga pada beberapa tipe penggunaan lahan di Kawasan Bukit Mandiangin Tahura Sultan Adam Kalimantan Selatan

Parasit

http://www.femtalks.com/wp-content/uploads/2008/10/rafflesiaarnflw3.jpg
Parasitisme adalah bentuk simbiosis dari dua individu yang satu tinggal, berlindung atau maka di atau dari individu lainnya yang disebut inang, selama hidupnya atau sebagian dari masa hidupnya.

Bagi parasit, inang adalah habitatnya sedangkan mangsa bagi predator bukan merupakan habitatnya, selain itu pada umumnya parasit memerlukan suatu individu inang bagi pertumbuhannya, apakah dalam jangka waktu sampai dewasa atau hanya sebagian dari stadia hidupnya, sedangkan predator memerlukan beberapa mangsa selama hidupnya.

http://whyfiles.org/shorties/216plants_smell/images/runyon2.jpg

Predator pada umumnya lebih aktif dan mempunyai daur hidup yang lebih panjang, sedangkan parasit tidak banyak bergerak, agak menetap dan cenderung memiliki daur hidup yang pendek. Demikian pula ukuran tubuh predator lebih besar bila dibandingkan dengan mangsanya, sedangkan parasit pada umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan inangnya (Natawigena, 1990).

Predator

http://4.bp.blogspot.com/_CZ6DtE8Ne9g/TDRddYvIi9I/AAAAAAAABXo/WSdzxx3jB9Q/s400/predator-hunting-3.jpg

http://susty.com/image/male-lion-cub-eating-ox-bloody-carcass-ribs-mane-tail-chitwa-south-africa-wildlife-animal-predator-photo.jpg

Predator adalah binatang atau serangga yang memangsa binatang atau serangga lain.

Istilah predatisme adalah suatu bentuk simbiosis dari dua individu yang salah satu diantara individu tersebut menyerang atau memakan individu lainnya satu atau lebih spesies, untuk kepentingan hidupnya yang dapat dilakukan dengan berulang-ulang. Individu yang diserang disebut mangsa.

Pada tumbuhan dikenal tumbuhan pemangsa serangga yaitu Nepenthes sp

Pemangsaan

http://1.bp.blogspot.com/_CZ6DtE8Ne9g/TDReZZZxkfI/AAAAAAAABX4/vD6ophAQfng/s1600/ecosystem_predation.jpg

Keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas sangat dipengaruhi oleh hubungan fungsional tingkat tropik atau pemangsaan. Pemangsaan dan persaingan saling menunjang dalam mempengaruhi kenaekaragaman spesies. Pemangsaan besar pengaruhnya terhadap keanekaragaman spesies-spesies yang dimangsa sedang fluktuasi keanekaragaman jenis pemangsa lebih banyak dipengaruhi oleh faktor persaingan. Efesiensi pemangsaan berpengaruh langsung terhadap keanekaragaman jenis dengan mempertahankan monopolisasi syarat-syarat lingkungan utama oleh suatu jenis. Sedangkan efesiensi pemangsaan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain frekuensi makan, selera pemangsa terhadap rasa mangsa, kerapatan mangsa, kualitas makanan dan adanya inang alternatif (Odum, 1988).

Kondisi daerah tropik memungkinkan keberadaan hewan pemangsa dan parasit dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan di subtropik, dan aktivitasnya menekan populasi inang. Turunnya populasi inang membuat kompetisi antar sesama inang menjadi lebih longgar. Pada kondisi ini sangat mungkin terjadi pertambahan jenis inang yang lain, dan kemudian sekaligus menyebabkan bertambahnya jenis pemangsa dan parasit di dalam ekosistem tersebut (Odum, 1988).



Artikel Terkait :




Heterogenitas Ruang


Heterogenitas ruang umumnya terdapat dalam lingkungan yang rumit. Lingkungan yang heterogen dan rumit memiliki daya dukung lebih besar tehadap keanekaragaman organisme yang ada di dalamnya. Heterogenitas tipografik dan mikrohabitat tampaknya lebih dulu berpengaruh pada banyaknya spesies tumbuhan (vegetasi) yang bisa berkembang di dalamnya. Diversitas vegetasi ini yang memungkinkan berkembangnya keanekaragaman herbivore maupun komponen-komponen trofik berikutnya. Di daerah tropik keanekaragaman spesies tumbuhan lebih tinggi daripada di subtropik, sehingga mempunyai daya dukung yang besar terhadap keanekaragaman spesies herbivora dan karnivora serta menyediakan relung yang lebih banyak untuk didiami organisme (Krebs, 1985).

Artikel Terkait :

Persaingan

persaingan
Persaingan (kompetisi) dalam suatu komunitas dapat dikelompokkan menjadi dua jika dilihat dari asalnya yakni persaingan yang berasal dari dalam populasi jenis itu sediri yang disebut intraspesifik dan persaingan yang berasal dari luar populasi tersebut yang disebut ekstraspesifik. Proses persaingan merupakan bagian dari ko-evolusi spesies, karena strategi spesies dalam persaingan merupakan arah seleksi spesies yang menentukan keberhasilan spesies tersebut dalam mempertahankan suatu tingkat kerapatan populasi tertentu dalam lingkungan hidupnya.

Di daerah subtropik seleksi alam lebih banyak ditentukan oleh kondisi lingkungan fisik yang ekstrim, sedangkan di daerah tropik faktor utama yang mengendalikan seleksi alam adalah persaingan antar komponen biologik. Tajamnya kompetisi di daerah tropik telah memaksa spesies-spesies organisme yang hidup di dalamnya untuk memiliki daya adaptasi yang tinggi (Krebs, 1985).

Persaingan terjadi karena kebutuhan yang sama terhadap suatu sumberdaya. Misalkan untuk hewan saling bersaing untuk memperebutkan makanan ataupun ruang tempat beraktivitas. Sedangkan pada tumbuhan bisa terjadi karena kebutuhan yang sama terhadap cahaya, unsur hara, air, ruang dan kebutuhan lainnya.

Dalam masyarakat tumbuh-tumbuhan, seperti layaknya di hutan, akan terjadi persaingan antara individu-individu baik dari satu maupun berbagai jenis (spesies). Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sama, misalnya dalam hal lima mineral, tanah, air, cahaya dan ruang hidup.
Persaingan ini menyebabkan terbentuknya susunan masyarakat tumbuh-tumbuhan yang khas, baik bentuk, macam, jumlah, dan jenis jumilah individunya yang disesuaikan dengan keadaan tempat tumbuhnya.
Jenis pohon tertentu mempunyai suatu zat yang dapat menghambat pertumbuhan jenis pohon lain, termasuk anakannya sendiri. Pengaruh dari zat penghambat tersebut disebut allelopa­thy, yang dapat berupa:
  • Keluarnya zat dari akar untuk menghambat pertumbuhan dari tanaman sejenis atau tanaman lain.
  • Keluarnya zat pada daun tanaman yang kemudian tercuci air hujan dan menghambat pertumbuhan tanaman lain.
  • Adanya kandungan zat pada tanaman yang pada waktu hidup tidak bereaksi apa-apa terhadap tanaman lain, tetapi setelah tanaman tersebut mati zat akan lepas terurai di dalam tanah.



Contoh:
  • Pinus merkusii, yang guguran-guguran daunnya dapat menghambat pertumbuhan jenis jenis lain. Hanya tumbuhan jenis tertentu saja yang mampu bertahan hidup. Misalnya, kirinyuh (Euphatorium ordonatum).
  • Alang-alang (Imperata cylindrica), yang cepat menguasai daerah sehingga tumbuh-tumbuhan lain tidak mampu bertahan hidup, kecuali Vitex pubescen yang tahan api.
  • Pisang (Musa sp.), yang rumpunnya melebar ke tepi pangkalnya, dan jika membusuk akan mengeluarkan zat racun.


Artikel Terkait :



Berbicara Tentang Hutan
big tree
Pohon-Pohon Menakjubkan
Ruang Lingkup Ekologi Hutan
Kuliah Kehutanan
Kuliah Biologi Umum
Kuliah Ekologi Umum
Kuliah Silvikultur
Kuliah Silvikultur Hutan Tropika
Tipe-tipe Hutan Tropis
Faktor-faktor yang mengontrol siklus
hara pada hutan hujan tropis
Proses Fotosintesis
Abrasi Pantai



Definisi Plasma Nutfah


Masa organisme (flora dan fauna) yang masih membawa sifat sifat genetik asli. Plasma Nutfah merupakan substansi yang mengatur perilaku kehidupan secara turun termurun, sehingga populasinya mempunyai sifat yang membedakan dari populasi yang lainnya. Perbedaan yang terjadi itu dapat dinyatakan, misalnya dalam ketahanan terhadap penyakit, bentuk fisik, daya adaptasi terhadap lingkungannya dan sebagainya.
Sedangkan menurut Pengertian atau Definsi yang terdapat pada Kamus Pertanian adalah substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit agar tercipta suatu jenis unggul atau kultivar baru.
Dari Pengertian dan Definisi tersebut dapat dilihat bahwa negara Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat besar, keanekaragaman jenis yang besar. Luasnya daerah wilayah penyebaran spesies, menyebabkan spesies-spesies tersebut menjadikan keanekaragaman plasma nutfah cukup tinggi. Masing-masing lokasi dengan spesies-spesies yang khas karena terbentuk dari lingkungan yang spesifik.

nasalis
Beraneka Fauna
Eksistensi beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah akibat pemanfaatan sumber daya hayati dan penggunaan lahan sebagai habitatnya. Semua ini disebabkan oleh perbuatan manusia. Kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan pun turut berperan dalam proses kepunahan plasma nutfah tersebut. Dengan semakin banyaknya permasalahan konservasi plasma nutfah terutama di daerah-daerah rawan erosi plasma nutfah perlu penanganan permasalahan tersebut tidak mungkin hanya ditangani Komisi Nasional Plasma Nutfah.

miracle tree
Beraneka Flora
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah perangkat hukum tentang pengamanan hayati. Para pakar sangat mendukung upaya penyusunan peraturan hukum tentang pengamanan hayati, sesuai komitmen Protokol Cartagena 2000. Namun rancangan undang-undang (RUU) tersebut hendaknya diintegrasikan dan selaras dengan UU tentang pelestarian plasma nutfah.
Artikel Terkait :



PENGERTIAN BIOMASSA

Pengertian dari Biomasa adalah Jumlah bahan hidup yang terdapat di dalam satu atau beberapa jenis organisme yang berada di dalam habitat tertentu. Biomasa pada umumnya dinyatakan dalam berat kering organisme persatuan luas habitat, yang dinyatakan dalam kg/m2, atau kg/m3. Biomasa adalah salah satu sumberdaya hayati, merupakan energi matahari yang telah ditransformasi menjadi energi kimia oleh tumbuhan berhijau daun.

Biomasa adalah semua bahan organik dari tumbuhan tersebut, mulai dari akar, batang, cabang, bunga, buah, biji dan daun. Biomasa yang berupa kayu merupakan sumber energi yang telah dimanfaatkan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dan masih terus dimanfaatkan hingga sekarang, khususnya di daerah pedesaan pada negara yang sedang berkembang.


Tumbuhan memerlukan banyak unsur hara, untuk hidup dan pertumbuhannya. Unsur-unsur hara tersebut akhirnya akan dikembalikan ke lantai hutan dalam bentuk biomasa yang berupa serasah (bahan organik). Produktivitas serasah dari suatu ekosistem hutan, antara lain dipengaruhi oleh posisi garis lintang, tempat hutan itu berada, dengan produksi maksimum pada hutan di daerah sekitar khatulistiwa (tropis). Semakin ke utara atau ke selatan, produksinya akan semakin berkurang. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa produktivitas biomasa (serasah) pada hutan hujan tropis, kurang lebih sebanyak 10 ton/ha/tahun, sementara pada daerah sedang dan subartik, masing-masing sekitar 5 dan 3 ton/ha/tahun.


Artikel Terkait :
  1. Definisi Bioenergi atau Energi Biomassa.
  2. Definisi dan Pengertian Biomassa.
  3. Bahan Bakar dari Kotoran Manusia
  4. Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas) sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif.
  5. Bintangur Pantai (Callophylum inophylum L ) Sumber Bahan Bakar Alternatif dan Manfaat Lainnya.
  6. Kayu Besi Pantai (Pongamia pinnata (L.) Pierre) Tumbuhan Sumber Bahan Bakar Alternatif.
  7. Kajian Tekno-Ekonomi Produksi Fuel Grade Ethanol dari Nira Aren (Arenga pinnata) dan Kelapa sebagai Sumber Energi Engine Alternatif.
  8. Perbedaan Gasifikasi dengan Pembentukan Biogas
  9. Pengertian dan Definisi Gasifikasi Biomassa
  10. Tahapan Proses Gasifikasi Biomassa untuk Bioenergi

Macam dan Tipe Hutan di Indonesia

Tipe hutan di Indonesia dapat dibedakan dengan melihat faktor utama yang mempengaruhinya, yaitu wilayah, edafik (tanah) dan iklim.

Faktor wilayah didasarkan pada letak Indonesia yang berada diantara benua Asia dan Australia, sehingga pengaruh vegetasi dari kedua benua tersebut tampak nyata dari barat ke timur. Oleh karena itu, hutan Indonesia dapat dibedakan ke dalam:

  1. Zona barat, yaitu hutan dengan pengaruh kuat vegetasi daratan Asia, meliputi pulau-pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa;
  2. Zona peralihan, yaitu hutan dengan pengaruh vegetasi Asia dan Australia sama besar, meliputi pulau Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekitarnya;
  3. Zona timur, yaitu hutan dengan pengaruh kuat vegetasi Australia, meliputi Irian Jaya, Maluku dan Nusa Tenggara.

Disamping itu, juga terdapat pembagian ekosistem termasuk hutan Indonesia yang lebih mendalam, yaitu berdasarkan Biogeographic region. Menurut pembagian ini, terdapat tujuh wilayah, yaitu
(1) Sumatra,
(2) Kalimantan,
(3) Jawa-Bali,
(4) Sulawesi,
(5) Nusa Tenggara,
(6) Maluku, dan
(7) Irian Jaya.

Tipe atau formasi hutan sebagai hasil dari pengaruh faktor edafik dan iklim secara garis besar dapat dibedakan menjadi :

a. Hutan payau (mangrove) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Tidak terpengaruh iklim;
  • Terpengaruh pasang surut,
  • Tanah tergenang air laut, tanah lumpur atau pasir, terutama tanah liat;
  • Tanah rendah pantai; - Hutan tidak mempunyai strata tajuk;
  • Tinggi pohon dapat mencapai 30 m;
  • Tumbuh di pantai merupakan jalur.

b. Hutan rawa (swamp forest) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Tidak terpengaruh iklim;
  • Tanah tergenang air tawar;
  • Umumnya terdapat di belakang hutan payau;
  • Tanah rendah;
  • Tajuk terdiri dari beberapa strata;
  • Pohon dapat mencapai tinggi 50 - 60 m;
  • Terdapat terutama di Sumatera dan Kalimantan mengikuti sungai-sungai besar.

c. Hutan pantai (beach forest) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Tidak terpengaruh iklim;
  • Tanah kering (tanah pasir, berbatu karang, lempung);
  • Tanah rendah pantai;
  • Pohon kadang-kadang ditumbuhi epyphit
  • Terdapat terutama di pantai selatan P. Jawa, pantai barat daya Sumatera dan pantai Sulawesi.

d. Hutan Gambut (peat swamp forest) dengan ciri antara lain sebagai berikut:
  • Iklim selalu basah;
  • Tanah tergenang air gambut, lapisan gambut 1 - 20 m;
  • Tanah rendah rata;
  • Terdapat di Kalimantan Barat dan Tengah, Sumatera Selatan dan Jambi.

e. Hutan Karangas (heath forest) dengan ciri antara lain sebagai berikut:
  • Iklim selalu basah;
  • Tanah pasir, podsol;
  • Tanah rendah rata; .
  • Terdapat di Kalimantan Tengah.

f. Hutan Hujan Tropik (tropical rain forest) dengan ciri umum antara lain sbb:
  • Iklim selalu. basah;
  • Tanah kering dan bermacam-macam jenis tanah;
  • Terdapat di pedalaman yang selanjutnya dapat dibagi lagi menurut ketinggian daerahnya, yaitu :
  1. hutan hujan bawah, terdapat pada tanah rendah rata atau berbukit dengan ketinggian 2 - 2000 m dpl.;
  2. hutan hujan tengah, terdapat pada dataran tinggi dengan ketinggian 1000 – 3000 m dpl.;
  3. hutan hujan atas, terdapat di daerah pegunungan dengan ketinggian 3000 - 4000 m dpl.; Tipe hutan ini terdapat terutama di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya.

g. Hutan musim (monsoon forest) dengan ciri umum antara lain sebagai berikut:
  • Iklim musim;
  • Tanah kering dan bermacam-macam jenis tanah;
  • Terdapat di pedalaman yang selanjutnya dapat dibagi lagi menurut ketinggian, yaitu:
  1. hutan musim bawah terdapat pada ketinggian 2 - 1000 m dpl.;
  2. hutan musim tengah atas terdapat pada ketinggian 1000 - 4000 m dpl.;
  • Terdapat secara mozaik diantara hutan hujan di Jawa dan Nusa Tenggara.

Artikel Terkait :

FUNGSI HUTAN SESUAI UNDANG UNDANG KEHUTANAN

Fungsi Hutan di Indonesia sesuai Undang-Undang Kehutanan No. 41 Tahun 1999. Pasal 6 Ayat 1 dan 2 dibagi menjadi 3 fungsi sebagai berikut : 
a. fungsi konservasi,
b. fungsi lindung, dan
c. fungsi produksi.

Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok sebagai berikut:
a. hutan konservasi,
b. hutan lindung, dan
c. hutan produksi.

Hutan konservasi terdiri dari :
a. kawasan hutan suaka alam,
b. kawasan hutan pelestarian alam, dan
c. taman buru.

Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.

Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.


Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Taman buru adalah kawasan hutan yang di tetapkan sebagai tempat wisata berburu.



Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup dalam lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu kawasan dan membentuk suatu ekosistem yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamis.

Hutan memberikan manfaat secara berkesinambungan kepada lingkungan sekitarnya sehingga proses-proses alami dapat berjalan dengan baik seperti :

1. Hidrologis,
artinya hutan merupakan gudang penyimpanan air dan tempat menyerapnya air hujan maupun embun yang pada akhirnya akan mengalirkannya ke sungai-sungai yang memiliki mata air di tengah-tengah hutan secara teratur menurut irama alam. Hutan juga berperan untuk melindungi tanah dari erosi dan daur unsur haranya.
.
Fungsi Hidrologi
2. Iklim,
artinya komponen ekosistern alam yang terdiri dari unsur-unsur hujan (air), sinar matahari (suhu), angin dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan yang ada di permukaan bumi, terutama iklim makro maupun mikro.

3. Kesuburan tanah,
artinya tanah hutan merupakan pembentuk humus utama dan penyimpan unsur-unsur mineral bagi tumbuhan lain. Kesuburan tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor seperti jenis batu induk yang membentuknya, kondisi selama dalam proses pembentukan, tekstur dan struktur tanah yang meliputi kelembaban, suhu dan air tanah, topografi wilayah, vegetasi dan jasad jasad hidup. Faktor-faktor inilah yang kelak menyebabkan terbentuknya bermacam-macam formasi hutan dan vegetasi hutan.

4. Keanekaragaman genetik,
artinya hutan memiliki kekayaan dari berbagai jenis flora dan fauna. Apabila hutan tidak diperhatikan dalam pemanfaatan dan kelangsungannya, tidaklah mustahil akan terjadi erosi genetik. Hal ini terjadi karena hutan semakin berkurang habitatnya.

5. Sumber daya alam,
artinya hutan mampu memberikan sumbangan hasil alam yang cukup besar bagi devisa negara, terutama di bidang industri. Selain itu hutan juga memberikan fungsi kepada masyarakat sekitar hutan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain kayu juga dihasilkan bahan lain seperti biofuel, damar, kopal, gondorukem, terpentin, kayu putih dan rotan serta tanaman obat-obatan. 


Kehidupan Masyarakat Sekitar Hutan

6. Wilayah wisata alam,
artinya hutan mampu berfungsi sebagai sumber inspirasi, nilai estetika, etika dan sebagainya. 

Wisata Alam

Fungsi Hutan yang ditetapkan sangat berpengaruh kepada keadaan fauna dan flora yang berada di dalamnya dalam menjamin asas kelestarian pengelolaan hutan.

Kerusakan Hutan Pulau Kecil

(Kasus Ekosistem Hutan Pulau Haruku)

Prof. Dr. Ir. J.M. Matinahoru.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon

1. Karakteristik hutan pada pulau kecil

Ekosistem hutan pada pulau-pulau kecil (small islands) memiliki tingkat sensitivitas ekosistem yang sangat rapuh, jika dibandingkan dengan ekosistem hutan pada pulau-pulau besar (continental islands). Hutan pada pulau kecil memiliki kondisi pertumbuhan yang khusus, misalnya vegetasi hutan didominasi oleh pohon-pohon yang tumbuh lambat, diameter batang pohon umumnya tidak terlalu besar dan daun tumbuhan umumnya sempit. Kondisi fisik hutan seperti ini disebabkan oleh beberapa hal pokok, yaitu :

(a). Hutan pada pulau kecil terlalu sering mendapat banyak pengaruh intrusi air laut yang masuk ke daratan terutama pada hutan di wilayah-wilayah pesisir. Hal ini menyebabkan air tanah yang diabsorbsi akar vegetasi mengandung cukup tinggi konsentrasi ion natrium, karbonat dan klorida. Sebagai akibat kelebihan ion-ion ini maka terjadi keracunan bagi sel-sel tumbuhan yang mengakibatkan vegetasi tumbuh dan berkembang tidak normal,


kerusakan hutan

(b). Hutan pada pulau kecil hampir setiap saat mendapat hembusan angin laut yang membawa banyak uap air laut yang mengandung cukup tinggi kadar garam. Uap air yang mengandung garam tersebut, kemudian diabsorbsi oleh daun tumbuhan yang akibatnya terjadi keracunan oleh adanya kelebihan konsentrasi natrium,

(c). Hutan pada pulau kecil secara umum juga memiliki transpirasi tinggi sebagai akibat frekuensi terpaan angin laut yang berlangsung hampir secara terus menerus sehingga mekanisme pembukaan dan penutupan stomata menjadi terganggu, dan proses fotosintesis berlangsung tidak normal karena konsentrasi CO2 menjadi menurun disekitar atmosfer daun karena dipindahkan oleh angin ke tempat lain,

(d). Hutan pada pulau kecil umumnya tumbuh pada wilayah DAS yang pendek dan sempit sehingga hujan yang jatuh dalam wilayah DAS lebih cepat mengalami run off menuju badan sungai dari pada terinfiltrasi ke dalam tanah untuk menambah volume air tanah aktual bagi pertumbuhan vegetasi hutan,


sungai hutan


(e). Hutan pada pulau kecil cendrung memiliki daerah tangkapan air (water catchment area) yang sempit sehingga jumlah air hujan yang jatuh dan tertampung pada suatu daerah tangkapan air selalu tidak seimbang terhadap laju kehilangan air tanah yang harus mengalir keluar melalui sungai dan evapotranspirasi,

(f). Hutan pada pulau kecil secara umum tumbuh diatas kondisi tanah dengan solum tanah dangkal terutama bagi pulau-pulau coral dan atol. Akibat volume tanah yang rendah seperti ini, maka kondisi pertumbuhan hutan disini cendrung didominasi oleh jenis-jenis yang perkembangan tinggi pohon dan diameter batang sangat lambat.

Berdasarkan karakteristik-karakteristik yang dikemukakan diatas menunjukan bahwa pertumbuhan hutan pada pulau-pulau kecil seperti Haruku, Saparua, Nusalaut, Ambon dan Seram sebenarnya memiliki hutan yang secara alami sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini karena banyak sekali faktor pembatas pertumbuhan yang harus dapat diadaptasi dengan baik oleh sel-sel tumbuhan dari pohon-pohon yang ada pada wilayah tersebut. Walaupun demikian secara alami pengaruh ini masih dapat diimbangi dengan kondisi musim, dimana pada saat musim hujan hampir semua pengaruh buruk dari laut terhadap tumbuhan yang ada di daratan pulau-pulau tersebut dapat teratasi melalui pencucian. Selanjutnya jika hutan yang sudah sangat sulit berkembang tersebut, kemudian diganggu lagi dengan aktivitas penebangan maupun pemusnahan oleh manusia maka hancurlah ekosistem tersebut,

2. Kerusakan-kerusakan ekosistem hutan pada pulau kecil

Secara umum kerusakan ekosistem pulau kecil disebabkan oleh alam (natural disasters) dan manusia (human destructions). Gangguan faktor alam bagi pulau kecil khususnya di Maluku lebih disebabkan oleh letusan gunung api, naiknya permukaan air laut dan kebakaran. Namun demikian kerusakan hutan akibat gangguan alam tidak signifikan jika dibandingkan dengan kerusakan oleh aktivitas manusia. Kerusakan hutan pada pulau kecil sebagai akibat aktivitas manusia lebih disebabkan oleh kemiskinan sebagai faktor kunci. Secara umum pulau-pulau kecil di Maluku dihuni oleh masyarakat yang miskin. Hal ini karena faktor kualitas sumberdaya manusia dan keterisolasian wilayah untuk akses teknologi dan pasar. Beberapa hasil penelitian (Matinahoru dan Hitipeuw, 2005; Van Ersnt, 2007 dan Watilei, 2008) menunjukan bahwa kerusakan ekosistem hutan pada pulau kecil lebih disebabkan 3 hal utama, yaitu :

(a). Aktivitas perladangan berpindah oleh masyarakat,

(b). Aktivitas penebangan pohon secara legal maupun ilegal untuk berbagai kebutuhan seperti energi kayu bakar, konstruksi bangunan, meubel dan lain-lain,

(c). Aktivitas perluasan pemanfaatan lahan oleh masyarakat maupun pemerintah untuk berbagai kepentingan seperti pemukiman masyarakat, perkantoran, lapangan udara, pelabuhan kapal, infrastruktur jalan, perkebunan monokultur dan lain-lain.


kerusakan hutan


3. Manfaat hutan bagi kehidupan manusia

Sejak jaman nenek moyang manusia, hutan telah dijadikan sebagai lahan untuk mencari nafkah hidup. Sejak itu pula telah ada kearifan lokal manusia untuk melindungi dan melestarikan hutan dan lingkungannya sehingga hutan tetap menjadi primadona penopang kehidupan mereka.


Hutan diketahui memiliki manfaat yang langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan manusia, seperti yang dikemukakan sebagai berikut.

1. Manfaat langsung
1.1. Sumber bahan/konstruksi bangunan (rumah, jembatan, kapal, perahu, bantalan kereta api, tiang listrik, plywood, particle board, panel-panel dll).
1.2. Sumber bahan pembuatan perabot rumah (meubel, ukiran, piring, senduk, mangkok dll).
1.3. Sumber bahan pangan (sagu, umbian, sayuran, dll).
1.4. Sumber protein (madu, daging, sarang burung, dll).
1.5. Sumber pendukung fasilitas pendidikan (pinsil dan kertas).
1.6. Sumber bahan bakar (kayu api, arang dll).
1.7. Sumber oksigen (pernapasan manusia, respirasi hewan)
1.8. Sumber pendapatan (penjualan hasil hutan kayu dan non kayu)
1.9. Sumber obat-abatan (daun, kulit, getah, buah/biji)
1.10. Habitat satwa (makan, minum, main, tidur)

2. Manfaat tidak langsung
2.1. Pengatur sistem tata air (debit air, erosi, banjir, kekeringan)
2.2. Kontrol pola iklim (suhu, kelembaban, penguapan)
2.3. Kontrol pemanasan bumi
2.4. Ekowisata (rekreasi, berburu, camping dll)
2.5. Laboratorium plasma nutfah (taman nasional, kebun raya dll)
2.6. Pusat pendidikan dan penelitian
2.7. Sumber bahan pendukung industri-industri kimia (pewarna, terpen, kosmetik, obat-obatan, tekstil dll).

4. Kasus ekosistem hutan pulau Haruku

Secara umum kondisi fisiografi petuanan desa Haruku adalah datar sampai bergunung. Kondisi wilayah yang datar berada pada tepi pantai dan digunakan sebagai tempat pemukiman dan usaha tanaman umur panjang dari masyarakat dan hutan sagu. Sedangkan wilayah perbukitan sampai pegunungan di dominasi oleh vegetasi hutan dataran tinggi yaitu campuran berbagai spesies mulai dari kayu besi, lenggua, kayu merah, pulaka, pule, nyatoh, bintanggor, pala hutan dan lain-lain. Terdapat pula hasil hutan ikutan berupa sagu dan bambu. Wilayah ini secara umum digunakan sebagai tempat berladang dengan menanam sayuran, singkong, patatas, pisang dan beberapa usaha tanaman umur panjang seperti cengkih, pala, coklat dan kelapa dalam pola tanam polikultur.

Jenis tanah dominan pada petuanan desa Haruku adalah regosol pada dataran rendah dan kambisol serta podsolik pada dataran tinggi. Tanah regosol didominasi oleh fraksi pasir dengan tingkat kesuburan tanah adalah sedang, sementara kambisol dan podsolik didominasi oleh fraksi liat dengan tingkat kesuburan tanah adalah rendah. Secara umum kondisi iklim pulau Haruku sama seperti iklim pulau Ambon, yaitu musim panas pada bulan September sampai April dan musim hujan dari bulan Mei sampai Agustus. Suhu rata-rata bulanan selama musim panas adalah 26 – 29 oC dengan kelembaban relatif 80 – 85 % dan pada musim hujan 24 – 27 oC dengan kelembaban relatif 85 – 90 %.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kerapatan vegetasi di petuanan Desa Haruku termasuk dalam kategori rendah karena ; (1). Dalam petak 20 X 20 m jarang ditemukan pohon dengan ukuran diameter diatas 50 cm, dan (2). Jarang ditemukan semai atau anakan pohon-pohonan dalam jumlah yang lebih dari 20 anakan. Hal ini menunjukan bahwa ekosistem hutan di petuanan Desa Haruku telah mengalami kerusakan serius. Kondisi ini terbukti disaat musim hujan sungai Meme dan Iri mempunyai debit air meningkat tajam dan kualitas air menjadi sangat keruh.

Beberapa alasan kunci mengapa debit air dimusim hujan meningkat, yaitu: (1) Jumlah pohon sangat terbatas (jarang) sehingga produksi humus dan perakaran oleh pohon juga terbatas dan akibatnya jumlah air yang diserap kedalam tanah berkurang, (2). Jenis tanah kambisol dan podsolik memiliki sifat fisik tanah dimana ukuran pori tanah kecil sehingga kecepatan penyerapan air oleh tanah sangat lambat. Akibat dari kedua hal ini maka air hujan yang jatuh kepermukaan tanah akan lebih banyak mengalir ke sungai dari pada terserap ke dalam tanah, dan dengan demikian debit air sungai menjadi meningkat.

Dampak kenaikan debit air dari kedua sungai (Wae Meme dan Wae Iri) jika tidak diantisipasi lebih awal maka suatu ketika akan membawa musibah bagi penduduk disekitar muara kedua sungai tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor kerusakan hutan akibat pola tata guna lahan yang keliru. Secara umum trend laju kerusakan hutan di hampir semua tempat adalah selalu mengikuti laju pertambahan penduduk dan laju peningkatan kebutuhan manusia. Sementara itu, upaya-upaya penanaman kembali lahan kosong atau lahan kritis oleh masyarakat jarang dilakukan secara mandiri (selalu berharap pada pemerintah), di sisi lain kebutuhan akan kayu untuk bahan bangunan dan lahan untuk berladang terus meningkat.

Berdasarkan observasi lapangan dapat disimpulkan bahwa rendahnya kerapatan pohon atau jumlah dan jenis pohon di dalam petuanan desa Haruku karena beberapa hal, yaitu:
(1). Adanya praktek perladangan berpindah, (2). Adanya penebangan pohon-pohon tertentu untuk kebutuhan membangun rumah dan lain-lain (3). Adanya konversi (pengubahan) lahan hutan menjadi lahan kebun tanaman umur panjang, dan (4). Adanya kebutuhan lahan untuk pemukiman penduduk.
Di pulau Haruku terdapat banyak satwa burung maleo sebagai spesies endemik. Burung maleo dijumpai bukan saja di Desa kailolo, tetapi juga di Desa Haruku. Dari observasi lapangan menunjukan bahwa terdapat banyak ancaman terhadap kelestarian spesies ini, terutama pada beberapa aspek ekosistem yang terkait dengan tempat makan, bermain, tidur dan bertelur. Beberapa faktor yang mengancam adalah ; (1). Pencurian telur oleh masyarakat, (2). Predator seperti babi, soa-soa dan burung elang, (3). Pemburuan oleh masyarakat, (4). Rendahnya kerapatan vegetasi untuk tempat makan dan bermain, serta (4). Abrasi laut dan sungai.
Kewang dan Sasi sebagai kearifan lokal orang Maluku masih terpelihara baik di Haruku, walaupun sudah mulai mengalami benturan-benturan dengan masuknya budaya yang kontra budaya lokal. Lembaga kewang berdasarkan pada fungsi dan perannya memang harus memiliki aksi nyata di lapangan untuk dapat mempertahankan kelestarian ekosistem hutan khususnya di petuanan Desa Haruku sehingga minimal dapat mengurangi dampak-dampak terhadap ekosistem hutan maupun habitat bagi satwa dan ikan. Berdasarkan pengalaman dibeberapa tempat menunjukan bahwa regulasi atau peraturan pada tingkat desa yang harus banyak dibuat untuk melestarikan sumberdaya alam di suatu wilayah. Melalui kewang harus dapat dipromosikan peraturan-peraturan desa yang dapat mendorong dan menjamin kelestarian sumberdaya alam seperti hutan, satwa dan ikan di laut.

kerusakan hutan

LIHAT GAMBAR KERUSAKAN HUTAN >>>

DAFTAR PUSTAKA

Davis, G. 1988. Indonesian forest, land and water. Issues in sustainable development. John Wiley and sons Ltd, London.

Matinahoru, J.M, 2006. Kebutuhan bahan bakar kayu oleh masyarakat disekitar hutan produksi di Desa Honitetu Kecamatan Kairatu. Laporan penelitian mandiri Fakultas Pertanian Unpatti Ambon.

Matinahoru, J.M, 2006. Dampak ijin pemanfaatan kayu (IPK) bagi kerusakan ekosistem hutan pulau kecil. Prosiding workshop NFP Facility FAO Regional Maluku dan Maluku Utara, Ambon.

Matinahoru, J.M, 2007. Dampak pola tata guna lahan terhadap debit sumber air keluar Dusun Kusu-kusu Sereh Ambon. Laporan penelitian mandiri Fakultas Pertanian Unpatti Ambon.

Matinahoru, J.M, 2007. Dampak kerusakan ekosistem DAS Wae Batu Gajah terhadap pemukiman penduduk kota Ambon. Laporan penelitian mandiri Fakultas Pertanian Unpatti Ambon.

Matinahoru, J.M, 2008. Kebutuhan energi kayu bakar dan kelestarian air pada pulau-pulau kecil di Maluku. Prosiding workshop pelestarian sumber air di pulau Kei Kecil Maluku Tenggara, Tual.

Matinahoru, J.M dan J. Hitipeuw. 2005. Kerusakan hutan dan perladangan berpindah pada beberapa desa enclave di Maluku. Majalah EUGENIA, Publikasi Ilmiah Pertanian. Fakultas Pertanian, Usrat Manado.

Marsono, D. 2000. Pendekatan ekosistem pengelolaan kawasan pantai dan pulau-pulau kecil. Seminar nasional pengelolaan hutan pantai dan pulau-pulau kecil dalam konteks negara kepulauan.

Van Ernst, L. 2007. Kajian faktor-faktor penentu laju kerusakan hutan akibat perladangan berpindah di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Skripsi Fakultas Pertanian Unpatti, Ambon.

Watilei, A.M. 2008. Siklus perladangan berpindah pada beberapa desa di pulau Yamdena. Skripsi Fakultas Pertanian Unpatti, Ambon.

Winarto, Y. 1998. Pengetahuan lokal dalam wacana kebijakan pengelolaan sumberdaya alam. Fakultas Kehutanan UGM, Yogjakarta.


Artikel Terkait :


DEFINISI TENTANG HUTAN :

Pengertian Hutan | DEFINISI HUTAN

Pengertian hutan atau definisi hutan yang diberikan Dengler adalah suatu kumpulan atau asosiasi pohon-pohon yang cukup rapat dan menutup areal yang cukup luas sehingga akan dapat membentuk iklim mikro yang kondisi ekologis yang khas serta berbeda dengan areal luarnya (Anonimous 1997).

Hutan adalah suatu areal yang luas dikuasai oleh pohon, tetapi hutan bukan hanya sekedar pohon. Termasuk di dalamnya tumbuhan yang kecil seperti lumut, semak belukar dan bunga-bunga hutan. Di dalam hutan juga terdapat beranekaragam burung, serangga dan berbagai jenis binatang yang menjadikan hutan sebagai habitatnya.

http://www.silvikultur.com/klasifikasi_pohon_hutan.html

Menurut Spurr (1973), istilah hutan dianggap sebagai persekutuan antara tumbuhan dan binatang dalam suatu asosiasi biotis. Asosiasi ini bersama-sama dengan lingkungannya membentuk suatu sistem ekologis dimana organisme dan lingkungan saling berpengaruh di dalam suatu siklus energi yang kompleks.

Pohon tidak dapat dipisahkan dari hutan, karena pepohonan adalah vegetasi utama penyusun hutan tersebut. Selama pertumbuhannya pohon melewati berbagai tingkat kehidupan sehubungan dengan ukuran tinggi dan diameternya.

Definisi Hutan

Iklim, tanah dan air menentukan jenis tumbuhan dan hewan yang dapat hidup di dalam hutan tersebut. Berbagai kehidupan dan lingkungan tempat hidup, bersama-sama membentuk ekosistem hutan. Suatu ekosistem terdiri dari semua yang hidup (biotik) dan tidak hidup (abiotik) pada daerah tertentu dan terjadi hubungan didalamnya.

Ekosistem hutan mempunyai hubungan yang sangat kompleks. Pohon dan tumbuhan hijau lainnya menggunakan cahaya matahari untuk membuat makanannya, karbondioksida diambil dari udara, ditambah air (H2O) dan unsur hara atau mineral yang diserap dari dalam tanah.

Undang-Undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, mendefinisikan hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi jenis pepohonan dalam persekutuan dengan lingkungannya, yang satu dengan lain tidak dapat dipisahkan.

Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup dalam lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu kawasan dan membentuk suatu ekosistem yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamis.

Definisi Hutan


Dengan demikian berarti berkaitan dengan proses-proses yang berhubungan yaitu:
  1. Hidrologis, artinya hutan merupakan gudang penyimpanan air dan tempat menyerapnya air hujan maupun embun yang pada akhirnya akan mengalirkannya ke sungai-sungai yang memiliki mata air di tengah-tengah hutan secara teratur menurut irama alam. Hutan juga berperan untuk melindungi tanah dari erosi dan daur unsur haranya.
  2. Iklim, artinya komponen ekosistem alam yang terdiri dari unsur-unsur hujan (air), sinar matahari (suhu), angin dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan yang ada di permukaan bumi, terutama iklim makro maupun mikro.
  3. Kesuburan tanah, artinya tanah hutan merupakan pembentuk humus utama dan penyimpan unsur-unsur mineral bagi tumbuhan lain. Kesuburan tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor seperti jenis batu induk yang membentuknya, kondisi selama dalam proses pembentukan, tekstur dan struktur tanah yang meliputi kelembaban, suhu dan air tanah, topografi wilayah, vegetasi dan jasad jasad hidup. Faktor-faktor inilah yang kelak menyebabkan terbentuknya bermacam-macam formasi hutan dan vegetasi hutan.
  4. Keanekaan genetik, artinya hutan memiliki kekayaan dari berbagai jenis flora dan fauna. Apabila hutan tidak diperhatikan dalam pemanfaatan dan kelangsungannya, tidaklah mustahil akan terjadi erosi genetik. Hal ini terjadi karena hutan semakin berkurang habitatnya.
  5. Sumber daya alam, artinya hutan mampu memberikan sumbangan hasil alam yang cukup besar bagi devisa negara, terutama di bidang inciustri. Selain itu hutan juga memberikan fungsi kepada masyarakat sekitar hutan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain kayu juga dihasilkan bahan lain seperti damar, kopal, gondorukem, terpentin, kayu putih dan rotan serta tanaman obat-obatan.
  6. Wilayah wisata alam, artinya hutan mampu berfungsi sebagai sumber inspirasi, nilai estetika, etika dan sebagainya.

Menurut Marsono (2004) secara garis besar ekosistem sumberdaya hutan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
  1. Tipe Zonal yang dipengaruhi terutama oleh iklim atau disebut klimaks iklim, seperti hutan tropika basah, hutan tropika musim dan savana.
  2. Tipe Azonal yang dipengaruhi terutama oleh habitat atau disebut klimaks habitat, seperti hutan mangrove, hutan pantai dan hutan gambut.

Definisi Hutan Mangrove


Sebagian besar hutan alam di Indonesia termasuk dalam hutan hujan tropis. Banyak para ahli yang mendiskripsi hutan hujan tropis sebagai ekosistem spesifik, yang hanya dapat berdiri mantap dengan keterkaitan antara komponen penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh. Keterkaitan antara komponen penyusun ini memungkinkan bentuk struktur hutan tertentu yang dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilitas ekonomi, produktivitas biologis yang tinggi, siklus hidrologis yang memadai dan lain-lain. Secara de facto tipe hutan ini memiliki kesuburan tanah yang sangat rendah, tanah tersusun oleh partikel lempung yang bermuatan negatif rendah seperti kaolinite dan illite. Kondisi tanah asam ini memungkinkan besi dan almunium menjadi aktif di samping kadar silikanya memang cukup tinggi, sehingga melengkapi keunikan hutan ini. Namun dengan pengembangan struktur yang mantap terbentuklah salah satu fungsi yang menjadi andalan utamanya yaitu ”siklus hara tertutup” (closed nutrient cycling) dan keterkaitan komponen tersebut, sehingga mampu mengatasi berbagai kendala/keunikan tipe hutan ini (Marsono, 1997). Apakah Anda sudah tahu tentang Hutan Hujan Tropis <<< Lihat disini >>>

Baca Selanjutnya :








DEFINISI TENTANG HUTAN :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Paling Populer